Takdir Cinta

Takdir Cinta
Lembaran baru


__ADS_3

Zee masih setia menunggu sang anak menangis, semakin lama tangisan Alya semakin reda. Terdengar hembusan napas panjang dari ruangan. Dengan cepat Zee menjauh, membiarkan Alya tuk keluar dari dalam sana.


"Astaga berapa lama, aku menangis? Mommy pasti sudah menunggu ku," ucap Alya bergegas berlari menuju pintu keluar.


Zee yang bersembunyi, begitu lega melihat sang putri sudah lebih baik. Zee pun berjalan cepat menyusulnya ke depan.


"Aku akan melakukan segalanya demi kebahagiaan dirimu, Alya," ucap Zee.


Alya melihat aula yang sudah kosong, di lihatnya ke sembarang arah tak ada siapa pun.


"Mommy, apakah sudah pulang?" tanya Alya sembari menunduk.


Zee berjalan pelan mendekati Alya yang masih menunduk. Dia merasa bersalah karena membuat sang Mommy menunggunya.


"Ehem, nona apakah kau mencariku?" tanya Zee.


Alya yang mengenal suara itu, langsung menengok ke arah suara tersebut. Terlihat sang Mommy yang sedang tersenyum menatap pada dirinya.


"Mommy," teriak Alya sembari memeluk sang Mommy.


"Anak, Mommy darimana saja? Mommy, mencarimu, nak!" seru Zee.


"Maaf ya Mom, tadi Al membantu teman membereskan sesuatu di belakang," jawab Alya berbohong.


Zee hanya tersenyum tipis menatap mata sang putri.


"Jadi, seperti ini kau yang sebenarnya nak? Selalu bersikap baik-baik saja. Agar aku tak sedih memilikimu?" batin Zee merasa bersalah.


"Baiklah, kalau begitu kita pulang!" pinta Zee.


"Ok. Mom, Alya juga sudah sangat lapar," balas Alya dengan tersenyum.


Malam itu mereka kembali, di dalam mobil Alya banyak terdiam, menatap keluar jendela melihat lampu yang berkerlap kerlip.


Zee membiarkan sang anak dengan segala pikirannya. Yang sekarang harus Zee lakukan adalah bagaimana dia bisa bahagia dengan Alya tanpa harus di bayang-bayangin kenangan Alfa.


****************************


Pagi ini, seperti hari baru tuk Zee. Dia terlihat begitu segar, tampak begitu cantik dan sangat berbeda. Alya seperti biasanya berangkat sekolah bersama Rio dan Rino.


"Aku dengar kemarin ada pementasan di kelas, Al?" tanya Rio.


"Ya, kak. Kemarin ada pementasan di kelasku," jawab Alya singkat.


"Apakah itu semacam ujian atau apa?" tanya Rino.


"Ya, itu semacam ujian kak. Dan hari ini, aku akan tahu apa hasil ku lulus atau tidak," jawab Alya dengan wajah cemas.


"Hey. ada apa denganmu? Kau kan siswi yang pintar. Pasti kau akan lulus," ucap Rio menyemangati.


"Andai kau tahu, aku telah mengacaukan pertunjukkanku sendiri," balas Alya.


Rino dan Rio tersenyum melihat ketakutan Alya. Mereka, sebenarnya tahu jika kemarin Alya menangis saat membacakan puisi itu.


"Percayalah dengan kemampuanmu, kami selalu mendukungmu," ucap Rino.


Alya pun tersenyum, mengangguk mengerti. Mereka pun akhirnya sampai di sekolah, dengan cepat keluar dari mobil.


Rino dan Rio terkenal tampan, Rio dan Rino sama-sama mempunyai bakat yang begitu bagus, prestasi mereka tak usah di tanyakan lagi.


"Baiklah, aku akan segera masuk kelas. Tidak usah mengatarku! Aku sudah besar," ucap Alya.


"Hey, kau itu masih kecil," ucap Rino yang mulai cerewet.


Alya tak menghiraukan ucapan Rino, dan terus berlari menjauh. Rino begitu kesal melihatnya.


"Jangan berlari! Kau akan jatuh," teriak Rino.


Rio menepuk bahu Rino, dan langsung menarik sang kembaran tuk pergi dari sana.


"Sudah ku bilang, dia itu gadis yang pintar. Di usia sekecil itu, pemikirannya sudah dewasa," ucap Rio.


"Hemm, ya kau benar! Kita mempunyai adik yang cepat besar," balas Rino.


Alya berjalan menyusuri lorong, terlihat banyak teman-temannya tersenyum menyapa Alya.


"Ada apa dengan mereka? Aneh sekali, biasanya mereka selalu mengolok ku," gumam Alya.


Alya semakin di buat canggung, saat masuk ke dalam kelas, dia mendapat sapaan dari semua temannya.


"Pagi, Al," sapa teman-temannya.


"Pa-pagi, semuanya," sahut Alya terbata.


Alya pun duduk di tempatnya, disana ada Gwen yang sedang duduk sembari menatap Alya dengan senyum menggoda.


"Hay, princess," sapa Gwen.


"Stop it, kau kenapa mengejek ku?" sewot Alya.


"Sorry," ucap Gwen nyengir kuda.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Alya.


"Kau, masih belum tau berita pagi ini," jawab Gwen.


"Berita apa? Aku tak tahu," balas Alya dengan polos.

__ADS_1


"Kau itu, mendapat nilai terbaik. Dan, semua siswa disini menjadi semakin simpati karena semua tentang dirimu dan juga keluargamu," jelas Gwen.


Alya terdiam, dan barulah menyadari, jika kemarin dia membuat semua orang tahu. Bagaimana dia yang sebenarnya.


**************************


Sama hal nya dengan sang putri, pagi ini Zee sudah bertekad akan membuka lembaran baru di hidupnya. Dan hari ini, Zee sedikit berbeda dengan dengan biasanya.


"Aku bisa! Aku harus bisa," ucap Zee pada dirinya sendiri sambil menatap dirinya di cermin.


Setelah melakukan itu, Zee berangkat ke kantornya, di sana sudah banyak karyawan yang datang.


"Pagi, Miss Zee."


"Pagi, semuanya"


Zee berjalan terus masuk ke dalam ruang kerjanya. Disana sudah ada Enbi yang selalu menyambut dirinya.


"Pagi, Mam," sapa Enbi.


"Pagi, ada jadwal apa saja tuk ku hari ini?" tanya Zee.


"Pagi ini, anda akan bertemu dengan tuan Alex. Pemilik perusahaan Sanders," jawab Enbi.


"Alex? Bukannya, namanya Wiliem?" tanya Zee bingung.


"Kau jangan sampai salah orang! Mereka itu satu nama tapi dua orang yang berbeda," jelas Enbi.


"Apa maksudmu? Aku tak mengert?" tanya Zee.


"Anak pertama Tuan Sander itu bernama Wiliem Alexander yang di panggil Alex. Dan yang pernah kau temui itu bernama Wili. Ya, nama lengkap mereka memang sama Wiliem Alexander," jawab Enbi.


"Astaga, kenapa hidupku selalu berhubungan dengan anak kembar. Jadi, aku hari ini akan bertemu dengan anak pertama mereka? Tuan Alex?" tanya Zee.


"Ya, kau benar! Dan, dia akan datang setengah jam lagi. Kau akan di temani Tuan Anthony saat rapat nanti," jelas Enbi.


"Hemm, baiklah! Aku akan lakukan peekerjaanku dengan baik," ucap Zee penuh semangat.


Enbi memberikan dokumennya, Zee mempelajari dengan seksama. Memang sudah bakatnya Zee pintar, hanya dengan sekali baca dia sudah mengerti akan semuanya.


Ceklek,,,


Suara pintu di buka, terlihat ada Jefty dan Anthony yang menatap raja pada Zee. Jefty, langsung berjalan cepat menghampiri Zee.


"Astaga, kenapa kau berdandan begitu cantik pagi ini?" tanyanya.


"Cantik? Apa maksudmu, selama ini aku jelek dan penampilanku sangat tak rapih?" tanya Zee kebingungan.


"Haish, wanita ini. Apakah sudah lupa rasanya di puji, hah?" sewot Jefty.


"Zee, kau tahu bukan. Kalau, kita hari ini akan meeting dengan Tuan Alex?" tanya Anthony.


"Apakah, kau tak tahu seperti apa Tian Alex itu?" tanya Jefty.


Zee semakin tak mengerti apa maksud dari ucapan sepasang suami istri tersebut. Dan memilih meraih ponselnya di atas meja, lalu mencari tahu tentang Wiliem Alexander tersebut.


Wiliem Alexander adalah putra kembar dari Tuan Sander dan Nyonya Dania. Putra pertama dengan panggilan Alex dan putra ke dua dengan panggilan Wili.


Mereka memang serupa, namun sangat jauh berbeda dengan kepribadian keduanya.


Alex putra pertama mereka di kenal sebagai lelaki yang tampan, sangat keren, kaya raya dan sangat dekat dengan berbagai wanita. Sedangkan, Wili anak kedua Sander ini sangat jauh berbeda dengan sang kakak.


Wili juga tak jauh berbeda dengan Alex dalam segi rupa, dia juga tampan, kharismatik. Hanya dia, berbeda dengan sang kakak dalam hal pergaulan.


Wili sosok lelaki yang baik, tak pernah dekat wanita manapun. Tidak seperti sang kakak yang sering kali bergonta ganti pasangan.


"Hem, jadi karena artikel tentang Tuan Alex ini. Kalian sampai menemani diriku?" tanya Zee.


Anthony dan Jefty hanya terdiam, namun tetap mengangguk ia. Zee tersenyum mengerti akan semua kecemasan yang mereka rasakan.


"Kalian, teman yang begitu baik. Sungguh sangat baik, karena selalu mencemaskan diriku," ucap Zee dengan mata yang berkas-kaca.


Anthony dan Jefty memeluk Zee bersmaan, mereka mengatakan sesuatu yang membuat Zee merasa sangat di sayang. Padahal dirinya hanyalah orang lain.


"Kau sudah seperti adikku, Zee," ucap Anthony.


"Dan, kau juga sudah seperti saudara yang ku temukan setelah menghilang puluhan tahun," ucap Jefty.


"Kami menyayangi mu, dan tak ingin kau sampai dekat dengan Tuan Alex," imbuh Anthony.


Zee melepas pelukannya, dan menatap kedua temannya itu.


"Tenanglah, ada kalian dan juga keluargaku disini. Aku, akan menjaga diriku dari Tuan hidung belang itu," ucap Zee sembari tersenyum.


"Aku, harap kau bisa melakukannya. Dan bisa menampis pesona Tuan Alex," ucap Jefty.


Zee mengangguk ia, dirinya mengerti dan semua ketakutan itu. Akhirnya meeting pun tiba, Anthony sudah bersiap rapih dengan jasnya, sedangkan Jefty begitu elegan dengan setelan kantornya.


"Baiklah, Aku dan Jefty akan masuk dahulu, kau bisa menyusul sepuluh menit kemudian!" perintah Anthony.


"Baiklah, Tuan Anthony," jawab Zee.


Ruang meeting pun terbuka, terlihat sosok yang tampan rupawan begitu gagah sedang duduk disana. Masuklah Anthony dan anak istri.


"Selamat siang Tuan Alex," sapa Anthony.


"Selamat, siang Tuan Anthony dan Nyonya Jefty," sapa kembali Alex.

__ADS_1


Mereka pun berjabat tangan dengan begitu sopan. Mata Jefty tak hentinya menatap tajam Alex dengan sekilas, tuk memastikan jika dia tak akan berbuat macam-macam pada Zee.


"Silahkan, duduk!" pinta Anthony.


Alex pun begitu santay duduk menanyakan apakah meeting kali ini. Langsung di persentasi dengan Anthony.


"Tidak, Tuan. Kami akan memanggil wakil direktur perusahaan kami," jelas Anthony.


Tok,,, tok,, tok,,,


"Masuklah!" perintah Anthony.


Pintu pun terbuka, terlihat Zee begitu cantik, elegan dengan semua yang menempel pada dirinya. Alex begitu terkesima dengan wanita yang sedang berjalan kearahnya tersebut.


Tanpa sadar, Alex sampai berdiri saat Zee mulai dekat. Membuat sekretarisnya hanya menunduk malu akan kelakuan mata keranjang sang bos.


"Hallo, selamat siang Tuan, Nyonya dan Tuan Alex," sapa Zee singkat.


Jefty dan Anthony hanya tersenyum, lalu melihat Alex yang masih mematung berdiri disana.


"Maaf,atas keterlambatan saya. Jadi, lebih baik saya akan mulai saja presentasinya. Tuan Alex, anda bisa kembali duduk di tempat anda!" pinta Zee.


Tak ada ucapan yang menggoda, tak ada senyuman dari wajah Zee, Zee begitu dingin dan terlihat begitu tegas.


Namun, tidak di mata Alex. Dia begitu terpesona dengan kecantikan Zee, dengan semua sikapnya yang begitu berbeda dengan wanita lain saat bertemu dengan dirinya.


Alex tak mendengarkan apa yang Zee ucapkan, maka dari itu semua yang Zee pertanyakan semuanya di jawab habis oleh sekretarisnya Eden.


Zee begitu tak menyukai Alex, karena menurutnya dia tak bisa profesional dan kompeten. Sangat berbeda dengan Wili yang dulu pernah dia temui.


"Baiklah, Tuan Eden. Saya rasa semuanya sudah anda ketahui akan seperti apa kontrak kerjasama ini. Dan, saya harap anda akan mengerti, terimakasih," ucap Zee.


Eden mengerti apa maksud ucapan dari Zee, Eden hanya bisa menarik napas dan mengangguk mengerti.


"Tuan Alex," panggil Anthony.


"Tuan Alex," panggil kembali Anthony.


Masih tak ada jawaban juga, sampai akhirnya Eden menginjak kaki Alex agar bosnya itu tersadar.


"Awwhh, shit!!" umpat Alex saat merasa sakit di kakinya.


Barulah Alex sadar akan kesalahan dirinya, dan menatap Anthony, Jefty dan Zee bergantian, dan meminta maaf.


"Ahh, maafkan aku! Sungguh, pikiranku tak fokus hari ini," ucap Alex sembari menatap Zee.


Jefty sungguh tak suka dengan tatapan Alex pada Zee. Dan akhirnya menyuruh Zee tuk kembali terlebih dahulu ke ruangannya.


Setelah melakukan meeting dan semuanya berjalan sesuai keinginan Anthony, Alex pun pamit undur diri.


Di dalam mobil, Alex penuh dengan semua tentang Zee. Dia sampai tak menghiraukan Eden yang sudah berbicara banyak dan memarahi kebodohan sang atasan.


"Ahh, astaga kenapa dia begitu cantik. Tapi, kenapa dia begitu dingin. Tak sama seperti wanita di luar sana," batin Alex.


"Siapa dia? Dan kenapa hatiku bisa berdegup kencang saat menatapnya?" batin Alex penuh dengan tanya akan semua tentang Zee.


Senyuman di wajah tampan Alex membuat Eden semakin kesal. Dan terus mengumpat sang bos.


"Jangan terus mengumpat diriku! Siapa sangka wanita itu begitu cantik, membuat konsentrasi hilang saja," ucap Alex.


"Bukannya, semua wanita yang kau temui semuanya kau katakan cantik, hah!" hardik Eden.


"Haish, kau ini!" umpat Alex.


"Apa? Benar bukan ucapanku," ucap Eden.


"Apakah kau tak lihat, dia begitu berbeda. Dia tuh melebihi cantik. Dan, aku ingin kau mencari tahu siapa wanita itu!" perintah Alex.


"Kau jangan gila! Wanita mu itu sudah sangat banyak. Dan, sekarang kau ingin aku melakukan apalagi pada wanita itu!" ujar Eden.


"Dia, wanita yang berbeda. Tentu, saja akan ku perlakuan berbeda juga. Dia begitu istimewa," balas Alex.


Eden hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan mata keranjang dari atasannya plus juga sahabatnya dari kecil.


"Aku, harap dia menjadi wanita terakhir. Dan bisa merubah seorang Wiliem Alexander," batin Eden. Sambil menatap pantulan sang bis dari kaca spion.


Di dalam ruangan, terlihat Jefty begitu marah dia sedang memaki, mengumpat dan begitu kesana karena perilaku Alex saat menatap Zee.


"Awas saja, sampai dia mendekatimu. Aku akan segera menjatuhkan mu dari lelaki buaya itu!" ujar Jefty sembari menunjuk Zee.


"Baiklah, baiklah, aku sebisa mungkin akan menjauh dari Alex," balas Zee singkat.


"Tapi, Nyonya. Bagaimana, Zee bisa jauh dari Tuan Alex jika mereka saja ada urusan kontrak bersama?" tanya Enbi begitu polosnya.


Dan pernyataan itu membuat Jefty semakin marah, dan membuat Zee menepuk jidatnya karena kebodohan sekretarisnya yang begitu polos.


"Enbi, sudah diam!" perintah Zee.


Dengan segera, Enbi menutup mulutnya dengan tangan. Lalu bergegas keluar dari ruangan Zee, karena takut akan amukan dari bos perempuannya.


"Hahaha, sudahlah! Kau membuat takut Enbi, dan aku akan menjaga diri saat bersama dengan Alex," ucap Zee meyakinkan Jefty.


"Hemm, baiklah. Aku percaya dengan dirimu, Zee. Kau tahu bukan, kalau aku begitu menyayangi dirimu. Dan, tak ingin kau terluka oleh lelaki seperti Alex," jelas Jefty dengan tatapan cemas.


"Jef, tentu aku sangat tahu kau teman seperti apa. Dan aku sangat bersyukur mempunyai teman sebaik dirimu," balas Zee sembari memeluk Jefty.


Itu lah kebahagiaan baru yang Zee dapatkan dari orang lain, setelah dia mempunyai kehidupan baru, dan saat jauh dari semua keluarganya.

__ADS_1


Selamat membaca dan Terimakasih


__ADS_2