
Tangan Laras berkeringat dingin saat hendak membuka hasil tes DNA tersebut.
" Ibu dari mana saja " ucap Gunawan dan dengan segera Laras memasukkan amplop tersebut kedalam tas nya , beruntung Gunawan tak melihatnya . Hingga ia harus melihat hasilnya nanti .
'' Apa hasil test DNA itu ya ... si bapak datang tanpa di undang seperti jelangkung aja , jadi mati penasaran dech " batin Laras.
.
.
.
Wijaya Group .
Bagian Personalia memanggil Zumi yang berhenti secara mendadak hari ini. Kepala bagian Personalia begitu marah , karena semasa perusahaan ini berdiri , baru kali ini mereka salah menerima pegawai yang jabatannya cukup Tinggi. Zumi , berhenti hari ini begitu mendadak . Akhirnya keluar lontaran ucapan yang keluar dari kepala HRD cukup menyakitkan baginya.
" Kau boleh menghinaku sekarang namun jika aku yang menjadi menantu di keluarga Wijaya suatu saat nanti , kau orang pertama dikantor ini yang akan ku pecat " batin Viona dengan tangan terkepal .
" Baiklah pak . Saya akan menyelesaikan tugas saya " ucap Zumi mengalah , seminggu ia harus mengulur waktunya. Semua rencananya berantakan karena Bunga mengalami keguguran .
" Jika Bunga tidak ingin bekerja sama lagi denganku. Maka aku harus segera membunuhnya. Aku harus mencari orang untuk menggantikan posisiku ini dan cara untuk menjadi suster di rumah sakit " batin Viona , tak ada gunanya jika Geilo ia pindah -pindahkan tempat persembunyiannya .
.
.
.
Amerika , terlihat pria paruh baya yaitu Abdi Wijaya tengah di nyatakan keadaannya kembali membaik setelah beberapa waktu yang lalu terkena serangan jantung akibat kelakuan putri nomor duanya itu. Joe asisten Abdi Wijaya begitu setia , punya anak dan istri di nomor duakan olehnya. Beruntung Joe memiliki istri dan anak-anak yang begitu pengertian.
" Gimana Joe , apa Rafli menjalankan perusahaanya dengan baik " tanya Abdi dengan tubuh yang sudah kembali bugar...
" Tuan muda menjalankannya cukup baik kakak " ucap Joe , Abdi enggan dipanggil oleh Joe dengan sebutan Tuan atau pun pak jika bukan di luar urusan bisnis di depan Klien.
" Rafli tidak muda lagi Joe . Dia sudah cukup berumur . Hampir 40tahun umurnya meski wajah dan tubuhnya begitu awet muda " ucap Abdi tersenyum tipis .
" Itu semua karena ia bahagia dengan menantuku " batin Abdi.
" Tak ada berita buruk Joe " tanya Abdi ...
" Tidak ada kak . Semua aman terkendali " ucap Joe .
" Maafkan aku kak . Aku hanya tak ingin kau kembali drop jika mengetahui Rafli menghamili Bunga " batin Joe , ia terpaksa berbohong . Bahkan tanpa Rafli bercerita pun , Joe mengetahuinya dengan cepat. Sama hal nya dengan Jimmy , ia mengetahui jika kakak ipar sekaligus sahabat serta bos nya itu tengah mengalami masalah dalam rumah tangganya namun Jimmy mengambil sikap setenang mungkin , bisa saja ia menghajar Rafli hingga masuk rumah sakit namun semua hubungan persahabatan rasa saudara itu membuat Jimmy perlu berfikir ulang . Dengan Rafli menelpon Jimmy untuk mencari bocah yang bernama Geilo , Jimmy sudah mulai mencari inti masalah yang di hadapi Rafli .
.
.
.
Disaat semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing lain hal nya dengan Laras yang kini tangannya bergetar hebat saat membaca hasil test DNA .
'' Ericana cucuku " isaknya .
'' Ya Allah terimakasih , ternyata cucuku masih hidup " imbuhnya berulang kali mengucap syukur . Meksi hatinya masih di liputi tanya kenapa cucunya berada di tangan keluarga Permana dan Eric begitu menutupi tentang Ericana.
" Aku harus memberitahu Ana. Agar mengetahui langkah apa yang harus di ambil " gumam Laras .
.
.
.
Terlihat Ana tengah bermain dengan Jelita dan Jelita bertanya tentang Ericana , Ana harus memalsukan senyumannya saat pertanyaan aneh keluar dari mulut Jelita sedangkan Laras tanpa terasa air matanya menetes saat melihat senyum getir Ana .
'' Kau belum menyadarinya Ana , jika Ericana adalah anak kandungmu namun hatimu mengetahuinya , tapi kau coba menampiknya " batin Laras .
" Ana " Panggil Laras dan membuat Ana serta Jelita menoleh .
__ADS_1
" Ada apa Bu " ucap Ana .
" Ibu hanya ingin bicara denganmu nak . Sebentar saja " ucap Laras dan tersenyum pada Jelita.
" Cucu nenek , main sama yang lain sebentar ya " ucap Laras lembut.
" No , nenek " jawabnya tak setuju.
" Bentar kok Jeje sayang " bujuk Ana.
" No , Bunda " ucap Jelita .
" Bicara ada Jelita sama dengan bicara dengan Rafli , cucuku satu ini tukang mengadu. Dirayu pun payah . Kenapa sifat dan karakter cucuku aneh-aneh " batin Laras , yang paling asyik baginya adalah Arjuna yang sering membuat seisi rumah tertawa .
" Nanti malam , kita bicarakan Ana " ucap Laras , ia pun menghempaskan tubuhnya dan mulai menggoda Jelita .
" Apa yang ingin ibu bicarakan . Aku jadi penasaran ni bu " gerutu Ana.
" Jelita juga nek " sahut Jelita .
" Anak kecil gak boleh ikut campur " ucap Laras seraya mengulurkan sebuah amplop kepada Ana...
" Bacalah di kamar " gerakan mulut Bu Laras tanpa suaranya.
" Iya , Jelita mau balas kelitiki nenek Laras , biar ngompol " ucap Jelita .
" Enak aja kamu . Nenek gak pernah ngompol ya " ucap Laras tak terima namun tetap dengan nada lembutnya. Sekalipun Laras tak pernah berkata kasar dengan cucunya meski kesal sekalipun .....
Dikamar Ana begitu penasaran dengan apa ia amplop tersebut . Tertera nama rumah sakit dan nama Bu Laras membuat Ana menjadi cemas , takut jika sang ibu menderita sakit keras , tapi wajah Laras yang begitu bahagia membuatnya semakin penasaran .
Ana membuka isi amplop yang isinya mampu membuatnya terkejut bukan main saat membaca keterangan yang tertera .
'' Ya Tuhan , ja....jadi .... Ericana anakku " ucap Ana tak percaya dan membaca ulang kembali berkali-kali namun hasilnya tetap sama .
'' Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ....hiks....hiks... " Isak Ana.
'' Ya Tuhan , apa maksud mereka menyembunyikan tentang Ericana padaku dan kenapa mereka mengambil Ericana dariku ...hiks.... Aku tidak sekuat ini Tuhan , kenapa mereka begitu jahat memisahkan ku dari anakku . Dan mas Eric begitu tega padaku . Ia tau hancurnya aku seperti apa saat kehilangan putriku dan ternyata ia yang mengambilnya " Isak Ana melemparkan semua make up yang tersusun rapi , mengeluarkan seluruh isinya .
" Ya Tuhan , apa salah dan dosaku pada masa lalu . Aku mohon , tolong kembalikan anakku padaku ....hiks....hiks.... Betapa bodohnya aku tidak mengikuti isi hatiku tentang Ericana.... sayang , maafkan bunda ....hiks....hiks...." Isak Ana masih juga mencoba nomor Vini tapi hasilnya sama tidak aktif.
Ana terlihat begitu berantakan dan pandangan matanya mengarah pada jam dinding dikamarnya . Melihat kamarnya yang terlihat begitu hancur dan meja riasnya seperti terkena terjangan badai Katrina.
" Apa aku bisa izin kepada mas Rafli dan mengajak ibu pergi ke Italia , tapi mas Rafli tak akan membiarkan Ku pergi sejauh itu tanpa dirinya " ucap Ana kini memikirkan cara untuk berangkat ke Italia bersama ibunya untuk membawa pulang Ericana. Apapun akan ia lakukan untuk membawa Ericana pulang.
" Apa mengajak mas Rafli adalah cara yang terbaik " imbuhnya begitu frustasi saat ini. Ia takut jika kehilangan jejak Ericana.
Tok...tok.... tok.... Tak ada sahutan dari Ana.
Tok...tok....
" Nak , ini ibu sayang " ucap Sasa makin menggedor keras pintu kamar Ana .
" Tunggu sebentar Bu " ucap Ana berteriak. Ana bergegas ke wastafel guna membersihkan wajahnya yang terlihat begitu berantakan .
Ceklek ..
" Ana boleh ibu masuk nak '' ucap Laras dan diangguki Ana lemah ...
Laras memberikan semangat untuk Ana meski di hatinya sendiri tak tenang setelah Ana mengatakan jika ponsel Vini tak bisa di hubungi dan tidak mempunyai nomor keluarga Permana lainnya selain Vini.
'' Aku harus gimana Bu .... Hiks ...Putriku yang kecil jauh dariku . Bahkan kita semua melewatkan masa kecilnya .... " Isak Ana. Kepalanya terasa begitu pusing karena kebanyakan menangis dan masalah bertubi-tubi yang ia hadapi . Eric dan Vini yang terkesan baik dimatanya begitu tega membohongi tentang identitas Ericana sesungguhnya .
'' Aku tak mengerti jalan fikiran mereka yang tega memisahkan Ericana dari kita ...hiks.... Ericana jauh dariku Bu.... " ucap Ana meraung , tanpa terasa air mata menetes di pelupuk mata Laras.
'' Kita terpaksa memberitahu suami mu nak . Apapun resikonya . Rafli juga ayahnya , itu sudah resiko keluarga Permana menerima imbasnya '' ucap Laras , tak ada cara lain baginya selain menggunakan kekuasan Wijaya demi merebut Ericana. Sesekali tak apa , jika begitu mendesak.
'' Aku takut mas Rafli mengamuk disana Bu '' ucap Ana melemah .
__ADS_1
'' Itu sudah resiko mereka nak . Mereka yang membuat ulah lebih dahulu '' ucap Laras...
'' Aku akan menunggu nomor Vini aktif Bu . Jika dalam dua hari tak aktif , maka aku memberitahu mas Rafli dan kita akan berangkat bersama '' ucap Ana .
'' Apa kau sanggup menahan rindu selama dua hari untuk Ericana '' tanya Bu Laras.
'' Aku tak tau Bu '' ucap Ana lemah dan Bu Laras membawa kepala Ana dalam sandarannya. Di elusnya dengan lembut surai indah Ana , hingga Ana mulai tenang ...
'' Bu , kita bisa minta tolong Rahma untuk berasalan berangkat ke Itali '' ucap Ana penuh harap...
'' Ya kau benar sekali sayang. Ibu akan mengurus Rahma dan kau urus suamimu untuk mengizinkan kita pergi '' ucap Laras tersenyum dan diangguki Ana.
'' Ana kita harus segera membereskan kamarmu . Ingat , sebentar lagi suamimu pulang '' ucap Sasa .
'' Iya Bu . Sebelum mas Rafli pulang '' ucap Ana dan segera menyimpan hasil test DNA tersebut di dalam tasnya ...
.
.
.
Rafli dan Ana kini sedang menuju perjalanan kerumah sakit dimana Bunga di rawat , belum ada perkembangan yang berarti saat ini . Ana memilih masuk keruang Bunga sendirian , karena Rafli menerima telepon yang cukup penting dari anak buahnya.
'' Permisi '' ucap Suster yang terlihat begitu sexy. ..
'' Silahkan suster '' ucap Ana menyingkir memberikan ruang bagi suster untuk mengecek keadaan Bunga.
'' Maaf nona mengganggu waktu anda '' ucap suster ramah .
'' Tidak apa sus '' ucap Ana tersenyum .
'' Kenapa suster ini begitu sexy dan lihat bodynya , ini beneran atau hanya balon body depan dan belakangnya " batin Ana , memperhatikan suster itu dengan begitu pasat hingga punggung suster itu menghilang di balik pintu .
Brrukk....
" Apa yang kau lakukan " suara sarkas Rafli membuat Ana segera keluar.
" Pakai matamu , apa kau buta huh . Merusak mood ku saja " imbun Rafli , membuat suster itu menunduk .
" Mas , pelankan suara mu . Ini rumah sakit " ucap Ana lembut.
" Kau lihat sayang. Lipstiknya menempel di bajuku " ucap Rafli masih kesal .
" Sudahlah mas . Kan bisa di cuci nanti juga hilang " ucap Ana .
" Ayo bangun sus " ucap Ana mengulurkan tangannya dan di terima suster tersebut..
" Maafkan suamiku suster " ucap Ana dan diangguki suster yang masih menunduk.
" Tutup matamu mas " ucap Ana seraya menempelkan telapak tangannya membuat kelopak mata Rafli tertutup sempurna. Hati Ana mendadak memanas melihat suster sexy tersebut , apalagi dua kancing bagian atas telah terbuka.
" Apa tabrakan tadi membuat kancingnya terbuka " batin Ana dan segera mengusir pikiran anehnya ..
" Kenapa sayang " tanya Rafli
" Ayo kita lihat Bunga saja " ucap Ana tanpa menoleh kepada suster sexy tersebut.
Tanpa mereka sadari sebuah tangan terkepal , terlihat amarah dan dendam yang begitu membara di tujukan untuk Ana.
" Ini baru permulaan Ana . Jika tadi lipstik ini yang menempel pada baju suamimu , suatu saat nanti , bukan hanya lipstik , tapi bibir ini langsung menyentuh kulit suamimu . Setiap jengkal tubuh Rafli " batin Viona .
Suster sexy tersebut ia adalah Viona , Viona sengaja menjadi suster dirumah sakit dengan tujuan membunuh Bunga yang kini sedang dalam keadaan koma , pintu ruang depan ruang rawat Bunga juga hanya di jaga tiga Bodyguard saja. Namun siapa sangka , Meksi hanya tiga bodyguard cukup membuatnya kesulitan untuk membunuh Bunga .
Viona merasa begitu kesal karena b*kongnya cukup sakit dan juga kakinya yang sengaja ia buat tekilir ringan . Niat ingin mencium pipi Rafli dengan pura -pura keselo , namun tanpa disangka Rafli memalingkan wajahnya dengan begitu kebetulan dan membuat noda lipstiknya menempel pada kemeja Rafli. Bukan di tolong Rafli , namun Rafli malah membentaknya dan melihat Rafli yang begitu manja pada Ana membuat rasa dendamnya begitu menggebu.
Jangan lupa like n komentarnya ya .
Selamat membaca 😊.
__ADS_1