Takdir Cinta

Takdir Cinta
Luapan Emosi


__ADS_3

Malam harinya Ana berniat menyampaikan niatnya untuk memberhentikan Bunga menjadi baby sitter anaknya kepada Rafli karena bagaimana pun Rafli paling tau menjaga perasaan Lia , namun Rafli pamit duluan kepadanya untuk keruang kerja mengurus pekerjaannya setelah menyiapkan cemilan sehat untuk Ana ...


Ana yang berniat membuatkan teh hijau untuk suaminya pergi kearah dapur meski sang suami melarangnya untuk capek-capek , meski hanya membuatkan teh hijau saja.


'' Bunga '' ucap Ana terkejut saat berada di tangga melihat Bunga membawa secangkir teh hijau. Hari sudah begitu larut malam.


'' Untuk siapa " tanya Ana.


'' U....untuk.... aku kak "ucap Bunga


'' Sejak kapan kau suka teh hijau " tanya Ana .


'' Dan ini gelas yang biasa di pakai suamiku " imbuh Ana .


'' Baru- baru ini kak. Dan a....aku tidak ta...tau ini gelas tuan " gugup Bunga.


'' Kenapa kau begitu gugup " ucap Ana menyentuh gelas teh tersebut. Terasa tangan Bunga cukup dingin saat jari mereka tak sengaja bersentuhan.


'' Sial kak Ana pakai turun lagi . Percuma aku kasih obat tidur ke ibu dan anak-anak. Biarkan aku melakukan rencana ini kak Ana. Ini semua demi menyelamatkan nyawamu agar Willy tak melakukan ide gila itu " batin Bunga , ia menentang ide gila Willy yang akan melenyapkan Ana.


" Ah...tidak kak . Aku hanya merasa tak enak hati karena memakai gelas ini. Aku sungguh tak tau kak " ucap Bunga memelas .


" Kalau begitu , bolehkah teh hijaunya untukku. Aku ingin meminumnya juga " kilah Ana dan ternyata Bunga menolaknya.


" Aku buatkan saja kakak yang baru " ucap Bunga .


" Tak perlu Bunga . Aku bisa buat sendiri " ucap Ana kembali menuruni tangga dengan langkah pelan. Ia masih mencurigai Bunga.


" Bunga " ucap Ana menghentikan langkahnya dan Bunga menatapnya dengan senyum merasa terjebak akan langkah kakinya yang di ketahui Ana.


" Apa kau lupa dimana arah kamarmu . Kenapa kau mengarah kearah ruang kerja suamiku " ucap Ana mampu membuat wajah Bunga pucat pasi. Ana menaiki tangga kembali ke arahnya .


" Ya ampun . Sangking ngantuknya aku lupa kak " ucap Bunga hendak berbalik.


" Kenapa , kau berniat membuat teh hijau untuk suamiku. Apa yang kau rencanakan Bunga. Apa kau ingin merebut suamiku hah " ucap Ana meluapkan kecurigaannya.


" Apa maksud Kak Ana. Aku gak mungkin sepicik itu kak " ucap Bunga lirih.


" Kalau begitu minum teh itu " ucap Ana sedikit meninggikan suaranya.


" Tapi ini masih panas kak " tolak Bunga.


" Biar aku saja yang meminumnya bila kau tak mau " ucap Ana. Namun Bunga langsung mengambil alih gelas berisi teh hijau yang baru menempel di bibir Ana. Bisa bahaya jika Ana yang menenggaknya.


" Jangan kak . Ini sudah ku seruput sedikit " elak Bunga.


"Jika begitu minum sekarang " perintah Ana.


" Minum sekarang juga kataku . Apa kau tuli " imbuh Ana membentak Bunga membuat Bunga memucat.


" Ayo minum kataku. Buktikan jika teh ini memang milikmu " ucap Ana memaksa Bunga menenggak teh hijau itu.


" A....aku.... ti...tidak mau kak " ucap Bunga.


" Ayo minum . Buka mulut mu " paksa Ana hingga tanpa sengaja Bunga mendorong tubuh Ana dan hampir jatuh dari tangga jika Rafli tak menahan tubuh istrinya itu. Mereka berdua terkejut dengan kedatangan Rafli yang tiba-tiba tertutama Bunga yang kini tanpa sadar gelas yang di pegang nya pun pecah . Rafli yang tadi berada di ruang kerja mendadak konsentrasi nya buyar saat mendengar suara gaduh berasal dari luar dekat dengan ruangan kerjanya , hingga pendengarannya menajam saat suara familiar begitu ia kenali . Darahnya mendidih hebat saat melihat Bunga mendorong Ana dan Ana hampir saja tergelincir dari tangga jika saja ia tak cepat menahan tubuh istrinya.


'' Apa yang kau lakukan hah " ucap Rafli membentak Bunga tak peduli jika membangunkan penghuni lainnya .


Tanpa aba-aba dan tetap mendekap tubuh istrinya Rafli menampar Bunga dengan cukup kuat.


Ppllakkk , suara tamparan terdengar jelas bersamaan jeritan Bunga yang merasa begitu kesakitan bahkan tubuhnya terhuyung kebawah saat ini. Bunga meringis menyentuh bibirnya yang begitu perih dan terasa darah menetes di bibir Bunga yang sedikit terkoyak tersebut .


'' Aku tidak segan untuk membunuhmu karena kau ingin mencelakai istriku " ucap Rafli dingin mendekat kearah Bunga yang kini makin ketakutan.


'' Ti...tidak tu...tuan... itu salah paham...hiks...hiks..." jawab Bunga begitu ketakutan bahkan ia langsung terisak , Bunga bringsut mundur kebelakang.

__ADS_1


'' Bangun .... Aku akan menyuruh mereka membunuhmu malam ini juga " ucap Rafli menarik tangan Bunga dengan kasar .


'' Mas , jangan mas. Hentikan " cegah Ana , meski ia kecewa dan marah pada Bunga , tak seharusnya Bunga di bunuh oleh suaminya. Bukankah itu terlalu kejam dan jauh dari sosok hangat suaminya. Saat Bunga di tampar kuat oleh Rafli , membuat Ana cukup terkesiap apalagi gerakan tangan Rafli begitu cepat dan kini Ana melihat dan mendengar jelas ucapan suaminya yang ingin membunuh Bunga dan itu tak main-main.


'' Jangan lakukan itu padanya mas " ujar Ana memelas mengatupkan kedua tangannya.


" Tapi ia ingin mencelakai mu Ana. Bagiamana jika aku tak sigap pasti kau terjatuh. Ingat kondisimu saat ini sedang hamil sayang , jika kau terjatuh bukan hanya kau yang terluka tapi kau bisa keguguran. Bagaimana nasib kalian nantinya . Bagaimana jika hal buruk menimpa kalian , itu membuat dunia mas hancur Ana " ucap Rafli sarkas .


'' Tapi mas . Bunga tadi beneran gak sengaja " bela Ana.


'' Kau masih saja membelanya " ucap Rafli menatap tajam Ana.


'' Tapi itulah kenyataannya mas , ia tak sengaja. " ucap Ana memeluk suaminya mencoba meredam emosi tingkat dewa yang Rafli alami.


'' Aku tak akan membunuhmu sesuai permintaan istriku " ucap Rafli mengusap wajahnya kasar dan mengecup pucuk kepala Ana.


'' Tapi kau bereskan semua barangmu malam ini dan pergi dari sini sekarang juga " ucap Rafli .


'' Malam ini mas " tanya Ana .


'' Iya sayang malam ini , wanita ini harus pergi , jika tidak aku tak segan membunuhnya meski kau memohon untuk aku tidak membunuhnya " ucap Rafli dingin.


'' Tapi di luar dingin mas , dan ini sudah lewat tengah malam " ucap Ana .


'' Tidak apa kak Ana ... aku.... " ucapan Bunga terhenti.


'' Istri ku bukan kakak mu. Dia Nyonya dirumah ini dan dimana pun berada. Jaga batasanmu ***** " ucap Rafli penuh penekanan terhadap Bunga yang kini masih terisak . . .


'' Cepat bereskan barang mu " ucap Rafli seraya nendang tubuh Bunga dan itu membuat Ana terpekik kaget .


'' Aku akan minta pengawal untuk mengantarkannya kerumah mama " ucap Ana hendak melangkah namun tangan Rafli justru menggendongnya ala bridal style.


'' Buat apa kau berbaik hati dengan orang sepertinya " ucap Rafli tak peduli pada Bunga yang kesusahan berdiri dengan tubuh yang gemetar karena begitu takut dengan amarah Rafli saat ini .


'' Lebih baik. Kau bertanggung jawab malam ini " imbuh Rafli dengan menaikkan sebelah alisnya.


'' Milikku. Yang mana '' ucap Ana bingung ...


'' Berdiri tegak tapi bukan keadilan. Tongkat sakti mandraguna yang mampu membelah lembah lalu masuk ke goa dan..... mampu membuatmu hamil " ujar Rafli membuat Ana menepuk pundak suaminya cukup kuat.


'' Kau ini mas , banyak sekali julukannya untuk milikmu itu " ucap Ana .


'' Itu milikmu Ana " ucap Rafli tersenyum.


'' Lalu ini baru milik mas " ucap Rafli seraya mencium tepat dimana surga dunia tersebut berada membuat wajah Ana bersemu merah meski ia masih mengenakan gaun tidur lengkap namun cukup terasa di area yang Rafli maksud.


'' Mas , bagaimana dengan Bunga. Jika malam ini pulang sendiri " tanya Ana saat cumbuan suaminya berhenti sejenak .


'' Huftt , merusak suasana membahasnya nanti keburu Rava dan Jelita bangun " gerutu Rafli kesal .


'' Tapi.... " ucapan Ana terhenti karena Rafli segera membungkam bibir seksi namun begitu cerewet tersebut. Rafli tak peduli mau bagaimana Bunga keluar dari mansionnya. Intinya Bunga harus keluar malam ini juga .


.


.


.


Bunga menyusun barangnya sambil menangis. Perlakuan kasar Rafli membuat nya semakin membenci pria itu . Bunga menatap nanar sang ibu yang tengah tertidur pulas serta Dewa dan Arjuna yang tertidur pulas , bunga tersenyum getir saat mengingat usahanya malam ini sia-sia malah majikan dimana pemilik tempat ia berteduh malam ini mengusirnya tanpa belas kasih .


'' Aku menyesal jika dulu pernah mencintai mu Rafli Wijaya. Bersyukur cinta ini telah mati. Maafkan aku kak Ana , salah mu sendiri menjadi istrinya Rafli. Aku tidak bisa melindungi mu lagi " batin Bunga.


Bunga menyeret kopernya dengan susah payah. Ia menatap tajam foto seorang pria yang terpampang jelas di ruang tamu tersebut. Pria angkuh dan sombong yang mengusirnya , siapa lagi jika bukan Rafli.


" Kita lihat pria sombong , apa bisa kau melindungi istrimu suatu saat nanti dan aku orang kedua yang akan tertawa setelah Willy " batin Bunga tak henti mengumpat Rafli .

__ADS_1


Para Bodyguard yang berjaga malam itu tak ada yang peduli padanya meski hanya mengantarkan Bunga hingga ke tepi jalanan besar guna mencari taksi ataupun ojek , mereka sama kejamnya . Bagi mereka perintah Rafli tak bisa di ganggu gugat. Bunga berjalan tertatih. Lingkungan yang sepi namun ia tak perlu untuk cemas karena rampok bahkan orang jahat pun tak berani melintas jalanan itu. Terlihat warga setempat tengah beronda , mereka sungguh seperti warga biasa meski nyatanya itu pertahanan bodyguard Rafli di garda depan . Dua jam Bunga berjalan tanpa henti membuatnya begitu lelah dan segera menyelonjorkan kaki , sedikit beruntung ia membawa roti serta air minum di dalam kopernya jadi rasa lapar dan hausnya bisa teratasi.


Bunga menyetop taksi yang melintas tentu saja tujuan utamanya ke mansion Abdi Wijaya. Supir taksi awalnya sempat ragu mengantarkan Bunga kesana , dimana mansion itu begitu super elit di kota J , namun demi mengais rezeki supir taksi pun mengantarnya tanpa ingin bertanya.


Para bodyguard mansion Wijaya begitu kaget saat melihat Bunga datang subuh-subuh dengan membawa koper . Para bodyguard pun membukakan gerbang utama tanpa ingin banyak bertanya meski mereka sekilas melihat memar di wajah Bunga ...


Bi Ida cukup terkejut melihat Bunga datang subuh-subuh begini dengan membawa koper besar.


'' Ya ampun Bunga , apa yang terjadi padamu " ucap Ida menghampiri Bunga dan mulutnya membulat saat melihat bekas tamparan di pipi Bunga dan sedikit darah yang mengering di sudut bibir Bunga yang pecah .


'' Siapa yang melakukannya " tanya Bi Ida berbisik.


'' Tidak mungkin nona Ana , apalagi nona Rahma kan ia menginap disini " batin Bi Ida , ia tau jika Rahma tak menyukai Bunga , baginya Rahma cemburu karena Ana menyayangi Bunga bagai adik kandungnya .


" Aku tidak bisa bicara saat ini bi. Aku ingin istirahat saja " ucap Bunga dan diangguki Ida .


" Ada-ada saja dengan Bunga. Siapa yang berani menamparnya hingga begitu sadis. Jika nona Ana tak mungkin , ia orangnya tak kan tega .Apa tuan muda Rafli yang melakukannya , tapi kenapa , pasti ada alasan yang cukup kuat jika tuan muda Rafli melakukan itu karena tuan Rafli orangnya begitu hangat meski ada jiwa kejam nya jika ketenangannya di usik. Jika tuan Rafli yang melakukannya malang nasibmu Bunga atau bisa jadi si Jum " batin Ida menerka-nerka.....


.


.


.


Lia terlihat emosi saat mendengar cerita dari Bunga jika Rafli menamparnya dan juga mengusirnya . Bunga terpaksa menceritakan semuanya karena Lia terus mendesak , awalnya Bunga berkelit atas luka memar yang ada di pipinya namun Lia tak percaya begitu saja . Namun senyum kebahagiaan terukir di wajah Rahma , akhirnya Bunga di depak juga dari mansion kakak iparnya itu .


" Baguslah , jika kak Rafli sudah mengusirnya bahkan memberikan hadiah tamparan padanya " batin Rahma.


Tepat pukul tiga sore , Ana dan Rafli berkunjung kemansion Wijaya tanpa membawa anak-anak mereka kecuali yang di kandung Ana karena tidak mungkin perutnya di tinggal .


'' Kenapa kau menampar Bunga Rafli " tanya Lia menatap sinis sang anak , ia tak suka Rafli kasar pada perempuan.


'' Mama tanya kan saja padanya . Kenapa ia mencoba mencelakai istriku " sergah Rafli .


Ana pun menceritakan semuanya dan hampir serupa apa yang Bunga ceritakan , tapi di cerita ini Ana terlihat curiga pada Bunga . Awalnya Lia ingin meluruskan jalan pikiran menantunya yang dianggap salah paham namun ucapan Rahma yang tiba-tiba menyerobot membuat rahang Rafli terlihat mengeras bahkan wajah Lia terlihat tidak bersahabat disana.


'' Kenapa kau membahas tentang Jelita Rahma " ketus Ana...


'' Tapi itu kenyataan yang harus mama Lia tau dan suami mbak tau " ucap Rahma . Sungguh wanita bar-bar ini saingan cocok untuk adu mulut dengan Lia dan juga Rafli jika diinginkan.


'' Kenapa, kenapa kau tidak mengatakan ini padaku Ana. Aku ini suamimu. Apa mas tidak pantas mengetahuinya . Itu tentang anak kita " ucap Rafli mengusap wajah nya kasar. Rafli sendiri tak bercerita jika belakangan ini Bunga selalu menunggunya saat pulang bekerja saat larut malam.


'' Maaf mas . Maafkan aku " lirih Ana.


'' Ida " ucap Lia degan suara menggelegar.


'' Panggil Bunga kemari " imbuhnya dan di angguki Ida .


'' Apa maksud Bunga membiarkan Jelita memanggilnya dengan sebutan Mama . Dia tak pantas sama sekali " gerutu Lia kini menampakkan taringnya .


'' Ayo duduk sayang " ucap Lia lembut terhadap Ana.


'' Rahma kau duduk lah , kenapa berdiri disitu nanti keluar bayimu " ucap Lia membuat Rahma memberengut kesal.


'' Ma , nanti jangan marahi Bunga. Bilangnya pelan-pelan saja " bisik Ana .


'' Kita lihat saja nanti ya. Maafin mama , karena menawarkan kalian untuk menerima Bunga menjadi baby sitter. Mama kasian padamu , kau begitu kelelahan Ana " ucap Lia.


'' Tak apa ma . Aku mengerti " ucap Ana tersenyum.


Jangan lupa like dan komentarnya ya....


Next episode bakal ada konflik tapi gak berat banget lah.


Selamat membaca 😊.

__ADS_1


Semoga sehat selalu 😊


__ADS_2