Takdir Cinta

Takdir Cinta
Suami Sempurna


__ADS_3

Setelah lebih dari 25 jam dan melakukan transit di Dubai kini Rafli telah tiba di kota J , mobil pribadi miliknya juga telah menunggu sang tuan muda yang akan berstatus Ayah muda. Para bodyguard berjejer rapi memberi hormat pada Rafli. Saat turun dari pesawat hingga menuju mobil senyum Rafli kian merekah berbeda saat berada di pesawat pribadinya yang berwajah cemberut karena merasa seharian di pesawat miliknya.


Sang sopir mencuri pandang kearah Rafli yang terlihat kian tersenyum.


" Bukan gila , tuan muda hanya bahagia " batin Supir.


Rafli saat ini memikirkan memeluk tubuh Ana yang begitu ia rindukan , ia merindukan semua yang ada pada diri Ana. Bagai kupu-kupa yang mengelitiknya ia membayangkan reaksi kaget Ana saat di pagi hari nanti , ia berharap Ana telah tertidur nyenyak karena ini pukul dua dini hari dan ia bisa memeluknya dan mengecup bibir sang istri saat menyambut mentari pagi.


" Rasanya aku benar-benar gila jauh darimu sayang " gumam Rafli.


" Hei cepatlah sedikit , kenapa mobil ini berjalan bagai siput " ucap Rafli.


" Iya tuan " jawab sang supir , padahal kecepatannya sudah di atas 200km / jam. Sang supir menambah kecepatan mobil tersebut dengan batas maksimal membuat jarum yang telah mentok pada batas kecepatan. Andai sang supir di ijinkan untuk menggunakan Buggati dan Hundra yang memiliki kecepatan di atas 400km /jam maka Rafli sesaat saja sudah berada di rumahnya , membawa rindu yang menggebu-gebu.


Mobil yang membawa Rafli telah tiba di mansion miliknya yang kini telah berlantai lima. Dimana salah satu ruang di lantai tiga itu terlihat remang , membuat bibir Rafli melengkung sempurna karena diyakini penghuninya tengah terlelap. Sebenarnya kamar Ana dan Rafli telah pindah di lantai bawah namun Ana merasa tak nyaman di lantai bawah tersebut meski Rafli telah mengubah nuansanya namun Ana tetap enggan menempatinya lebih dari dua hari tiap usai di ubah setiap nuansanya.


Rafli segera melangkah cepat dimana udara segarnya berada , sepi sepanjang perjalanan menuju kamarnya karena para pelayan wanita sudah kembali ke villa di belakang mansionnya.


Ceklek.


Rafli tersenyum saat mendapati Ana tengah tertidur nyenyak , ingin sekali menc*mbu setiap inti kulit milik sang istri namun ia sadar akan tubuhnya yang menurutnya belum bersih padahal tidak sedikitpun dirinya berkeringat.


Rafli segera bergegas kekamar mandi setelah melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya.. Ia akan mandi cepat saat ini karena sangat merindukan kehangatan sang istri.


Rafli bejongkok di tepi ranjang melihat wajah sayang istri yang terlelap , di pindahkannya dengan hati-hati surai yang menutupi wajah cantik wanitanya.


" Mas merindukanmu , kau asyik tidur terlelap tapi mas senang kau terlihat tanpa beban sayang . Beruntung kau tak kurus sedikitpun , jika itu terjadi , mas akan menghukum mereka " gumamnya lalu bangkit menuju pembaringan di samping Ana. Rafli memeluk erat tubuh sang istri mencium semua bagian wajahnya dengan lembut kemudian ikut terlelap ke alam mimpi untuk bertemu istrinya yang kini ntah bermimpi apa.


.


.


.


Ana merentangkan tangannya saat baru terbangun dari tidurnya.


" Aduhh " ucap Rafli tersentak kaget dan terbangun.


Ana mengucek matanya memastikan bahwa suaminya pulang dan kini ada disampingnya , ia menajamkan pandangannya dan melihat dengan lekat makhluk disampingnya.


" Apa sudah percaya " ucap Rafli memeluk tubuh Ana dan mencium dengan sayang , ia mengerti keterkejutan Ana karena Rafli sebelumnya mengabari Ana akan pulang esok.


" Aku merindukanmu mas " ucap Ana manja dan membenamkan kepalanya di dada bidang suminya , terdengar isakan kecil dari mulut Ana.


" Mas juga merindukanmu , sangat merindukanmu " jawab Rafli mengecup pucuk kepala Ana yang rambutnya sangat harum .


" Tapi mas jahat , bilang padaku pulangnya besok " ucap Ana lirih.


" Kapan mas pulang " imbuhnya.


" Ampun sayang " ucap Rafli karena Ana memukul dadanya melampiaskan rasa kesal Rafli mengerjainya , meski Rafli tak meradakan sakit sedikitpun.


" Mas pulang jam dua malam sampai di bandara , sekitar jam tiga mas sampai rumah. Mas sangat rindu , jadi mas mempercepat pulang karena sangat merindukan istri mas ini " ucap Rafli mengecup bibir Ana.

__ADS_1


" Pantas mata mas sedikit menghitam , bagaikan panda " ucap Ana tersenyum setelah meneliti wajah suaminya.


" Aku rela menjadi apapun asal kau bahagia dan tersenyum sayang " batin Rafli , melihat senyum Ana membuat ia bahagia meski senyum saat ini tercipta karena lingkiran hitam di matanya , Rafli tidak mempermasalahkan hal itu.


Masih di tempat tidur Rafli menyalurkan rasa rindunya pada Ana , ia melakukan hal apapun namun belum saatnya untuk penyatuan mereka. Ana membalas hal apapun yang di berikan oleh Rafli , Ana dan Rafli terhanyut akan hal yang mereka ciptakan hingga suara desah*n Ana membuat Rafli tak tahan pada inti permainan.


" Bolehkah ayah membesuk anak kita bunda " tanya Rafli karena kabut gairah menyelimuti hati , otak dan jiwanya. Ralfi selalu menahan hasrat saat ingin menyentuh istrinya karena Ana sering kali mengalami kram perut saat usai mereka melakukannya dan itu membuat Rafli khawatir kandungan Ana kenapa-napa akibat ia tak bisa mengendalikan dirinya hingga Ana mengizinkannya untuk menyentuhnya . Anak adalah penguhubung antara dirinya dan Ana seumur hidup.


" Boleh ayah , tapi yang pelan ya " ucap Ana dan Rafli mengangguk.


Rafli melakukan penyatuannya dengan penuh cinta , Ana dan Rafli merasakan sensasi yang berbeda karena Rafli begitu hati-hati. Setiap Rafli melakukannya , Ana selalu merasakan sensi yang berbeda dan itu semakin nikmat begitu juga sebaliknya. Rafli selalu mengutamakan kepuasan Ana sebagai bukti keperkasaannya , begitu juga Ana selalu berhasil membuat Rafli terasa puas yang berakibat selalu mengulangnya kembali , Ana termasuk istri yang aktif di atas ranjang karena ia tak ingin ada pelakor yang mengambil suaminya. Suaminya sempurna dan banyak yang menaruh hati pada suaminya dan Ana tak akan membiarkan wanita lain memgambil suami sempurna miliknya. Ritme selow yang dimainkan Rafli kini semakin menuntut dan bertambah kecepatannya , saat merasa perut Ana sedikit mengencang , dengan segera Rafli melajukannya dengan pelan dan sekali berdiam agar perut Ana kembali rileks karena Rafli yang sangat merindukan Ana memilih memberi jeda sejenak dari pada mengakhirinya.


" Ayah mencintaimu bunda " ucap Rafli mengecup bibir Ana.


" Bunda juga mencintaimu ayah " jawab Ana ******* bibir suaminya dan menarik tengkuk Rafli untuk memperdalam pagutan mereka dan Rafli sangat menyukai itu , itulah yang di inginkannya lalu memulai melaju mundurkan senjatanya .


.


.


.


Ana dan Rafli menuruni tangga dengan bergandengan tangan , orang tua Ana serta dua adiknya keget karena Rafli telah kembali. Sementara Rahma mendengus kesal , ternyata ini alasannya tak ada sahutan saat Rahma memanggil mbaknya untuk sarapan bersama.


" Eh ada pengantin " ucap Rahma bingung , karena di bilang pengantin baru , Rafli dan Ana telah lama menikah namun keromantisannya mengalahkan pengantin baru.


" Jaga sopan santunmu Rahma , apa ini yang kau dapat di Milan " ucap Gunawan dingin seketika membuat Rahma bungkam.


" Maaf pak " jawab Rahma takut.


Sementara Rizki melihat Rafli sebal karena di pastikan kakak iparnya ini akan menguasi Ana saat kembali.


Ana menuangkan nasi lengkap dengan lauk serta sayur yang di inginkan Rafli kepiring makan milik Rafli.


" Terima kasih sayang " ucap Rafli membuat Ana tersipu malu karena bukan hanya ada mereka berdua sementra yang lain tersenyum melihatnya kecuali Rizki yang kini merajuk karena piringnya kosong menolak diambilkan sang ibu , mbak Rahma dan sang bapak . Ia menatap sebal Ana karena tak memperhatikannya namun sedetik kemudian Ana melihat piring Rizki yang kosong segera mengisinya penuh seperti gunung dan membuat Rizki tersenyum senang.


" Terima kasih mbak Ana , besok jika aku telah dewasa dan menjadi pria sejati , aku ingin menikah dan wanitanya seperti mbak Ana " ucap Rizki di sela makannya membuat Gunawan tersedak mendengar ucapan anaknya yang dinyatakan tak cukup umur membahas pernikahan. Sementara yang lain tersenyum dan Rafli menahan tawa.


" Pak pelan-pelan " ucap bu Laras memberikan minum untuk suaminya.


" Si Rizki kenapa " tanya Gunawan.


" Biasalah pak , dia mengagumi Ana dari dulu dan sangat manja padanya , apalagi merasa rivalnya datang " gumam bu Laras dan Rafli tersenyum mendengarnya. Rafli ingin sekali menggoda sang adik iparnya tersebut yang selalu sebal padanya. Karena saat Ana bersama Eric , Rizki bebas bermanja dengan Ana . Tapi saat Ana bersama Rafli , Rizki merasa sangat terbatas karena hubungan Rafli dan Ana kini telah menikah dan bukan sekedar pacaran.


" Jika boleh aku ingin mbak Ana menjadi istriku " ucap Rizki polos dan membuat semua orang tersedak bahkan Rafli tersedakny terasa sakit hingga ke hidung


" Husstt jangan ngomng gitu " ucap Laras menesahati.


" Kenapa bu " tanya Rizki polos.


" Karena mbak Ana ini kakak mu , saudara kandungmu dan kita punya ikatan darah dan jika menikah itu dilarang agama Rizki dan itu DOSA " ucap Ana menasehati membuat Rizki cemberut.


" Iya itu benar sayang " ucap Laras mengelus punggung Rizki lembut.

__ADS_1


" Lagian kau harus tahu , jika mbak Ana ini hanya tercipta untuk mas Rafli " ucap Rafli bangga meledek adik iparnya meski serius di setiap ucapannya.


" *Adik nya sendiri saja menginginkan Nanaku menjadi istrinya . Mengidam apa ibu mertuaku dulu saat mengandung Rizki " batin Rafli*.


Ucapan Rafli membuat awan mendung tercipta di wajah Rizki dan semua orang menyadari itu .


" Aauuuww sayang sakit " pekik Rafli karena Ana menginjak kuat kakinya.


" Jangan suka meledeknya , ingatlah Rizki adikku dan ia masih kecil. Bagaimana kau bisa dekat dengannya , kau sangat menyebalkan " ucap Ana menahan kesal .


" Aku cemburu " ucap Rafli lolos begitu saja dan Ana memutar kedua bola matanya jengah.


" Rizki kemari , mbak suapi " ucap Ana karena Laras susah membujuk Rizki sedari tadi dan benar saja penawaran Ana membuat Rizki tersenyum.


" Sayang " ucap Rafli hendak protes karena ia ingin di suapi juga , sementara Ana tak peduli dengan bayi besarnya.


" Rafli , apa mau bapak suapi " sahut Gunawan yang sedari tadi diam membuat wajah Rafli pucat karena mendadak gugup sementara Rahma tawanya pecah membahana namun seketika bungkam saat melihat tatapan tajam dari Gunawan. Laras dan Ana mengulum senyum sementara Rizki terkikik lucu.


" Eh dasar ni bocah " batin Rafli melirik Rizki.


" Gak usah pak , Rafli makan sendiri " ucap Rafli langsung melahap sarapannya dan Gunawan mengangguk melanjutkan sarapannya dan suasana menjadi hening karena semua menikmati sarapan paginya dan mengucap syukur atas rezeki yang masih Tuhan beri.


" Ya Allah , aku rasanya tak ingin kau panggil cepat . Aku bahagia melihat ke**luargaku bahagia " batin Laras.


Setelah sarapan dan berbincang dengan keluarga Ana , Rafli segera mengajak Ana ke kamarnya dengan dalih Ana harus beristirahat. Orang tua Ana hanya tersenyum hangat melihat Rafli dan Ana bagaikan pengantin baru.


" Mas kamu beneran gak kerja " tanya Ana saat di dalam kamar , karena Rafli menempel bagaikan perangko.


" Ayah masih kangen bunda " ucap Rafli dengan tangan nakalnya tak bisa berhenti.


" Kok keluar air " tanya Rafli polos.


" Mas , itu asi " pekik Ana.


" Astaga " ucap Rafli memperhatikan asi Ana di telapak tangannya. Ana terlupa melarang Rafli agar tidak memerasnya tadi , selama berhubunganpun Ana melarang Rafli untuk menghisapnya , tak ingin asi nya di minum Rafli , karena Ana hanya ingin Asinya di nikmati bayinya nanti bukan bayi besarnya


" Bagaimana jadinya jika aku mencicipi , apa aku akan menjadi anak Ana . Ah.... aku tidak mau , aku ingin jadi suaminya saja " batin Rafli bergemuruh.


" Kau tidak akan menjadi anakku mas ataupun mahram , kau tidak akan menjadi saudara persusuan dengan anakmu " ucap Ana.


" Apalagi kau melakukannya tak sengaja , tapi kalau bisa aku ingin asi ku hanya di cicipi anakku " imbuhnya.


" Kenapa begitu , aku juga ingin mencicipinya , aku akan menantikan ketidak sengajaanku dan meminum asimu " ucap Rafli.


" Hahaha , kau berencana untuk tidak sengaja , bagaimana bisa mama Lia melahirkan anak sepertimu mas " ucap Ana tergelak.


" Jawabannya , karena kau akan lahir Ana. Tulang rusukku kan ada di dirimu. Aku lah pria yang baik memberikan tulang rusukku sebelum aku lahir dan kau tercipta " ucap Rafli memberi alasan untuk dirinya.


" Selalu saja di jawab , tulang rusuknya ada padaku " batin Ana.


Dan seharian itu Rafli menikmati hari kebersamaannya bersama Ana di dalam kamar , Rafli yang selalu manja menjadi bayi besar , seolah tak ingin kehilangan perhatian Ana nanti saat anak mereka lahir , apalagi keluarga Ana telah pulang kerumah milik Gunawan , bapaknya Ana.


Jangan lupa like dan komentar...

__ADS_1


Next berikutnya akan ada konflik ya....


__ADS_2