
Semua keluarga berkumpul di rumah Sam dan Abigail tuk menyambut kelahiran baby Yuan. Alya yang masih memakai gips haris duduk di kursi roda. Tapi, tak membuat senyum di wajahnya hilang begitu saja. Alya, begitu bahagia bisa memiliki sosok adik.
"Wajahnya sangat imut sekali. Lihat mata dan bibirnya yang kecil," ucap Alya seraya menyentuh pelan pipi Yuan.
"Apa kau senang sayang?" tanya Abi.
"Sure, aku sangat senang. Ada Yuan yang jadi adikku," jawab Alya.
Sam yang gemas pada Alya pun mencubit hidung mancungnya. Alya hanya cemberut saat merasakan sakit pada hidungnya.
Vanya yang baru saja datang dari supermarket pun merasa senang karena semuanya sudah berkumpul disana. Zyan dan Kiara yang melihat kedatangan, Vanya dengan banyak kantong plastik pun membantunya.
"Kemarikan! Kenapa kau belanja begitu banyak?" tanya Zyan.
"Malam nanti, kita adakan bakar-bakar seafood, kak. Jadi, kalian tak boleh pulang!" seru Vanya.
"Baiklah, kalau begitu hayo kita bereskan sua bahan-bahannya tuk nanti malam!" pinta Kiara.
Mereka pun bergegas ke arah dapur, Zee masih duduk bersama dengan Jiso begitu juga kembar Rio dan Rino.
"Mommy, nanti akan seperti apa wajah adik, Al?" tanya Alya.
Pertanyaan sang anak membuat Zee mati kutu, sedangkan Sam dan Abi malah tersenyum meledek padang.
"Emm, wajahnya akan seperti Mommy atau Daddy," jawab Zee.
"Berikan aku adik perempuan! Biar, Al tak bosan jika berada di rumah sendirian," pinta Alya dengan mata yang binar-binar.
"Memang, Al mau mempunyai berapa adik? Biar, Daddy buatkan," ucap Alex yang baru saja datang.
Membuat, Zee terkejut seraya melotot pada Alex. Tapi, balasan dari Alex malah senyum menggodanya. Alya tersenyum seraya merentangkan tangannya minta tuk di gendong.
Alex menggendong sang putri lalu menciumnha dengan penuh kasih sayang.
"Tunggulah sebentar lagi, Mommy akan segera mempunyai bayi di dalam perutnya," bisik Alex.
Alya begitu senang mendengarnya, Alya mencium pipi Alex tersenyum dengan sangat bahagia.
"Ok," balas Alya.
Zee memperhatikan suami dan putrinya dengan penuh tanya. Apa yang mereka bisikkan?.
Rumah Abigail dan Sam sangatlah luas dengan banyak kamar kosong. Malam harinya mereka benar-benar mengadakan pesta seafood.
Terlihat mereka semua berbahagia, Vanya sibuk dengan ponakan-ponakannya. Jiso begitu manja pada Rio, bahkan anak kecil itu berkata ingin menikahi sang kakak sepupu membuat semua orang tua disana tertawa mendengar ucapan dari Jiso.
Tak lama kemudian terlihat mobil Wiliem berhenti di tepi jalan. Lelaki tampan itu semakin tampan dengan penampilan casual nya.
Wiliem membawa banyak sekali makanan kering tuk anak-anak. Rio dan Rino menghampirinya membantunya membawakan kantung plastik tersebut.
"Paman paling tahu, jika kita kekurangan cemilan," ucap Rio tertawa.
Wiliem hanya tersenyum seraya menepuk bahu Rio, semuanya orang disana menyambutnya. Kecuali Vanya hanya berubah menjadi dingin pada Wil, dia masih kesal mengingat kejadian pagi itu. Bahkan, ciuman itu masih terasa di bibir Vanya.
"Aish, siapa pula yang mengundangnya kemari," gumam Vanya dengan memalingkan wajahnya.
Wil melihat ke arah Vanya sekilas, membuat dirinya merasa tak enak pada Vanya, karena perbuatannya.
"Dia pasti marah padaku? Vanya pasti berpikir aku pedofil anak," batin Wiliem.
Wil pun bergabung dengan Alex dan Zyan. Banyak sekali makanan disana, semuanya makan dengan lahap, bersenang-senang, penuh kekeluargaan.
"Aku akan ambilkan buah dulu di dalam," ucap Vanya.
Zee dan Kiara berbisik melihat Vanya dan Wil. Kiara juga memberitahukan kejadian saat di rumah sakit, Zee terkejut mendengar itu.
"Apakah, Wil menyukai Anya?" tanya Zee.
"Entahlah, bukannya kau yang lebih tau Wil dari pada kita semua," jawab Kiara.
"Bagaiamana jika memang, Wil menyukai Anya?" tanya Zee.
"Ya, sudah biarkan saja. Mereka sudah sama-sama dewasanya," jawab Kiara.
Vanya sengaja menjauh dari pandangan Wil, Vanya begitu canggung saat bertatapan dengan Wil.
"Hemm, kenapa liburanku menjadi seperti ini? Ahh, apa aku kembali saja ke Paris. Tapi, disana pasti sangat sepi, karena semua orang juga pergi berlibur," gumam Vanya.
__ADS_1
Gadis itu sangat bingung, sampai lupa jika sudah memakan banyak buah anggur di depannya. Ada sosok di belakangnya yang sedari tadi memperhatikan Vanya dengan sedih.
"Dia akan kembali ke Paris? Hanya karena tak ingin bertemu denganku. Astaga, ciuman itu menjadi kesalahan tukku," batin Wiliem.
Vanya yang sadar telah menghabiskan buah anggur pun terkejut dan langsung mengambil kembali buah yang berada di dalam kulkas. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Wil sedang berdiri disana.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Vanya.
"Mencarimu," jawab Wil singkat.
"Ada apa, kau mencariku?" Vanya terlihat begitu gugup.
Wil maju beberapa langkah, berdiri tepat di depan Vanya. Terlihat wajahnya begitu sendu, Wil menatap lekat wajah Vanya.
"Kenapa gadis kecil ini membuatku terus memikirkan?" batin Wil.
"Astaga, dia mau apa lagi? Tidak takut ada yang melihatnya apa?" batin Vanya.
Vanya melangkah mundur dan tubuhnya sudah menempel pada tembok. Jantungnya berdetak sangat cepat.
"An, jangan bersentuhan dengan lelaki lain. Aku, aku sungguh tak suka melihatmu di sentuh oleh lelaki lain. Meski pun, itu Sam kakakmu," lirih Wil dengan menunduk.
Vanya yang mendengar itu begitu aneh, bingung apa yang di maksud dengan perkataan dari Wil.
"Apa hak mu berkata seperti itu? Sam itu kakaku, jadi dia berhak melakukan apapun padaku. Jadi, jangan mengatur hidupku!" seru Vanya.
Vanya mendorong tubuh Wil, bermaksud tuk segera pergi. Tapi, tangan kokoh itu begitu cepat melingkar di perut Vanya.
"Percayakah, kau jika aku menyukaimu? Jika aku mulai mencintaimu, kau sudah membuatku selalu memikirkanmu? Aku, aku cemburu melihat, Sam mencium bibirmu. Karena itu, aku memintamu menciumku saat di rumah sakit. Aku tak rela melihatmu di sentuh lelaki lain. Termasuk Sam kakakmu," ucap Wil.
"Lepaskan aku! Kau ini bicara apa, aku bukan siapa-siapa dirimu. Tuk apa kau merasa cemburu?" tanya Vanya.
"Semua yang aku katakan adalah semua yang aku rasakan padamu. Jika, kau tak merasakan perasaan yang sama denganku. Baiklah, aku akan melepasmu, tak akan lagi muncul di depanmu," jawab Wil.
Deg,,,
Hati Vanya begitu sakit, saat mendengar Wil akan menjauhi dirinya. Tak lagi menemuinya, Vanya masih belum tahu apa perasaannya pada Wil.
Dengan begitu berat hati, Wil melepas pelukannya dan segera pegi dari dapur. Tak lama terdengar suara deru mobil yang semakin menjauh.
Vanya masih terpaku disana, seakan raganya hilang entah kemana. Air matanya mengalir begitu saja tanpa dia sadari. Ada rasa sedih dalam hatinya.
"Dia, dia benar-benar pergi? Tanpa mendengar lagi jawaban dariku?" batin Vanya.
Vanya berlari masuk ke dalam rumah, terlihat Zee dan Kiara melihat kejadian itu pun semakin yakin ada sesuatu pada mereka.
"See, kau lihat sendiri. Ada sesuatu pada mereka," ucap Kiara.
"Aku akan bertanya pada, Wil. Dia sudah membuat adik kita menangis," balas Zee.
Malam itu, Zee meminta pulang tapi ke rumah Sofia. Alex dan Alya begitu senang, ada rencana tersendiri yang akan Zee lakukan.
Pukul sebelas malam, akhirnya mereka sampai di rumah Sofia. Alya di sambut oleh sang Grandmanya dengan pelukan dan ciuman. Sofia meminta Alya tuk tidur dengannya.
"Ada apa, katakan padaku! Kenapa kau ingin pulang kemari?" tanya Alex.
Zee tersenyum dan memeluk sang suami, " Kau memang paling tahu pikiranku,".
Zee menceritakan semuanya pada Alex, Alex tersenyum mendengarkan semua itu, " Jadi, perjaka itu menyukai Vanya?" tanya Alex.
"Tanyakan saja pada adikmu, itu!" perintah Zee.
"Hey, tapi sejak tadi aku tal melihatmu? Dimana, Wil?" tanya Alex.
"Aku tak tahu. Carilah, tanyakan padanya," pinta Zee.
"Besok aku akan tanyakan padanya. Sekarang ada pekerjaan rumah yang harus aku lakukan!" seru Alex.
"Pekerjaan rumah apa?" tanya Zee bingung.
Alex mengendong tubuh Zee, lalu merebahkannya di atas ranjang. Membuat, Zee terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zee.
"Aku kan, sudah bilang. Ini pekerjaan rumahku," jawab Alex seraya membuka tali piyama Zee.
"No, aku tak mau. Aku sangat lelah," ucap Zee dengan nada manja.
__ADS_1
"What? Zee, apa kau tak dengar Alya meminta adik? Aku yang akan memimpin, kau tinggal diam saja," balas Alex.
"Ahh, kau mengkambing hitam kan Alya. Bukannya, kau sendiri yang mau?" tanya Zee.
Alex tak menjawab, lelaki itu sudah menguasai tubuh sang istri. Memberikan sentuhan lembut penuh dengan kecupan. Menciptakan suasana malam yang panas di dalam kamar itu.
Zee tak akan bisa lepas dari cengkraman sang suami jika sudah terpenjara dalam dekapannya.
Malam itu, Wiliem begitu para hati. Rasa sukanya pada Vanya tak sama saat dia menyukai Raisa. Wanita masa lalunya dengan Alex.
Seorang Wil yang tak bisa minum pun nekad dengan meminum sebotol alkohol di sebuah club. Semua wanita menatap Wil dengan senyum yang menggoda. Sang pemilik club pun merasa aneh dengan sikap Wil pun begitu terkejut. Karena tak ada yang tahu jika Alex mempunyai saudara kembar.
"Hello, Tuan Alex. Apakah kau membutuhkan teman tuk malam ini? Sudah sangat lama kau tak kemari," ucap wanita itu.
Wil hanya tersenyum dengan tatapan sayunya. Terlihat wanita seksi di depannya. Begitu menggoda, tapi entah kenapa Wil malah membencinya.
"Pergilah! Aku tak suka wanita sepertimu!" perintah Wil dengan mengibaskan tangannya.
Wanita pun terkejut mendengar ucapan Wil, lalu dengan begitu saja pergi dengan mengumpat.
Sang Mamy pun menelpon Alex tuk memberitahukan keberadaan Wil yang sedang ada di tempatnya.
Drrttt, ponsel Alex bergetar di atas meja nakas.
Alex yang baru saja selesai bercinta dengan sang istri pun begitu terganggu oleh sering ponsel itu.
Alex melihat nama yang muncul di layar ponselnya pun terkejut karena nama mucikari dari club langganannya.
"Ada apa kau menelpon ku?" tanya Alex marah.
"Maaf, Tuan. Saya menganggumu malam-malam seperti ini, tapi saya hanya ingin memberitahukan jika kembaranmu ada disini. Dan, semua anak buahku mengira dia dirimu. Jadi, bisakah kau cepat kemari? Dia terlihat begitu mabuk," jelas Mamy.
Alex melebarkan matanya saat mendengar menuturan sang Mamy. Dengan segera, Alex turun dari ranjangnya lalu memakai semua bajunya.
"Anak itu, kenapa harus pergi ke tempat itu? Ah, orang patah hati memang tak punya akal," seru Alex seraya menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Alex mengemudi mobilnya dengan cepat, jalanan begitu sepi karena memang sekarang pukul dua dini hari. Sesampainya di sana, Alex langsung masuk tanpa memperdulikan semua tatapan heran dari semua orang.
Alex melihat kesana kemari, lalu melihat Wil sedang berada di pojok dengan sebuah botol di tangannya. Tak ada wanita di dekatnya, membuat Alex begitu lega.
Alex menghampiri Wil, lalu menarik paksa botol itu. Lalu meminum semua cairan dalam botol itu dengan sekali teguk. Membuat, Wil marah karena ulahnya.
"Hey, brengsekk kenapa kau mengambil botolku?" tanya Wil dengan nada marah.
Wil baru diam saat melihat siapa lelaki yang ada di depannya. Alex menatapnya dengan senyuman mengejek.
"Berapa botol yang sudah kau habiskan?" tanya Alex dengan melipat tangannya.
"Sudahlah, pergi sana! Jangan ganggu aku!" pinta Wil.
"Perjaka seperti mu tak cocok masuk ke dalam tempat penuh wanita murahan seperti ini," sindir Alex.
Wil hanya diam mendengar ucapan dari Alex. Lalu tersenyum mengejek pada Alex, "Biarkan, aku menjadi lelaki brengsekk seperti dirimu."
"Sudah, ayo pulang! Kita selesaikan semuanya di rumah!" perintah Alex serah menarik tangan Wil.
Wil melepaskan tangan Alex dengan paksa. Alex yang sudah lelah karena pergulatannya dengan Zee, sudah benar-benar kahabisan tenaga tuk melawan Wil.
Dengan langkah malas, Alex menghampiri Mamy tuk memerintahkan anak buahnya.
"Panggil anak buahmu, dan selesaikan dengan cepat! Aku tunggu di dalam mobil," ucap Alex.
"Tapi, Tuan. Dia kan saudaramu, bagaimana anak buahku mau melakukan itu. Mereka takut padamu," balas Mamy.
"Lakukan dengan pelan, dia sudah mabuk. Buat dia pingsan saja," ucap Alex.
"Baiklah, Tuan," jawab Mamy.
Setelah berbicara seperti itu, Alex kembali masuk dalam mobilnya. Memejamkan sebentar matanya yang sudah lelah, begitu mengantuk.
Tok...tok.. Terdengar suara ketukan di kaca mobil Alex. Ternyata, anak buah Mamy membawa Wil yang sudah babak belur dan pingsan.
"Masukkan dia di belakang. Dan ini bayaran kalian," ucap Alex seraya memberikan amplop coklat.
"Terimakasih, Tuan," ucapnya.
Alex melihat wajah, Wil yang babak belur. Alex tersenyum dengan penuh Arti. Dengan keadaan yang sedikit mengantuk, akhirnya Alex membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di rumah, sudah sangat pagi.
__ADS_1
Alex membawa Wil ke dalam kamarnya. Karena Alex sudah merasa sangat mengantuk. Akhirnya, Alex pun tertidur di samping Wiliem.