
Malam sudah begitu larut, tapi dalam mansion itu masih saja begitu ramai dengan di iringi dentuman suara musik yang semakin membuat gejolak di dalam tubuh pada pemuda pemudi. Begitu pula dengan Wi dan Vanya, karena sejak awal sudah ada perkataan jika mereka adalah sepasang kekasih.
"Aku ingin pulang saja! Disini terlalu berisik," ucap Vanya.
"Tunggu sebentar saja, sampai acara ini berjalan setengah saja. Setelah itu, aku akan mengatarmu pulang. Jika kau pulang sendirian, aku bisa di bunuh oleh Sam," balas Wil.
Dengan wajah yang di tekuk, akhirnya Vanya pun tetap diam disana. Duduk dengan manis. Terlihat, Erika terus memandangi Vanya dan Wil. Aura kemarahannya masih saja terlihat, dia begitu cemburu pada Vanya.
"Akan ku balas kau! Kau sudah mengambilnya. Tuan Wil adalah milikku!" seru Erika seraya meminum minumannya dengan sekali teguk.
Waktu terus berputar, Vanya merasakan kantuk saat setelah meminum jusnya. Bukan karena dia tak bisa meminum alkohol. Hanya saja, dia tak ingin sampai mabuk. Nanti siapa yang akan menyetir pulang jika Vanya dan Wil sama-sama mabuk.
"Kau kenapa?" tanya Wil.
"Aku sangat mengantuk, aku akan pergi ke toilet dulu," jawab Vanya.
"Pergilah! Jangan sampai kau tak kembali," balas Wil.
Vanya pun beranjak pergi ke toilet, tanpa dia tahu sudah ada yang mengikuti dirinya dari belakang. Setelah, Vanya masuk ke dalam. Pintu itu di kunci dari luar begitu saja.
Di ruang pesta terlihat Wil terus meminum bir nya dengan cepat, terlihat Erika berjalan menghampirinya dengan tersenyum cantik.
"Hallo, Tuan Wil," sapa Erika.
"Hay, Erika," sapa kembali Wil.
"Bolehkah, aku duduk disini?" tanya Erika.
"Duduklah! Nanti akan ada Vanya, saya akan mengenalkannya padamu," jawab Wil.
"Sungguh keberuntunganku, bisa berkenalan dengan Nona Vanya. Baiklah, saya akan menunggu disini," balas Erika.
Wil mengangguk ia, lalu tersenyum lihat kegilaan pada teman-temennya yang berpesta dengan kekasih mereka tanpa malu.
"Tuan, apakah anada sudah mengenal lama dengan Nona Vanya?" tanya Erika.
"Aku mengenal Vanya sudah sangat lama, tapi kami baru saja dekat sekitar lima bulan lalu. Memangnya kenapa?" tanya Wil.
"Tidak ada, saya hanya ingin bertanya saja. Karena kalian begitu sangat akrab. Dan, apakah benar dia calon istrimu?" tanya Erika.
"Masalah calon istri, nanti kau bisa tanyakan langsung jika dia sudah kembali," jawab Wil tersenyum.
Erika meremmas ujung dresnya, dia kembali merasa cemburu dan marah. Niatnya kini semakin kuat tuk bisa memiliki seorang Wiliem.
"Kenapa dia begitu lama? Atau ada sesuatu padanya?" tanya Wil.
"Memangnya, kemana Nona Vanya?" tanya Erika.
__ADS_1
"Dia bilang ingin ke toilet, tapi kenapa belum kembali juga," jawab Wil mulai cemas.
Di dalam toilet, Vanya yang baru saja membersihkan wajahnya dan kembali merias wajahnya begitu terkejut saat pintu itu tak bisa di buka.
"Terkunci? Pintu ini terkunci, tolong, tolong, siapapun tolong aku!!" teriak Vanya seraya memukul-mukul pintu itu.
Wil yang cemas pun akhirnya berdiri melihat-lihat siapa tau saja Vanya sudah datang. Saat itu lah, Erika memasukkan pil ke dalam gelas minuman Wil.
"Tuan, kau diamlah disini. Biarkan aku saja yang mencarinya," ucap Erika.
"Baiklah, tolong kau cari dia. Karena dia pasti berada di dalam toilet wanita," balas Wil.
Di dalam toilet, Vanya sedang berusaha mencari cara agar bisa keluar dari sana pun telah di tolong oleh sosok lelaki.
Ceklek,,,
Suara pintu terbuka, terlihat sosok pelayan lelaki masuk dan melihat Vanya.sedang berdiri disana.
"Nona, kau tidak apa-apa?" tanya pelayan tersebut.
"Terimakasih, kau sudah membantuku," jawab Vanya.
"Tadi saya melihat toilet ini tertutup, jadi saya mengeceknya. Dan benar saja ada orang di dalamnya," ucap pelayan itu.
Vanya pun tersenyum lalu memberikan uang beberapa lembar padanya. Pelayan tersebut begitu senang dan berterima kasih.
"Nona Vanya, anda ada sini?" tanya Erika.
"Ya, maaf. Anda siapa?" tanya Vanya.
"Ahh, mungkin anda lupa dengan saya. Saya Erika wanita yang pernah bertemu di restoran tempo hari saat bersama dengan tuan Wil," jawab Vanya.
"Maaf, Nona. Saat itu aku tak terlalu memperhatikan anda. Karena, Al menangis," ucap Vanya.
"Oh, ya tidak apa-apa. Aku kesini mencari anda. Karena, Tuan Wil mencemaskan anda yang tak lekas kembali saat pergi ke toilet," ucap Erika.
"Tadi aku terkunci di dalam sana, untung saja ada pelayan yang membukakan pintunya. Kalau begitu aku permisi dulu, Nona Erika. Terimakasih sudah memberitahu ku," seru Vanya.
Erika menyeringai dengan tatapan yang tak bisa di artikan, "Jangan harap kau bisa menemui Wil. Karena, malam ini dia akan menjadi diriku selamanya," batin Erika.
Saat Vanya berjalan tanpa dia tahu, Erika memukul tengkuk leher Vanya. Dan seketika gadis itu tak sadarkan diri. Setelah melihat Vanya tak sadarkan diri, Erika menelpon seseorang.
"Cepat! Kau harus membawanya ke kamar 204 dan biarkan dia senang-senang disana!" setu Erika di telpon.
Tanpa sengaja pelayan tadi melihat Vanya yang pingsan sedang bersama dengan Erika dan mendengar semua percakapan itu.
"Bukanya, itu wanita yang ada di dalam toilet tadi? Mau di bawa kemana dia? Aku harus memotonya lalu mengikuti dia," batinnya.
__ADS_1
Erika dengan santainya kembali ke ruang pesta dan menemui Wil.
"Tuan, maaf. Sepertinya, Nona Vanya sudah pulang terlebih dahulu. Aku sudah memeriksa di toilet tak ada siapa pun," ucap Erika.
"Apakah benar? Kau sudah memeriksa semuanya?" tanya Wil.
"Sudah, Tuan. Tak ada seorang pun disana, mungkin saja memang dia sudah kembali," jawab Erika.
Wil begitu marah mendengar jika Vanya tak ada dan mungkin pulang meninggalkannya. Tanpa Wil tahu, minuman itu sudah di beri obat oleh Erika pun dia minum dalam satu tegukkan.
Vanya sudah di angkat ke kamar 204 oleh seseorang lelaki disana, pelayan tersebut masih mengikutinya. Setelah tahu kamar mana yang di masuki oleh Vanya, dia berlari menjauh memberitahukan sang menejer.
Sang menejer begitu terkejut, mendengar laporan tersebut dan berencana memberitahukan Wiliem. Tapi dengan bersamaan Erika sedang memapah Wil ke kamar lain. Pelayan itu pun menjelaskan semuanya.
Dengan rencana si manajer, mereka pun menukar kamar tersebut dan membiarkan Wil dengan Vanya satu kamar. Karena, mereka mengira apa yang di ucapkan oleh Wil adalah benar saat mengenalkan Vanya sebagai calon istrinya.
Erika, membawa Wil masuk ke dalam kamar. Wil sudah terlihat begitu mabuk dan efek obat pun sudah mulai terlihat. Wil melihat Erika sebagai Vanya begitu agresif mencumbunya.
"Tuan bersabarlah, aku akan segera kembali. Malam ini aku akan merelakan diriku tuk dirimu," ucap Erika.
Wil hanya tersenyum mendengar ucapan dari Erika yang dia kira adalah Vanya. Erika pun keluar kamar dan entah pergi kemana. Barulah pelayan dan manager itu menjalankan rencana mereka. Membawa Vanya yang masih pingsan ke kamar Wil, sedangkan Wil sedang berada di dalam kamar. Lalu mereka menguncinya dari luar.
"Pak, apakah tidak apa membiarkan nona itu bersama dengan tuan itu?" tanya pelayan itu.
"Kau tahu tidak, mereka itu calon suami istri, Nona itu adalah Nona Vanya. Dan, Tuan itu adalah Tuan Wiliem," jawab manager.
"Astaga, mereka orang besar. Dan nona jahat itu sangat berani melakukan itu pada Tuan Wil?" tanya pelayan.
"Ya sudah, sekarang kita lakukan rencana kedua kita tuk mengganti no kamar ini, lalu mengunci nona itu sampai pagi," jawab manager.
Pelayan itu pun mengangguk ia, dia begitu kesal melihat orang baik seperti Vanya di lukai dan melihat Erika akan mengambil calon suaminya.
Di dalam kamar, terlihat Vanya sudah berbaring di atas ranjang. Sedangkan Wil sudah melepas kemejanya, melihatkan tubuhnya yang begitu kekar, kini Wil hanya memakai celana boxer saja.
Wil yang baru keluar dari toilet melihat Vanya yang tertidur pun tersenyum penuh arti, dengan perlahan Wil menaiki ranjang karena tak ingin membuat Vanya terbangun.
Perlahan namun pasti, Wil mulai menciumi seluruh wajah Vanya, melummat bibir ranum sang gadis, tangannya sudah melucuti semua yang melekat pada tubuh sang gadis.
"Malam ini kau yang mengatakannya sendiri, jika kau akan menjadikan dirimu milikku," ucap Wil seraya membelai wajah ayu Vanya.
Malam itu, Wil melepaskan semua rasa yang selama ini dia pendam, melepaskan perjakanya dengan Vanya. Malam itu menjadi malam hangat tuk Wil, merasakan tuk yang pertama kalinya, Wil begitu mabuk kepayang karena merasakan nikmat surga dunia.
"Kau adalah yang pertama dan yang terakhir, Vanya. Aku berjanji kau adalah wanitaku selamanya," ucap Wil seraya mencium kening Vanya begitu lama saat pergulatan itu berakhir.
Malam itu menjadi saksi bisu Wil yang sudah menjamah tubuh gadis cantik itu. Tanpa dia tahu apa yang sebenarnya. Entah esok akan seperti apa, apa yang akan terjadi padanya dan Vanya.
Akankah, Vanya bisa menerima semuanya atau akan membenci Wil karena sudah menodainya?
__ADS_1