
Ting , Pintu lift terbuka otomatis dan segera Rafli melangkah tanpa ragu ke ruang rawat dimana dua orang kini menjadi poros hidupnya.
Ceklek
Deg
Jantung Rafli terasa berhenti berdetak saat ini ketika melihat seorang pria memeluk istrinya dengan hangat.
" Beraninya kau memeluk istriku " ucap Rafli emosi seraya menyeret Adam dengan kasar.
Bughh
Bughh
Rafli langsung meninju Adam tepat di perutnya membuat Adam meringis kesakitan.
Rafli ingin memukul Adam tetapi Darwin segera menahannya.
" Bajingan , lepaskan aku " umpat Rafli terhadap Darwin.
" Akan ku buat perhitungan denganmu Adam dan kau juga Darwin " ucap Rafli emosi , sedangkan dirinya sendiri menahan rindunya setengah mati karena mendekat saja di tolak oleh Ana apalagi untuk memeluknya dan kini ia melihat pria lain memeluk istrinya dan Rafli juga mengetahui Adam masih menyimpan rasa untuk istrinya.
" Aku menganggapmu sebagai sahabatku , tapi kau memeluk istriku sesuka hatimu , kau harus tau batasanmu Adam " ucap Rafli lirih , sementara Ana menangis memeluk dokter Puspa.
" Dan kau Ines , kau jaga sepupumu agar tau batasannya " ucap Rafli membentak Ines.
Ines dan Darwin sendiri terkejut , tak menyangka jika Adam yang berniat berpamitan juga memeluk Ana sesaat dan tidak lama pintu terbuka.
" Rafli aku minta maaf , aku hanya ingin berpamitan kepada Ana dan tanpa sadar aku memeluknya. Jangan salahkan Darwin dan juga Ines , apalagi Ana jangan kau salahkan " ucap Adam menyesal , ia tak bisa mengontrol perasaanya untuk memeluk Ana terakhir kali.
" Cih... aku benci manusia munafik sepertimu " ucap Rafli dingin.
" Kalian keluarlah " bentak Rafli tak tahan melihat Adam yang masih terus meminta maaf.
" Dan kau Ines , jangan pernah lagi menemui Ana dan anakku , aku sebagai suaminya melarangmu . Aku mempercayakanmu menjaga Ana , namun kau membuatku sungguh kecewa " ucap Rafli dingin.
" Tapi Rafli , ini salahku . Bukan sa.... " ucapan Adam terpotong.
" Aku memutuskan mengakhiri kerja sama denganmu Adam " ucap Rafli membuar Adam terkejut karena selain ia merugi , Rafli sendiri mengalami kerugian yang begitu besar dan harus membayar dendanya.
" Untuk kau Ines dan juga Darwin , aku juga membatalkan kontrak kerja sama dengan kalian " imbuhnya dingin membuat Darwin menatap Rafli tak percaya.
" Bagaimana bisa , kau akan mengalami kerugian besar " nasehat Darwin karena keputusan Rafli ini setara dengan satu perusahaan besar milik Rafli yang harus tutup.
" Kau tau aku putra siapa , aku bahkan bisa menambah cabang bukan menutup cabang " ucap Rafli menyadarkan mereka semua siapa dirinya dan keluarganya.
" Jika pun aku harus kehilangan hartaku , bagi ku tak masalah . Harga diri keluarga ku sangat penting , apalagi harga diri istriku harga mati untukku dan Adam dengan lancang memeluknya " ucap Rafli geram dengan gigi yang bergeletuk.
Bughh
Adam kembali mendapat bogem mentah dari Rafli.
" Berengsek kau Adam , ku bunuh kau " teriak Rafli , ia tak mampu mengendalikan emosinya sementara bibir Adam berdarah akibat bogem dari Rafli.
" Cukup mas " bentak Ana di sela tangisnya...
__ADS_1
" Ana " ucap Rafli menghampiri Ana dan memeluknya....
" Jangan menyalahkan meraka mas " isak Ana , tanpa ia sadari Rafli memeluknya , Ines tersenyum karena menyadari Ana tidak takut di peluk Rafli.
" Maafkan mas " ucap Rafli mengecup kening Ana begitu dalam , memeluknya begitu erat seakan takut terlepas.
" Ana , aku dan yang lainnya pulang dulu ya " ucap Ines dan Ana mengangguk.
Kini diruang itu tinggalah Ana dan Rafli serta si bayi tampan dan juga dokter Puspa yang mengawasi Ana , jika Ana berteriak histeris , sebenarnya dokter Puspa ingin memberikan ruang untuk mereka bicara namun ia hanya berjaga-jaga saja , tidak akan keluar jika Ana tak menyuruhnya.
" Mas merindukanmu Ana " ucap Rafli lirih dengan air mata yang mengucur deras.
" Sangat rindu " imbuhnya.
" A...aku juga merindukanmu mas hiks...hiks..." ucap Ana lirih disela tangisnya lalu membalas pelukan Rafli.
Hati Rafli bahagia dan kini begitu bahagia saat Ana mengatakan rindu padanya dan membalas pelukannya. Ternyata pelukan Rafli sendiri membuat diri Ana tenang dan rasa takut hilang begitu saja..
" Maafkan mas ya sayang " ucap Rafli seraya mencium kening Ana dan pindah kedua mata Ana yang mengeluarkan air mata , Rafli menghapus air mata Ana dengan bibirnya dan pindah mencium pipi Ana yang masih tembem. Rafli ragu mencium bibir Ana membuatnya hanya mampu menelan ludah saja.
" Puspa , bisa tinggalkan kami " pinta Rafli sementara Puspa melihat Ana , seolah Ana mengatakan baik-baik saja membuat dokter Puspa keluar dengan senyum.
" Baik tuan " ucap Puspa lembut.
Rafli duduk dengan manis dan tangannya menggenggam tangan Ana erat , pandagan Ana dan Rafli bertemu. Ana menatap Rafli lekat dan melihat kesedihan begitu mendalam dimatanya , terlihat jika pria di hadapannya kurang merawat diri badan yang sedikit mengurus , mata yang terlihat melingkar hitam bagaikan panda dan Ana terkejut saat melihat Rafli mengenakan pakian terbalik , hanya Ana menjauhinya beberapa hari saja membuat Rafli begitu berantakan. Pandangan Ana tertuju pada alas kaki Rafli yang membuat Ana tersenyum geli
" Mas , kenapa kau pakai sendal milikku " ucap Ana terkekeh geli melihat alas kaki Rafli. Rafli malu bukan main membayangkan orang-orang pasti menertawakannya jika melihat alas kaki yang ia pakai , seperti istrinya yang tertawa bahagia. Rafli tersenyum melihat Ana tertawa meski karena kekonyolannya.
" Maaf mas " ucap Ana tidak enak hati , apalagi Rafli melihatnya tanpa berkedip , Ana juga menghentikan tawanya karena merasa nyeri di bekas operasinya dan itu adalah hal wajar.
" Maaf " ucap Ana lirih kini matanya kembali berkaca-kaca..
" Kenapa Ana " tanya Rafli begitu sedih..
" Apa kau akan menyayangi anakku mas , jika kau tak menyayanginya , aku tak akan mau bersamamu. Anakku segalanya bagiku mas " ucap Ana menatap sendu baby tampan yang berada di dalam boks sampingnya.
" Ana , dia juga anak mas , darah daging mas dan dari rahimmu ia berkembang , hasil buah cinta kita Ana , Maaf " ucap Rafli lirih.
" Maaf mas meragukanmu , maaf mas meragukannya juga , maaf mas berbuat kasar padamu , maaf juga mas saat itu ingin melenyapkannya " imbuhnya penuh sesal dan menundukkan kepalanya.
" Mas tataplah aku , aku tidak ingin suamiku menundukkan kepalanya padaku. Aku yakin , kau melakukannya pasti ada sebab yang begitu berat , tapi aku tak tau apa itu . Aku memang masih kecewa padamu karena perlakuanmu dan terlebih kau tak mempercayaiku " ucap Ana menangkup pipi Rafli.
" Maafkan mas sayang dan juga mas minta maaf belum bisa menceritakannya sekarang . Mas ingin memperbaiki hubungan ini setelah itu mas akan menceritakan alasannya " ucap Rafli. Ia sangat sadar , hati Ana akan terasa hancur mengetahui alasan Rafli melakukan itu , apalagi Luna sahabat Ana terlibat kembali disini bahkan hingga saat ini keberadaan Luna dan Agnes belum bisa di lacak oleh orang-orangnya.
" Baiklah mas " ucap Ana mengubur dalam rasa penasarannya.
" Ana , jika bapak memintamu untuk bercerai denganku bagaimana " tanya Rafli.
" Apa mas mau kita berpisah " tanya Ana dengan mata berkaca-kaca jika berkedip sekali saja cairan itu akan membasahi pipinya. Bukan jawaban ini yang Rafli inginkan.
" Jelas tidak Ana " jawab Rafli menahan tangis.
" Mas sangat mencintamu , melebihi apapun di dunia ini. Kau tau sendiri kadar cinta mas sebesar apa untukmu. Kau segalanya bagi mas , dari dulu hingga akhir nafas mas berhembus Ana. Mas akan memperjuangkanmu Ana , apapun yang terjadi. Mas akan menghapus perlahan luka di hatimu yang telah mas ciptakan , kita akan membesarkan anak kita bersama " ucap Rafli lirih , ia bangkit dan duduk di tepi ranjang Ana , kening Ana dan Rafli kini beradu bahkan hidung mereka saling bersentuhan , Rafli telah siap ******* bibir merah cery itu tapi tiba-tiba tangis baby Dewa menggagalkan aksinya. Sementara Ana bernafas lega , karena hampir saja Rafli mencium bibirnya , dirinya belum siap untuk disentuh lebih jauh...
Rafli dengan sigap menggendong baby Dewa dengan penuh kelembutan dan Ana kagum akan hal itu.
__ADS_1
" Kau hebat mas , baru menggendong sekali baby Dewa telah bisa " ucap Ana tersenyum lalu berisap ingin menyusui baby Dewa yang siap siaga menerima asupan nutrsinya.
" Tahan dulu Ana .mas tutup dulu semua jendela dan gordennya , mas tidak mau ada yang mengintipnya " ucap Rafli , sebenarnya tidak ada yang berani mengintip ruangan ini apalagi lantai ini khusus untuk keluarganya. Rafli terlalu waspada karena baginya cukup ia yang mengintip Ana saat itu dan tak lupa Rafli mengunci pintu.
Ana segera mungkin memberikan asi untuk sang anak , terlihat jelas jika baby Dewa begitu ke hausan , Ana yang terlalu fokus pada sang buah hati tidak menyadari jika Rafli kini menangis dalam diam.
" Mas , kau belajar dari mana untuk menggendong bayi " tanya Ana karena setahunya Rafli tidak bisa menggendong bayi. Rafli segera menghapus air matanya dengan kasar selagi Ana tak menatapnya.
" Ayu yang mengajariku Ana " jawab Rafli membuat Ana heran.
" Kapan " tanya Ana menatap Rafli.
" Maaf , saat kau tak mau melihat mas , mas sering masuk diam-diam saat ruangan ini di jaga dokter Puspa ataupun Ayu. Jika di jaga oleh bapak dan juga Ines , mas langsung di usir mereka. Mas masuk di saat kau tertidur , mas selalu melihatmu Ana. Tepat saat kemarin malam mas kembali masuk saat kau tertidur dan Ayu yang menjaga , Ayu mengajarkan mas cara menggendong bayi dengan benar dan membuat susu formula untuk bayi " jelas Rafli.
" Apa kau teringat saat pagi melihat mas , kau begitu histeris " imbuhnya berkaca-kaca.
" Mas maafin aku ya , aku sempat membuat jarak antara mas dan kami " ucap Ana lirih.
" Mas sangat memakluminya sayang , semua ini juga kesalahan mas ,bukan salahmu " jawab Rafli memeluk sang istri dari belakang dan ia tersenyum saat melihat jagoan kecilnya tengah menikmati Asi.
" Dan kau tau , baby kita pernah mengencingi mas saat mas menggendongnya " imbuhnya.
" Itu bagus mas , kata orang jika anak bayi mengencingi kita, katanya anak kita akan menyayangi kita " jawab Ana setau nya.
" Itu kata orang Ana , tapi mas telah melakukan dosa besar pada kalian. Apa ia mau mengakui mas sebagai orang tuanya , mas sangat merasa berdosa dan begitu malu dengannya Ana. Bagaimana jika ia tau sebenarnya , pasti ia akan membenci mas " ucap Rafli tanpa mampu menahan air matanya.
" Mas jangan menangis " ucap Ana mengusap lembut pipi Rafli yang basah.
" Kita tidak boleh membahasnya hingga kapanpun , biarkan ini menjadi rahasia kelam dalam rumah tangga kita. Kita tutup buku dan kita mulai hari yang baru. Bantu aku untuk melupakan malam itu mas , aku tak ingin mengingatnya. Aku ingin kita membesarkan anak kita bersama " jelas Ana tersenyum hangat kepada Rafli suaminya yang masih memeluknya dari belakang.
" Terima kasih sayang . Mas sangat bahagia bertemu dan menikah denganmu. Mas sungguh minta maaf " ucap Rafli dan Ana mengangguk..
Rafli segera memindahkan baby Dewa kedalam boks bayinya... Terlihat jika baby Dewa begitu terlelap , Rafli mengecup kening baby Dewa dengan lembut dan Ana menatap pandangan itu dengan bahagia.. Rafli melirik Ana tersenyum segera mendekatinya.
" Teruslah tersenyum bahagia seperti ini Ana " ucap Rafli mengecup kening dan pipi Ana.
" Iya mas , aku akan tersenyum bila bersama kalian " jawab Ana . Rafli yang tidak tahan segera m**c*um bibir Ana , bibir yang menjadi candunya sedari dulu. Jantung Rafli dan Ana berdetak kencang , serasa baru merasakan ciuman pertama mereka. Rafli melepaskan lumatannya saat mendengar irama jantungnya dan Ana , wajah mereka bersemu merah apalagi saat membayangkan ciuman pertama mereka dulu . Teringat jelas jika dulu Rafli begitu kaku dan Ana tak bisa apa-apa , hingga naluri Rafli yang laki-laki mengajari Ana untuk membalasnya dan bibir itu menjadi candunya setiap hari.
Rafli segera memeluk Ana dan Ana juga membalas pelukannya , Rafli kembali m**c*um bibir Ana menyalurkan kerinduannya yang mendalam , membuatnya terlupa dengan niat awalnya . Detik demi detik dan menit demi menit , Rafli masih terus m****at bibir istri dan Ana pun membalasnya.
Kkkrryyuukk lonceng perut Rafli pun berbunyi , membuat mereka melepaskan pagutan mereka , Rafli dan Ana tertawa geli mendengarkannya , Rafli kembali m**c*um bibir istrinya tanpa rasa bosan hingga ia teringat dengan makanaan yang ia bawa. Rafli terpaksa mengakhiri c*uman mereka.
" Maaf " ucap Rafli mengahapus bibir Ana yang telah basah karena ulah mereka.
" Mas membawamu makananan Ana dan kau harus segera makan " ucap Rafli segera memersiapkan makanan untuk Ana , bahkan ia kini menyuapi Ana yang makan dengan lahap.
" Kau juga harus makan mas " ucap Ana dan segera memasukkan makanan kedalam mulut Rafli saat Rafli hendak protes. Makanan yang dibawa Rafli cukup banyak , sehingga mampu mengisi perut mereka.
Rafli selalu memeluk Ana dan membawa Ana menyadar di dada bidangnya. Rafli memperlakukan Ana dengan penuh cinta , Rafli menceritakan permintaan Lia yang begitu maunya sendiri dan Ana menahan senyumnya. Hari kian larut dan diruangan itu hanya ada keluarga kecilnya Rafli , Rafli merasakan begitu bahagia dan ia tau arti kehidupan yang sebenarnya. Rafli dan Ana begitu asyik bersenda gurau , mereka merasa bahwaa suasana mereka saat ini bagai hari pertama mereka pacaran.
Hingga ......
Ceklek . suara pintu terbuka dan membuat senyum Rafli dan Ana menyusut seketika dan Rafli melepaskan pelukannya....
Jangan lupa like dan komentar ya , like dan komentar kalian ada penyemangat untuk penulis.🤗🤗.
__ADS_1
Terima kasih.