
Kini tibalah hari di mana Ana diperbolehkan pulang. Lia mengambil alih cucu tertampan ya dalam gendongannya sementara para beberapa pelayan mengemas keperluan Ana. Terlihat Ana tengah bersedih karena begitu rindu sosok orang tuanya terutama sang ibu.
" kemana mereka , kenapa tidak kemari melihatku bahkan hingga aku mau pulang mereka tak juga terlihat. Apa ayah begitu kecewa dengan keputusan ku . Aku rindu mereka Tuhan " batin Ana sebenarnya setiap Rahma menjenguknya ia selalu bertanya tentang ibunya yang tak kunjung terlihat , Rahma selalu memberi alasan namun Ana merasa Rahma sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
" Sayang , are you okay " tanya Rafli melihat raut kesedihan dan kecewa Ana.
" Aku rindu orang tuaku mas terutama ibu , apa Mereka tidak sayang padaku lagi mas hingga melihat atau mengantarku pulang mereka tidak ada " ucap Ana tanpa mampu membendung tangisannya.
" Kau bicara apa sayang , bapak dan ibu mereka menyayangimu " ucap Rafli
" Bahkan terlalu menyayangimu " batin Rafli.
" Ana jangan menangis ya nak , kau lihat baby Dewa pasti ia akan sedih melihat kau menangis " bujuk Lia.
" Tadi juga ayahmu menelepon jika urusan mereka belum selesai dan besok mereka akan bertemu denganmu " imbuh Lia , karena ia juga mengetahui jika saat ini Laras sedang melakukan operasi transplantasi jantung dan suaminya saat ini sedang menemani Gunawan yang terlihat gusar.
" Baiklah ma " Ana akhirnya luluh setelah melihat baby Dewa dan mendengar penjelasan Lia , paling tidak besok rindunya terobati.
" Ayo kau harus duduk disini sayang " ucap Rafli saat kursi roda pesanannya untuk Ana telah datang.
" Mas , aku baik-baik saja "ucap Ana.
" Duduk disini atau mas gendong hingga ke mobil " ucap Rafli serius tak ingin di bantah.
" Ya baiklah " ucap Ana mengalah.
.
.
.
Saat ini mereka telah tiba di mansion pribadi milik Rafli dimana Ana dan Rafli tinggal selama ini. Ana melirik jendela yang tepatnya mengarah ke kamar mereka , kamar yang penuh dengan malam yang kelam.
" Maaf " ucap Rafli memeluk Ana yang sedari tadi hanya mematung.
" Ayo " imbuhnya dengan lembut menggenggam jemari Ana.
" Ya Allah sembuhkanlah total trauma menantuku " batin Lia turut sedih melihat Ana yang kembali murung , sebenarnya ia telah menawarkan Rafli untuk mereka pindah ke mansion ya saja sekaligus Lia membantu mereka mengurus baby Dewa namun Rafli menolak dengan tegas.
Ceklek
" Selamat datang baby Dewa " ucap semua orang penghuni mansion itu.
" Ana menangis haru saat melihat kedua adiknya dan sang nenek menyambutnya ,meski di hati terdalamnya menginginkan kehadiran orang tuanya.
" Terimakasih " ucap Ana dengan tersenyum.
" Rafli ajaklah Ana istirahat lebih dulu " ucap Lia.
" Dan kau juga perlu istirahat nak " imbuhnya melihat Rafli juga kelelahan.
" Baby Dewa mau mama bawa kemana " tanya Rafli dan juga Ana.
" Sebenarnya mau mama bawa pulang supaya kau dan Ana membuat yang baru " ucap Lia dan disambut tawa yang mendengar ucapan frontal nya.
" Tapi kerena Ana baru saja melahirkan mama akan membawa baby Dewa keruang keluarga , kan ada keluarga kita yang mengumpul di sana " imbuh Lia.
" Iya Ana istirahatlah , pasti kau lelah " ujar sang nenek memeluk Ana.
" Dan kau juga lelah istirahatlah " imbuhnya dingin saat berkata kepada Rafli.
__ADS_1
" Maaf nek " lirih Rafli.
Langkah kaki Ana terhenti saat Rafli membuka pintu kamar ruang tamu.
" Ayo sayang masuk , ini kamar Kita yang baru " ucap Rafli dan Ana menurut saja.
" Kau suka sayang " tanya Rafli saat Ana menatap setiap sudut kamar baru mereka di lengkapi properti yang baru dan lebih mewah meski tak seluas kamar utama mereka karena kamar mereka saat ini gabungan dari dua kamar tamu.
" Suka " jawab Ana menepiskan senyum
" Maaf jika kamar ini tak seluas atau semegah kamar kita yang lama " ujar Rafli menggenggam tangan Ana.
" Kenapa kita harus pindah kamar mas " tanya Ana.
" Kamar itu menjadi kenangan terburuk sepanjang sejarah kehidupan kita , mas tidak ingin mengingatnya . Mas membenci semua yang berhubungan dengan malam itu Ana . Mas sudah menjadikan kamar itu gudang " jawab Rafli.
" Apa perlu kita pindah rumah saja " tanya Rafli menyampaikan niat hatinya.
" Tidak perlu mas " jawab Ana.
" Jangan menyesali apa yang telah terjadi , karena tiada guna lagi , waktu tidak akan memutar mundur. Berjanjilah mas , jangan mengulanginya lagi " lirih Ana.
" Mas berjanji sayang , kita mulai semua yang baru bersama anak-anak kita nanti . Maafkan semua kesalahan mas " ucap Rafli memeluk Ana.
Rafli kini memijit tubuh Ana yang ia rasa pegal meski sang pemilik tubuh itu menolaknya. Pijatan Rafli membuat tubuh Ana rileks dan tenang meski sesekali tangan nakal Rafli menjalar kemana-mana.
Melihat Ana yang terlelap Rafli berbaring sejenak disamping sang istri , ia merasa beruntung karena Ana memberinya kesempatan meski ia mengetahui alasan Ana kembali menerimanya karena ada anak di tengah mereka.
" Semua ini berkat dirimu anak ayah " batin Rafli.
" Ya ampun , baby Dewa " ucap Rafli teringat sang anak yang mungkin saat ini tengah menjadi bulan-bulanan keluarganya.
" Tidurlah yang nyenyak , mas harus memastikan keselamatan anak kita " ucap Rafli segera beranjak dari berbaring nya.
Terlihat para orang tua mengerubungi baby Dewa terutama nenek dan mama Lia yang begitu heboh dan terlihat disudut sana Chantika dan Rizki telah menikmati kue dan jenis makanan lainnya.
" Wah tampan sekali cicit nenek " ujar sang nenek tiada henti memuji cicit pertamanya itu seraya memegang pinggangnya yang terasa encok.
" Nek , istirahatlah jika lelah " ucap Rafli menjelma menjadi cucu soleh. Rafli dan nenek Ana jarang sekali akur , meski itu hanya candaan belaka namun saat ini enggan untuk membuat masalah , sesuatu hal yang menjadi hobi baru Rafli yaitu menggoda nenek yang begitu bawel menurutnya.
" Nenek masih kuat " elak sang nenek segera melepas tangan dari pinggang yang terasa pegal.
" Pinggang mau encok gitu , sok kuat " gumam Rafli namun dapat timpukan popok di wajahnya.
" Astaga nenek apa yang kau lakukan " gerutu Rafli dan segera beranjak membersihkan diri..
" Pergi juga akhirnya " ucap Sang nenek
" Maaf Lia , kau ngidam apa dulu mengandungnya " imbuh nenek tanpa dosa.
" Ntah lah nek , Lia bingung ngidam apa dulu " jawab Lia sekenanya.
Malam hari pun tiba kini Rafli terpaksa harus terjaga karena baby Dewa mengajaknya untuk bergadang meski telah di susui sang bunda. Rafli sangat bahagia menikmati peran sesungguhnya menjadi seorang ayah.
Rafli mengajak sang anak berbicara meski sang anak tak mengerti apa yang di ucapakan ayahnya. Rafli menimang anaknya dengan sayang dan setelah terlelap ia meletakkan baby Dewa tepat disebelah Ana dan ia segera memeluk sang istri dan ikut tertidur menyambut hari esok.
.....
Kini Ana dan Rafli dalam perjalanan menuju rumah sakit , Rafli yang tak tahan melihat kesedihan istrinya akhirnya mengantar Ana menemui sang ibu.
" Loh kok bukan jalan ke bandara ini mas " tanya Ana karena Rafli tadi mengajaknya untuk ke bandara.
__ADS_1
" Mas ada perlu sebentar " jawab Rafli karena ia belum siap menjelaskan kepada Ana alasan ia dan yang lain membohonginya .
" Nanti bapak dan ibu nunggu loh mas " ucap Ana.
" Tenang saja Ana , pesawatnya delay " ucap Rafli dan Ana tak protes.
Rafli dan Ana keluar dari mobil yang mereka tumpangi dengan mengenakan masker serta kaca mata guna melindungi identitas mereka.
Rafli menggenggam erat tangan Ana tanpa peduli sekitarnya yang menatap ,m emak-emak seolah ingin menculiknya .
Ceklek
Ana mematung melihat pemandangan di depannya seorang wanita hampir paruh baya namun tetap cantik sedang berbaring dengan berbagai alat medis yang masih menempel di tubuhnya.
" Ibu " ucap Ana serasa melemas seluruh tubuhnya melihat keadaan sang ibu yang masih menutup mata.
" Pak " ucap Ana memeluk Gunawan dan terisak.
" Ibu kenapa pak , kenapa bisa begini " lirih Ana.
Sementara Rafli yang tak tahan melihat istrinya bersedih segera menemui dokter yang menangani operasi Bu Laras , baru semalam ia bahagia mendengar kabar Bu Laras baik- baik saja namun kenyataan saat ini bu Laras keadaanya kembali drop. Sumpah serapah Rafli ucapkan bahkan ancaman mengerikan tak luput keluar dari mulutnya. Sang kakak ipar menenangkannya pun serasa tak mampuni .
" Rafli kami para dokter pasti melakukan yang terbaik dan semua keputusan kembali ke atas , ia yang maha kuasa diatas segalanya , kami disini hanya perantaranya saja. Mengertilah . Lebih baik temui Ana , ia pasti membutuhkanmu " bujuk suami Rani itu. Rafli mengusap wajahnya kasar dan pergi meninggalkan ruangan yang berisi para dokter yang menangani operasi mertuanya.
Brakkk bunyi dentuman pintu begitu kuat bertanda emosi yang masih meluap olehnya.
Rafli memejamkan matanya saat melihat Ana menggenggam jemari sang ibu yang lemah , Rafli mendekati Ana namun Gunawan menahannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Aku ingin bicara dengan mu " pinta Gunawan dan mereka duduk disekitar ruang rawat Laras.
" Ada apa pak " tanya Rafli mencoba membuka suara karena sejujurnya ingin sekali ia menemani Ana.
" Terimakasih atas donor jantung yang kau berikan . Aku berharap semua akan baik-baik saja " ucap Gunawan.
" Aku berusaha memberikan yang terbaik pak , tapi aku tidak tau jika akhirnya begini . Lebih tepat Jimmy yang mencarinya bukan diriku " ucap Rafli lirih.
" Maaf jika aku membuat bapak kecewa kembali " imbuhnya.
" Kau sudah menjadi menantu yang terbaik , maafkan ego bapak saat itu . Jujur hingga saat ini aku masih marah dan kecewa ditambah keadaan Laras yang seperti ini membuatku begitu terpukul dan rasanya bapak tak mampu melewati ini semua Rafli. Bapak hanya tak mau kau kembali menyakiti Ana , karena aku sebagai ayahnya tak akan mampu melihatnya " ucap Gunawan.
"Bapak memberimu kesempatan untuk terkahir kalinya. Bahagiakan Ana dalam hidupnya , dan jangan pernah sakiti ia dan cucuku lagi " lirih Gunawan membuat Rafli mendongakkan wajahnya dan berusaha mencari kebenaran dalam setiap ucapan Gunawan.
" Bapak mengizinkanku untuk kembali bersama Ana " tanya Rafli serius.
" Bapak rasa telingamu cukup berfungsi dengan baik , sekali lagi kau menyakitinya aku pastikan Ana akan meninggalkan mu selamanya dan akan ku nikahkan dengan pria yang lain karena kesempatan tak datang dua kali dan aku bukan tipe orang pemaaf seperti Ana dan Laras " ucap Gunawan tegas.
" Terimakasih pak , aku tak tau harus bilang apa lagi . Aku berjanji tidak akan melukai Ana lagi baik fisik ataupun hatinya. Melihat Ana seperti itu karena ulahku membuat penyesalan tak berkesudahan bagi ku pak , meski Ana telah memaafkan ku hal itu akan selalu teringat seumur hidupku , mungkin seumur hidupku akan di penuhi rasa bersalah . Aku tidak bisa membayangkan jika putraku nanti tahu perbuatan ku saat ia di dalam kandungan bunda nya " ucap Rafli dengan mata berkaca-kaca.
" Seorang pria akan di percaya jika menepati janjinya Rafli , bapak harap kau menepati janjimu . Untuk putramu berharap lah ia punya sifat pemaaf seperti ibunya atau jagalah masalah ini jangan sampai ia mengetahuinya " ucap Gunawan.
" Aku telah menepati keinginanmu Laras , ku mohon sadarlah " batin Gunawan . Sesungguhnya Gunawan sangat sulit memaafkan Rafli namun demi istri dan anak serta cucunya ia mengesampingkan egonya terhadap Rafli.
Sementara di ruangan Laras Ana terus mengungkapkan rasa rindu dan kecewanya.
" Ibu tau , aku sangat merindukanmu bahkan baby Dewa juga rindu. Apa ibu tidak rindu cucu pertama ibu hiksss.... . Kenapa ibu tega menutupi ini semua dari kami hikss.. , ibu anggap kami apa Bu. Ibu cahaya bagi kami , lihatlah bapak kasian dia Bu . Apa jadinya jika malam itu tak aku lalui , maka kami tidak akan tau keadaan ibu. Ibu bangun lah Ana rindu Bu...hikss. apa ibu sudah tidak sayang denganku lagi , aku merindukan pelukan ibu. " isak Ana memeluk tubuh lemah ibunya.
Sebuah usapan lembut mengenai surai Ana bersamaan dengan sebuah tangan yang membekap mulutnya membuat Ana terlonjak kaget.
Jangan lupa like dan komentarnya.
maaf kurang menarik di part ini
__ADS_1