
Seketika gelas yang di pegang nya jatuh ke lantai. Pecah!
"A.. Anisa? Maksud pak Niko, Anisa Adik saya?"
"Benar bu."
Seakan tidak ingin percaya dengan kebenaran yang baru saja di dengar nya.
"Pak Niko yakin?"
"Saya yakin kebenaran ini karena saya mendapat info ini dari sumber yang sangat bisa di percaya."
Semua rasa kini bercampur dalam hati nya.
Tiba-tiba Alina tertawa. Tapi dari sudut mata nya mengeluarkan cairan bening yang menunjukkan kesedihan hati nya.
"Anda baik-baik saja bu?"
"Menurut pak Niko, kakak macam apa saya ini?"
"Maksud ibu?"
"Ya.. bagaimana bisa saya tidak mengenal pacar adik saya sendiri. Dan bahkan pada akhirnya saya malah menikah dengan pacar adik saya."
"Saya sempat merasa kasihan terhadap wanita yang menjadi pacar mas Raka, tapi kenyataan nya saya mengasihani adik saya sendiri."
"Saya bahkan mengajak nya tinggal bersama kami. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan nya saat itu. Tanpa saya sadari, saya telah menghancurkan hati adik saya sendiri."
"Hhh... Benar-benar kakak yang tidak berguna. Apa masih pantas saya disebut sebagai kakak?"
"Maaf bu kalau saya lancang. Tapi menurut saya, bu Alina tidak perlu merasa bersalah. Karena pada dasar nya bu Alina memang tidak mengetahui kenyataan nya seperti apa." Selah Niko.
"Tetap saja pak Niko, disini saya yang salah. Kalau saja dulu saya menyempatkan diri saat di ajak Anisa bertemu pacar nya, saya pasti sudah mengenal mas Raka sebagai pacarnya Anisa, dan saya pasti akan menolak saat papa Brata meminta saya untuk menikah dengan mas Raka."
Perasaan Alina benar-benar di penuhi rasa bersalah.
.
.
.
Alina memutuskan untuk pulang karena percuma juga berada di kantor sementara pikiran nya tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan nya.
"Sus, tolong buatkan saya teh dan antar kan ke kamar ya." Pinta Alina begitu memasuki rumah dan menemui suster pengasuh Nabila di dapur.
__ADS_1
"Mbak sakit?"
"Tidak. Hanya sedikit lelah saja. Saya ingin istirahat di kamar."
"Oh. Baik mbak. Nanti saya antar kan ke kamar."
"Terima kasih sus."
Alina melangkah dengan lesu menuju ke kamar nya.
"Suster, aunty kenapa?" Tanya Nabila yang ternyata melihat Alina dari depan kamar nya.
"Oh, itu.. aunty seperti nya lagi tidak enak badan." Jelas suster.
"Aunty sakit?"
"Seperti nya begitu."
"Uncle harus tahu. Uncle harus membawa aunty ke rumah sakit." Ucap Nabila langsung berbalik dan berlari menuju kamar nya.
~Panggilan terhubung...
"Iya Nabila sayang, ada apa?"
"Uncle... uncle cepat pulang ya."
"Aunty sakit. Uncle harus membawa aunty ke rumah sakit. Nabila tidak mau aunty kenapa kenapa kemudian pergi seperti kakek."
"Nabila... Nabila tidak boleh bicara seperti itu. Oke, uncle pulang sekarang ya. Nabila temani aunty dulu di rumah."
"Iya uncle. Nabila tunggu."
tut..tut..tut
~Panggilan terputus
***
Suara mobil Raka terdengar oleh Nabila. Dengan cepat dia berlari menjemput Raka di depan pintu.
"Nabila kenapa disini? Bukan nya lagi menemani aunty?" Tanya Raka.
"Aunty mengunci diri di kamar, uncle. Nabila takut mengganggu."
"Oh.. mungkin aunty sedang butuh istirahat."
__ADS_1
"Ayo uncle, cepat! Uncle harus melihat keadaan aunty. Cepat uncle!" Nabila menarik-narik tangan Raka sambil berjalan ke arah kamar.
"Ayo uncle, masuk."
"Iya. Nabila mau ikut masuk?"
Gadis kecil itu pun mengangguk.
Raka memutar gagang pintu.
Di kunci !!!
Kenapa Alina mengunci pintu nya?
tok..tok..tok!!!
"Alina..."
Tidak ada suara dari dalam.
Sekali lagi Raka mengetuk pintu kamar.
"Alina, ini aku. Buka pintu nya."
Sudah lima menit Raka dan Nabila berdiri di depan pintu, tapi tidak ada suara apa pun dari dalam.
"Uncle, jangan-jangan aunty pingsan di dalam."
Raka semakin di buat panik dengan kata-kata Nabila.
"Alina.. Alina... Kamu baik-baik saja? Buka pintu nya. Alina!!!"
"Nabila, kamu menjauh." Perintah Raka.
"Uncle mau apa?" Tanya Nabila sambil melangkah mundur.
"Uncle akan mendobrak pintu ini. Uncle khawatir terjadi sesuatu sama aunty di dalam."
Nabila pun menuruti kata-kata Raka. Mengambil posisi yang jauh dari pintu dan diam di sana.
"Alina.. aku akan mendobrak pintu ini."
Sekali lagi Raka berteriak berharap Alina menjawab nya. Tapi nihil.
Dan akhirnya... Pada dobrakan kedua pintu kamar berhasil terbuka.
__ADS_1
...*****...