Takdir Cinta

Takdir Cinta
Senyuman


__ADS_3

Zee menangis haru melihat keluarganya berkumpul kembali,, bahagia pastinya, senang tentu saja. Keluarga kecilnya kini menjadi semakin ramai dengan adanya dua kakak iparnya dan juga Rio dan Rino.


"Tuhan, aku mohon terus jaga semua keluargaku, selalu beri mereka kebahagiaan, sudah cukup air mata yang mengalir beberapa tahun lalu," ucap Zee sambil memejamkan matanya.


Zee kembali ke kamar dan memilih tidur menemani kedua ponakannya, malam hari keluarga Intan datang berkunjung. Intan begitu histeris melihat putrinya telah kembali, di peluk ciumnya Zia. Aldo menimang nimang Rio dan Rino bergantian, Sam melepas rindu dengan Zyan. Namun ada sedikit kesenduan di mata Sam.


Ken menghampiri Zyan dan Sam yang sedang duduk berdua, Ken memberikan sepucut surat dari Abigail untuknya. Sam menerimanya dengan senyum terpaksa.


"Terimakasih kak," ucap Sam.


"Tolong jangan salah paham pada Abi, karena semuanya begitu mendadak," balas Kenzio.


Sam mengangguk ia, Ken menepuk bahu Sam dan pergi meninggalkannya.


Vanya begitu manja pada Ara, ya nama itu kembali digunakan oleh Kenzia. Zyan pun sama, dia kembali memakai namanya tersebut.


"Ara sangat rindu kak Ara," ucap Vanya.


"Kak Ara juga sangat merindukanmu sayang," balas Ara.


Intan dan Aldo sangat senang bermain dengan si kembar, Rio dan Rino begitu pintar. Dua bayi itu tak akan menangis di gendong siapa pun.


"Apakah ini cucu kita Do? Apakah kita sudah setua itu?" tanya Intan pada sang suami.


Aldo hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya itu, Azura dan Bumi tertawa terbahak mendengar ucapan Intan.


"Mau sampai kapan Te' Intan muda terus? Kita yang muda apa harus menjadi bayi terus?" tanya Ara.


"Aahh,, aku mengharapkan kalian masih terus kecil. Karena aku sangat rindu masa kecil kalian," jawab Intan dengan cemberut.


Ken tersenyum tipis mendengar sang tante yang begitu lucu menurutnya.


"Ken, kenapa kau membuat anakmu sangat mirip dengan dirimu saja? Kenapa tak ada yang mirip dengan Mommy nya?" tanya Intan.


"Emmm, kalau itu Ken juga tak tahu Te'. Mungkin itu bisa jadi karena Zia terlalu mencintai diriku," jawab Kenzio dengan begitu pede nya.


Membuat dirinya mendapat cubitan dari Ara, dan itu terlihat sangat romantis di mata Zee yang terus memperhatikan mereka.


"Kak Ara kenapa begitu romantis dengan kak Ken. Membuat aku baper saja, semakin galau karena pangeran es itu tak datang kemari," gumam Zee memonyongkan mulutnya.


"Ternyata ada yang merindukanmu?" tanya Alfa yang sudah berada di belakang Zee.


"Hahhhh, ya ampun. Alfa!" teriak Zee spontan sembari memukul tubuh Alfa.


Semua orang terkejut mendengar suara jeritan Zee, Zyan dan Sam sampai berlari masuk tuk melihat apa yang terjadi.


"Ya ampun, apa mereka masih saja seperti itu?" tanya Zyan.


"Bahkan melebihi itu, dan aku sangat kewalahan jika mereka sudah seperti itu," jawab Sam tersenyum melihat Zee dan Alfa.


Zee mengejar Alfa yang terus berlari mengelilingi kursi tamu, Ars dan Tia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Berhenti kau Al, jika tidak akan ku bunuh kau!" hardik Zee. Seketika Alfa diam mematung, begitu pula semua orang terlihat tegang. Zee menghampiri Alfa dan menjewer telinganya.


"Awww,, lepaskan aku! Kau menganiaya diriku!" hardik Alfa kesakitan.


"Zee, lepaskan Alfa! Kau menyakitinya," ucap Ara.


Dengan cepat Zee melepas tangannya dan cemberut karena Alfa dapat pembelaan dari Ara. Alfa tersenyum dan memeluk Zee dari belakang tak lupa dengan jahilnya mencium pipi Zee.


"Alfa,,, kenapa kau menciumku!" teriak Zee sambil menghentakan kakinya.

__ADS_1


"Al, Zee bisakah kalian diam!" pinta Ars. Zee menatap pamannya itu, dan memasang wajah memelas, Tia tertawa karena Ars mendapat getahnya.


"Astaga, kenapa aku yang kena," ucap Ars. Tapi dengan cepat merentangkan tangannya tuk memeluk Zee.


"Paman, lihat anak itu sangat jahil padaku," ucap Zee mengadu pada Ars, sambil menunjuk Alfa.


Ars hanya bisa diam, dan terus mengusap punggung Zee, Tia dan Ars pun sama. Alfa memeluk tubuh ibunya dari belakang, dan menertawakan Zee dan Ars.


Kenzio begitu takjub dengan kasih sayang keluarga Putra dan yang lainnya. Mereka sudah seperti keluarga sendiri, anak dari teman pun sudah seperti anak sendiri.


"Apa yang kau lihat, hm?" tanya Ara.


"Tak ada, aku hanya begitu iri dengan kedekatan keluarga mu dengan yang lainnya," jawab Ken sembari tersenyum.


Ara hanya mengangguk, dan mengusap lengan Ken, Ara menyederkan kepadanya di bahu suaminya.


"Ada apa, hm?" tanya Ken sembari membelai wajah Ara.


"Jangan merasa sendiri lagi, jangan berpikir kalau kau tak mempunyai orangtua, karena sekarang Ayah dan Bunda juga orangtuamu," tegas Ara.


Ken merangkul Ara dan mencium pucuk kepalanya dengan sayang. Aldo memperhatikan sikap Ken pada Ara, membuatnya sedikit tenang.


"Sudah, lepaskan Ibu! Aku ingin melihat Rio dan Rino," ucap Tia.


Alfa pun melepaskan pelukan Tia, sedangkan Zee masih memeluk tubuh Ars dari samping.


Alfa pun duduk disebelah Ara, Ken menyapanya dan sebaliknya Alfa pun menyapa Ken, Ara berbicara banyak tentang Zee. Dan itu membuat Zee cemburu melihat Alfa yang cuek padanya.


Ken bergabung dengan Zyan, Sam dan juga Kiara disana. Zee berjalan dan duduk di sebelah Ara.


"Zee, temani aku!" pinta Alfa.


"Kemana?" tanya Zee.


"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Zee.


Alfa mendorong Zee sampai menabrak tembok di belakangnya, wajah mereka sangat dekat tanpa jarak. Zee menatap Alfa dengan penuh tanya, sedangkan Alfa seperti biasa saja.


"Kau mau apa? Nanti ada yang tahu, cepat menjauh!" perintah Zee seraya mendorong tubuh Alfa.


Bukannya mundur, tapi Alfa bahkan menarik tangan Zee, dan membuat adegan romantis mereka. Alfa mencium Zee, dan itu membuat Zee mematung.


Sedangkan Alfa sudah menikmati permainannya, melummat habis bibir gadisnya. Zee hanya bisa mengikuti alur yang Alfa buat. Setelah beberapa menit, Alfa dan Zee tersenyum. Alfa menempelkan kening mereka, setelah menyudahi adegan romantis itu.


"Jangan lagi merasa iri pada orang lain, karena aku akan melakukan yang lebih baik dan sempurna dari mereka," ucap Alfa.


Zee tersenyum senang, mengangguk semua ucapan Alfa, Zee memeluk Alfa dengan erat sedangkan Alfa mengusap pelan punggung gadisnya.


"Ya ampun, apa hubungan mereka sudah sejauh itu? Zee dan Alfa mereka berpacaran?" ucap Ara. Tak percaya dengan semua yang terjadi pada mereka.


Ara pun segera pergi dengan sangat pelan, karena tak ingin mereka tau.


Ken yang melihat perubahan pada wajah sang istri pun mengerutkan dahinya, karena khawatir.


"Ada apa?" bisik Ken.


Ara pun berbisik pada Ken, memberitahukan apa yang tadi dia lihat di dalam dapur, Ken hanya tersenyum tipis.


"Kau terlihat tak terkejut, Ken? Apa kau tahu sesuatu?" tanya Ara.


"Hubungan mereka sudah sangat jauh, sayang. Zee dan Alfa sudah berpacaran sejak kepergiaanmu dan Zyan," jelas Ken.

__ADS_1


Ara memiringkan kepalanya menatap Ken. Ken hanya bisa mengusap pipi Ara.


"Aku tak memberitahumu? Karena kau tak pernah bertanya masalah mereka sayang. Jadi, jangan salahkan aku!" pinta Ken.


Ara cemberut sambil mencubit perut Ken, dan itu membuatnya semakin gemas pada Ara.


Rio dan Rino tiba tiba menangis, dan itu membuat Kiara yang sedang menemani Zyan langsung berjanlan masuk dan mengendong Rino.


Semua orang menatap ke arah Kiara yang begitu sigap seperti pada anknya sendiri. Sedangkan Ara tersenyum melihat kejadian itu.


Kiara menepuk nepuk pelan punggung dan pantat bayi itu, dan seketika Rino bisa diam, ternyata bayi itu mengantuk, begitu pula dengan Rio yang sudah tertidur di pelukan sang Daddynya.


"Kiara, anak itu begitu sigap pada anakmu Ara? Da lihat Rino langsung diam, seakan berada di pelukan ibunya saja," ucap Intan.


"Selama di Korea, dan karena kejadian penakbrakan itu. Rio dan Rino semuanya Kiara yang mengurusi dengan Zyan, makanya Rino begitu dekat pada Kiara dan Zyan," jelas Ara.


"Kau bilang penabrakan nak? Apa yang terjadi?" tanya Azura.


"Aahhh, maksud Ara, dulu ada saat Ara mau melahirkan kembar ada insiden penabrakan di jalan," jawab Ara berbohong.


"Oa, Rino dan Rio memanggil Zyan da Kiara juga dengan sebutan Daddy dan Mommy," sambung Kenzio.


"Kok bisa? Kenapa begitu?" tanya Intan.


"Karena aku memang orangtua mereka tante, dan sampai kapan pun mereka anak lelaki ku!" tegas Zyan.


Semuanya mengangguk mengerti, semuanya berkumpul didalam. Tapi tidak dengan Sam yang sedang membaca surat dari Abigail.


Di dekat kolam, Sam duduk sambil menjeburkan kakinya ke dalam air. Perlahan di buka surat itu, hati Sam berdegup kencang tangan kekar itu sampai gemetaran.


*Hay Sam,


Semoga kau tak marah padaku! Karena aku pergi tanpa pamit padamu.


Sam, aku ada di Korea, dan sekarang aku berada di tengah tengah keluarga besarku.


Sam,


Mungkin ini bisa di katakan telat, tapi aku sungguh ingin mengatakannya padamu! Dan maaf jika setelah ini akan membuat perasaanmu menjadi bimbang.


Sam,


Aku menyukaimu! Bukan sebagai teman atau pun sahabat, tapi aku mencintaimu dan menyayangimu. Mungkin aku terlihat egois, karena mengatakan ini setelah aku pergi jauh darimu.


Tapi, percayalah! Perasaanku padamu akan terus ada sampai kapan pun, tunggu aku Sam! Aku akan kembali setelah beberapa tahun disini.


Maafkan aku, Sam*.


Abigail.


Sam tersenyum, di dekapnya surat itu seperti sedang mendekap gadisnya Abigail. Hati Sam berbunga bunga karena perasaannya selama ini tak bertepuk sebelah tangan.


"Aku juga mencintaimu, menyayangimu Abi! Aku akan menunggu dirimu disini!" tegas Sam.


Malam itu bintang di langit terlihat begitu indah di mata Sam, senyuman itu terus terlihat di wajah tampannya.


Malam yang sama, bintang yang sama pun sedang di pandangi oleh seorang gadis yang sedang melamun di atas balkon kamarnya.


"Aku harap kau menungguku! Dan semoga surat itu kau bisa membalasnya," ucap Abi berharap.


Abigail atau Aeri gadis itu akan memulai hidupnya di negri kelahirannya Korea. Dan akan menetap bersama sang Ayah nya.

__ADS_1


Bersambung💞💞💞


__ADS_2