
Apa yang ingin tuan tahu sudah aku ceritakan semuanya, saya menikahi Zia bukan karena hanya ingin mempertanggung jawabkan kesalahan saya. Namun karena saya memang mencintai dan menyayangi Zia," jelas Kenzio
"Jadi kau menikahi anakku secara hukum dengan sah?" tanya Bumi.
"Ya, pernikahan kami legal secara hukum dan sah segara agama. Zyan menjadi wali dalam pernikahan kami," jawab Kenzio.
Bumi menatap Zyan tajam, Azura memegang tangan sang suami, mencoba menenangkannya.
"Dan Zyan, kau juga menikahi Kiara?" tanya Bumi.
"Ya, Ayah. Aku menikahinya," jawab Zyan cepat.
"Dr. Zio kenapa kau tak mengatakan yang sebenarnya? Saat kau melihat kami saat Zee sakit?" tanya Azura.
"Saya tak bisa memberitahu kalian semua, karena ini permintaan dari Zia dan Zyan. Saya tak bisa mengingkari apa yang sudah saya janjikan," jawab Kenzio.
"Bunda jangan salahkan Ken, Zyan yang memutuskan menutup segala jenis informasi apapun pada kita berdua. Dan Zyan juga yang mengganti nama kita," jelas Zyan.
"Kenapa nak? Apakah kau tak tahu jika semua mencemaskan dirimu dan Ara? Ayah dan semua pamanmu mencari kemana pun?" tanya Bumi.
"Aku hanya ingin melindungi apa yang sepatutnya aku lindungi. Dan apakah, kalian tahu juga bagaiamana keadaan kak Ara saat itu?" tanya balik Zyan.
Bumi dan Azura langsung diam seribu bahasa, mereka merasa bersalah pada sang putri sulung.
"Aurora Kenzia Putri, dia menangung semua beban kemarahan kalian, menanggung semua beban untuk berusaha menyembuhkanku, dia rela melakukan segalanya untukku," sambung Zyan.
"Zyan cukup! Jangan kau ungkit kembali," pinta Kenzia.
"Kenapa? Bukannya Ayah dan Bunda ingin tahu semua cerita kita disana, kak? Aku akn menjelaskan semuanya, biarkan Ayah dan Bunda tahu bagaimana hidup kita di negri asing dan memakai nama baru kita," tegas Zyan.
Kiara mengeratkan genggamannya, mengusap pelan lengan sang suami. Bermaksudkan agar Zyan sedikit tenang.
"Aku menikahi Kiara, gadis yang dulu selalu aku kejar di kampus. Apakah Bunda masih ingat? Ya dialah yang sekarang jadi istriku," sambung kembali Zyan.
Azura menatap Zyan dan Kiara bersamaan, air matanya menetes mengingat akan dulu sang putra sempat terlihat galau dan memutuskan untuk tak melanjutkan kuliahnya.
"Saat itu, aku baru saja sadar dari tidur panjangnya," ucap Zyan.
Flashback On
Selama koma beberapa bulan, pagi itu Zyan sadar dan membuka matanya. Zyan menyipitkan matanya karena masih belum terbiasa dengan sinar lampu yang berada di atasnya.
Terdengar suara wanita dan lelaki yang berbicara dalam bahasa Korea di dekatnya, seluruh tubuh Zyan kaku seperti batu, hanya jarinya saja yang bergerak, bibirnya pun sangat sulit tuk berucap.
"Dok, tolong lakukan secepatnya! Saya tak mau tahu, kalian harus segera menemukan obat itu secepatnya. Jangan membuat diriku menunggu lebih lama lagi," pinta wanita itu.
"Baiklah nona, saya akan mencarinya. Dan semoga saja tuan bisa bertahan lebih lam lagi," jawab lelaki itu.
Zyan memejamkan kembali matanya karena merasakan pusing di kepalanya, Kiara berbalik dan melihat Zyan. Memegang tangannya, mata sang gadis itu mengeluarkan buliran bening.
"Kau harus kuat dan segera sadar! Buatlah kakakmu bahagia, kembalikan lagi senyuman di wajahnya Zyan," ucap Kiara ditengah isak tangisnya.
Park Kiara, gadis yang begitu sempurna dengan segala kebaikan dirinya. Gadis yang menjadi incaran Zyan saat di Indonesia. Dan sekarang dialah yang merawat Zyan dengan sepenuh hatinya menemani Kenzia dengan sabar.
"Ka-kak," ucap Zyan begitu lirih. Namun, bisa di dengar jelas oleh Kiara, karena jari Zyan pun bergerak mencoba menggenggam tangan Kiara.
Kiara menatap kearah Zyan, dan begitu bahagia. Dengan cepat Kiara menekan tombol. Tak lama Dokter dan suster pun berdatangan.
Biar mengabari Ken dan Zia, mereka sangat bahagia dan segera kembali kerumah sakit.
Didalam Dokter dan suster pun ikut bahagia karena usaha mereka selama ini membuatku hasil yang memuaskan.
"Nona, kau bisa masuk! Tuan memanggil nona Zia terus," jelas Dokter.
Kiara pun masuk, duduk di kursi dekat Zyan. Terlihat Zyan begitu terkejut karena ada dirinya disana. Mata Zyan menatap sembarang arah, melihat dimana dirinya.
"Zyan!" panggil Kenzia saat masuk kedalam ruangan dengan raut wajah bahagia dan haru.
Zyan tersenyum melihat siapa yang datang, Kenzia langsung memeluk tubuh sang adik, menciumi wajahnya tanpa terkecuali.
"Kau sadar, kau kembali sayang," ucap Kenzia menangis haru.
__ADS_1
Tangan lemah Zyan mencoba menghapus air mata Kenzia, wajah tampannya tersenyum melihat sang kakak.
Zyan menatap Ken, Ken mengangguk kembali menyapanya.
"Kak, dimana Ayah, Bunda dan Zee?" tanya Zyan.
"Mereka, mereka tak ada disini. Hanya ada aku, Dr. Zio dan Kiara disini," jawab Kenzia cepat.
"Apa maksudmu, kak? Kenapa mereka tak ada disini?" tanya Zyan.
Kenzia diam, dia harus berkata darimana menjelaskan pada Zyan, kalau dirinya membawa kabur Zyan dan sekarang menetap di Korea.
"Zyan, istirhatkan dulu! Jangan banyak memikirkan apapun, karena kesembuhanmu sangat berarti untuk kami. Nanti akan Zia ceritakan semuanya," jelas Kenzio.
Zyan mengangguk patuh, menuruti apa yang disarankan Ken. Zyan kembali merebahkan tubuhnya, Kiara menyelimutinya, saat Kiara akan bangun tangannya di tahan oleh Zyan.
"Temani aku! Aku tak mau sendirian," pinta Zyan.
"Baiklah, aku akan tetap disini. Kau bisa tidur sekarang!" perintah Kiara sembari duduk.
Kenzia dan Ken kembali keluar, membiarkan Zyan tuk istirahat, Ken membawa Kenzia keruangannya. Menemani wanitanya agar sedikit tenang. Memikirkan akan seperti apa reaksi Zyan jika mengetahui yang sebenarnya.
Esok paginya, orangtua Liar datang menemui Zyan. Dia begitu terkejut karena kedatangan mereka.
"Apa kabar Zyan? Apa sekarang kau merasa lebih baik?" tanya Tuan Park.
"Ya, aku merasa sangat baik, Tuan. Terimakasih," jawab Zyan.
"Kedatangan saya kemari, ingin mengatakan sesuatu. Apakah kau bisa melakukan itu?" tanya Tuan Park.
"Katakanlah! Saya rasa, saya bisa mendengarkannya," jawab Zyan.
"Saya ingin menikahkan anak gadis kami, yaitu Kiara dengan secepatnya! Karena saya melihat sudah terlalu lama Kia menunggu," jelas Tuan Park.
Deg,
Hati Zyan seketika berdegup dengan kencang, dia mendengar wanita akan dinikahkan. Sungguh hati Zyan begitu sakit, rasanya dia ingin mati saja, kenapa disaat dia lolos dari kematian, Kiara malah akan menikah dengan lelaki lain, dan itu membuat semangat hidup Zyan kembali mati.
"Menikah? Jadi maksud anda, Kiara akan di nikahkan?" tanya Zyan terbata.
"Kalian? Maksud anda, saya tak mengerti Nyonya?" tanya Zyan begitu bingung.
"Apa Kiara tak memberitahumu? Bukannya kalian saling mencintai, maka dari itu aku mau kalian segera menikah," jawab Nyonya Park.
Zyan menatap Kiara yang sudah merah merona menahan malu, dan juga bahagia. Zyan yang tadi tegang seakan lega dan tersenyum menatap Kiara.
"Aku tak tahu, jika akan dilamar seperti ini oleh wanita yang dulu aku kejar kejar," ucap Zyan menggoda Kiara.
"Apa yang kau katakan Zyan?" tanya Tuan Park.
"Maaf, tidak ada Tuan. Baiklah, saya akan menerimanya. Dan akan segera menikahi putri anda," jawab Zyan mantap.
Kiara menatap Zyan dengan tak percaya, seketika Kiara menangis dengan haru, Zyan merentangkan tangannya. Kiara memeluk tubuh Zyan dengan sangat erat.
Kedua orang tua Kiara begitu bahagia melihat Kiara dan Zyan, begitu pula Ken dan Zia yang berada di depan pintu.
Kondisi Zyan semakin membaik, Kiara dengan begitu perhatian mengurusi Zyan. Zyan sedang mencoba kembali berjalan dengan di dampingi oleh Kiara.
Dan akhirnya, dimana Ken dan Zia memberitahukan sesuatu tentang mereka dan itu sangat membuat Zyan marah dan seakan membunuh Kenzio.
"Akan ku bunuh kau Zio!! Kau sudah berani menyentuh kakakku," teriak Zyan dengan napas yang tersengal.
Kenzia menangis karena melihat kemarahan Zyan, Kenzia memeluk tubuh sang adik, memohon agar sang adik tak marah pada Kenzio.
"Kau harus menikahi kakakku sekarang juga! Aku tak mau mati dengan menyesal karena tak bisa melihat kakakku bahagia" ucap Zyan.
Kenzio tak gentar oleh kemarahan Zyan, dengan segera keluarga Kiara mempesiapakan segalanya. Dan hari itu juga Zyan menikahkan sang kakak dengan Kenzio.
Kenzia menangis memeluk tubuh Zyan saat Kenzio mengucapkan ikrar janji pernikahan mereka, dengan disaksikan oleh para Dokter, suster dan juga keluarga Kiara pernikahan itu sah dalam agama dan hukum.
"Aku lepaskan kakakku untukmu! Tolong bahagiakan dia, dan jaga dia!" pinta Zyan.
__ADS_1
"Aku takkan akan lupa dengan semua yang kau katakan, aku akan menjamin semua itu," balas Kenzio mantap.
Setelah mengatakan semua itu tiba tiba Zyan kembali drop, dia tak sadarkan diri dan membuat Kiara histeris melihat calon suami nya kolaps kembali.
Semua orang di perintahkan kembali keluar, tapi tidak dengan Ken yang segera bertindak dengan semua Dokter yang masih berada di dalam ruangan.
"Zia, ada apa dengan Zyan? Kenapa dia kembali tak sadarkan diri?" tanya Kiara menangis hebat.
"Nak, tenanglah! Kau harus tenang, kita doakan saja Zyan tidak apa apa," ucap Nyonya Park.
"Ibu, bagaimana jika dia meninggalkan aku lagi bu? Aku tak bisa hidup tanpanya, aku mohon jika Zyan sadar. Tolong nikahkan aku saat itu juga!" pinta Kiara.
Tuan dan Nyonya Park pun hanya bisa menuruti permintaan sang anak, Kenzia menangis melihat keadaan Kiara yang begitu syok karena Zyan.
"Rasa cinta mu begitu besar Kia pada Zyan. Aku berharap Zyan bisa hidup bahagia dan menghabiskan waktu yang lama bersamamu," ucap Kenzia dalam hati.
Ken keluar dari ruangan setelah setengah jam memeriksa keadaan Zyan. Ken mendekati sang istri dan duduk disebelahnya.
"Zyan, tidak apa apa. Dia hanya syok dan tekanan jantungnya membuat dia tak sadarkan diri," jelas Kenzio.
"Syukurlah, Zyan aku mohon jangan pergi!" pinta Kiara menangis.
Zyan kembali tertidur karena efek obat yang masuk kedalam selang infusnya. Semuanya menunggu di luar, Kiara tak hentinya menatap Zyan yang terbaring lemah.
Kenzia dan Ken masuk kedalam memeriksa keadaan Zyan, nadinya begitu lemah, Kenzia menangis melihat keadaan Zyan yang kembali drop.
Mata Zyan terbuka dengan perlahan, Kenzia memberitahu Ken, Zyan membisikkan sesuatu pada Ken, dengan segera Ken keluar dan kembali bersama dengan Kiara, orangtuanya dan seorang penghulu juga.
Kenzia begitu heran dan menatap semuanya. Zyan menggenggam tangan Zia dan tersenyum.
"Zyan apa kau yakin? Jangan paksakan dirimu nak! Istirahatlah dulu," ucap Tuan Park.
Di bantu oleh Ken, Zyan pun duduk dan menatap Kiara yang sedari tadi menangis.
"Tolong nikahkan aku dan Kiara sekarang juga!" pinta Zyan dengan suara y sangat lirih.
Semuanya pun mengangguk mengiyakan kemauan Zyan, dengan penuh haru biru pernikahan itu penuh dengan air mata, Zyan mengucapkan ikrar janji pernikahannya dengan sangat pelan, dengan napas yang tersengal karena keadaannya yang menahan sakit.
Pernikahan kedua yang berjalan dengan lancar, Kiara menangis memeluk tubuh sang Ibu karena begitu bahagia bisa menjadi istri dari Zyan.
Zyan tersenyum menatap Kiara, Kenzia memeluk tubuh sang adik. Kiara mendekat dan memeluk Zyan, dengan sangat pelan Zyan mencium kening Kiara.
Flashback Off.
"Seperti itu Ayah yang terjadi pada Zyan. Dan Kaira lah yang selama ini membantu Zyan, kak Ara dan Kak Ken di Korea. Keluarganya sangat baik, dan kami sangat berjuang budi pada mereka," ucap Zyan.
Bumi dan Azura merasa gagal menjadi orangtua, Bumi menitikkan air matanya, memukul mukul dadanya yang terasa sesak akan semua cerita sang anak.
"Maafkan kami! Maafkan kami, yang tak bisa menjadi orangtua yang baik untuk kalian," ucap Bumi dengan sangat menyesal.
Zyan dan Kiara berjongkok didepan Azura dan Bumi, mereka bersimpuh menangis di pelukan orangtuanya.
"Jangan berkata seperti itu! Kalian orangtua yang sempurna untuk kami," ucap Kenzia.
Bumi memeluk erat tubuh Kenzia, mengangguk ia. Kiara dan Ken begitu bahagia karena hubungan mereka akhirnya bisa di terima oleh orangtua Zyan dan Ara.
"Kalian menantu dari keluarga Putra, kemarilah! Apakah tak ingin memeluk mertua kalian?" tanya Bumi.
Ken dan Kiara pun memeluk Bumi dan Azura bergantian, Azura menciumi pipi Kiara.
"Terimakasih nak, sudah mencintai Zyan dengan segenap hatimu, kau wanita yang begitu baik Kia," ucap Azura.
"Aku yang sangat berterimakasih padamu Ibu, karena telah mengirimkan Zyan dalam hidupku," balas Kiara tersenyum.
"Kalian harus segera memberikan kami cucu lagi, karena rumah ini harus segera diramaikan oleh tangisan bayi lagi. Rio dan Rino akan menjadi kakak yang baik untuk adik adiknya, sama seperti Ara," ucap Bumi sambil memeluk Kenzia.
Kiara dan Zyan terlihat malu dengan ucapan Bumi, namun dalam hati Kiara dia berharap secepatnya bisa mengandung anak dari Zyan dan akan menjadi pewaris pertama di kelurganya.
Hari itu menjadi hari bahagia bagi mereka, tak ada yang lebih berharga dari keluarga, dan kebahagiaan dalam keluarga. Cinta dan kasih sayang yang selalu Azura dan Bumi ajarkan menjadi kunci dari keharmonisan keluarga.
**Selamat membaca dan semoga suka ☺
__ADS_1
jangan lupa ya tinggalkan jejaknya !!!
Terimakasih 😘 😘 😘**