Takdir Cinta

Takdir Cinta
Berharap


__ADS_3

Alya dan Wili sedang berbincang di dalam kamar, Alya terus tersenyum menatap wajah Wili. Dalam hatinya, Al sudah tahu jika lelaki di depannya bukanlah Daddy nya. Entah, kenapa dia masih terus bersandiwara jika dia memang Dady nya umyabg sudah tiada.


"Tuhan, bolehkah Al berharap? Alya ingin Daddy hidup lagi, tapi dalam diri orang lain!" batin Alya memohon pada Sang Kuasa.


Senyuman Alya membuat Wili semakin menyukai gadis kecil itu, tak henti-hentinya Wili membelai rambut Alya.


"Apa sekarang, kau sudah merasa baikan? Maafkan, Uncle yang hampir menabrak dirimu!" pinta Wili.


"Alya, yang harus meminta maaf! Karena, begitu ceroboh," balas Alya menyesal.


"Sudahlah, tidak apa. Kau tahu, saat itu aku begitu takut kau terluka. Dan merasa sangat bersalah sudah membuatmu menangis dan ketakutan," jelas Wili.


"Daddy, boleh Al peluk Daddy lagi? Sebelum, Alya pergi pulang ke rumah Mommy?" tanya Alya.


"Sure, peluklah aku! Aku akan menjadi Daddy mu," jawab Wili.


Alya memeluk tubuh Wili begitu erat, butiran bening itu kembali mengalir tanpa permisi di pipi imut Alya.


"Nak, kenapa kau selalu menangis jika membicarakan Ayahmu? Kemana, dia. Apakah kau broken home?" batin Wili sembari terus mengusap punggung Alya.


Napas Alya begitu berat, dia mencoba tuk tidak menangis. Dan kembali tersenyum dengan mata yang masih basah.


"Jangan menangis! Kau masih bisa bertemu denganku, apa kau hapal alamat rumahmu?" tanya Wili.


"Aku rasa, aku tahu. Tapi, bisakah sebelum aku kembali kerumah. Daddy mau bwain denganku dahulu di taman dekat rumah?" tanya Alya.


"Apa pun yang kau mau! Aku, akan lakukan. Asalkan, kau tersenyum!" perintah Wili.


"Bolehkah, aku terus memanggilmu Daddy, aku mohon!" pinta Alya.


"Tentu, aku rasa aku suka dengan sebutan itu. Apalagi, kata itu keluar dari mulut manis seperti mu," balas Wili.


"Thanks you, Daddy!" seru Alya senang.


Wiliem pun mengantarkan Alya kembali kerumahnya, Alya sudah berjanji jika dia akan kembali mengunjungi Sofia jika miliki ijin dari sang Mommy.


Wili mengendarai mobilnya menuju rumah Alya, dasarnya Alya yang begitu pintar, dia bisa hapal semua jalan di kota tersebut.


"Berapa usiamu?" tanya Wili.


"Aku, 10 tahun," jawab Alya.


"Apakah, Mommy mu yang menjelaskan semuanya padamu jalan-jalan kota ini?" tanya Wili.


"Ya, sejak usia 5 tahun. Mommy selalu mengingatkan aku, setiap jalan yang aku lalui bersamanya," jawab Alya.


"Wow, pantas saja. Di usia mu yang masih kecil kau sudah sangat pintar," ucap Wili.


Alya hanya tersenyum, hatinya begitu bahagia, karena Wili selalu memuji dirinya.


"Apa ini rasanya, di puji oleh sosok Ayah? Sungguh bahagia dan bangga," batin Alya.


*******************


Di taman, Zee duduk sendirian disana. Berharap dia akan bertemu dengan buah hatinya. Dunia Zee sekarang sudah sangat hampir tanpa Alya, rasanya melebihi saat kehilangan Alfa.


"Harus mencari kemana lagi? Al, tolong kau jaga anak kita! Aku sungguh merasa bersalah pada Alya, saat ini sedang apakah ank itu?" bagian Zee begitu sedih.


Hanya kalung yang mereka pakai sebagai menghubungkan. Zee terus menunduk menjatuhkan buliran bening itu yang membasahi celananya.


Terdengar suara mobil berhenti di dekat taman, terdengar kembali suara anak kecil yang sedang menyebut Daddy.


Zee, masih belum mengetahui jika itu adalah Alya anaknya.


"Daddy, kemari! Aku selalu kemari jika sedih atau pun rindu Daddy. Karena, aku bisa melihat awan di atas sana," jelas Alya sembari menunjuk ke atas langit.

__ADS_1


"Alya, sangat rindu Daddy!" seru Alya tersenyum.


Wili berjongkok di depan Alya, menghapus air matanya, tersenyum berharap gadis kecilnya ikut tersenyum.


Alya memeluk Wili dengan erat, berbisik pada Wili. " Al sayang Daddy Wil,"


Deg,,,,


Hati Willi begitu senang, degupannya begitu kencang. Dan, itu seakan devaju baginya.


Mata Alya menatap sosok wanita yang menunduk itu, semakin menyipitkan matanya dan ternyata itu adalah Momnynya Zee.


"Mommy," teriak Alya serah memanggil Ibunya. Melepaskan pelukannya dari Wili.


Mendengar suara teriakan sang putri, Zee menengok ke segala arah dan melihat Alya sedang berada dengan seorang lelaki. Membuat Zee berlari kencang pada sang anak.


"Alya," teriak Zee seraya memeluk tubuh sang anak.


Zee menangis memeluk tubuh Al, menciumi semua wajahnya, melihat seluruh tubuh Alya, takut terjadi sesuatu.


"Kau, tak apa-apa kan nak?" tanya Zee.


"No, Mommy. Al baik-baik saja! Karena, Al bersama dengan Daddy," jelasnya.


"Daddy? Daddy siapa yang kamu maksud?" tanya Zee.


"Ya, Daddy Al," jawab Alya tersenyum.


Zee melihat sosok tegap itu dari belakang, lalu menatap kembali pada Alya.


"Alya," panggil Zee.


"Hemm, Daddy lihat kemari! Ini Mommy, Al!" pinta Alya.


Wili pun berbalik dengan cara perlahan, entah kenapa Wili begitu patuh pada Alya. Sontak mata Zee membulat dengan penuh saat melihat wajah Wili yang sedang tersenyum pada dirinya.


"Hay, kau Mommy Alya? Dan, sorry namaku Wiliem bukan Alfa," ucap Wili sembari tersenyum.


Bukannya berhenti, air mata Zee semakin deras membasahi wajah ayunya. Membuat, Wili semakin khawatir dan mendekati Zee.


"Nona, you Ok? Kenapa, kau menangis?" tanya Wili.


Zee hanya mengigit bibirnya sembari mengelengkan kepalanya.


"Sorry, im Ok. And thank you, sudah membawa pulang anakku," balas Zee seraya menghapus air matanya.


"Is ok, apa kalian ini aku antar sampai rumah? Ku lihat, kau tak baik- baik saja!" pinta Wili.


"Ya, Mom. Kita di antar, Daddy saja! Mommy, pasti lelah menungguku bukan?" tanya Alya.


Tanpa menjawab, Alya sudah menarik tangan Zee tuk mengikuti dirinya masuk ke dalam mobil Wili.


Wili mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan menyusuri perumahan itu sesuai petunjuk arah dari Alya. Sedangkan Zee masih menatap lekat wajah Wili.


"Kenapa dia begitu mirip dengan dirimu, Al? Kenapa, dia mengingatkanku padamu lagi? Dan, kau dengar Al, putrimu memanggilnya dengan sebutan Daddy," batin Zee.


Zee masih diam tanpa suara, sedangkan Alya begitu akrab dengan Wili dengan cepat, terlihat senyuman Alya begitu manis. Apalagi saat Wili bercanda dengan Alya, suara tawa yang lepas itu terdengar begitu bahagia.


"Nak, kau benar-benar membutuhkan sosok seorang Ayah. Kau terlihat bahagia dengan lelaki itu, lelaki yang begitu mirip dengan Daddy. Apakah karena dia mirip, kau begitu bahagia dekat dengannya?" batin Zee penuh pertanyaan.


"Nah, princess Kemana lagi rumahmu?" tanya Wili.


"Belok kiri, lurus sedikit rumah ke tiga itu adalah rumahku," jelas Alya.


Wili tersenyum, sembari tangannya mengusap kepala Alya dengan sayang. Mengemudikan mobilnya dan sampai di depan rumah yang bergaya klasik.

__ADS_1


"Nah, sudah sampai. Daddy, ayo turun!" pinta Alya.


Wili menatap Zee dari kaca spion depan. Terlihat Zee begitu cuek, sembari menatapnya tajam.


Wili hanya menelan ludahnya, karena Mommy dari gadis kecilnya begitu cuek dan dingin padanya.


"Alya kita harus masuk! Karena, Uncle ini harus segera pulang ke rumahnya," ucap Zee.


"Tapi, Mom? Al masih mau bermain dengan Daddy!" pinta Alya memohon.


"Alya! Dia bukan, Daddy mu. Dan, stop memanggilnya Daddy!" bentak Zee begitu marah pada Alya.


Alya begitu terkejut melihat sang Mommy begitu marah padanya, dan meneriakinya. Karena, selama ini Zee tak pernah seperti itu.


Alya menangis, berlari memeluk tubuh Wili dengan kencang. Zee terkejut Alya melakukan itu pada orang asing.


"Kenapa kau berteriak padang? Fia masih kecil, dan seharusnya kau tahu itu!" bentak Wili pada Zee.


Wili menggendong Alya, mengusap punggungnya dengan pelan. Wili menenangkan Alya yang masih menangis.


"Princess, sudah jangan menangis, Ok. Ada Daddy disini, masukalah dan beristirahat! Daddy akan menegokmu lagi lain waktu!" perintah Wili.


"Daddy harus janji! Akan menemui Alya lagi kan!" pinta Alya.


"Ya, princess. Sekarang masuklah!" pinta Wili.


Ayla turun dari gendong Wili, sebelum pergi Alya mencium pipi Wiliem dan mengatakan ucapan yang membuat Wili tersenyum lebar.


"Alya, sayang Daddy. Love you, Daddy," ucap Alya seraya berlari ke dalam.


"Love you to, princess!" seru Wili.


Zee melihat sikap Alya yang begitu dekat dengan Wiliem, membuat Zee tak suka, takut jika nanti anaknya tersakiti oleh Wiliem.


"Saya mohon, mulai dari sekarang jauhi Alya! Dan jangan temui lagi anakku!" pinta Zee dengan tegas.


Wiliem tersenyum tipis menatap Zee, Wili begitu tak suka pada sikap egois Zee.


"Maaf, nona. Sepertinya kau dengar bukan, kalau aku sudah berjanji pada princess kecilku tadi. Jadi, hanya Al yang bisa melarangku tuk menemui dirinya," ucap Wili.


"Tuan, kau bukan siapa-siapa tuk Alya. Aku selaku ibunya, berhak tuk menentukan siapa yang dekat dengan dirinya!" seru Zee dengan tegas.


"Huh, apa kau juga tak dengar? Kalau Alya mengangguk sebagai Daddy nya. Dan aku sudah menyetujui itu. Jadi, maaf Nona saya akan kembali tuk menemui princess kecilku!" seru Wili.


Tanpa ingin mendengar lagi ucapan dari Zee, Wili bergegas masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Zee yang masih terpaku di tempatnya.


Semua orang menyaksikan semua perdebatan antara Zee dan Wili. Sam sampai menitikkan air matanya saat melihat Wili, dia teringat akan sosok Alfa dulu.


"Siapa dia? Dia bukan Alfa kan? Tapi, kenapa semua yang berada di dalam dirinya semuanya seperti Alfa?" tanya Sam pada Abigail.


"Dia orang lain, dia bukan Alfa! Dia bukan sahabatmu, Sam," jawab Abigail.


"Tapi, coba lihat! Aku, aku seakan bertemu kembali dengan pangeran es itu. Seakan dia hidup kembali!" ujar Sam.


Tak hanya Sam yang merasakan itu, Ken, Ara, Zyan dan Kiara pun sama. Mereka mengira itu adalah Alfa.


Alya sudah di bawa ke kamar oleh, Rio, Rino dan juga Jiso. Mereka begitu bahagia karena Alya kembali.


Zee menangis mendengar setiap ucapan Wili. Dia seperti sedang berbicara dengan Alfa, logat bicara mereka begitu sama. Hanya saja, mata dan rambutnya yang berbeda.


Alfa adalah keturunan asia asli, sedangkan Wiliem dia orang bule, matanya berwarna biru langit, rambutnya pun pirang. Tubuh mereka juga berbeda, karena sosok Wiliem bagian gagah, kekar dan tinggi. Sedangkan Alfa dia seperti umumnya badan orang asia, tapi tetap kekar karena Alfa rajin olah raga.


"Al, apakah orang asing itu reinkarnasimu? Tidak, aku tak percaya akan kehidupan kedua seperti itu," batin Zee merontah tuk mempercayainya.


**Bersambung....

__ADS_1


Hay, semuanya masih pada menangis saja kah?


Sama, aku juga mnangis. Karena LIKE ku semakin anjlok menurun saja. Aku sangat sedih 😭 😭 😭**.


__ADS_2