
Saat pagi datang, terdengar suara denngkuran lembut disana. Mata indah itu terbuka perlahan, merasakan berat di area perutnya, terlihat lengan kekar berotot melingkar swmpurna disana. Matanya membelalak penuh dengan jantung yang berdebar kencang.
"Apa yang sudah terjadi? Siapa pemilik lengan ini?" batin Vanya.
Gadis itu memindahkan dengan perlahan lengan itu, mencoba tuk duduk dengan sisa tenaganya, mencoba menenangkan dirinya. Tapi, percuma saat dia mencoba duduk, terlihat tubuh polosnya.
Air mata itu mengalir dengan cepat membasahi wajah putihnya. Dadanya semakin sesak karena tak bisa menerima apa yang sudah terjadi. Vanya mencoba beranjak dari ranjang, akan tetapi langkahnya terhenti karena rasa nyeri di selangkangannya.
"Aku, aku ternoda. Kenapa, kenapa ini terjadi padaku!" batin Vanya.
Vanya memakai kembali bajunya, tanpa melihat siapa lelaki yang sudah tidur dengannya, lelaki yang sudah menodai dirinya. Vanya sungguh tak mempunyai keberanian tuk melihat siapa kah orang itu. Dengan susah payah, akhirnya Vanya bisa keluar dari sana dengan langkah yang lemas.
Tak ada seorang pun yang tahu kepergian Vanya. Karena, saat itu masih sangat pagi. Vanya terus berjalan dengan terus memeluk tubuhnya, menangis dengan diam.
"Apa salahku? Kenapa, kenapa semuanya berjalan dengan buruk? Aku harus bagaimana?" gumam Vanya dengan isak tangisnya.
Berbeda dengan Vanya yang begitu menderita karena telah kehilangan mahkotanya. Wil begitu tertidur pulas dengan mimpi indahnya. Lelaki itu masih belum bangun dari tidurnya. Apalagi pergulatan semalam membuatnya begitu mabuk kepayang dan sedikit membuatnya lelah.
Saat mendengar getaran dari ponselnya, barulah Wil terbangun. Saat akan meraih ponsel tersebut dengan mata tertutup, tangannya sempat meraba ranjang tersebut. Dan Wil begitu heran saat tak menemukan siapapun disana.
Wil membuka matanya dan terkejut saat tak melihat Vanya disana. Wil beranjak bangun lalu membuka pintu kamar mandi. Tapi, kosong tak terlihat juga baju yang Vanya pakai.
"Shit! Dia sudah pergi? Tanpa membangunkanku," seru Wil kesal.
Wil membersihkan dirinya karena tubuhnya begitu lengket akan keringat. Saat, Wil sedang mencari bajunya terlihat noda merah di seprai. Membuat Wil menatapnya dengan tajam.
"Apa aku telah mengambil mahkotanya? Bagaimana perasaannya, saat tahu kita telah menghabiskan satu malam bersama?" tanya Wil.
Wil teringat akan sesuatu saat malam tadi, terlintas saat malam kemarin hanya dialah yang bermain sedangkan Vanya hanya diam menutup matanya.
"Apa yang terjadi sebelumnya? Sepertinya, aku melupakan sesuatu," gumam Wil.
Setelah semuanya selesai, Wil bergegas pergi dari tempat itu. Kembali pulang ke rumahnya, Wil mash terus mengingat apa yang sudah dia lupakan.
"Payah, kenapa kau tak bisa mengingat dengan sepenuhnya, Wil. Dan kenapa aku seakan merasa bersalah pada Vanya, bukannya dia sendiri yang mengatakan jika dirinya rela menjadi milikku," ucap Wil.
Karena tak bisa mengingat akan semua hal tersebut, Wil pun berencana akan menemui Vanya dan sama-sama tuk mengingat apa yang terjadi. Hari itu pun akhirnya, Wil kembali ke kantornya tuk bekerja.
Di sisi lain, terlihat sosok gadis sedang melamun di kabin pesawat. Ya, Vanya memilih cepat kembali ke Paris. Tak bisa lagi harus berbuat apa selain pergi jauh kembali. Mencoba mupakan sesuatu yang begitu fatal dalam hidupnya, begitu bodoh dalam hidupnya.
Tanpa ingin meminta pertanggung jawaban, tanpa ingin tahu siapa lelaki itu, tanpa memikirkan akan seperti apa dirinya jika suatu saat ada janin di dalam perutnya. Satu yang Vanya pikirkan adalah menjauh, sejauh mungkin dan sampai tak ada yang bisa menemuinya.
"Aku pergi, aku akan pergi menjauh tuk selamanya. Langkahku akan terhenti saat aku mengetahui ada sesuatu hal pada diriku," batin Vanya.
Air matanya terus mengalir deras, Vanya hanya mengingat sesuatu dari lelaki itu. Terlihat sebuah tato di jari telunjukknya. Setiap matanya terpenjam hanya itu yang terbayang.
"Tuhan, berikan aku kekuatan yang berkali-kali yang Kau berikan pada kak Zee. Aku harap aku bisa sekuat dirinya, harus mempunyai dunianya sendiri dengan sang buah hati," batin Vanya seraya memegang perut ratanya.
Tak bisa dipungkiri, Vanya pun mempunyai perasaan takut jika suatu saat dia akan hamil. Karena, dia yakin malam itu semuanya sudah ternoda.
"Aku tak tahu siapa dia, aku tak tahu seperti apa wajahnya, sungguh kau bodoh An. Setidaknya kau melihatnya tuk yang pertama dan yang terakhir kalinya," batin Vanya penuh dengan penyesalan.
__ADS_1
Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi tak akan bisa di ulang kembali. Hanya ada rasa penyesalan dan jiga rasa sedih yang akan terus melanda pada kehidupannya yang akan datang.
Vanya sudah bernekad akan melakukan segalanya sendirian. Demi dirinya, demi hidupnya dan demi sesuatu yang entah akan terjadi atau tidak.
Kepergian Vanya membuat Sam sebagai kakaknya merasa ada yang tak beres, setelah pulang pagi hari dia langsung mengatakan jika harus segera pulang ke Paris. Masa liburannya masih ada setengah bulan lagi.
"Sam, apakah kau masih memikirkan kepergian, Vanya?" tanya Abigail.
"Kenapa anak itu, banyak menyimpan rahasia sendiri. Menyimpan semua masalahnya sendiri, sejak kecil dia selalu mendapatkan kasih sayang dan seluruh perhatian dari Ayah dan Ibu. Dia begitu manja pada Alm. Alfa, akan tetapi di usianya yang masih kecil. Mereka pergi meninggalkannya," jawab Sam.
"Apa kau menghawatirkannya? Pergilah, temani dia beberapa hari di sana, manjakanlah dia dan buatlah kenangan masa kecil kalian terulang lagi," ucap Abigail.
"Bukanya itu akan terlihat aneh, Abi? Semua orang melihatku dengan sosok yang cuek, sosok yang dingin setelah kematian Alfa," balas Sam.
"Kami semua tahu, apa yang merubahmu. Dan, Vanya sangatlah tahu kenapa kau menjadi seperti itu," seru Abigail.
Sam yang dulu penuh perhatian, sangat hamble, sangat riang, begitu hangat menjadi berubah drastis. Semenjak kematian Alfa, dia menganggap dirinya terlalu baik pada Zyvia. Terlalu lembek padanya, sampai-sampai kasih sayang yang di limpahkan pada Zyvia masih kurang dan membuat adik angkatnya itu membuat luka yang amat dalam pada dirinya.
*************************************
° Sanders Company
Di satu ruangan terlihat semua karyawan sedang meeting bersama dengan atasan mereka, yaitu Wil. Terlihat begitu tegang dengan aura Wil yang sangat tajam. Meeting pagi ini mengumpulkan semua karyawan yang telah menggelapkan dana perusahaan dan membocorkan semua strategi pemasaran mereka.
Wil sudah begitu marah, melihat laporan tentang siapa saja yang telah menusk dirinya dari belakang. Nama-nama yang sudah sangat Wil kenal.
"Baiklah, hari saya akan meminta dari kalian tuk mengakuinya tanpa saya sebut namanya. Jika merasa malu, bisa langsung memberikan surat pengunduran diri kalian ke meja saya!" seru Wil dengan tatapan yang tajam.
Setelah, Wil mengatakan itu terlihat sosok Alex dengan tampang marahnya berjalan menuju ruang rapat, semua bisa melihatnya dari kaca yang tembus ke luar ruangan.
Terlihat beberapa orang menjadi begitu resah, wajah mereka sudah sangat ketakutan seperti melihat hantu saja. Wil menyeringai saat lihat Alex masuk ke dalam ruang rapat.
"Apakah saya telah melewatkan sesuatu? Atau semuanya masih belum mwnyerahkan diri?" tanya Alex dengan nada menyindir.
"Saya tak akan banyak bicara, bagi mereka yang merasa bisa mengikuti ku kedalam ruangan sekarang juga!" seru Alex dengan menatap tajam semua karyawannya.
Setelah Alex keluar, barulah ke enam karyawan nya dengan sendirinya berdiri dan mengikutinya dengan wajah menunduk.
"Saya tidak akan pernah segan-segan memberikan suatu hukuman bagi mereka yang berani menusuk saya dari belakang. Dan ke enam karyawan tadi telah melakukannya," ucap Wil.
Semua karyawan disana pun merasa teeljut karena ke enam tersebut adalah orang penting dalam perusahaan Sanders Company.
Wiliem benar-benar lupa akan urusannya dengan Vanya karena terlalu banyak maslah di perusahaannya. Tanpa dia sadari sudah satu minggu berlalu Wil bekerja keras membereskan semua masalahnya.
"Akhirnya selesai sudah, aku harus segera menemui dirinya," ucap Wil dengan tersenyum.
Niat baik Wil ternyata terlambat tuk dirinya bisa membuat Vanya terus bersama dengan dirinya. Vanya bakndi pelan bumi, semenjak kepulangannya ke Paris, tak ada seorang pun yang bisa menghubungiya.
Wil dengan senyuman di wajahnya berjalan memasuki rumah Zee. Disana, terlihat ada Sam dan Abigail sedang berbicara dengan Alez dan juga Zee. Wil begitu terkejut saat melihat semuanya.
Sam menatap tajam pada Wil, tangannya sudah menepal dengan kuat. Alex yang melihat itu begitu cemas pada Wil.
__ADS_1
"Maaf, saya menganggu," ucap Wil begitu sopan.
"Wil, duduklah dulu. Sangat kebetulan kau ada disini," ucap Zee.
Wil pun duduk dengan perasaan yang begitu canggung apalagi, tatapan dari Sam membuatnua bergidik ngeri.
"Ada apa ini? Kenapa, Sam menatapku seperti itu, apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Vanya?" batin Wil menatap Alex dan Zee.
Namun keduanya hanya bisa mengangguk ia kepala saja tanpa memberikan kode apapun.
"Tuan Wil, saya ingin bertanya pada anda. Apakah anda tahu dimana, Vanya?" tabya Abigail.
"Vanya? Bagaimana saya tahu, seminggu ini saya tak bertemu dengannya. Memangnya ada apa?" tanya Wil bingung.
"Apa malam itu, kau bersama dengan adikku? Dan aku sudah mengatakan padamu tuk menjaganya bukan, tapi kenapa pagi itu dia pulang berjalan kaki dan sendirian?" tanya Sam dengan nada marah.
Wil mengingat kembali pagi itu, dia terbangun tanpa ada Vanya di sampingnya. Dan saat ingin kerumah Vanya, ternyata ada urusan yang begitu penting di kantor dan Wil sampai melupakan semuanya.
"Sam, maaf. Pagi itu memang aku tak mengantarkan Vanya pulang. Karena, aku ketiduran sampai siang, dan saat aku membuka mataku Vanya sudah tak ada bersamaku," jawab Wil.
Sam semakin tajam saja menatap Wil seakan ingin membunuhnya. Apalagi mendengar jawaban Wil yang begitu ambigu.
"Membuka mata dan kau tak bisa menemukan Vanya? Apa maksud dari ucapanmu Tuan Wil?" tanya Abigail.
"Shitt, maksudku ...-" ucapan Wil terpotong karena Sam sudah melayangkan tinjunya pada Wil hingga membuat lelaki itu tersungkur di lantai.
Alex dan Zee sampai berdiri, tapi Alex hanya diam melihat sang adik di pukul habis-habisan oleh Sam.
"Apa yang sudah kau lakukan pada adikku? Katakan padaku!" teriak Sam dengan penuh amarah.
Wil yang merasa bersalah pun mengatakan semuanya pada Sam, dan semakin membuat Sam marah besar pada Wil. Hingga terus memukul Wil tanpa ampun. Sedangkan, Wil hanya bisa pasrah menerima kemarahan dari Sam.
"Sam, stop it," teriak Zee mendorong tubuh Sam.
Sam menatap tajam ke arah Zee, terlihat air mata Zee mengalir saat melihat Sam yang kesetanan.
"Jangan sampai kau membunuhnya, aku tak mau Vanya seperti aku," isak Zee seraya mengenggam tangan Sam yang terdapat darah Wil.
Sam memalingkan wajahnya, lalu melepaskan tangan Zee begitu saja.
"Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau tak bisa menemukan adikku," ucap Sam begitu dingin lalu pergi dari rumah Zee.
"Carilah dia ke Paris, tolong bawa dia kembali. Aku mohon!" pinta Abigail sebelum pergi menyusul sang suami.
Wil mematung dengan tatapan kosongnya, saat mendemgar Vanya telah pergi dan tak ada yang tahu. Zee membantu Wil tuk duduk di atas, membersihkan darah yang masih keluar dari sudut bibirnya yang robek.
"Kau menodai seorang gadis, Wil. Kau sudah merusaknya, sekarang pergi dari rumahku! Dan pergi cari dia sekarang juga temui dirinya!" perintah Alex dengan nada marah.
Zee menggelengkan kepalanya, menatap sang suami tapi tatapan Alex lebih menyeramkan dari Sam. Membuat Zee menggenggam lengan Wil berharap dia tak pergi sekarang karena luka-lukanya begitu pula dengan pikiranmu yang sedang kalut.
Tapi, Wil melepas tangan Zee lalu berjalan begitu saja keluar dari rumah. Sampai terdengar suara deru mobil yang semakin menjauh.
__ADS_1