
Setelah mendapat jawaban dari Vanya, Wiliem yang sedang patah hati pun mencoba menerima semuanya. Bahkan, dirinya sudah berjanji akan terus dekat dan berteman dengan Vanya.
Sungguh ironis percintaan Wil, sejak dulu selalu saja bertepuk sebelah tangan. Namun, tidak tahu selanjutnya akan seperti apa.
Pagi ini, Wil kembali menyibukkan dirinya di perusahaan. Wil menjadi tak tahu waktu dalam bekerja, karena hanya dengan begitulah dirinya bisa melupakan Vanya.
Sudah sepekan berlalu, Wil tak pernah lagi berkunjung kerumah Zee. Bahkan, tuk melihat sang putri pun dia tak sempat.
"Harusnya, pekerjaan ku sudah selesai. Tapi, kenapa hari ini begitu lambat?" tanya Wil seraya menatap keluar jendela.
Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, tapi entah kenapa Wil menjadi tak menghiraukan waktu. Dia makan sesuka hati tanpa aturan, bekerja tanpa henti, tak pernah keluar dari rumah dan juga kantor.
Tok... Tok.. Tok...
Terdengar ketukan pintu dari luar, Wil menyahut tuk masuk, " Masuknya!".
Terlihat sosok wanita yang masuk, dia begitu seksi nan cantik. Brita, dia adalah sekretaris baru dari Wil yang menggantikan Erika yang cuti karena hamil.
"Siang pak, maaf saya ingin ijin tuk makan siang. Apa Tuan ingin memesan sesuatu pada saya?" tanya Brita.
"Makan siang? Apakah kau akan pergi tuk makan siang?" tanya Wil.
"Ya, Tuan" sahut Brita.
"Baiklah, saya akan ikut dengan mu tuk makan siang. Semoga saja makanan itu cocok dengan lidahku," ucap Wil.
"Baiklah, Tuan. Saya akan memesankan tempat tuk kita," balas Brita.
Wil memakai jas nya, lalu berjalan keluar. Brita begitu senang dan bangga bisa makan satu meja dengan Direktur utama perusahaanya.
"Pakai mobilku saja. Agar lebih cepat!" perintah Wil.
"Baik, Tuan. Maaf, merepotkan," ucap Brita.
Akhirnya mereka pun menaiki satu mobil yang sama. Di perjalanan, Brita tak hentinya menatap Wil dari kaca spion. Hatinya berdegup kencang karena melihat ketampanan dari Wil.
"Bisakah, kau tunjukkan kemana arah restoran itu?" tanya Wil.
"Mmm, ya Tuan. Kita belok kiri, setelah itu lurus saja. Tempatnya tepat berada di persimpangan," jawab Brita.
Wil pun mengikuti petunjuk arah dari Brita, terlihat restoran yang sangat ramai, dengan tempat yang cukup kecil.
"Apa ini tempatnya? Kau yakin?" tanya Wil.
"Ya, Tuan. Mari kita turun, saya sudah memesan kursi tuk kita," ajak Brita.
Wil pun hanya bisa mengikuti Brita, terlihat banyak pemgunjung disana. Tapi ada satu tempat yang kosong di dekat jendela. Brita berjalan ke arah kursi tersebut.
"Silakan duduk, Tuan. Saya akan memesankan makana terenak disini," ucap Brita.
Wil pun duduk di sana dengan menatap keluar jendela. Semua kursi disana sudah di tempati banyak orang. Brita yang sedang memesan sesuatu pada pelayan.
"Bagaimana, kau bisa menemukan tempat seperti ini?" tanya Wil.
"Tempat ini milik temanku, jadi saya bisa tahu, Tuan. Dan juga makanannya yang sangat saya suka, menjadikan tempat ini favorit ku tuk membeli makanan," jawaban Brita.
"Review mu begitu bagus, sudah seperti memberikan bintang lima tuk sebuah restoran besar saja," ucap Wil.
"Hemm, kau bisa memberikan bintang juga. Jika sudah merasakan masakannya," balas Brita.
"Baiklah, jika memang enak. Saya akan mempromosikan restoran ini. Bahkan, akan meminta semua karyawan tuk delivery di sini," seru Wil.
Mendengar itu, Brita begitu senang. Senyum di wajahnya semakin membuatnya cantik apalagi terlihat gingsulnya.
Brita mengirimkan pesan pada teman pemilik restoran tersebut. Berpesan tuk bisa menyajikan makan terbaik tuk atasannya. Agar bisa di promosikan.
Makanan pun datang, tampilannya biasa saja. Tapi, aroma dari makanan itu membuat siapa saja ingin segera menyantapnya.
"Terimakasih," ucap Brita.
__ADS_1
Sang pelayan pun hanya mengangguk dan tersenyum.
Wil masukkan satu sendok ke dalam mulutnya, bumbu itu terasa kuat di indra pengecapannya. Semakin lama, rasa gurih itu semakin nikmat dirasakan oleh Wil.
"Lezat, saya suka," ucap Wil.
Brita yang sejak tadi menantikan pendapat dari Wil pun tersenyum senang. Terlihat binar-binar kebahagiaan di matanya.
"Terimakasih, Tuan. Selamat menikmati," balas Brita dengan senyum manisnya.
Wil kembali menyantap makanan itu sampai tak tersisa, tak ada obrolan lagi di antara keduanya.
Setelah selesai, Wil dan Brita pun keluar. Tapi, karena Wil sudah berjanji pada Brita akan mempromosikan restoran ini. Maka, dia harus bertemu dengan sang pemiliknya.
"Tuan, maaf. Tunggulah sebentar lagi, dia akan segera keluar," pinta Brita.
"Ya, tenanglah. Aku tak akan mengingkari janjiku," balas Wil.
Tak lama kemudian terlihat sosok lelaki seusianya berjalan ke arah mereka dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Hallo, Tuan. Maaf, sudah membuat anda menunggu," sapa Ed
"Hallo, is Ok," sahut Wil.
Percakapan pun di mulai saat itu, Ed ternyata adalah kekasih dari Brita. Wil memberikan pendapatnya dan akan melakukan promosi pada restoranya.
Ed memeluk Wil tuk berterima kasih, lalu memeluk Brita tuk memberikan selamat karena mereka akan segera menikah. Di saat bersamaan. Di seberang jalan ada Vanya dan Alya yang akan mampir ke restoran tersebut.
Vanya melihat, Wil memeluk Brita dengan tersenyum, dan itu membuat dirinya merasa tersakiti.
"Jadi selama ini, dia menghilang tak ada kabar karena sudah memiliki seorang kekasih? Kenapa, kenapa hatiku sakit melihat mereka tersenyum bahagia," batin Vanya.
Sedangkan, Alya yang melihat sosok Wil. Dengan kencang berterima memanggilnya.
"Daddy!!" teriak Alya seraya melambaikan tangannya.
"Princess," sahut Wil seraya berjalan menyebrang menghampiri sang putri.
Vanya yang masih mematung hanya bisa diam, seraya menghapus air matanya.
Alya tersenyum senang, bisa bertemu dengan Wil.
"Darimana kau, ini sangat panas kenapa keluar rumah?" tanya Wil saat sudah berada di depan Alya.
"I miss you, Dad," jawab Alya manja.
Wil kemudian memeluk putri kecilnya, bahkan menggendongnya, menciumnya.
"Miss you too," balas Wil.
Wil pun menyapa Vanya yang sejak tadi hanya diam. Vanya pun membalasnya.
"Kalian mau pulang?" tanya Wil pada Vanya dan Al.
"Ya, kami akan pulang. Kami baru saja main kerumah kak Zyan," jawab Vanya.
Alya begitu manja dengan Daddy nya itu. Tapi karena sebentar lagi akan ada rapat. Akhirnya, Brita menghampiri Wil dan memberitahukannya.
"Pulanglah, ini sangat panas. Maaf, aku harus segera pergi. Brita sudah menungguku," ucap Wil.
Wil pun kembali mendudukan Alya di kursi rodanya. Setelah itu kembali menyebrang tuk segera kembali ke kantor.
Vanya dan Alya melihat Wil yang selalu tersenyum saat bersama dengan Brita membuat keduanya sedih.
"Kak, siapa wanita itu? Apa dia kekasih, Daddy?" tanya Alya.
"Tidak tahu, siapa dia. Sudah sebaiknya kita segera pulang," jawab Vanya.
Setelah kejadian itu, Wil memang mencoba biasa saja pada Vanya. Akan tetapi, hatinya tak bisa berbohong jika setiap melihat Vanya rasa cinta dan juga para hatinya akan semakin bertambah.
__ADS_1
"Aku akan mencoba perlahan tuk menjauh darimu. Sungguh, aku tak bisa jika selalu berdekatan denganmu," batin Wil.
Di perjalanan pulang, Vanya terus diam dan memikirkan Wili. Bertanya, siapa wanita itu, kenapa terlihat begitu akrab sekali, Wil terus tersenyum saat bersamanya.
"Kak, kak, kak Anya!!" teriak Alya, karena tak mendapat respon dari Vanya.
"Eh,,, ya, kenapa sayang?" tanya Vanya.
"Jangan melamun, sebentar lagi kita sampai rumah," ucap Alya seraya menunjuk rumahnya.
Vanya pun hanya tersenyum, lalu membelokkan mobilnya ke dalam garasi. Vanya dengan pelan menurunkan Alya dan mendudukkannya ke kursi roda.
"Terimakasih, kak Anya," ucap Alya sambil tersenyum.
"Sama-sama sayang," balas Vanya.
Vanya mendorong masuk ke dalam rumah, terlihat Zee sedang membereskan bunga-bunga mawar di dalam pot.
"Kalian sudah pulang?" tanya Zee.
"Ya, Mom. Kami membeli banyak makanan setelah pulang dari Ayah Zyan," jawab Alya.
Zee pun membersihkan tangannya, lalu menghampiri mereka. Dan benar saja banyak sekali makanan disana.
"Mom, Al tadi bertemu dengan Daddy. Tapi, Daddy bersama dengan wanita cantik," ucap Alya.
"Kalian bertemu dengan Wiliem? Siapa wanita cantik itu, An?" tanya Zee.
"Aku tak tahu, siapa dia. Kenapa, tak kau tanyakan saja padanya kak!" perintah Vanya seraya pergi ke dapur.
Zee mengikutinya ke dapur, meminta penjelasan pada Vanya tentang hubungan mereka.
"Lalu bagaimana hubungan kalian?" tanya Zee.
"Kak, hubungan apa? Aku dan Wil tak ada hubungan apapun. Aku tak mencintainya, aku memang suka dan menyayangi Wil," jawab Vanya.
"Jadi kau menolak, Wil? Kau yang benar saja, lelaki baik sepertinya kau tolak?" tanya Zee kembali karena tak percaya.
"Aku, tak yakin dengan perasaanku padanya. Aku bimbang dan masih tak mengerti apa aku menyayangi dirinya karena aku cinta atau karena aku hanya merasa nyaman saja," jawab Vanya begitu putus asa.
"Hemm, sudahlah. Jika seperti itu, aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Karena, hatimu milikmu, hanya dirimu yang bisa mengetahui semua itu," ucap Zee.
"Tapi, An. Janganlah menyesal jika kau sudah melepasnya," sambung Zee.
Vanya merasakan kesedihan, bahkan hatinya begitu sakit saat melihat Wil bersama dengan wanita lain. Dadanya begitu sesak, terasa panas di dalam sana.
"Tuk apa, tuk apa kau merasa cemburu? Bukannya, kau sendiri yang tak menginginkannya," gumam Vanya.
Air matanya mengalir deras di pipinya, bahkan sekarang sangat terasa sakit, Vanya teringat akan kebersamaan dirinya dengan Wil. Bagaimana dia begitu bahagia saat bersamanya.
Zee melihat dari balik tembok. Melihat betapa tersiksanya Vanya, Zee ingin Vanya bisa merasakan apa yang sudah Wil rasakan. Agar, dia mengetahui seperti apa sebenarnya rasa di hatinya.
"Kau begitu polos, sama seperti diriku yang dulu. Kau tak mengerti rasa sakit itu, adalah rasa yang sesungguhnya," lirih Zee.
Malam hari, Alex baru saja kembali dari bisnis ke luar kota. Proyek yang benar-benar sangat susah tuk di dapatkan. Tapi, hasil akhirnya memuaskan, karena Alex bisa merebutnya dengan semua kepintaran.
"Kemana, Vanya? Aku tak melihatnya?" tanya Alex.
"Dia ada di kamar, setelah pergi kerumah Zyan. Mereka bertemu dengan Wil tapi sedang berjalan dengan wanita, Alya menceritakan semuanya padaku," jawab Zee.
"Lalu, ada apa? Bukannya mereka sudah bersama?" tanya Alex.
"Kau salah, Vanya menolak Wil. Dan memutuskan hanya berteman saja. Tapi, kau tahu Lex, Vanya menangis karena cemburu pada Wil," jawab Zee.
"Vanya masih polos, dia masih labil. Mungkin juga dia belum mengerti apa yang sebenarnya dia rasakan," ucap Alex.
Zee memeluk tubuh polos sang suami yang baru saja selesai mandi. Aroma maskulinnya membuat Zee begitu nyaman.
Malam itu menjadi malam yang patah hati tuk Vanya. Karena, dia menangisi Wiliem.
__ADS_1