
Tanpa ketok pintu atau aba-aba Ana segera membuka pintu ruang kerja suaminya dengan semangat empat limanya dengan bibir yang terus melengkung menghiasi wajah gembul nan ayu nya.
Ceklek
Ana merasa dunianya runtuh saat melihat hal yang begitu menyakiti hatinya .
" Mas Rafli " lirih Ana membuat dua manusia itu tersentak kaget .
'' Ana sayang , kau sudah datang " ucap Rafli berbinar.
Ana berjalan maju dan kini tepat di hadapan suaminya dan Neta yang merupakan manager pemasaran.
'' Kenapa kau memeluknya " tanya Ana menatap tajam Rafli dan Rafli segera menjelaskan semuanya. Ia senang jika Ana cemburu namun juga takut jika Ana akan meninggalkannya .
'' Kau bagian apa " tanya Ana datar pada Neta yang kini menunduk.
'' Saya manager pemasaran Bu " jawabnya berusaha tenang padahal ia mengumpat Ana dalam hati .
'' Mas , kau tidak bisa mencari karyawan" ucap Ana memicingkan matanya melihat penampilan Neta.
'' Maksud mu apa sayang " tanya Rafli...
'' Siapa namamu " tanya Ana kepada Neta , tanpa ingin menjawab pertanyaan balik yang Rafli ajukan.
'' Ne...Neta " jawabnya gugup.
'' Apa kau tidak belajar etika dalam berpakaian . Ini kantor bukan BAR " ucap Ana dengan suara meninggi.
'' Ma...maaf Bu " ucap Neta.
'' Mas , apa kau tidak bisa menasehati bahawanmu ini " cecarnya pada Rafli .
'' Aku minta . Mulai besok berpakaian lah yang sopan . Jika tidak , kau tidak usah lagi bekerja disini . Ini kantor , dan jangan mencoba menggoda suamiku " ucap Ana mengomel , Ana sungguh jijik memandang penampilan Neta . Melihat kedua kancing atas kemeja Neta terbuka membuat matanya sakit apalagi terlihat bukit kembar milik Neta sedikit menyembul tanpa malu , ditambah rok mini yang setengah menutupi paha mulus putihnya.
'' Sayang , sudah ya " ucap Rafli , ia tak peduli Neta namun ia harus menjaga emosi Ana agar terkendali , apalagi wanita itu tengah hamil dan sering sekali tensinya naik.
'' Neta , keluarlah . Turuti kata istriku , jika tidak bereskan meja kerjamu " ucap Rafli dingin , ia tau Neta suka menggoda nya namun Rafli menjaga dirinya , tapi ia tak mau Ana salah paham karena akan berdampak pada dirinya sendiri.
'' Maaf pak dan Bu . Saya permisi " ucap Neta .
'' Akan ku balas kalian " batin Neta yang hanya akan menjadi angan-angan nya semata untuk mendapat Rafli .
" Kau senang sekali memeluknya tadi " ucap Ana melupakan emosinya .
" Ana , tadi Neta hampir terjatuh dan mas hanya menolongnya " ucap Rafli mejelaskan kembali.
" Tapi gak sampai memeluknya seperti itu. Aku menyesal kemari " ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
" Apa kau bisa memecat wanita itu , atau pindahkan kecabang lain " ucap Ana .
" Ana , Neta adalah kepala divisi pemasaran yang terbaik di perusahaan RA ini. Aku mengambil nya dari anak cabang dan penjualan di produk perusahaan kita meningkat karena kemampuannya , bahkan Neta mau terjun langsung kelapangan " ucap Rafli menjelaskan kemampuan Neta .
" Bahkan kau membelanya . Aku mampu mas menggantikan Neta untuk terjun langsung kelapangan hanya tinggal mencari yang minat pada produk perusahaan ini kan '' ucap Ana emosi melihat suaminya membela wanita lain , sebenarnya apa yang dikatakan Rafli itu fakta dan tidak sedikitpun bermaksud membela wanita lain . Mata Rafli membulat sempurna mendengarkan ucapan Ana barusan tadi.
Kerja katanya , Gila , itulah pemikiran Rafli .
Apa ia ikhlas membiarkan Ana bekerja dan di pandang orang , tentu saja tidak. Yang ada bukan minat pada produk perusahaan mereka melainkan minat terhadap Ana. Oh tidak .
'' Jika kau ingin bekerja , jadilah sekretaris pribadi mas . Kau bisa mengantikan posisi Jimmy . Biar Jimmy mengurus anaconda disana '' ucap Rafli serius akan penawarannya. Untuk Jimmy akan ia kirim menjadi pemimpin perusahannya cabangnya yang terdapat di benua Eropa dan Amerika .
'' Kita bisa bertemu setiap hari bahkan bermesraan setiap saat '' imbuhnya menggoda Ana yang kini pikirannya menerawang jauh , menembus langit ketujuh.
__ADS_1
'' Itu mau mu. Aku tidak tertarik jadi sekretaris pribadi mu. Tapi kau lihat rok mininya dan kemeja yang ia kenakan tadi. Mataku sakit mas melihatnya tadi. Pasti ia seringkan menggodamu , iyakan. Apalagi gunung kembarnya menyembul tak tahu malu. Ingin sekali aku menariknya biar memanjang. Kau pasti menikmati pemandangan itu kan ... Kau tau , duniaku seakan hancur saat melihat mas memeluk wanita lain " ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
'' Mas sudah jelaskan tadi sayang. Jika kau ingin mas memutasinya kecabang mas akan lakukan . Tapi jangan marah lagi , mas tidak mungkin tergoda dengan wanita lain , termasuk dengannya " ucap Rafli tegas memeluk wanita kesayangannya.
'' Jangan ulangi lagi ya memeluk wanita lain . Jika ia mau terjatuh biarkan saja " ucap Ana dan diangguki Rafli . Tadi Rafli hanya refleks saja untuk menolong Neta yang memang tanpa sengaja terjatuh. Ana mengusap perutnya ia istighfar atas ucapannya tadi.
'' Sampai lupakan. Ayo kita makan " ucap Rafli dan di turuti Ana meski rasa kesal masih melekat di hatinya.
.
.
.
London
Lia dan Rahma tersenyum bahagia saat rancangan busana mereka memenangkan kompetensi di London fashion week kemarin.
" Rahma , kita mau kemana sayang " tanya Lia saat mereka sudah menyelesaikan acara tersebut dimana mereka mengadakan sesi pertemuan dengan awak media.
" Aku tidak tau ma , mau kemana. Di negara ini aku kurang mengerti tempat yang bagus . Tapi aku sebenarnya begitu lelah ma " ucap Rahma , ia memilih istirahat saja.
" Baiklah , mama juga lelah sebenarnya . Kita ke apartemen Bunga saja ya " ucap Lia lalu membelokkan stir mobilnya menuju apartemen elit di kota London dimana tempat tinggal Bunga berada dan lagi pula jaraknya begitu dekat .
" Wah enak bener ni orang . Tinggal di apartemen mewah " batin Rahma saat melihat apartemen elit itu menjulang tinggi hingga terasa lehernya ingin patah melihatnya .
Lia menekan beberapa kali password apartemen milik keluarganya yang sedang di huni Bunga namun pintu tak juga terbuka.
Lia segera memencet bel seraya tangan satunya lagi memegang benda pipihnya.
" Kemana ini anak " umpat Lia .
" Mampus aku , bagaimana ini " gumamnya.
" Ada apa baby " ucap seseorang dengan tubuh telanjang memeluk bunga yang juga dalam keadaan polos.
" Kau cepat pakai baju " ucap Bunga dan ia segera mengenakan baju namun di tahan oleh pria yang selalu mengejarnya dan membuat ia selalu mendesah di bawah kungkungannya .
"Keluarga ku datang dan jika kau berada disini , akan menjadi masalah besar " ucap Bunga menjelaskan .
" Biarkan saja . Biar kita di nikahkan " ucap Willy tanpa dosa , karena sejujurnya ia menyukai bunga sejak awal dan berhasil menjebak gadis itu beberapa hari lalu agar ia memiliki Bunga seutuhnya dan sejak hari itu Bunga dengan suka rela bercinta dengan Willy meski tidak melibatkan perasaannya namun ia juga bertekad untuk melupakan Rafli pria yang mencuri hatinya. Karena ia sadar cintanya tak akan terbalas , apalagi sang ibu mengancam akan mengutuknya menjadi kodok jika ia masih menyimpan perasaan kepada Rafli membuatnya begitu takut akan kutukan ibunya itu. Punya rasa saja tidak boleh apalagi merebutnya .
" Maka kau akan tinggal nama jika memaksa " umpat Bunga .
" Aku mohon kali ini saja . Mengerti posisiku " ucap Bunga semakin panik terlihat jika Lia begitu tak sabaran .
" Baiklah . Tapi aku bersembunyi dimana " tanya Willy mengalah.
" Dilemari " ucap Bunga . Ia segera kekamar mandi untuk membasahkan rambutnya dengan shampoo secepat kilat Bunga lakukan .
Ceklek.
" Maaf Tante " ucap Bunga tak enak hati.
" Oh kau mandi bunga " ucap Lia berjalan masuk di ikuti Rahma di belakangnya.
" Kenapa Bunga terlihat gugup. Pasti ia sedang berbohong " batin Rahma menatap sekeliling mencari sumber kebohongan Bunga namun tak ketemu.
'' Tante , Bunga tinggal sebentar ya. Bunga mau pakai baju dulu " ucap Bunga tersenyum dan diangguki Lia .
Didalam kamar terlihat Willy mencium Bunga kembali.
__ADS_1
" Please Bunga , sebentar saja " ucapnya tanpa peduli penolakan Bunga , Willy tetap melancarkan aksinya . Mereka melakukannya dengan berdiri , salah satu kaki bunga di naikkan keatas bahu Willy kemudian Willy segera melancarkan aksinya . ******* dan erangan kembali terjadi di dalam kamar beruntung kamar itu kedap suara...
'' Ah... stop ... Willy ... ah.... " ucap Bunga menggigit bibir bawahnya. Sungguh bagian bawahnya sedikit perih karena Willy melakukannya dari semalam hingga siang dan mereka hanya istirahat sejenak. Sungguh Willy sangat menikmati tubuh Bunga yang memang tampak menggoda. Bunga terkejut saat Willy menyemburkan lahar hangat kedalam rahimnya. Meski Bunga mendorongnya Willy malah semakin menekannya .
'' Aku akan bertanggung jawab... Kau tenang saja " ujarnya setelah melepaskan diri dari Bunga .
Bunga yang teringat Lia dan Rahma memilih bertemu dengan Lia dan Rahma , setelah dirinya belajar jalan untuk senormal mungkin . Apalagi ia melihat Rahma menatapnya curiga.
Ceklek.
'' Bunga . Maaf ya Tante lancang buat minuman sendiri '' ucap Lia tersenyum kikuk.
" Seharusnya Bunga yang minta maaf tante karena gak sediakan minuman untuk Tante. Bunga lagi sedikit sakit perut Tante " ucap Bunga mencari alasan. Kau Istirahatlah , Tante dan Rahma juga mau istirahat dikamar tamu " ucap Lia merasa begitu lelah .
'' Tante gak makan dulu. Mau bunga buatkan makanan " tawar Bunga .
'' Gak usah. Nanti malam kita makan bareng aja. Tante dan Rahma kebetulan sudah makan . Kamu istirahatlah " tolak Lia..
" Ok Tante baik lah " ucap Bunga tersenyum.
Tanpa mereka sadari Willy mendengar pembicaraan mereka sedari tadi , namun tak ada yang penting baginya karena pembicaraan hanya sekedar lepas kangen saja. Namun Willy menatap tajam saat mengingat siapa keluarga Bunga.
" Lia Abdi Wijaya " gumamnya dengan tangan yang terkepal. Saat memastikan wajah wanita paruh baya tersebut bersama gadis cantik yang bernama Rahma.
Bunga yang hendak istirahat pun kembali di gempur oleh Willy yang seakan mempunyai tenaga super tersebut.
" Aku lelah Willy " ucap Bunga lirih.
" Tidurlah , biar aku yang bekerja " ucap Willy tetap melanjutkan aksinya tak peduli goa itu membengkak karena aksinya .
'' Maafkan aku sayang . Kau akan jadi alatku untuk balas dendam kedepannya. Kau harus punya anak dariku. Agar aku bisa menekan mu " batin Willy seraya memompa tubuh Bunga sedari tadi.
.
.
.
Beberapa hari telah berlalu namun Jimmy seakan masih betah berada di Inggris . Bukan karena betah namun karena banyak tugas di Inggris sana. Sedangkan Lia dan Rahma telah kembali dari London.
Tanpa angin apa-apa , Mario melangkahkan kakinya ke kantor Rafli . Ia melangkah memasuki ruangan CEO super sibuk itu berada setelah mendapatkan izin.
Mario mengambil nafasnya dalam saat Rafli cuek terhadapnya . Menatapnya sekilas lalu Rafli melanjutkan pekerjaannya membiarkan pria pengnganggu masa depannya dulu itu berdiri pegal bagaikan patung .
'' Siapa yang menyuruhmu duduk " tanya Rafli menghentikan pekerjaannya sejenak.
'' Aku tidak mau basa-basi padamu. Aku kemari untuk menyerahkan undangan pernikahan Maudy " tukas Mario.
'' O " sahut Rafli.
'' Pergilah aku sibuk " imbuhnya mengusir .
'' Ternyata pengaruh Jimmy tetap begitu besar bagi kehidupan mu. Aku kira hanya Ana yang begitu berpengaruh di kehidupanmu '' cibir Mario , ia tak peduli meski Rafli tambah membencinya . Toh kesalahan fatalnya sulit di maafkan oleh pria di hadapannya ini.
'' Pergilah . Jangan merusak suasana . Disini tidak ada istriku , maka aku bisa saja muak dan bernafsu untuk membunuhmu '' ucap Rafli seraya mengambil pistol dari laci meja kerjanya .
'' Baiklah. Jangan lupa datang '' ucap Mario segera bangkit terlihat Rafli tak main-main akan ucapannya.
'' Maudy '' gumam Rafli.
'' Aku tak akan datang '' imbuhnya ia enggan menghadiri pesta seperti itu , baginya tak terlalu penting. Apalagi Jimmy tak ada disana untuk menemaninya datang ke pesta. Ingin sekali ia memperkenalkan Ana pada dunia namun yang terpenting keselamatan Ana , apabila diacara seperti itu sangat dipertanyakan kemanan istrinya jika ikut. Tak khayal karena alasan ini , Rafli di kenal pengusaha muda yang sombong dan jika Rafli datang semua orang mencari muka padanya.
__ADS_1