Takdir Cinta

Takdir Cinta
Limabelas


__ADS_3

Vanya masih belum sadar karena masih terkena obat bius. Wil sudah bisa menemani Vanya di dalam ruangan, sedangkan yang lainnya sedang berada di ruang tunggu.


"Cepatlah bangun sayang! Buka matamu," ucap Wil seraya mencium tangan Vanya.


Di dalam ruang inap, terlihat Zyvia masih terbaring dengan menatap jarum infus di tangannya. Air matanya masih mengalir di sudut matanya. Sungguh, hati Zyvia terasa hampa, sakit, dan mungkin juga tak terbentuk. Sudah sekian lamanya, ternyata semua keluarganya masih saja tak bisa mempercayai dirinya, masih membenci dirinya.


"Hufh,,, Via, kau harus tetap sabar dan juga semangat. Kau bisa hidup sendirian, kau wanita yang kuat," gumam Zyvia seraya menghapus air matanya.


Kiara dan Zyan masuk membawakan makanan, tersenyum menatap Zyvia.


"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Kiara.


"Ya, terimakasih. Aku sudah lebih baik," jawab Zyvia.


"Ini kau makanlah sedikit, aku tahu kau belum makan sejak pagi. Kau harus sehat jika memang ingin pulang," ucap Kiara.


"Heem," Zyvia menerima makanan itu, memakannya dengan lahap.


Kiara dan Zyan merasa lega, karena Zyvia mau makan. Karena terlihat baik, mereka mengatakan ingin melihat Vanya sebentar. Dan, Zyvia mengangguk ia membiarkan Zyan dan Kiara tuk pergi.


Setelah menghabiskan makanannya, Zyvia mencabut paksa jarum infus di tangannya. Itu hal yang sangatlah mudah tuk dirinya yang memang seorang Dokter. Terlihat darah keluar dari sana, dengan cepat Zyvia memasangkan plester.


"Aku harus segera pergi, aku sudah melakukan hal yang menurutku benar. Jadi, Zyvia kau harus segera menghilang dan pergi menjauh," gumamnya.


Zyvia pun dengan diam-diam pergi dari rumah sakit, setelah membayar semua perawatannya. Zyvia melangkah menjauh dan segera mencari taksi menuju bandara. Tak ada rasa menyesal dalam hati Zyvia saat ini, karena dirinya sudah bisa menyelamatkan Vanya.


Walaupun dia juga harus mendapatkan lagi rasa kebencian dari semuanya. Apalagi, perkataan yang begitu menyakitkan tuk dirinya dari sang kakak. Tapi, karena itu pula Zyvia semakin kuat dan bertekad akan semakin memperbaiki hidupnya dan menjalani semuanya dengan baik.


Disetiap jalan yang dia lalui, disetiap kwdipan matanya, disetiap lembaran napasnya, Zyvia terus mengingatkan ucapan dari Sam. Air mata itu tak kunjung berhenti, mengalir dengan lepasnya menandakan bahwa sebenarnya dia tak baik-baik saja.


"Bencilah aku, kak. Bencilah aku, sampai rasa itu hilang dan bisa menebus segala dosa-dosaku. Aku tak bisa membenci dirimu yang dulu pernah memberikan aku cinta dan sayang yang begitu melimpah. Aku mencintaimu kak, aku menyayangi dirimu sampai nanti aku mati," ucap lirih Zyvia memegang dadanya yang begitu sesak.


Taksi itu terus melaju jauh, membawa segala rasa yang Zyvia rasakan. Sampai di dalam bandara, Zyvia melangkah dengan mantap. Tak ada lagi air mata di wajahnya, keadaannya sudah lebih tenang.


"Ini jalanku, ini hidupku dan aku harus bisa menjalaninya dengan lapang dada. Tuhan sudah memberikan aku kehidupan yang bahagia penuh kasih sayang, lalu memberikan aku takdir yang begitu kelam dan sekarang hidupku seakan di gurun pasir tanpa siapa pun. Aku akan memainkan peran itu dengan baik mulai sekarang," ucap Zyvia mantap seraya terus melangkah maju tanpa menengok kebelakang.


Pesawat itu membawa terbang Zyvia dan juga semua perasaannya. Segalanya, apa yang Zyvia miliki dia telah membuangnya di atas langit, terbawa angin di atas sana. Birunya langit memberinya ketenangan, putihnya awan membuatnya nyaman dan saat melihat luasnya samudera membuatnya tersenyum dengan perasaan yang sangat lega.


Rumah Sakit


Esok harinya, Kiara dan Zyan barusan kembali kerumah sakit. Mereka melupakan Zyvia yang masih di rawat disana. Setelah melihat Vanya, mereka pulang karena Jiso menangis ingin bertemu.


Zyan dan Liar mendapat kabar jika Vanya sudah siuman dan keadaannya sangat baik. Semua keluarga sudah berkumpul disana, Ara dan Ken dengan perlahan memberitahukan Vanya. Jika, mereka tak bisa menyelamatkan anaknya, Vanya menangis dengan begitu sedih, memeluk perutnya berharap semuanya tidak terjadi.


Namun, dengan perlahan Wil menenangkannya sampai Vanya tak lagi menangis. Vanya terus memeluk tubuh sang suami, Wil dengan begitu setia dan perhatian membiarkan sang istri berada di pelukannya.


Alex meminta ranjang yang super besar, agar Wil bisa terus bebaring didekat Vanya. Karena, Vanya tak mau disentuh siapa pun selain Wil. Pemberian obat pun harus Ken dan Ara.


"Wil apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Abigail.


"Tolong belikan saja buah dan roti gandum, Vanya belum makan apapun sejak dia siuman," jawab Wil.


"Baiklah, aku akan kembali dengan pesananmu," ucap Abigail.


"Terimakasih, maaf merepotkan," balas Wil.


Abigail keluar dan menemui Zee dan yang lainnya. Terlihat Sofia begitu sedih karena calon cucunya telah tiada. Sofia hanya bisa memeluk erat Alya yang berada di sampingnya. Alex juga sedih melihat Mommynya seperti itu.


"Aku akan melihat Zyvia dulu, aku melupakan dia yang juga dirawat disini," ucap Zyan.


Kiara dan Zyan pergi begitu saja, tanpa ingin mendengar jawaban apapun dari mereka. Alex dan Zee hanya bisa diam sembari menatap Sam. Abigail mengikuti Zyan dan Kiara.


"Dimana ruangannya?" tanya Abigail.

__ADS_1


Zyan dan Kiara menengok kebelakang, ada Abigail disana. Mereka pun meminta Abigail tuk mengikutinya. Tapi, saat masuk terlihat suster sedang membereskan ruangan tersebut.


"Sus, maaf dimana pasiennya?" tanya Zyan.


"Pasien ruangan ini telah keluar pak. Dan telah pergi kemarin sore."


"Pergi? Kemana?" tanya Kiara.


"Saya pun kurang tahu, tapi sebelum pergi pergi sudah membayar semua administrasinya. Dan, saya menemukan ini dari laci," jawab suster.


Suster itu menyerahkan sebuah amplop putih terdapat nama Zyvia disana. Zyan dengan cepat membukanya.


*Zyan,


Terimakasih sudah menolongku, terimakasih sudah percaya padaku dan mau berbicara padaku. Maafkan aku, karena aku kau dan kak Sam bertengkar.


Kiara, teriamakasih sudah menemani aku. Disaat semuanya menjauh, kau mendekatiku dan mau memelukku.


Aku pergi, tolong sampaikan maafku pada semuanya. Dan, tolong sampaikan juga maafku pada Vanya. Karena, aku tak bisa menolong anaknya, seperti apa yang diminta. Sekali lagi Terimakasih banyak tuk semuanya*.


"Dia pergi, dia telah pergi tanpa memberitahu kita terlebih dahulu, Kiara. Zyvia kembali ke negaranya," ucap Zyan.


Kiara membaca surat itu, sungguh dia begitu terharu akan smeua ucapan Zyvia. Jika bukan karena Zyan, mungkin Kiara juga akan sama seperti yang lainnya menjauh darinya.


Air mata Kiara menetes mengingat akan kondisi Zyvia saat baru sampai di rumah sakit. Tubuhnya gemetar karena takut. Abigail membaca juga surat itu, tak ada nama Sam disana. Hanya ada Zyan dan Kiara saja yang sudah mau menolong dan percaya padanya.


"Apa kau mulai membenci kakakmu, Zyvia? Kau sama sekali tak menulis namanya disuratmu. Ya, kau memang berhak membencinya yang telah menuduhmu begitu saja," batin Abigail.


Akhirnya, mereka kembali ke ruangan Vanya. Masih ada Zee dan Alex. Begitu juga Sam yang sedang bersama dengan Yuan, putra semata wayangnya.


"Kalian kembali? Bagaimana, Zyvia?" tanya Zee.


"Zyvia sudah pergi. Dia sudah kembali ke negaranya kemarin sore," jawab Kiara.


"Pergi? Apa dia tak mengatakan apapun padamu, Zyan? Atau padamu, Kiara?" tanya Zee.


"Tuk apa kau menanyakan itu? Sedangkan kenyataan kau sendiri tak percaya padanya. Jadi, apa gunanya ucapan dari Zyvia," jawab Zyan dengan sinis.


Zee merasa ucapan Zyan begitu meyindirnya. Membuat Zee merasa menjadi orang yang jahat. Zyan duduk dikunci dengan terus menggenggam surat dari Zyvia. Lalu dengan segera di menyimpannya di saku celananya.


**Breking news


"Telah terjadi kecelakaan pesawat tujuan Paris, penerbangan 19.15 waktu Finlandia. Diperkirakan semua penumpang dan awak pesawat telah meninggal dunia**."


Deg,,,


Zyan dan Kiara melebarkan matanya saat mendengar berita itu. Kiara sudah menangis dengan menutup mulutnya.


"Zy-Zyvia, pesawat itu. Tidak mungkin ...- " ucap Kiara sembari menatap Zyan.


Semua orang menatap heran pada Kiara yang begitu sedih saat melihat berita itu. Zyan juga terlihat begitu sedih, lelaki itu sampai menahan air matanya.


"Tidak, dia pasti sudah sampai di negaranya," ucap Zyan seraya menggelengkan kepalanya.


"Ini adalah nama-nama penumpang korban dari pesawat tujuan Paris yang mengalami kecelakaan. Micahel Exson, Delina, Stevi, Zyvia Andero ..."


Suara dari pembawa acara itu terus menyebutkan nama-nama korban pesawat tersebut. Dan saat nama Zyvia tersebut semakin membuat tangisan Kiara menjadi, tubuh wanita itu sampai terjatuh di lantai. Zee dan Abigail pun menangis menggelengkan kepalanya.


Zyan menangis mendengar itu, teringat akan bayangan Zyvia dan dirinya saat kemarin. Sedangkan, Sam tubuhnya bergetar mendengar nama sang adik disebut. Air matanya sudah menerus deras membasahi lantai. Tangannya bergetar mengingat kemarin telah mendorong tubuh sang adik.


"Zyvia,,!!" teriak Zyan berlari keluar rumah sakit.


Alex dengan cepat mengikuti Zyan, Sya masuk kedalam mobilnya dan mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Zyan,,!!!" panggil Alex dengan berteriak.


Terlihat Ken dan Ara baru saja keluar dari ruang operasi dan terkejut melihat Alex berteriak memanggil Zyan.


"Lex, ada apa? Kenapa kau berteriak memanggil Zyan?" tanya Ken.


"Kak, Zyvia. Zyvia mengalami kecelakaan pesawat. Dan, Zyan mungkin ke bandara tuk mengetahui lebih jelas berita itu," jawab Alex.


"Zyvia, kecelakaan pesawat? Kau jagan bercanda, Alex!" seru Ara.


"Lex, mana Zyan? Cepat, susul dia! Aku mohon, dia sedang cemas aku takut terjadi sesuatu padanya di jalan," pinta Kiara.


Alex mengangguk ia, segera mengambil mobilnya. Ken dan Kiara ikut pergi dengan Alex. Mereka dengan cepat menuju bandara. Terlihat banyak sekali orang disana dan wartawan.


Zyan berlari menuju tempat informasi tentang kecelakaan pesawat. Zyan ingin memastikan jika itu bukanlah Zyvia keluarganya. Tapi, sayangnya semua itu benar salah satu korban itu adalah Zyvia.


Zyan menangis dengan kencang sambil memeluk surat dari Zyvia. Entah kenapa, dirinya begitu sedih karena Zyvia. Padahal sejak dulu dia tak terlalu dekat dengan Zyvia. Tapi, mendengar dia telah meninggal karena kecelakaan pesawat, membuat Zyan begitu sedih, dadanya begitu sesak. Bahkan, Zyan seakan tak bisa bernapas.


"Zyvia, tidak. Itu bukan dirimu, aku mohon tetaplah hidup," isak Zyan yang terduduk di lantai.


Ken, Alex dan Kiara berlari mencari Zyan. Terlihat keluarga korban berbondong-bondong datang ingin mengkorfimasikan keluarga mereka yang menjadi korban.


"Dimana, Zyan? Kemana suamiku?" tanya Kiara.


"Kita cari kedalam, siapa tahu dia sedang berada di tempat informasi," jawab Alex.


Saat sedang mencari, Ken melihat Zyan yang duduk di atas lantai dengan menangis. Ken berlari padanya memegang pundak Zyan.


"Bagaimana?" tanya Ken.


Zyan menatap Ken, tangisnya semakin menjadi. Zyan memeluk Ken dengan erat. Zyan terisak begitu sedih.


"Zyvia, kak. Zyvia, itu benar Zyvia kita," isak Zyan dengan terbata.


Kiara menangis menggelengkan kepalanya. Menatap sedih pada sang suami. Alex meremmas kasar rambutnya.


"Zyvia, zyvia kau telah pergi? Tidak, Zyan. Mereka mungkin salah, dia bukan Via kan," ucap Kiara.


"Hiks,,, hiks,, hiks,, Zyvia. Via kenapa kau pergi seperti ini," isak Kiara.


Dari belakang terlihat Sam, Abigail dan Zee datang. Mereka mematung mendengar ucapan dari Zyan dan Kiara.


"Kenapa, kenapa dia harus pergi dengan cara seperti ini?" ucap lirih Sam dengan menangis.


Tubuhnya seakan tak memiliki tulang. Sam ambruk di atas lantai. Matanya melihatkan betapa dia begitu menyesal. Dadanya begitu sesak.


Zee memeluk Alex dengan menangis, semuanya menangis dengan sangat sedih. Terdengar suara tangisan Sam yang membuat Zyan marah.


Lelaki itu menarik tubuh Sam yang lemas. Memukulnya hingga terhempas. Sam tersungkur tanpa membalas pukulan dari Zyan.


"Tuk apa kau menangis? Air mata mu tak akan bisa membuatnya kembali. Sekarang kau puas Sam, puas telah melihatnya tiada, huh?" teriak Zyan.


Kiara memeluk tubuh sang suami dari belakang. Mencoba menahan tubuh Zyan.


"Air mata kalian sudah tak ada artinya tuk Zyvia. Kalian itu manusia tak punya hati. Apalagi kau Sam, kau itu terlahir dengan hati batu. Kau bisa tenang sekarang, karena Zyvia telah mati. Dia mati dengan membawa semua kebencian darimu," ucap Zyan.


Sam hanya bisa menangis, Sam meraung menangisi sang adik yang telah tiada. Begitu banyak penyesalan, semua perilakunya pada Zyvia membuat tangisan Sam tak bisa berhenti.


"Zyvia, Zyvia, jangan pergi Via. Tolong kembali, jangan tinggalkan kakak," ucap Sam lirih.


Zyan menangis sambil memeluk Kiara. Sedih sangatlah sedih yang Zyan rasakan. Teringat akan saat-saat terakhir dengan Zyvia.


"Tuhan, selamatkan dia. Aku mohon, Tuhan!" pinta Zyan dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung 🍂🍂🍂


__ADS_2