
" Ana " teriak Rafli lantang membuat tubuh Ana membeku .
'' Rafli " gumam Laras.
Terjadi keributan karena Rafli memaksa untuk memasuk membuat Eric yang duduk dengan santai menunggu di ruang tamunya segera beranjak keluar .
'' Rafli " ucap Eric dan tepat berdiri di sisi Ana tanpa ia sadari membuat emosi Rafli meluap.
'' Tolong izinkan suamiku untuk masuk " ucap Ana memelas namun Eric malah maju ke depan untuk menemui Rafli berserta beberapa orangnya. Mata Eric melirik tajam bodyguard yang tadi melapor padanya .
'' Aku akan mengizinkanmu masuk , tapi aku tak ingin ada keributan " ucap Eric tegas.
'' Aku tak akan ribut , jika kau tidak meminta istriku kemari " geram Rafli .
'' Aku tak meminta istrimu kemari bahkan aku tak tau tujuannya untuk apa " ucap Eric jujur namun Rafli menatapnya tak percaya .
'' Apa tak cukup satu istri bagi mu , dan masih mengincar istri orang lain " ucap Rafli emosi .
'' Aku bukan seperti dirimu , yang dengan teganya menghamili wanita lain saat istrinya tengah tak berdaya " bisik Eric menahan kekesalannya .
'' Jaga ucapanmu " sarkas Rafli .
'' Ucapanku benar tidak ada salah dan ini mansion Permana , tuan muda Wijaya yang terhormat. Apa kau tak mengerti cara sopan bertamu dirumah orang " cibir Eric yang begitu geram , apa di otak pria di hadapannya ini isinya hanya cemburu buta saja. Lagian pria di hadapannya ini yang menjadi pemilik Ana yang seutuhnya , dirinya telah mengakui kekalahannya geram Eric membatin.
'' Ku mohon jangan membahas masalah Bunga disini " ucap Ana ia tak ingin keluarga yang lain mengetahuinya . Mata Ana berkaca'-kaca membuat hati Eric tercubit merasa ngilu .
'' Aku akan mengizinkan mu masuk , karena aku tak tega melihat seorang wanita hendak menangis . Tapi dengan syarat kalian jangan membuat kacau disini . Jika tidak , aku akan menjebloskanmu ke penjara " ucap Eric serius dan dengan segera memerintahkan bodyguard nya untuk membuka gerbang mansion .
'' Ayo kita pulang Ana '' ucap Rafli menatap Ana tajam , sedangkan Eric telah berlalu mempersilahkan ibu Laras , Jova dan Rahma untuk masuk lebih dahulu .
'' Kau telah disini mas . Dan kita tidak bisa mundur lagi '' ucap Ana ambigu .
'' Devan , maafkan aku . Aku hanya ingin suamiku untuk menemaniku kedalam saja. Kau tetaplah disini '' ucap Ana dan diangguki Devan dengan wajah datarnya . Ana tak ingin terjadi keributan tak terkendali jika Devan ikut , duda ditinggal mati itu begitu mudah tersulut emosinya dan sama seperti Rafli yang tak bisa mengontrol emosi namun sebisa mungkin Ana akan menenangkannya .
Rafli terpaksa masuk mengikuti langkah kaki istrinya dengan tangan yang posesif memeluk pinggang ramping istrinya . Eric hanya mencibir dalam hatinya melihat jiwa pencemburu Rafli yang begitu berlebihan.
'' Silahkan diminum lebih dulu '' ucap Eric .
'' Langsung saja nak Eric '' ucap Laras membuka suara .
'' Ana kau bawa hasil test nya '' ucap Laras.
'' Aku tak tau bu , di tas ku hilang '' ucap Ana terlihat memucat.
'' Kau mencari ini sayang '' ucap Rafli mengeluarkan sebuah amplop dari saku celananya . Membuat Ana terperanjat kaget , sedangkan Eric memejamkan matanya berharap tebakannya salah .
'' Ini bu '' ucap Rafli dan di terima Laras.
'' Nak Rafli , sebelum pembicaraan ini lebih lanjut . Tolong kontrol emosi mu '' ucap Laras.
'' Ibu mohon '' ucap Laras saat Rafli ingin protes.
'' Aku mohon mas , pasti ada penjelasannya '' ucap Ana dan diangguki Rafli namun ia tak menjamin emosinya akan teredam atau tidak , tergantung apa yang menjadi pembahasan nantinya ...
'' Nak Eric bacalah '' ucap Laras dan Eric membaca isi amplop tersebut. Matanya berkedut saat membacanya dan hatinya begitu bergemuruh.
'' Apa maksudnya ini '' ucap Eric .
'' Ingin nak Eric yang menjelaskan atau orang tua yang berhak lah menjelaskan '' tegas Laras .
'' Aku sungguh tak mengerti , hasil test DNA siapa ini '' ucap Eric terlihat begitu bingung .
'' Kau membuat sebuah sandiwara yang begitu payah '' lirih Ana .
'' Katakan ada apa '' ucap Rafli .
'' Iya mbak , aku bingung sedari tadi '' ucap Rahma . Sementara Jova hanya menyimak.
'' Itu hasil test DNA diriku dan Ericana , dan hasilnya cocok '' ucap Ana membuat Eric berusaha mengontrol rasa yang bergemuruh di hatinya , sedangakan Rafli mengepalkan tangannya .
'' Mbak gak bercanda kan " tanya Rahma yang masih syok atas pernyataan kakak perempuannya .
'' Aku tak sedang bercanda Rahma . Aku sangat serius " ucap Ana memang begitu serius.
'' Aku minta kembalikan anakku " ucap Ana lantang .
'' Tapi Ericana itu anakku dan Vini , bukan anak kalian Ana. Sadarlah Ana , kau hanya terobsesi dengan Ericana " elak Eric , senyum sumbang menghiasi wajahnya .
''Ericana itu anak ku dan mas Rafli bukan anak mu dan Vini. Tolong kembalikan anakku " teriak Ana seraya terisak.
__ADS_1
'' Ericana ini bunda nak " ucap Ana melangkah mencari Ericana , Rafli yang melihat sikap Ana dan bukti test DNA cukup membuatnya yakin jika Ericana putrinya di tambah paras Ericana begitu mirip saat Ana kecil dulu .
''Katakan dimana anakku '' ucap Rafli yang amarahnya menyala , mencengkram kerah kemeja Eric cukup kuat .
'' Dia bukan anak kalian " bentak Eric melepaskan cengkraman Rafli dengan hentakkan kasar .
'' Ericana ini bunda nak " Isak Ana mencoba menaiki tangga keatas , Eric hendak mengejarnya namun Rafli lebih dulu mendorong Eric dan pukulan pun Rafli berikan untuk pria di hadapannya ini . Sementara Laras terlihat menyusul Ana . Rahma dan Jova hanya diam mengamati , Rahma tak ingin menjadi sasaran amukan dua pria itu sementara Jova tak peduli selagi tuan dan nyonya nya tak terluka . Toh Rafli lebih unggul saat ini , jika terdesak maka Jova akan membantu tuannya.
Ericana yang mendengar suara Ana hanya diam didalam kamar bersama Vini .....
'' Sayang ini bunda nak , dimana dirimu .... hiks.... bunda menjemputmu nak.. hiks....Ericana .....hiks.... " Isak Ana membuka setiap sudut ruang yang ia perkirakan ada Ericana.
Sedangkan di luar mansion , Sasa dan Teguh terlonjak kaget saat cekcok mulut terjadi , terlihat Devan hanya diam mengamati , ia tak suka untuk banyak bicara .
'' Ada apa ini " tanya Teguh.
'' Mereka mencoba masuk tuan dan.... " ucapan bodyguard terhenti saat bunyi pecahan guci mahal milik Sasa terdengar .
Rafli yang meradang menghempaskan guci besar ke tubuh Eric membuat tubuh Eric sedikit remuk , kondisi mereka sama - sama terluka .
'' Tenang lah disini dan tolong jangan buat keributan disini " ucap Teguh tegas membuat bodygaurd milik Jimmy sedikit tenang .
'' Ericana dimana dirimu sayang.... ini bunda nak ....hiks....hiks... " ucap Ana histeris .
Teriakan Ana dan tangisan Ana membuat Teguh dan Sasa cukup tercengang , keadaan rumah yang berantakan dan Eric yang terluka membuat Sasa meradang .
'' Tolong jangan membuat ulah dirumah ku " bentak Sasa membuat Rafli menatap Sasa tajam .
'' Kami tak akan membuat kekacauan jika putera mu tak menculik putriku " ucap Rafli dengan suara menggelegar.
'' A...apa ma...maksudmu ... " ucap Sasa gugup .
'' Ke...kebohongan apa yang ingin kau buat '' imbuhnya .
'' Rahma kemarikan hasil test DNA nya " ucap Rafli dan sebelum hasil test DNA itu berada di tangan Sasa , Teguh lebih dulu meraihnya kasar.
'' Ericana ,ini bunda sayang .... hiks.... buka pintunya " Isak Ana mencoba membuka pintu yang terkunci dari dalam .
'' Vini ,.... ku mohon buka pintunya ..... aku janji akan menerima alasan kalian melakukan ini semua . Tak mungkin kalian begitu tega jika tak ada penyebabnya... ku mohon Vini....hiks....hiks
...kembalikan Ericana padaku " Isak Ana .
'' Rahma , panggil kakakmu untuk kesini. Kita akan menyelesaikan ini segera " ucap Teguh dan segera diangguki Rahma menyusul sang kakak yang tiada henti meraung .
'' Ma , bantu Eric berdiri dan panggil Vini serta Ericana , kemana mereka " ucap Teguh .
'' Pa .. " ucapan Sasa terhenti saat Teguh kembali berbicara .
'' Jika putra dan mantu kita tak salah , mengapa Vini dan Ericana tak ada " tegas Teguh .
'' Rafli om mohon sekali ini , tenangkan emosi mu " pinta Teguh memelas dan Rafli tak tega dengan pria tua di hadapannya ini .
Semua berkumpul , kecuali Ericana dan Sasa yang belum turun dari dalam kamar . Ntah apa yang terjadi . Sedangkan diruang keluarga Eric dan Rafli saling tatap penuh amarah saat ini , berdeda dengan Vini yang nyalinya menciut saat Ana menatapnya dengan rasa yang sulit diartikan.
'' Tenangkan dirimu nak " ucap Laras saat melihat Ericana turun dari tangga dan bersembunyi di belakang Sasa.
'' Tapi Ericana putriku Bu " ucap Ana sengugukkan .
'' Kita akan bahas ini Ana , jika Ericana Putri kalian , om pasti akan kembalikan " ucap Teguh menenangkan. Hati Eric merasa bersalah melihat Ana menangis begitu mengiba namun Eric merasa belum saatnya untuk Ana mengetahui segalanya.
'' Ericana sini sama bunda " ucap Ana , Ericana mengerti bahasa Italia dan juga Indonesia meski tak begitu hapal. Ericana yang acuh dan duduk dipangkuan Vini begitu membuat Ana tersentak kaget , begitu juga Rafli yang begitu tau kedekatan istrinya dan bocah cantik di hadapannya itu . Vini pun tak tau mengapa Ericana begitu acuh dengan Ana , hal serupa terjadi juga dengan Eric yang sungguh tak mengerti namun ia cukup tau satu orang yang membuat Ericana jadi begini.
'' Ibu.... hiks....hiks.... Dia tak menatapku....hiks... " ucap Ana terisak . Sementara mata Rafli begitu memerah menahan amarah dan kesedihan yang mendalam.
'' Pa , usir mereka " bisik Sasa namun Teguh tak mengidahkan permintaan istrinya itu. Laras menatap Sasa dengan pandangan tak percaya , telinga Laras cukup jelas mendengarkan permintaan Sasa .
'' Bagaimana solusinya '' ucap Rafli , ingin ia pergi dari kandang neraka ini dan membawa keluarganya pulang .
'' Kita akan melakukan test DNA hari ini juga '' ucap Teguh tegas .
'' Papa apa-apaan . Ericana ini cucu kita '' ucap Sasa menolak .
'' Papa tak bodoh dan tidak pelupa . Selama ini papa diam dan menepis rasa curiga papa , tapi bukti test yang mereka bawa cukup membuat papa goyah '' ucap Teguh .
'' Tapi pa ..... '' ucap Eric.
'' Kau diam . Jika Ericana anak Rafli dan Ana , kita wajib mengembalikannya . Tapi jika Ericana anak kandung kalian ( Eric & Vini ) , maka kalian semua terutama kau Ana , maka om melarangmu untuk mendekati Ericana " ucap Teguh tegas dan diangguki setuju oleh tiga orang di hadapannya namun Ana tak mengiyakan ataupun menolak.
'' Apa Ana dan Rafli setuju " tanya Teguh .
__ADS_1
'' Saya setuju om '' ucap Rafli tegas ....
'' Bagaimana Ana '' tanya Teguh namun Ana masih tetap mengunci pandangannya kepada Ericana yang terlihat berbeda kepadanya .
'' Saya setuju , tapi jika kalian berbohong , saya tak segan jika memenjarakan Eric dan Vini '' ucap Ana penuh kecewa. Hati Eric dan Vini tak menyangka jika respon Ana akan begini.
'' Apa-apaan ini. Tapi bagaimana jika tuduhan kalian salah . Tante bisa balik melaporkan kamu dan suami mu Ana '' ucap Sasa emosinya tersulut.
'' Mas , tenangkan dirimu '' ucap Ana menenangkan Rafli yang hendak mengamuk.
'' Saya siap dengan konsekuensi nya , saya tidak akan melapor ke polisi jika dari awal kalian tak mempersulit '' ucap Ana .
'' Om minta kita harus menjauh dari masalah hukum , kita selesaikan ini secara kekeluargaan " ucap Teguh , ia ingin Rafli dan Eric menjadi sahabat paling tidak jangan menjadi musuh bebuyutan. Cukup istrinya dan Lia saja yang tak akur , hanya dirinya dan Abdi lah yang terlihat seperti saudara .
'' Om sudah putuskan untuk melakukan test DNA Ericana hari ini juga . Di tiga rumah sakit " ucap Teguh dan diangguki pihak Ana dengan semangat.
'' Om butuh bantuanmu Rahma " ucap Teguh .
'' Tidak bisa pa , bisa jadi me..... " ucapan Sasa terhenti .
'' Saya tidak sepicik itu Tante . Tante tak seharusnya takut , jika memang Ericana anaknya mbak Vini dan mas Eric . Kami tak akan bermain curang , tapi jika tante yang bermain curang awas saja " ucap Rahma yang cukup kesal , bahkan ia tak mengenali sosok Sasa saat ini .
'' Apa saya bisa bicara sebentar dengan Ericana '' ucap Ana .
'' Tak bisa '' ucap Sasa.
'' Vini bisa menemaniku '' pinta Ana memelas .
'' Baiklah , silahkan " jawab Eric . Vini , Ericana serta Ana pindah ke taman samping mansion Permana .
" Ericana sayang , ini ibu nak . Ini bunda , ibu kandungmu " air mata Ana menetes , Ericana menggeleng cepat dan terkesan takut kepada Ana membuat hati Ana bagai tertikam ribuan tombak .
'' Ericana kenapa nak " tanya Vini lembut.
'' Aunty Ana jahat , mereka semua jahat " ucap Ericana membuat Vini begitu terkejut , jangan di tanya bagaimana perasaan Ana .
'' Kenapa Ericana bersikap seperti itu padaku Vin " ucap Ana lirih terlihat begitu rapuh saat ini .
'' Aku juga tidak tau apapun mbak " ucap Vini berkaca-kaca.
'' Aunty Ana gak jahat sayang. Ayo peluk Aunty pasti Aunty Ana rindu " ucap Vini namun Ericana menggeleng cepat .
'' Sayang , ayo sini peluk " ucap Ana dengan air mata tumpah ruah.
'' No . Aunty Ana jahat , aunty Ana orang jahat " teriak Ericana menangis tersedu-sedu.
'' Katakan , dimana aunty jahat sama Ericana , apa aunty punya salah " ucap Ana mencoba meraih Ericana .
'' Aunty sayang Ericana nak. Ericana akan jadi anak aunty sayang " ucap Ana memeluk paksa Ericana , Ericana begitu takut dengan Ana saat ini dan mencoba berontak .
'' Ericana benci dengan Aunty Ana " ucap Ericana dan melepaskan pelukan Ana saat Ana membelai rambut indahnya.
'' Ericana juga tak suka kalung ini '' ucap Ericana memutus paksa kalung indah yang menghiasi lehernya , hingga mutiara indah itu bertebaran kemana-mana . Ericana berlari masuk , sedangakan Ana yang hatinya hancur lebur tak berbentuk memilih untuk pergi , Vini ingin sekali menyusul Ana namun ia lebih mementingkan Ericana yang tak seharusnya kini begitu membenci Ana .
'' Apa mama Sasa yang meracuni otak Ericana , pantas Ericana tak begitu tertarik jika membahas mbak Ana " batin Vini .
Ana berlari keluar dan langkahnya terhenti saat bodyguard Jimmy bertanya padanya . Melihat keadaan Ana begitu kacau dan memprihatinkan .
" Tolong kalian masuk , didalam sedang terjadi keributan " ucap Ana terisak membuat seluruh Bodyguard Jimmy yang mengawal mereka ikut masuk dengan sebagain bodyguard Permana .
" Devan , tolong lerai mas Rafli " ucap Ana hingga akhirnya Devan masuk kedalam .
Ana segera berlari saat semua orang suaminya dan Jimmy tak mengahalangi langkahnya .
" Nyonya mau kemana " tanya salah seorang bodyguard Eric menahan gerakan Ana .
" Aku hanya ingin menenangkan diri dan pikiranku . Tolong lepaskan Aku , atau suamiku akan mengamuk " ucap Ana dan seketika bodyguard tersebut melepaskan Ana karena takut .
Ana berlari untuk menenangkan pikirannya , perasaanya yang begitu sedih dan hancur atas penolakan Ericana , sungguh begitu menyakitkan.
" Lepas , lepaskan aku emmmphhh " ucap Ana memberontak saat sebuah saputangan membekap mulutnya .
" Hei lepaskan " ucap salah seroang bodyguard tadi yang melihat segerombol orang memaksa Ana untuk masuk .
Dor...
Dor..
Jangan lupa like dan Komentarnya
__ADS_1
Selamat membaca 😊