Takdir Cinta

Takdir Cinta
Reuni sahabat.


__ADS_3

Setelah makan malam usai dan usai juga pembahasan tentang perusahaan kini Rafli berbicara kepada Devan tentang hal pribadi .


'' Aku bingung kak , jika Alex sekolah disini apa tidak merepotkan kalian dan istri kakak '' ucap Devan.


'' Tentu saja aku dan Ana tidak merasa kerepotan . Kau tau sendiri , jika Ana menyukai anak-anak dan biarlah Alex berada disini , agar ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu '' ucap Rafli membuat wajah Devan berubah sedikit mendung .


'' Maaf Devan '' imbuh Rafli .


'' Tidak kak , kakak tidaklah salah . Semua yang terjadi sudah takdir '' ucap Devan pelan .


Hening


'' Apa kau tidak tertarik dengan Zizi '' ucap Rafli dan dijawab gelengan oleh Devan.


'' Aku sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi . Kakak juga benar , jika istri kak sudah cukup bagi Alex untuk merasakan kasih sayang seorang ibu '' ucap Devan .


'' Tapi kau juga butuh kasih sayang seorang istri Devan , bagaimanapun dirimu juga perlu diperhatikan '' ucap Rafli .


'' Aku ingin bertanya pada kakak . Jika kakak berada di posisiku dan hanya memiliki satu cinta dalam hidupnya . Apa kakak akan menikah lagi jika berada di posisiku '' tanya Devan , ia cukup jengah disuruh orang terdekatnya untuk menikah lagi .


'' Kakak tidak bisa menjawab namun aku sangat tahu jawabannya . Jangan membahas tentang pendamping hidupku kak , yang jelas kakak sendiri tau jawabannya '' ucap Devan.


'' Maaf sebelumnya kak . Aku permisi ingin istirahat " imbuh Devan dan beranjak dari duduknya meninggalkan Rafli yang termenung di ruang kerja tersebut . Rafli menatap nanar punggung Devan , rasa bersalah dirinya atas meninggalnya Alexa begitu membekas apalagi Ana yang setiap melihat Alex serta Devan wanita itu menatap mereka dengan manik kesedihan.


Rafli beranjak menuju kamar tidur nya terlihat sang istri sudah terlelap dalam mimpinya , sementara Rafli memeriksa kembali semua laporan yang dikirim oleh orang kepercayaannya ....


.


.


.


Dua hari Devan hanya berkunjung ke mansion Rafli dan kini ia harus kembali ke Indonesia untuk mengurus bisnis putera Wijaya yang bagai gurita tersebut . Alex menolak saat di ajak pulang oleh Devan dan Devan tak bisa berbuat apapun selain menuruti anak semata wayangnya.


Selepas kepergian Rafli , mansion Wijaya mendadak ramai karena kedatangan para sahabat Ana. Suasana rumah menjadi heboh begitu juga Jelita dan Rayana menyambut para sahabat barunya. Sedangkan Alex dan Rava juga bermain dengan anak yang lainnya , untuk para mom sedang sibuk merumpi begitu meriah sesekali tawa mereka terdengar begitu bahagia.


'' Gimana kalau kita kapan - kapan ngumpul di mall atau restaurant gitu " ucap Intan yang ingin mengulang masa , dimana mereka belum menikah . Pernyataan Intan membuat semua pasang mata menatap kearah Ana , Ana hanya tersenyum kikuk menanggapinya . Saat pacaran saja Rafli begitu posesif apalagi setelah menikah , akan banyak nasihat yang Rafli katakan nanti dan belum tentu jawabannya akan mengizinkan Ana.


'' Ya kita ngumpul disini juga gak apa kok " jawab Intan.


'' Tidak Intan , aku akan usahakan untuk minta izin dari Rafli " ucap Ana tersenyum kecut ...


'' Ana , tak mesti kita harus keluar apalagi nongkrong di mall . Jika kita ingin reuni , disini juga bisa . Lihatlah , kita sekarang sedang reuni " ucap Ayu dan di angguki Ines.


'' Tapi aku akan usahakan meminta izin suamiku '' ucap Ana .


'' Baiklah , tapi kami tidak memaksamu Ana '' ucap Intan tak enak hati .


'' Kau yakin suami posesif mu itu akan mengizinkan An " tanya Tiara .


'' Ya kan namanya usaha " ucap Ana .


'' Bahas yang lain aja ya. Gak usah bahas para suami " ucap Inez , karena sekarang Darwin juga mulai posesif padanya. Semua orang terkekeh mendengar cerita Inez. Bukan hal yang susah jika Inez ingin membuat wajah Darwin babak belur , namun Inez teringat pesan sang nenek sebelum menghembuskan nafas terakhirnya .


.


.


.


Malam telah tiba , makan malam juga telah usai . Kini Rafli dan Ana tengah berada dalam kamar mereka , jika tidak ada yang begitu penting , pasti Rafli memilih melanjutkan pekerjaan kantornya di dalam kamarnya seraya menikmati teh hijau sekaligus melihat pembuat teh hijau untuknya yaitu Ana istrinya . Terlihat Ana sibuk berbalas pesan , siapa lagi jika bukan berbalas pesan dengan sahabatnya. Sesekali Ana juga mengecek kondisi toko kuenya yang berada di Indonesia , cukup banyak Ana membuka cabang dan menampung puluhan pegawai yang mencari nafkah di toko kue miliknya .


'' Sudah selesai mas " tanya Ana saat sang suami naik ke atas ranjang mereka .


'' Ya sayang , mas rindu dan ingin itu " ucap Rafli tanpa beban dan langsung tangan nakalnya mulai menerobos dari bawah gaun tidur istrinya. Ana menahan gerakan Rafli saat ingin menarik benda segitiga yang berenda .


'' Kenapa Ehmmm " tanya Rafli .


'' Ada satu syarat " ucap Ana.


'' Apa katakan sayang " ucap Rafli .


'' Besok rencananya aku dan teman-teman ingin berkumpul di restaurant atau mall " ucap Ana tanpa ragu. Seketika Rafli mengeluarkan tangannya .


'' Apa tidak cukup dari pagi hingga sore bertemu dengan para sahabat mu " tanya Rafli .


'' Kan sekali-kali mas , cuma besok waktunya setelah itu Ayu dan Tiara akan pulang " ucap Ana .


'' Sekali-kali , tapi resiko dimana-mana Ana " ucap Rafli memperingati .


'' Mas mengizinkan atau tidak " tanya Ana..

__ADS_1


'' Tidak . Mas tidak mengizinkan mu keluar " ucap Rafli .


'' Meksi dengan di temani bodyguard " tanya Ana.


'' Mas , Inez bisa keluar dengan Bodyguard nya dan juga lihat Rahma . Rahma bebas keluar kemanapun . Kenapa aku susah sekali " ucap Ana ptotes .


'' Karena status dan kondisi kalian berbeda " ucap Rafli , ingin sekali istrinya itu mengerti . Mengerti jika Rafli selalu khawatir jika Ana keluar di luar sana .


'' Status kami sama saja sebagai seorang istri dari pria posesif " jawab Ana membuat Rafli memijat pelipisnya ...


'' Hanya itu menurutmu Ana " tanya Rafli ...


'' Statusmu adalah istriku . Istri seorang Rafli Wijaya , dan perlu kau ingat. Rival bisnisku ada di manapun . Ingatlah beberapa tragedi yang kau alami . Bukan maksud mas untuk mengekang mu . Tapi mengertilah " ucap Rafli .


'' Mas , aku mengerti . Tapi aku janji kali ini tidak terjadi apapun. Jika terjadi apa-apa , aku tidak akan keluar-keluar lagi . Aku akan membawa beberapa bodyguard wanita , jika perlu Bodyguard laki-laki juga akan ikut serta . Inez juga membawa bodyguard nya . Please... " ucap Ana memelas.


'' Lalu , bagaimana dengan anak-anak " tanya Rafli .


'' Anak-anak akan bermain di mansion dengan anak-anak sahabatku " jawab Ana.


'' Lalu kalian para ibu-ibu ingin tebar pesona disana " ucap Rafli membuat Ana mengulum senyum .


'' Ya tidak . Kami hanya ingin reunian sesekali mengenang masa dulu " ucap Ana memelas.


'' Jika bisa sekalian tebar pesona " batin Ana , ingin sekali ia menjawab itu meski hanya candaan menggoda suaminya , namun Ana tak ingin suaminya batal memberikannya izin dan Rafli tak suka bercanda dalam hal itu . Ana sadar , Rafli begitu sensitif melebihi ibu hamil atau wanita yang sedang datang bulan.


" Ck , mengenang masa dulu " gerutu Rafli .


" Mau direstaurant mana kalian reunian " tanya Rafli .


" Belum tau sich mas . Kan belum diputuskan dimana " ucap Ana.


'' Kalau gitu mas belum bisa mengizinkannya " ucap Rafli.


'' Kok gitu " ucap Ana kesal.


'' Sudah jangan banyak protes " ucap Rafli .


'' Ini sudah malam , ayo kita olahraga sebentar " ucap Rafli segera menindih istrinya ..


'' Aku ingin tidur capek " ucap Ana mengusir tubuh suaminya yang susah beranjak .


'' Baiklah " ucap Ana , setelah berfikir untuk menerima tawaran suaminya .


Rafli melakukan pemanasan dengan tubuh istrinya , kulitnya masih kencang dan putih bersih , tak sia-sia ia mengeluarkan uang cukup banyak karena perawatan Ana juga ia nikmati.


'' Aakhhh Ana.... " ucap Rafli menahan nikmat pada inti tubuhnya saat penyatuan , Rafli sungguh begitu menikmati saat baru saja memasuki yang dinamakan surga dunia itu. Bagaimana bisa , Ana yang ia gunakan berkali-kali bahkan tak bisa di hitung berapa kali namun rasanya masih seperti per*wan. Rafli masih menikmatinya hingga ia hanya berdiam merasakan sensasi yang membuatnya selalu ingin merasakan.


'' Kau merawat ini dengan apa sayang '' ucap Rafli dengan nafas memburu. Wajah Ana bersemu merah saat Rafli menanti jawabannya .


'' Minum jamu '' ucap Ana membuang wajahnya karena begitu malu . Rafli tersenyum melihat ekspresi wanitanya .


'' Baiklah , kita akan memulainya karena kau tak sabaran '' ucap Rafli , Ana ingin protes namun Rafli begitu cepat membungkam bibir istrinya. Dan pertempuran langsung terjadi dengan Ana yang harus jadi pemenangnya .


.


.


.


Wajah Ana memerah karena dari pagi sang suami selalu meledeknya , rasa nyeri di inti tubuhnya membuat Ana merubah jadwal pertemuannya , mereka akan bertemu di jam makan siang . Rafli terpaksa mengizinkan sang istri untuk bertemu sahabatnya dan tentu dengan pengawal yang akan berjaga di sekitar tempat . Rafli berpesan kepada Ana untuk tidak perlu mengantarkan makan siang ke kantor karena ada meeting penting dengan perusahaan lainnya yang akan menjamunya dengan makan siang bersama. Ana tersenyum senang karena tubuhnya sungguh lelah saat ini. Setelah membuat sarapan , Ana segera mengistirahatkan tubuhnya sejenak .


'' Rava , bunda dimana '' tanya Ayu karena sang nyonya rumah tak terlihat batang hidungnya.


'' Bunda di atas aunty, tadi masih tidul '' ucap Rayana dengan suara menggemaskannya .


'' Uuuuhh Ana kecil '' ucap Tiara gemas.


'' Ayo kita susul aja '' usul Intan.


'' Gak enaklah , kita masuk ke kamarnya '' tolak Ayu .


'' Aunty Ayu boleh minta tolong sama Rava '' tanya Ayu dan diangguki Rava.


'' Tolong bangunin mama jika Tante Ayu dan lainnya menunggu '' ucap Ayu lembut.


'' Tentu Aunty , tunggu sebentar ya '' ucap Rava dan segera melangkah menuju kamar orang tuanya berada .


'' Tumben Ana jam segini molor '' ucap Inez .


Sementara Rafli yang hendak pergi meeting tertawa terbahak-bahak atas laporan dari pelayan di rumahnya . Bahwa istrinya tidur di jam yang tak pernah di lakukan .

__ADS_1


" Ternyata tenagamu terkuras habis sayang " batin Rafli .


Ana terbangun dengan malas saat sang anak membangunkannya. Kini Ana bangun bagaikan Arjuna yang memberengut kesal ketika di bangunkan .


'' Bilang ma aunty , mama mau mandi dulu " ucap Ana dan diangguki Rava.


Sahabat Ana menggerutu kesal karena menunggu Ana begitu lama , sudah satu jam namun sang sahabat belum juga menampakkan batang hidungnya.


'' Maaf menunggu lama " ucap Ana tersenyum dengan wajah polosnya . Ana juga berpamitan kepada anak-anaknya.


'' Habis lembur ya semalam " ledek Intan karena memperhatikan dress yang Ana pakai menutupi leher jenjang wanita itu.


'' Sok tau " jawab Ana


'' Ayo nanti kita terlambat " potong Ayu , ia tau saat ini Ana sungguh merasakan malu .


.


.


.


Ana dan sahabatnya telah tiba di restaurant yang akan menjadi tempat mengumpul mereka , selagi mengobrol tentu saja banyak cemilan serta minuman di hadapan mereka . Tidak mungkin hanya sekedar mengobrol lalu makan angin saja. Tapi sebelum mengobrol mereka memilih untuk makan siang lebih dahulu dan memesan makanan favorit mereka masing-masing.


Di sela makan siangnya mata Inez tak sengaja melihat suami sahabatnya tengah meeting dan di sebelahnya duduk seorang wanita sexy dan Inez tau jika itu bukanlah Bianca.


'' Kenapa posisi duduk saat meeting seperti itu " batin Inez namun ia tak ingin memberitahu Ana karena mungkin hanya penilaiannya saja yang salah. Rafli tidak mungkin selingkuh , tapi kalau wanita itu. Ntahlah , Inez berharap yang positif saja.


Disisi lain pun Rafli mendapatkan laporan jika sang istri tengah berada di restaurant dimana ia berada saat ini juga . Senyum Rafli tersungging membuat wanita yang duduk disampingnya begitu penasaran , apa yang membuat pria yang terkenal dingin itu bisa tersenyum.


'' Saya permisi ke toilet dulu " ucap Rafli saat baru saja meeting selesai dan Rafli segera mengirimkan pesan kepada Ana untuk menemuinya , di bagian belakang restaurant.


Ana terbelalak kaget saat mengetahui sang suami juga berada di restaurant yang sama dan memintanya menuju belakang gedung restaurant jika tidak Rafli akan menggendongnya dan membawanya pulang .


" Ada-ada saja pria ini apa mau nya '' batin Ana , suaminya tak menerima penolakan dengan alasan Ana yang benar apa adanya , jika makanan di piringnya baru setengah ia cicipi.


Ana permisi pada sahabatnya sebentar dengan alasan yang sama , sahabatnya berniat ingin menawarkan untuk menemaninya namun Ana menolak . Sementara Inez menatap bangku dimana Rafli berada namun pria itu menghilang . Pipi Inez tiba-tiba bersemu merah saat melihat suaminya juga berada disana , suami Inez mengedipkan mata yang tertuju untuknya .


" Apa kau tidak penasaran dengan yang mereka lakukan " pesan dari Darwin membuat Inez makin merasa malu .


" Kau kenapa " tanya Tiara menyentuh bahu Inez.


" Tidak , aku tidak apa-apa " jawab Inez tersenyum kecut . sementara Darwin tertawa bahagia dalam hatinya karena berhasil menggoda sang istri .


Klien Rafli yang begitu penasaran dengan Rafli pun pergi ke toilet namun tak menemukan Rafli di dalam sana.


" Sayang " ucap Rafli segera menarik pinggang ramping sang istri.


" Mas merindukanmu " ucap Rafli segera mencium singkat bibir sang istri .


" Aku gak tau kalau mas meeting disini " ucap Ana.


" Karena dimanapun kau berada , mas selalu berada di dekatmu " ucap Rafli menatap manik indah istrinya .


Rafli kembali mencium bibir Ana namun tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengamati kegiatan mereka , wanita itu begitu syok saat pria incarannya sedang mencumbu wanita lain bahkan ini di tempat umum namun posisi mereka saja yang berada di sudut ruang .


" Tuan Rafli " sapanya karena tidak tahan melihat aksi Rafli terhadap wanita itu . Rafli melepas kecupannya dan tangannya terpaksa keluar dari bilik dress istrinya .


" Tuan , makan siang akan di mulai " ucapnya menatap Ana tajam , sementara Ana menunduk malu sekaligus merasa heran kenapa wanita ini menyusul suaminya . Tugasnya melebihi Bianca saja.


" Kau tidak punya pikiran , kau tidak melihat aku sendang mencium istriku . Berhenti menggangguku " ucap Rafli dingin membuat Ana menatapnya dan wanita itu juga merasa pendengarannya salah karena Rafli berkata gamblang .


" Bukan maksudku un.... " ucapnya gugup.


" Stop , aku tak mau mendengar . Kita hanya sekedar klien dan seorang klien tidak berhak mencampuri urusan pribadi koleganya . Pergilah kau , kalian bisa melanjutkan makan siang sialan ini " ucap Rafli wajahnya begitu memerah , beberapa kali wanita ini terus menggodanya namun kali ini wanita tersebut melebihi batasannya bahkan berani mengganggu keromantisannya bersama istrinya.


" Mas sebaiknya kau makan . Aku juga sedang makan siang dengan sahabatku . Mereka pasti mencemaskan ku mas . Hargailah klien mu . Hmmm " ucap Ana memberi kecupan singkat pada suaminya .


" Ingatlah mas , janjimu semalam . Aku menang dan kau KO . Jadi aku boleh menikmati siang ini bersama sahabatku " ucap Ana menahan malu dan Rafli tersenyum.


" Baiklah , tapi nanti kita pulang bersama " ucap Rafli dan diangguki saja oleh Ana. Rafli membantu merapikan pakaian istrinya dan Rafli segera menuju toilet setelah itu , sungguh hasratnya tak terbendung saat bermesraan sedikit saja dengan istrinya.


" Kau istrinya Rafli yang keberapa " tanya Klien yang bernama Monica tersebut ...


" Apa maksudmu " tanya Ana , cukup terkejut. Ia kira wanita yang berbusana kurang bahan ini telah pergi.


Jangan lupa like dan komentarnya.


Selamat membaca 😊.


Terimakasih yang sudah komentar dan like.

__ADS_1


__ADS_2