Takdir Cinta

Takdir Cinta
keempat


__ADS_3

Setelah pergi dari ruangan Wil, Roy menemui Vanya. Terlihat gadis itu sedang termenung dengan tangan yang terus mengusap perutnya.


"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Roy.


Vanya menengok ke arah Roy sambil tersenyum. Vanya dan Roy pun duduk bersama di sofa.


"Apa kau sudah menghabiskan semua sandwichnya?" tanya Roy.


"Sudah habis sejak pagi. Itu sangat enak, aku suka," jawab Vanya.


"Kau kenapa begitu lama? Aku kira kau tak akan kemari karena kerja?" tanya Vanya.


"Aku sejak pagi sudah berada disini. Hanya saja, aku tadi menemani tuan Wiliem di dalam kamarnya. Kau tahu, dia begitu lemah dan tadi hampir saja pingsan," ucap Roy.


"Wiliem? Namanya, Wiliem?" tanya Vanya.


"Ya, namanya Wiliem. Dia juga bukan orang Paris, dia dari Finlandia," jawab Roy.


Deg,,,


"Tidak mungkin, dia Wil kan? Tapi namanya Wiliem dari Finlandia. Kenapa, dia ada disini apa yang dia lakukan disini?" batin Vanya.


"Roy, dimana dia dirawat?" tanya Vanya.


"Dia berada di kamar sampingmu, kalian hanya beda satu kamar saja," jawab Roy.


Vanya memegang dadanya. Ada rasa senang karena bisa dekat dengan Wil, tapi dia juga takut jika bertemu dengan Wil dengan keadaannnya yang sedang hamil.


"Kau kenapa? Sepertinya, begitu terkejut," tanya Roy.


"Tidak, tidak ada. Hanya teringat akan sesuatu saja," jawab Vanya.


"An, hari ini aku akan kembali malam. Jika sangat sibuk kemungkinan besok baru bisa menemui. Kau tidak apa kan?" tanya Roy.


"Roy, aku sudah besar. Bekerjalah dengan tenang. Aku akan tetap disini," jawab Vanya.


"Ok, istirahatlah. Aku akan kembali ke kantorku," ucap Roy.


"Hati-hati ya, Roy," balas Vanya.


Roy mengusap kepala Vanya lalu pergi keluar tuk kembali bekerja. Vanya begitu penasaran dengan lelaki yang bernama Wil tersebut. Dan memilih tuk melihatnya.


"Bagaimana, jika benar itu adalah Wil?" ucap Vanya.


Sekarang Vanya sudah berada di depan pintu ruangan Wil, dengan perlahan Vanya membukanya. Terlihat sosok lelaki sedang tertidur dengan lelap dengan posisi menyamping.


Langka Vanya begitu pelan karena tak ingin membangunkan Wil. Jantungnya berdoa kencang karena begitu gugup. Vanya semakin dekat dan melihat wajah siapa yang tertidur itu.


Tubuh Vanya mendadak terpaku saat melihat siapa lelaki itu, air matanya mengalir dari mata indahnya. Namun, terlihat senyuman tipis di bibir Vanya.


"Ini benar kau, Wil? Kau ada di depanku, kau nyata?" ucap Vanya lirih.


Vanya mendekat, mencoba menyentuh wajah Wil yang terlihat pucat, tangan Vanya meraba wajah Wil dengan begitu pelan.


"Kenapa aku begitu tenang saat melihatmu? Kenapa, kau bagaikan penawar dalam rinduku?" batin Vanya.


Terlihat ada selang infus di tangan Wil, Vanya menatapnya begitu sedih. Wajah tampan nya terlihat sedikit tirus.


"Kau sakit apa? Kenapa kau hanya bisa memakan stobery saja? Kemana, kak Zee dan kak Alex?" tanya Vanya.

__ADS_1


Sangat lama, Vanya menemani Wil yang tertidur. Vanya duduk di samping ranjang Wil dengan terus memandang wajahnya tanpa lelah.


"Wil, apakah saat bertemu nanti kau akan memandang rendah diriku? Karena, aku hamil tanpa memiliki seorang suami?" tanya Vanya.


Air mata Vanya kembali mengalir mengingat akan anaknya dan siapa lelaki itu. Sungguh, Vanya tak kuasa menahan perasaannya jika sudah mengingat akan kejadian itu.


"Wil, aku mencintaimu, aku menyayangimu lebih dari teman. Apakah perasaanku salah padamu,? Disaat keadaanku seperti ini?" lirih Vanya dengan isak tangisnya.


Dengan menahan isak tangisnya, Vanya berjalan keluar dari kamar Wil. Saat berada diluar barulah, Vanya menangis dengan begitu hebat. Vanya berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya.


Roy yang kembali karena meninggalkan ponselnya di kamar Vanya pun tak sengaja melihat Vanya yang menangis keluar dari kamar Wil. Membuat dirinya merasa heran lalu bergegas mengikuti Vanya.


"Kenapa, Vanya menangis? Dan sedang apa dia di kamar Wil?" tanya Roy begitu penasaran.


Vanya yang masih menangis pun tak sadar jika Roy sudah berada di belakangnya.


"Tuhan, kenapa dia ada disini? Aku menciba menjauh dari semua keluargaku. Dan, Wil adalah orang yang sangat ingin aku jauhi. Kenapa, kenapa bisa ada disini?" ucap Banyak dengan isak tangisnya.


"Aku sangat merindukanya, tapi aku juga tak ingin melihatnya. Rasa cintaku, akan menjadikan aku lupa jika aku adalah wanita kotor," sambung Vanya.


Deg,,


Hati Roy begitu sakit saat mengetahui ternyata Wiliem yang dia tolong adalah lelaki yang dicintai oleh Vanya. Roy mengingat akan ucapan Wil yang sedang mencari kekasihnya yang pergi meninggalkannya. Bahkan, Wil mengatakan jika kakesihnya mungkin sedang hamil anaknya.


"An, kau sedang membicarakan siapa?" tanya Roy.


Vanya begitu terkejut saat mendengar suara Roy, lalu membalikkan tubuhnya. Terlihat Roy yang memandangnya penuh dengan pertanyaan.


"Roy, kapan kau kembali?" tanya Vanya.


"Jawab aku, An! Kau membicarakan siapa, lelaki yang kau cintai atau lelaki yang sudah menodaimu?" tanya Roy begitu tegas.


"Apa maksudmu, Roy?" tanya Vanya tak mengerti.


"Kau menangis saat kembali dari kamarnya, Wil bukan? Dan kau tahu, kenapa dia ada disini, dia sedang mencari kekasihnya yang pergi meninggalkannya. Dan satu lagi, dia juga mengatakan jika kekasihnya itu kemungkinan sedang hamil anaknya," jelas Roy.


"Kekasihnya, dan wanita itu hamil anaknya? Siapa yang kau maksud?" tanya Vanya.


"An katakan padaku, apakah dia lelaki yang kau cintai?" tanya Roy.


Vanya hanya diam dengan air mata yang kembali mengaliri wajahnya. Vanya memalingkan wajahnya.


"Vanya, jawab!!" teriak Roy penuh dengan emosi.


Vanya begitu terkejut, mendengar Roy berteriak padanya, Roy terlihat begitu marah, tangannya sudah mengenal kuat. Vanya terlihat takut melihat Roy yang seperti itu.


"Ya, dia lelaki yang aku cintai," jawab Vanya dengan suara bergetar.


"Huh," Roy menyeringai dengan tatapan tak di mengerti oleh Vanya.


"Sandiwara apalagi ini? Kenapa, kalian seperti seorang artis yang berperan petak umpat," ucap Roy.


"Apalagi yang kau katakan, Roy? Aku tak mengerti," tanya Vanya.


"Kau sudah menemukan siapa ayah dari anakmu, An. Siapa lelaki yang sudah menodai dirimu," jawab Roy.


Vanya menggeleng penuh dengan senyuman meledek pada Roy.


"Tidak mungkin, darimana kau tahu semua itu. Apakah kau tahu siapa kekasihnya? Aku bukan kekasihnya, dan asal kau tahu Roy. Aku saja tak tahu seperti apa wajah lelaki itu," ucap Vanya.

__ADS_1


Vanya membalikkan tubuhnya, pikirannya memutar kembali saat kejadian itu, malam itu memang dirinya berada bersama dengan Wil. Tapi, sebelum itu Vanya bertemu dengan Erika setelah itu Vanya sudah berada di atas ranjang dengan seorang lelaki.


Roy berjalan pergi keluar, dia begitu marah saat melihat Wil yabg sedang tertidur pulas di ranjangnya.


"Jika saja keadaanmu tak seperti itu, sudah ku habisi kau Wil," ucap Roy dengan tatapan membunuhnya.


Roy berjalan keluar rumah sakit dengan penuh kemarahan sampai dia menabrak sosok lelaki gagah di depannya. Namun, karena begitu emosi, Roy berjalan begitu saja tanpa meminta maaf atau pun melihat siapa yang dia tabrak.


"Ada apa dengan pria itu? Sungguh tak punya sopan santun," ucap Alex.


"Sudahlah, sepertinya dia sedang tidak baik," balas Zee yang menarik tangan Alex tuk segera masuk.


"Kenapa adikmu menjadi sangat lemah, bukannya dia sangat sehat dengan badan berototnya itu?" sindir Sam.


"Kau ini salah menyindirku seperti itu. Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Wil," balas Alex.


Zee hanya bisa menggeleng melihat Sam dan Alex yang selalu berdebat sejak kemarin.


"Stop it! Bisakah kalian diam sebentar, tidak seperti anak kecil?" tanya Zee.


Sam dan Alex pun hanya bisa memlaingkan wajah mereka saat mendengar Zee yang marah. Zee menghampiri resepsionis dan bertanya dimana kamar Wil. Setelah mendapatkan dimana kamar Wil, mereka pun segera menghampirinya.


"Ini dia kamarnya," ucap Zee.


Alex dan Sam begitu saja masuk tanpa melihat terlebih dahulu. Dan benar saja, terlihat Wil yang sedang tertidur lelap di atas ranjangnya.


"Enak sekali tuan ini, tidur dengan pulas!" seru Sam.


Alex beranjak ke kamar mandi, sedangkan Sam merebahkan tubuhnya di atas sofa besar disana. Zee menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.


"Benar-benar tak ada rasa khawatirnya smaa sekali mereka pada Wil," gumam Zee.


Zee berjalan menghampiri Wil, terlihat Wil tertidur dengan sangat pulas sampai tak mendengar keributan dari Sam dan Alex.


"Kenapa denganmu? Wajahmu sangat tirus, apakah kau tak makan dengan benar?" gumam Zee seraya menyentuh dahi Wil.


"Kenapa kau begitu suka menyentuh lelaki lain?" tanya Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Zee hanya memutar matanya malas, lalu beranjak duduk di atas sofa samping Sam. Alex mengikuti sang istri dengan wajah yang cemberut.


"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?" tanya Alex.


"Apa yang harus ku jawab? Kau begitu mengelikan, aku hanya mengecek keadaan Wil saja. Dan kau mengatakan itu, seakan aku wanita murahan saja," jawab Zee tegas.


Alex hanya menunduk, dia begitu merasa bersalah. Telah mengatakan itu, sungguh Alex tak bermaksud seperti itu pada Zee.


"Sudahlah, minta maaf padanya! Kau itu hanya bisa membua sakit hati orang saja," ucap Sam dengan mata tertutup.


Alex menatap Sam dengan tatapan kesal, lalu dengan perlahan mencium pipi Zee dengan berbisik, " Maafkan aku, Princess," ucap Alex.


Zee menatap sang suami, lalu mencubit hidung mancunganya seraya tersenyum. Zee mengangguk ia. Alex mencium kilas bibir Zee.


Mereka yang begitu lelah pun tertidur di sofa kamar Wil karena menunggu Wil yang tak kunjung bangun. Berbeda dengan suasana kamar Vanya yang penuh dengn emosi.


Vanya menangis dengan memikirkan apa yang terjadi malam itu. Mengulang kembali memori semuanya, tapi tetap saja Vanya tak bisa mengingat apapun setelah bertemu dengan Erika.


"Apa aku harus kembali ke Finlandia, menanyakan semuanya pada Erika? Agar aku tahu siapa ayah dari anakku?" gumam Vanya.


"Siapa yang Wil cari? Apakah, dia memiliki kekasih di Paris, dan wanita itu sedang hamil. Bukannya, dia mengatakan padaku jika dirinya tak memiliki wanita yang disukai selain aku? Sungguh ucapannya tak bisa di percaya," ucap Vanya.

__ADS_1


Apakah semuanya akan berjalan dengan baik? Seperti apakah nanti respon Vanya?


__ADS_2