Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 326


__ADS_3

Setelah Vanya selesai membersihkan dirinya, Wiliem pun beranjak turun dari ranjang dengan tubuh polosnya dan itu membuat Vanya menjerit karena kelakuan sang suami.


“Apa, kau kenapa?” tanya Wiliem seraya melihat Vanya yang menutup matanya.


“Kau sedang apa telanjang seperti itu, huh?” tanya balik Vanya dengan menunjuk tubuhnya.


Wiliem yang mendengar itu hanya tesenyum dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi tanpa menjawab ucapan dari Vanya. Vanya masih saja mengumpat apa yang di lakukan oleh suaminya.


“Kenapa dia begitu mesum, telanjang begitu saja tanpa, tidak tahu malu.” Vanya memakai pakaiannya setelah itu keluar ke kamar Wiliem tuk mengambil bajunya.


Saat Wiliem keluar, tak terlihat Vanya di dalam kamar pun akhirnya duduk di sofa menunggu Vanya. Tak lama kemudian terlihat Vanya datang dengan membawa baju di tangannya.


“Kau dari mana?” tanya Wiliem.


“Aku mengambilkan baju tuk mu,” jawab Vanya seraya memberikan baju tersebut.


Vanya dan Wiliem pun keluar mencari yang lainnya, karena di sekitar kamar tak ada siapa pun di sana. Akhirnya, Wiliem menghubungi Alex dan memberitahukan jika mereka ada di sebuah kedai di depan hotel.


“Kita ke depan! Mereka sedang ada di kedai kopi,” ucap Wiliem seraya menggandeng tangan Vanya.


“Siapa?” tanya Zee.


“Wiliem dan Vanya akan kesini,” jawab Alex.


Entah kenapa, Wildan merasa dia sangat lega karena Vanya terdengar baik-baik saja. Wendy yang terus memperhatikan Wildan pun hanya bisa menghembuskan napas panjang.


Selang berapa menit, terlihat Vanya yang datang dengan Wiliem dengan tertawa riang. Wildan yang mendengar itu hanya bisa diam terpaku melihatnya, terlihat senyum tipis di wajahnya.


“Semalam kau menangis dan merasa bimbang, tapi lihat hari ini kau kembali ceria. Kau selalu mengejutkanku, Vanya.” Wildan memalingkan wajahnya berpura tak memperhatikannya.


“Selamat siang semuanya,” sapa Wiliem pada semua orang.


Vanya masuk dan duduk di samping Zee, terlihat Laudya yang terlihat berbeda saat melihatnya. Wendy yang juga memperhatikan Vanya pun terlihat tersenyum.


“Pantas saja Wildan menyukai wanita ini, dia begitu polos dan terlihat sangat natural,” batin Wendy.


Vanya dan Zee berbincang sembari menunggu pesanan mereka datang, Alex dan Wiliem duduk dengan Ken karena ingin membicarakan soal perusahaannya dan masalah dengan Zidan. Wildan pun ikut bergabung dengan


mereka.


“Aku mendapat laporan dari Cory, jika Zidan sudah tak pernah datang lagi ke kantor. Entah kenapa, Joe melihat Zidan dan tangan kanannya itu kembali ke Milan beberapa yang lalu,” ucap Alex.


Wildan melempar tabletnya ke atas meja dan terlihat berita besar tertulis di layar. Semuanya menatap dengan kening yang mengerut melihat berita itu.


“Perusahaan Zidan, tengah dalam masalah?” tanya Wiliem.


“Ya, sepertinya para inverstor menarik semua sahamnya. Bahkan, dua puluh lima saham perusahaannya telah di beli oleh investor asing,” jawab Wildan menjelaskan.


“Kalian tahu, jika Zidan adalah pengusaha yang terkenal dengan seluruh anak cabangnya. Lelaki itu sangat berkuasa, banyak perusahaan yang telah dia ambil alih saat menjalin kontrak kerja sama dengannya,” sambung Wildan.


“Ya, dan kami pun tertipu olehnya.” Alex menatap ke arah Laudya yang sedang berbicara dengan Arga dan yang lainnya.


“Mau kau apakan, wanita itu Wild?” tanya Ken.


“Entahlah, saat kau meminta aku menolongnya aku begitu saja membawanya,” jawab Wildan.


“Zidan mengunakan dia sebagai umpan tuk memikat para pembisnis agar bisa kerja sama. Setelah itu, ya kalian pasti tahu apa tugasnya setelah itu,” ucap Wiliem.

__ADS_1


Wildan dan Ken yang mendengar itu pun menatap tajam pada Wiliem dan Alex. Alex dan Wiliem langsung berkesiap dengan tatapan keduanya.


“Apa kalian juga merasakannya, huh?” tanya Ken dengan melototkan matanya pada Alex dan Wiliem.


“Apa yang sudah kalian lakukan dengannya?” tanya Wildan menekan mereka.


Wajah Alex dan Wiliem seketika menegang karena melihat wajah sangar dari Wildan dan Ken yang tak pernah mereka sangka sebelumnya.


“Aish, tidak. Kami tidak melakukan apa-apa dengannya. Karena kami tahu siapa Laudya,” jawab Alex santai.


“Maksudmu?” tanya Wildan.


“Dia mantan kekasihku, dia juga mantan teman ranjang Alex,” jawab Wiliem.


Glekkk


Wildan dan Ken saling bertatapan, lalu dengan sangat kompak mereka memukul lengan keduanya. Semua orang yang berada di ruangan itu seketika menatap ke arah mereka, Zee dan Vanya menatap Alex dan Wiliem yang meringis pun merasa heran.


“Kalian sedang melakukan apa?” tanya Wendy.


“Ti-tidak ada. Kami hanya sedang bercanda,” jawab Wildan seraya menatap Wendy dan semuanya.


Mata Wildan dan Vanya saling bertemu, lagi-lagi seakan waktu berhenti saat mereka saling berpandangan. Wildan terlihat dalam menatap Vanya, sedangkan Vanya merasa jantungnya kembali berdegup kencang.


“Emm, Kak. Aku ingin ke toilet sebentar,” ucap Vanya seraya memalingkan wajahnya dari Wildan.


Vanya beranjak pergi ke toilet, sedangkan Wildan kembali fokus dengan pembicaraan mereka. Siang itu mereka menghabiskan waktu di dalam kedai. Vanya yang berada di dalam toilet membasuh wajahnya yang terasa panas.


“Apa ini, kenapa jantung ini terus saja berdetak kencang? Aku merasa sesak jika melihatnya,” gumam Vanya dengan memegang dadanya.


Tanpa Vanya tahu, Wildan sudah berada di belakangnya. Menunggu dirinya karena ingin mengatakan sesuatu pada gadis itu. Wildan merasa jika kejadian itu telah membuat Vanya merasa tak nyaman.


Vanya yang terkejut pun hampir saja terjatuh di atas lantai, Wildan yang melihat tubuh Vanya hampir jatuh pun akhirnya menariknya. Mata mereka saling berpandangan, terdengar detak jantung mereka seakan sedang berlomba tuk segera keluar dari tempatnya.


“Ke-kenapa kau ada di sini?’ tanya Vanya terbata.


“Aku menghawatirkanmu. Makanya, aku menyusulmu ke sini,” jawab Wildan.


Mata Vanya melihat seisi ruangan toilet, berharap tak ada siapa pun di sana. Dan berharap tak akan ada yang masuk ke dalam. Vanya melepaskan tangan Wildan yang memegang tangannya.


“Aa-apa yang ingin kau katakan? Aku harus segera pergi,” ucap Vanya tanpa menatap Wildan.


“Anh, apa kau masih memikirkan tentang ciuman itu?’ tanya Wildan begitu frontal.


Vanya sampai terkejut dengan pertanyaan Wildan yang menurutnya terlalu blak-blakan. Wildan tersenyum dengan reaksi Vanya yang sampai menatapnya.


“Lalu apa yang ingin kau katakan, tentang itu?” tanya Vanya.


“Anh, itu hanya kesalahan. Aku tak bermaksud menciummu, dan sungguh kau jangan salah paham soal itu. Aku tahu kau sudah bersuami dan mana mungkin aku bisa menyukai wanita bersuami seperti dirimu,” jelas Wildan penuh kebohongan.


“Jadi maksudmu aku yang berharap padamu? Aku yang menggoda dirimu?” tanya Vanya dengan kesal.


Wildan menganga karena ternyata ucapannya membuat Vanya salah sangka dan seakan dirinya merendahkan Vanya. Wildan dengan cepat menggeleng sembari mengibaskan tangannya.


“Ahh, Vanya kau salah paham dengan ucapanku. Aku hanya tak ingin kau merasa bersalah pada suamimu saja karena kita pernah berciuman itu saja.”


“Tidak, itu tidak bisa di katakan berciuman. Karena bibir hanya saling terpaut saja beberapa menit, setelah itu kita melepaskannya. Jadi aku hanya ingin mengataka  itu saja,” sambung Wildan.

__ADS_1


“Baiklah, kita lupakan apa yang terjadi. Dan ini akan menjadi rahasia kita berdua,” balas Vanya seraya mengulurkan tangannya.


“Baiklah, setuju.” Wildan menjabat tangan Vanya.


Setelah mengatakan itu, Wildan segera pergi dan meninggalkan Vanya sendiri. Rasanya hati Vanya merasa begitu lega dengan semua yang telah dia dan Wildan sepakati. Terlihat Vanya keluar dari toilet dengan senyum yang mengembang, tapi tidak dengan Wildan yang begitu menderita karena berbohong akan perasaannya.


“Kau, kau memang bukan takdirku Vanya.” Wildan menatap punggung Vanya yang berjalan di depannya.


Vanya terlihat masuk dan langsung duduk di samping Wiliem yang sedang duduk dengan Alex dan Zee. Wiliem membelai rambut panjang sang istri, “Kau sepertinya sangat senang, ada apa?”.


“Tidak ada, Wil bisakah kita segera kembali ke Finlandia?” tanya Vanya berbisik.


Wiliem menatap sang istri yang terlihat sangat merindukan sang kakak yang sampai sekarang masih belum sadarkan diri. Wiliem kembali membelai rambut sang istri.


“Kita harus lebih bersabar sayang, orang-orang Zidan sedang mencariku dan Alex. Begitu juga dengan Laudya yang menjadi buronan dari Zidan, kita harus membantunya!” ujar Wiliem.


Vanya menatap Laudya yang menurutnya sudah berubah itu pun merasa iba pada wanita itu, “ Kenapa, tidak kita bawa saja ke Finlandia?”.


Alex dan Wiliem pun saling berpandangan, tapi tidak dengan Zee yang bersikap dingin dengan ucapan dari Vanya. Zee lebih memilih diam dan meminum kopinya.


“Jangan bercanda dengan ucapanmu, Vanya!” seru Ken yang datang dan duduk di dekat Zee.


“Maksudmu, Kak? Apa usulku salah?” tanya Vanya menatap Ken.


“Kau tahu wanita itu siapa, bukan?” tanya Ken menatap tajam Alex dan Wil.


Vanya menatap keduanya, lalu menatap Ken dengan menghembuskan napas pelan. Vanya memegang tangan Ken dan Zee bersamaan.


“Aku tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Kak Alex dan Wil. Aku juga tahu, seperti apa masa lalu mereka dan sekarang aku percaya dengan mereka yang tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dulu,” ucap Vanya meyakin kan kedua kakaknya.


“Jangan naif, Anh. Jika kau saja masih sering cemburu dengan Laudya. Jangan terlalu cepat menyimpulkan dengan cepat, hati setiap manusia kita tidak tahu,” balas Zee seraya menatap tajam Wil dan Alex.


Alex yang mendapat tatapan itu dari Zee pun hanya pasrah, sedangkan Wiliem malah memalingkan wajahnya agar tidak menatap Zee.


“Sungguh, wanita yang satu ini akan seperti elang jika sedang marah. Tatapannya saja sangat tajam bahkan menakutkan, bahkan aku tidak pernah melihat tatapan itu dari Ara,” batin Ken.


“Lalu kita harus bagaimana, apa kau tidak percaya pada suamimu sendiri Kak Zee?” tanya Vanya.


“Jangan pernah menanyakan itu padaku. Rasa percayamu dan aku sangat berbeda Anya,” jawab Zee menatap tajam sang adik.


“Baiklah, baiklah. Jangan menatapku seperti itu! Kau seakan mau membunuhku,” rengek Vanya yang merasa takut pada sang kakak.


“Sudah hentikan, Laudya bisa jadi urusan Wildan dan Wendy.” Ken menengahi perdebatan adik-adiknya, Ken menepuk tangan Zee tuk menenangkannya.


“Aku ingin kembali ke hotel!” seru Zee yang entah kenapa moodnya menjadi kacau.


Zee pergi begitu saja tanpa pamit dengan yang lainnya, membuat Alex mengejarnya dari belakang. Ken dan yang lainnya merasa heran pada sikap Zee. Wendy menanyakan itu pada Ken.


“Ada apa dengan Zee?” tanya Wendy.


“Tidak ada, dia hanya merindukan anaknya saja,” jawab Ken berbohong.


“Kita kembali ke hotel sekarang! Karena sebentar lagi kita akan kembali ke mansion.” Wildan pun berjalan pergi keluar setlah mengatakan itu.


Wendy semakin di buat pusing dengan sikap sang adik. Akhirnya mereka pun kembali ke hotel, berjalan kaki bersama-sama dengan bercanda bersama.


Wildan merasa lega karena Vanya sudah bisa bersikap seperti biasanya. Laudya yang melihat Wil dan Vanya pun merasa sedikit cemburu. Entah sejak kapan dia kembali memperhatikan Wiliem kembali.

__ADS_1


Bersambung....


Holla sayang-sayangku... Terimakasih masih membaca kelanjutan kisah anak cucu dari Bumi dan Azura. Jangan lupa tuk terus pantengin yah, tinggalkan juga pointnya, like dan komennya. Selamat membaca..


__ADS_2