
Pagi itu, Alex dan Wiliem pergi bersama dengan Zidan ke Venezia, melihat area pembangunan hotel.
"Tempat ini akan ku bangun menghadap laut, agar semua pengunjung bisa menatap laut lepas dalam kamar mereka," ucap Zidan.
"Sangat indah, laut ini begitu indah. Pengunjung akan di manjakan oleh pemandangan indah ini," balas Wildan.
Laudya dan Alex yang berada di sana hanya bisa diam dan menatap dirinya. Wiliem adalah sosok yang begitu menyukai laut, sedangkan Alex sebaliknya yang tak suka dengan laut.
"Baiklah, mari kita masuk tuk melihat seperti apa area dalam hotel ini," ajak Zidan.
Alex melihat sua bangunan yang masih belum jadi itu, tapi jika di lihat secara seksama akan membutuhkan properti yang sangat banyak. Terlihat dari model bangunannya.
"Tuan Zidan, siapa arsitek dari hotelmu?" tanya Alex.
"Arsiteknya tentu kau mengenalnya, dia ponakan ku Roy," jawab Zidan.
"Roy? Nama yang tak asing," ucap Wildan.
"Ah, ternyata dia. Aku tak menyangka dia bisa membuat desain yang begitu rumit. Terlihat dari bangunan ini, akan semakin cantik dan menawan jika sudah jadi," sambung Alex.
"Ya, dia memang sangat pintar. Dia membuat desain ini tuk wanita yang dia sukai, namun entah siapa wanita yang beruntung itu," ucap Zidan.
Alex menatap ke arah Wiliem yang tak begitu menyimak pembicaraan dirinya dan Zidan pun hanya bisa bernapas lega.
"Tentu, wanita itu pasti sangat senang. Karena rasa cinta dari Roy yang begitu luar biasa," balas Alex.
"Wil, aku tak tahu jika wanita yang ku temui itu istrimu," ucap Laudya lirih.
Wiliem menatap ke arah Laudya dengan tajam, keningnya mengerut mendengar nama istrinya di sebut.
"Kapan kau bertemu dengannya?" tanya Wil.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya, saat di butik itu aku menabrak seorang gadis di sana, setelah itu aku bertemu denganmu," jawab Laudya.
"Jadi, benar saat itu Anya melihat aku dan Laudya berpelukan," batin Wil.
Lelaki itu menutup matanya mengingat akan kemarahan dari Vanya saat itu.
"Ya, dia istriku."
"Kapan kalian menikah? Ah, maksudku selamat tuk pernikahan kalian," ucap Laudya.
"Selamat? Ya, terimakasih karena sudah berkenan mengucapkan itu," balas Wil sinis lalu pergi menjauhi Laudya.
Laudya menghela napas panjang, melihat siapa Wil yang semakin dingin saja pada dirinya.
__ADS_1
"Dimana, Wil yang dulu selalu bersikap hangat padaku, yang selalu menatapku dengan kasih sayang, dimana Wil yang dulu selalu ada tuku?" batin Laudya.
Entah kenapa, hati Laudya begitu desa saat mendengar percakapan dari Alex dan Roy semalam saat membahas soal Vanya. Laudya begitu kesal, iri karena gadis itu di sukai oleh dua lelaki sekaligus.
"Apa yang ada di dalam gadis itu? Sampai membuatmu seakan tak mengenalku, melupakan semua yang terjadi dulu," gumam Laudya menatap sendu Wil.
"Wiliem!!" teriak Alex dari jauh saat melihat sebuah besi yang akan terjatuh menimpa dengan adik.
KLONTANG,,,
"BRUGH,,," Tubuh Wiliem terhempas jauh setelah mendapatkan dorongan dari Laudya.
"Wiliem," teriak Alex berlari menghampirinya dengan begitu cemas.
Mata Wiliem menatap tak percaya dengan keadaan Laudya yang terkena besi jatuh itu. Wanita itu tak sadarkan diri sdngkan kakinya berdarah.
Zidan dengan cepat menghampiri Laudya yang pingsan. Dengan cepat menggendongnya, Alex membantu Wil tuk berjalan mengikuti Zidan.
Alex mengendarai mobilnya dengan cepat, dibelakang Zidan terus berusaha membangunkan Laudya, Wil masih menatap Laudya yang terluka karena menolongnya.
"Tuan Alex, tolong bisa lebih cepat! Laudya semakin lemah saja," ucap Zidan dengan suara bergetar.
"Baiklah, pegangan!" perintah Alex.
Zidan memindahkan tubuh Laudya ke atas blankar, mereka membawa Laudya ke ruang IGD. Semuanya terlihat cemas, terlihat Wiliem masih diam, dirinya masih tak percaya dengan yang terjadi. Laudya menyelamatkan dirinya.
"Tuan Wiliem, apa kau tidak apa-apa? Lenganmu berdarah, kau tidak ingin memeriksanya?" tanya Zidan.
Wiliem melihat kemejanya memang berdarah, namun dia hanya diam tak berkata apa pun.
Alex berdiri dan meminta seorang suster memeriksanya, terlihat lengan Wiliem juga terluka dan haris di jahit beberapa jahitan.
"Apakah, dia tak apa-apa? Bagaimana dia bisa menyelamatkan aku?" tanya Wiliem lirih.
"Maaf, Maafkan aku Tuan Wiliem, Tuan Alex karena mengajak kalian ke sana, kecelakaan ini terjadi, sungguh aku meminta maaf," ucap Zidan merasa tak enak.
"Sudahlah, Wil. Jangan kau pikirkan, dia sedang di periksa oleh Dokter dan masalah dia menyelamatkanmu karena dia yang paling dekat denganmu," ucap Alex.
Wiliem menatap Alex, Alex mengangguk menyakinkan adiknya. Wiliem hanya bisa menunduk merasa sedih dan masih syok.
Setelah satu jam berlalu, barusan Dokter keluar dan memberitahumu keadaan Laudya, tubuhnya tak apa-apa tak ada luka serius di kepalanya. Hanya saja, luka di kakinya sangatlah parah, tuk sekarang dia tak bisa berjalan.
Wiliem semakin merasa bersalah, kenapa bisa Laudya melakukan itu. Dan luka di kakinya akan semakin membuatnya terpukul. Sebagai seorang model, kaki harusnya sempurna dan sekarang dia tak bisa jalan.
"Bagaimana ini, dia terluka karena menyelamatkan aku," gumam Wiliem.
__ADS_1
Alex menepuk bahu sang adik tuk tenang, Wiliem mengisi kasar wajahnya. Sedangkan, Zidan menelpon Dokter terhebat di kotanya tuk menyembuhkan Laudya.
"Wil tenanglah, dia hanya tak bisa berjalan tuk sementara. Setelah keadaannya membaik kita akan membantunya menyembuhkan kakinya," ucap Alex.
"Aku merasa bersalah padanya, Lex. Aku berhutang nyawa padanya," balas Wiliem.
Terlihat ruang IGD terbuka, suster membawa Laudya ke ruang intensif. Terlihat wajahnya begitu pucat, Wiliem, Alex dan Zidan mengikuti dari belakang.
"Tuan Wiliem, tolong jangan salahkan dirimu. Laudya sudah benar menolongmu, kau itu tamu kami, jadi kau tenang saja biarkan aku yang mengurus segalanya soal dirinya," ucap Zidan.
"Tak ada yang benar dan salah dalam kecelakaan ini, Tuan Zidan. Seharusnya tak ada yang terluka di antara kami, saya mohon anda lihat lagi tempat kejadian itu," pinta Wiliem begitu dingin dengan tatapan tajamnya.
Zidan yang melihat itu begitu terkejut, tatapan itu seakan ingin membunuhnya. Aura Wiliem begitu berbeda, entah kenapa membuat Zidan semakin senang dengan sikap Wiliema yang sambat terlihat menghawatirkan Laudya.
"Maafkan aku, aku hanya berpikir jika anda yang sampai terluka akan menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak. Kalian tamu jauhku dan kolega bisnisku, sudah menjadi prioritas utama ku tuk menjaga kalian tetap aman," balas Zidan.
"Wil, sudahlah! Urusan bangunan itu, biar aku yang menyelidikinya dan Tuan Zidan aku harap kau juga bisa memberikan yang terbaik pada pegawaimu," ucap Alex.
"Tentu, sudah sangat lama Laudya ikut denganku, bahkan dia sudah seperti keluarga tuk diriku," balas Zidan.
Malam itu, Alex kembali ke hotel bersmaa dengan Wiliem. Terlihat kedua lelaki itu temenung dengan pikiran masing-masing. Alex merasa kejadian siang itu seakan membuatmu curiga, sedangakan Wiliem masih memikirkan Laudya yang terluka.
"Lex, apakah kau memikirkan kejadian siang tadi?" tanya Wiliem.
"Apa pikiranmu sama denganku?" tanya Alex.
Wiliem mengangguk, lalu dia menatap ke arah Alex dengan wajah serius.
"Apakah, Laudya tak tahu jika aka terjadi sesuatu di sana?" tanya Wiliem.
"Entahlah, melihat dari apa yang dia lakukan padamu, aku rasa dia tak tahu itu," jawab Alex.
"Bagi seorang model, kaki adalah sebuah harga paling berharga. Dan dia terluka karena menolongku," ucap Wiliem.
"Wil, kita akan tahu besok. Sekarang kau istirahatlah, ingat juga dengan luka di lenganmu itu," balas Alex.
"Ya, aku ingat itu," ujar Wiliem.
Wil membuka kemejanya dan langsung membuangnya ke dalam tong sampah. Lalu membersihkan tubuhnya dengan air hangat.
Di ruang VVIP, terlihat Laudya yang terbaring, tatapannya begitu kosong menatap keluar jendela kamarnya. Di sana dia bisa melihat kota Milan yang indah di malam hari, Laudya sudah mendengar semua tentang kakinya dari Zidan.
Dan berita itu membuat wanita itu sedih karena kaki yang selama ini dia banggakan menjadi cacat tuk sementara. Dia harus duduk di kursi roda.
Bersambung🍂🍂🍂
__ADS_1