
Rafli keluar dari dalam mobilnya dengan langkah yang masih tak biasa . Anak-anak yang mengira jalan-jalan nya akan merasa menyenangkan memberengut kesal karena tak sesuai ekspektasi mereka
'' Loh kak ipar , ada apa " tanya Rahma yang kebetulan membukakan pintu . Rafli hanya menatapnya tajam membuat nyali Rahma mendadak menciut , namun matanya melirik cara berjalan kakak iparnya yang terasa janggal.
" Mbak Ana ada apa dengan kakak ipar " tanya Rahma masih penasaran .
" Jangan kepo , tolong jaga anak-anak sebentar '' ucap Ana ketus segera mengejar suaminya .
'' Sudah minta tolong , ketus pula bicaranya . Aku kan cuma mau tau aja mbak '' gumam Rahma dan menganjak keponakannya itu untuk bermain .
Tak berselang lama setelah kepulangan Ana dan Rafli , Jimmy pun ikut pulang dan membawa sebuah kotak kecil yang berada dalam genggamannya .
'' Sayang , sudah pulang . Tumben cepat banget '' ucap Rahma dan membawa tas kerja suaminya .
'' Ehmmm '' ucap Jimmy , dan Rahma menyadari raut kesal suaminya .
'' Kakak ipar sudah pulang " tanya Jimmy dan diangguki Rahma.
'' Itu apa sayang " tanya Rahma kini matanya fokus pada benda yang berada dalam genggaman suaminya .
'' Sudahlah , ini bukan urusanmu Rahma " ucap Jimmy , kesalnya terhadap Rafli belum hilang juga saat ini .
'' Ya sudah , aku kan cuma bertanya Jimmy. Kalian bertiga benar-benar menyebalkan " ucap Rahma kesal dan meninggalkan Jimmy yang masih termenung duduk di sofa . Malunya masih terasa sungguh luar biasa bagi Jimmy apalagi saat membeli obat yang di perlukan Rafli , dirinya menjadi perhatian orang di apotik.
Jimmy bergerak kearah kamar dimana Rafli berada , terdengar perdebatan kecil disana dan sesekali ada terdengar gelak tawa Ana.
Tok....tok....tok...
Bunyi ketukan pintu yang tak sabaran .
'' Coba lihat sayang " ucap Rafli yang kini sedang tidur telentang , sementara tubuh bagian bawahnya polos.
'' Tutup dulu mas " ucap Ana seraya mengambil selimut lembut .
'' Jika tak berfungsi lagi gimana sayang " ucap Rafli lirih .
'' Maka aku akan cari yang baru " ucap Ana ketus , ada-ada pertanyaan suaminya itu .
'' Ana " bentak Rafli tak terima namun Ana memilih membuka pintu dengan ketukan yang tak sabaran sedari tadi .
ceklek.
'' Maaf kakak ipar , ini obatnya " ucap Jimmy berusaha menghilangkan kekesalannya.
'' Apa ini Jim " ucap Ana berusaha untuk tidak tertawa , padahal jelas Ana mengetahui obat apa yang di bawa Jimmy setelah sebelumnya Rafli bercerita . Seolah tak ada puas untuk mengerjai Jimmy .
'' Itu..... " ucap Jimmy yang wajahnya merah padam .
'' Ana .... " bentak Rafli kembali .
'' Kau lihat Jim , dia marah-marah . Kau saja yang mengobatinya " ucap Ana memelas dalam hati ia tertawa saat melihat ekspresi wajah Jimmy dan suaminya.
'' Sayang , jangan gila '' ucap Rafli protes .
'' Maaf kakak ipar saya permisi '' ucap Jimmy .
'' Jim tolonglah '' ucap Ana bahkan tanpa sadar ia mencekal tangan Jimmy .
'' Ana jangan menyentuh tangannya '' ucap Rafli dengan cemburu yang membeludak .
'' Maaf kakak ipar '' ucap Jimmy melepas cekalan tangan Ana dengan lembut.
Ana menutup pintu kamar dan kembali menuju dimana suaminya berada.
'' Beraninya kau menyentuh tangan pria lain , di hadapan suami mu '' ucap Rafli ketus.
'' Hei , Jimmy itu adik ipar mu . Tak pantas untuk kau cemburui . Tuan pencemburu '' ucap Ana.
'' Dasar punya suami mesum dan cemburuan '' gerutu Ana yang kini menyiapkan obat oles untuk suaminya .
'' Mas mendengarnya Ana '' sahut Rafli , sementara Ana tak menjawab lagi.
'' Buka '' pinta Ana dan Rafli membuka kain penutup itu , terlihat benda lunak namun tegak berdiri dengan tegap tersebut dengan ukuran luar biasa . Ana tercekat , berarti sebesar ini benda yang menerobos miliknya selama bertahun - tahun dan Ana baru menyadari sekarang saat menatap nya dengan teliti .
Tepukan pelan di lengan Ana membuyarkan lamunannya , melihat sang suami kini tersenyum mesum sekaligus mengejek.
'' Kenapa di perhatikan , kau bangga kan memiliki benda itu dan menjadi penikmatnya '' ucap Rafli tanpa malu .
'' Jangan sekarang ya sayang , nanti saat mas sembuh , mas akan memberimu kenikmatan dengan senang hati '' ucapnya terkekeh , seolah lupa dengan rasa sedikit perih itu .
__ADS_1
Wajah Ana memerah menahan malu mendengar perkataan vulgar dan percaya diri suaminya , apa suaminya ini tak sadar diri jika selama ini suaminya yang selalu meminta bahkan terkesan memaksa Ana jika tak bisa menahannya lagi , apa suaminya lupa alasan kenapa hingga benda perkasanya itu terjepit . Apa perlu di jepit ulang dengan jepitan jemuran agar sedikit sadar.
Ana menghela nafas panjang tak menggubris ucapan konyol dari bibir suaminya itu meski wajahnya sesekali bersemu merah . Semakin di sentuh oleh tangan lentik Ana , benda itu semakin mengeras dan makin membuat wajah Ana bersemu merah bak kepiting rebus . Sementara dengan ekor matanya Ana melirik Rafli yang terlihat terpejam , antara menahan perih dan menikmati sentuhan istrinya.
'' Dasar pria edan " batin Ana menggerutu .
'' Terus Anaa....akhh.... " ucap Rafli membuat Ana kesal dan menyentil benda yang berdiri tegak namun bukan keadilan tersebut .
'' Aduh sakit sayang " decak Rafli terbangun karena sentilan istrinya terasa perih karena Ana menyentil miliknya tepat di tempat yang lecet.
'' Kenapa , aku mengobati mu mas . Malah kau membayangkan yang aneh , untung cuma lecet sedikit jika harus di potong semua bagaimana " umpat Ana kesal dan Rafli tak terima atas ucapan istrinya yang baginya itu doa.
'' Kenapa , seharusnya mas sadar jika ingin melakukan hal mesum itu. Ingat tempat , mungkin penghuninya marah pada mas '' imbuhnya menumpahkan kekesalannya .
'' Ini hanya kebetulan Ana , bukan karena penunggunya marah . Percaya hal tahayul seperti itu dan jangan bicara sembarangan tentang milik mas yang telah memberikan anak-anak yang lucu untukmu " ucap Rafli .
'' Terserah mas saja , obati saja sendiri . Aku mau keluar " ucap Ana beranjak tak peduli Omelan Rafli terhadapnya .
Ana keluar lalu menuju meja makan , perutnya begitu terasa keroncongan karena pagi hari ia hanya sarapan segelas susu Almond dan ia kehabisan tenaga karena harus melayani hasrat suaminya yang tak terbendung itu dan tadi harus berdebat ringan dengan suaminya.
'' Mbak , kenapa dengan kakak ipar " tanya Rahma namun segera bungkam saat melihat Ana menyuruhnya berhenti bicara . Rahma memilih menunggu sang kakak untuk selesai makan terlebih dahulu .
Rahma mengngekori Ana yang meletakkan piring kotor di tempat penyucian piring .
'' Astaga Rahma " decak Ana hampir saja menabrak adiknya itu .
'' Aku penasaran mbak " ucap Rahma dan Ana menghela nafas panjang.
'' Anak-anak ku sudah makan Ram " tanya Ana .
'' Sudah mbak " jawab Rahma .
'' Cerita dong mbak kenapa kakak ipar berjalan seperti itu '' tanya Rahma membuat Ana menghela nafas panjang .
'' Tadi mas Rafli terjatuh saat manapakki tangga di dalam bioskop " ucap Ana namun Rahma meragukan hal itu .
'' Gak mungkin seperti itu jalannya mbak " ucap Rahma memikirkan sesuatu .
'' Jadi jika gak mungkin kenapa " ucap Ana .
'' Terimakasih ya bi " ucap Ana saat seorang pelan menyajikan jus sirsak untuk dirinya .
'' Jalannya kakak ipar itu seperti seseorang habis kena p*rkos* mbak '' ucap Rahma
Pyyuurr Ana menyemburkan jus yang hampir saja mamasukki tenggorokan namun gagal karena mendengar ucapan adiknya yang tak berfaedah itu .
'' Apa otakmu itu hanya isinya itu Rahma '' kesal Ana.
'' Kan bisa jadi mbak . Bisa juga kakak ipar ledesan di selangk*ng*nya '' ucap Rahma tak peduli tatapan Ana.
'' Otakmu ini ya ... '' ucap Ana menoyor kepala sang adik .
'' Kau pikir siapa yang akan mempe*ko*a kakak iparmu karena menyentuh saja mereka tak akan berani '' ucap Ana kesal .
" Adanya dia habis menggempurku " batin Ana.
" Berarti karena ledes mbak " ucap Rahma .
'' Terserah kau saja " ucap Ana lalu beranjak pergi membuat Rahma mengerucutkan bibirnya .
Kini Ana tengah berkumpul dengan keluarganya untuk menikmati sore hari sedangkan Rafli terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya begitu lapar . Melirik kesampingnya dan Rafli membuang nafas .
Apa Ana lupa padanya untuk memberikan ia makan , apa wanita itu sudah tak peduli lagi padanya , bagaimana jika ia tidak bisa memuaskan istrinya lagi , apa Ana akan meninggalkannya. " Tidak, itu tidak boleh " geram Rafli . Rafli meraih benda pipihnya dan segera menelpon ponsel Ana namun ia begitu kesal karena ponsel Ana tertinggal di kamar .
Telepon rumah Jimmy berbunyi dan seorang pelan dengan sigap mengangkatnya. Pelayan itu terasa gendang telinganya pecah saat mendengar suara Rafli yang menggelegar di telepon . Pelayan itu pun segera menghampiri Ana yang sedang berkumpul dengan keluarganya .
'' Ada apa bi " tanya Abdi .
'' Maaf , nyonya dan tuan " ucapnya sopan .
'' Nyonya Ana di cari dengan tuan Rafli " imbuhnya dan diangguki Ana . Ana permisi untuk menemui suaminya segera.
Ceklek.
'' Mas lapar sayang " ucap Rafli begitu manja saat kedatangan istrinya . Ana segera menutup pintu kamar dan kembali membuat Rafli membelalakkan matanya.
Ana mengambilkan makanan untuk suaminya dan bertepatan Lia juga ingin mengambil agar-agar yang baru saja ia buat.
'' Ma " ucap Ana tersenyum.
__ADS_1
'' Rafli mau makan '' tanya Lia dan diangguki Ana.
'' Sakit apa sich , kok mama gak boleh lihatnya bahkan anak-anak juga " tanya Lia penasaran.
'' Sakit biasa aja kok ma " ucap Ana berbohong .
'' Dasar anak manja itu " ucap Lia.
'' Pergilah kasih ia makan Ana , urusi bayi besar itu hingga sembuh " imbuhnya dan Ana hanya mengangguk .
'' Banyak banget kebohongan yang telah ku ciptakan hari ini . Ya Tuhan , ampuni dosaku " batin Ana .
Rafli yang tadi tengah duduk santai segera berbaring telentang seperti sebelumnya saat knop pintu mulai bergerak . Ana hanya menggelengkan kepala saat sang suami masih mengipas benda tersebut seolah AC di kamar mereka tak terasa dingin bagi Rafli.
" Suapi ya " pinta Rafli dan diangguki Ana.
.
.
.
Pagi menjelang kini Rafli terlihat sudah bisa memakai celana training untuk duduk santai di meja makan . Selalu Ana yang mengambilkan makanan untuknya jika tidak , suaminya itu tak akan mau makan . Semua orang yang di meja makan sudah kebal melihat hal itu jadi tak terasa aneh bagi mereka .
......
" Kakak ipar " ucap Jimmy membuat Rafli menghentikan langkahnya .
" Ada apa " ucap Rafli yang masih ingin menikmati waktu santainya , persetan dengan perusahaan yang cabangnya dimana -mana yang membuatnya kehabisan waktu untuk bersama keluarganya.
'' Ada hal yang penting ingin aku bicarakan dan ini bukan tentang perusahaan " ucap Jimmy dan diangguki Rafli .
Ting...tong.... Segera dengan cepat pelayan menyambut kedatangan tamu yang menekan bel di mansion .
'' Pagi bi , apa nyonya Ana ada " tanya seseorang wanita hamil dengan perut besarnya , wajahnya nampak begitu ceria dengan senyum yang tak pernah luntur .
'' Ada nyonya , Mari silahkan masuk " ucap Pelayan , karena tak ada sembarang tamu yang bisa mencapai pintu mansion jika tak di izinkan sebelumnya atau lebih tepatnya memang tamu tersebut di tunggu oleh penghuni mansion .
'' Eh Vini.... '' ucap Ana tersenyum dan bergerak memeluk Vini .
'' Makasih mbak , sudah memberiku izin untuk menemui Ericana '' ucap Vini pada intinya dan Ana segera mengajak Vini keruang keluarga untuk berbicara sementara seorang pelayan membawakan minuman terbaik untuk ibu hamil tersebut .
'' Maaf ya Vin , jika membuat dirimu lama menunggu . Maklum , mama mertuaku begitu posesif dengan Rayana '' ucap Ana namun seketika nama itu membuat hati Vini terasa sakit , namun ia segera sadar karena mereka orang tua kandung dari bocah yang bernama Ericana sebelumnya .
'' Vini . Apa yang kau bawa '' tanya Ana , ia tau penyebab diamnya Vini dan wajah itu sedikit mendung.
Vini pun tersadar akan situasi segera menjawab pertanyaan Ana .
'' Ini makanan kesukaan Ericana dan aku juga membawa banyak untuk yang lainnya '' ucap Vini menampilkan senyum terbaiknya. .
'' Bi , tolong panggilkan Anak-anak kemari . Terutama Rayana dan Jelita '' pinta Ana dan diangguki pelayan setelah meletakkan berbagai cemilan.
'' Dan ini tolong disalin dan bawa kemari bi " ucap Ana.
'' Baik nyonya "
Ericana berlari cepat saat melihat Vini , mama yang begitu ia rindukan selama ini . Ericana menangis melepaskan rindu yang selama ini tak tersalurkan . Ana hanya mampu melihatnya , ia tak ingin melarang hal itu , yang Ana lakukan hanya membiarkan itu terjadi bagaimanapun Vini pernah merawat putrinya .
'' Vini mama rindu sekali ...hiks...hiks... '' Isak Vini seakan enggan melepaskan Ericana dalam dekapannya ....
'' Erica juga rindu mama. Mama jangan menangis '' ucap Ericana . Sementara Jelita masuk dalam dekapan sang Bunda membuat Ana mengulas senyum .
'' Sayang , ini mama Vini membawakan puding coklat dan buah kesukaan Rayana nak " ucap Ana saat suasana penuh rindu itu sudah tak begitu mengharukan lagi .
'' Ericana mau bunda suapi " tanya Ana dan dijawab gelengan Ericana yang duduk di pangkuan Vini ...
'' Mau mama Vini yang suapi " ucap Ericana tersenyum menatap Vini ...
'' Tidak apa Vin , aku mengerti " ucap Ana tersenyum , meski begitu hati Ana tak dapat di pungkiri ia cukup merasa sedih saat Ericana memilih di suapi Vini . Namun Ana harus tau jika ini akan menjadi resikonya dan sesuai prediksi suaminya saat Ana meminta izin agar memperbolehkan Vini menemui Ericana .
'' Jelita mau disuapi bunda " ucap Jelita merengek manja.
'' Ah manjanya anak bunda , sini bunda suapi " ucap Ana tersenyum karena bagaimanapun ada anak perempuan juga yang butuh perhatiannya .
'' Ana " ucap seseorang membuat Vini menghentikan aktivitas menyuapi Ericana , apalagi saat seseorang tersebut menatapnya dengan tajam.
Jangan lupa like dan komentarnya.
Selamat membaca 😊.
__ADS_1
Sorry baru bisa up .