Takdir Cinta

Takdir Cinta
265


__ADS_3

Antara Vanya dan Wiliem satu sama lain telah mencoba menjauh. Sebisa mungkin tak akan bertemu, semuanya berjalan dengan apa adanya. Vanya yang selalu menemani Alya sampai bisa berjalan lagi pun begitu senang, menyibukkan dirinya dengan bermain dengan ponakan tercinta Yuan.


Anak dari Sam dan Abigail itu kini sudah berusia satu bulan, dan waktu Vanya tuk berlibur pun tinggal sebulan lagi.


"Kapan kau kembali masuk kuliah?" tanya Sam.


"Bulan depan, aku sudah mulai masuk kuliah lagi," jawab Vanya.


Vanya sekarang tinggal di rumah Sam, karena Alya sudah sembuh dan bisa kembali berjalan lagi. Setiap harinya, Vanya membantu Abi mengurus rumah, mengurus Yuan juga.


"An, apakah kau tak kesepian tinggal di Paris seorang diri?" tanya Abi.


"Kesepian, tentunya. Karena kalian semua berada di sini menemani kak Zee. Tapi, kau tak perlu khawatir padaku, karena aku sudah terbiasa bukan," jawab Vanya.


"Kak Sam, sebelum aku ke Finlandia. Aku bertemu dengan dirinya," ucap Vanya lirih.


Sam menengok ke arah Vanya, terlihat tatapannya begitu tajam. Setelah itu Sam berdiri tuk pergi.


"Biarkan saja dia. Aku sudah tak ingin tahu apa-apa lagi tentang dirinya. Dia bukan siapa-siapa di hidupku," jawab Sam begitu dingin.


"Tapi, kak. Dia ...-" ucapan Vanya terpotong karena Abi menggenggam tangan Vanya lantas mengeleng.


Sam berlalu begitu saja, rasanya sepuluh tahun ini Sam masih belum bisa melupakan apa yang sudah dia lakukan pada sang sahabat. Membuat semua orang berduka dengan semua keegoisannya dan kegilaannya.


"Entah akan sampai kapan, rasa sakit di hatiku akan hilang. Keluarga itu benar-benar sudah membawa musibah dan segala kedukaan saja," gumam Sam.


"Kak, Zyvia pernah pergi menemui ku. Saat itu, aku begitu marah lalu menamparnya. Dia telah membunuh kak Al, tapi kau kak? Ternyata Zyvia mencari kak Sam, karena ingin menyampaikan sesuatu dari orang tuanya," ucap Vanya.


"Lalu apa kau memberikan kesempatan pada Zyva? Apa kau tahu pesan apa itu?" tanya Abi.


"Saat itu, aku sedang ada kelas kak, jadi aku tak tahu. Setelah itu aku mulai berpindah tempat tinggal. Karena, aku takut pada psikopat seperti dia," jawab Vanya.


Abigail memegang tangan Vanya, lalu mengangguk ia. Abi paham akan situasi yang Vanya hadapi di sana, negara asing tanpa keluarga.

__ADS_1


"Ya sudahlah, biarkan saja Zyvia. Semua orang masih begitu membencinya karena telah membunuh Alfa. Jangan pernah kau ceritakan Zyvia pada Zee, aku takut Zee akan kembali terpuruk!" pinta Abigail.


"Ya kak, aku mengerti itu," balas Vanya.


Abigail membawa Yuan tuk tidur di dalam kamarnya, sedangkan Vanya berjalan ke arah halaman belakang rumah Sam.


Terdapat kursi panjang dan pohon besar disana, Vanya melepas alas kakinya dan membiarkan telapak kakinya menyentuh rumput disana.


"Aku rindu Indonesia, aku rindu akan berlari di halaman rumah bersama dengan Ayah," isak Vanya saat mengingat Aldo dan Intan.


Air matanya di biarkan mengalir hingga menetes di atas rumput, gadis itu sedang dalam situasi yang tak baik. Hatinya yang galau merana karena memikirkan sosok lelaki itu, banyak pertanyaan di dalam hatinya tentang siapa wanita itu. Semakin menjauh semakin merindu, semakin mencoba melupakan semakin terbayang di pelupuk mata.


"Apa yang aku rasakan? Apa ini cinta?" gumam Vanya.


Hati gadis itu semakin sakit, sedih, ada pula rasa rindu yang sangat berat di dalam sana. Vanya begitu naif dengan dirinya sendiri dan pada perasaannya.


Di sisi lain, Wil begitu fokus pada pekerjaannya. Sebulan ini membuat dirinya lupa akan Vanya, tak ada lagi gadis kecil di pikirannya. Lelaki tampan itu benar-benar sudah bertekad akan melupakan Vanya.


Di setiap pertemuan dengan client membuat semua kolega nya benar-benar terpesona dengan Wil. Apalagi dia lelaki dewasa yang sudah mapan, tampan, pintar pemilik Alexander Grup.


Erika Halfre, anak tunggal dari Company Grup dia berusia seumuran dengan Vanya hanya berbeda dua tahun saja. Dia masih berkuliah di jurusan management.


Erika gadis yang cantik dengan lesung pipi yang membuat senyumannya menjadi cantik. Dia terlihat begitu pemalu dan manja pada orang tuanya.


Seperti malam ini, dia datang dengan orang tuannya, berdandan begitu cantik dan elegan dengan balutan dres pink yang melekat di tubuhnya.


"Wil, dia gadia yang cantik. Dan seharusnya kau bersyukur karena masih ada yang menyukai dirimu," ledek Zee dengan berbisik.


"Ah, dasar kau!" hardik Wil kesal.


Alex tersenyum melihat kedekatan Wil dan Zee, sikap mereka memang tak bisa berubah masih sama seperti pertama bertemu.


"Carilah seorang istri! Usia mu semakin tua saja. Mau sampai kapan kau tak membuka segel itu?" tanya Alex dengan nada sedikit meledek.

__ADS_1


"Ledek aku sepuas hati kalian. Dasar, kau ini Lex. Jika aku semakin tua, lalu kau semakin apa? Jangan lupa, kita ini lahir hanya selisih lima menit saja," jawab Wiliem.


"Aish, sudah hentikan! Jika sudah berdebat itu tak kenal tempat dan waktu," ucap Zee dengan nada memerintah pada suaminya dan adik iparnya.


"Baik Nona Zee yang tercinta, tersayang," ucap Alex dan Wil secara bersamaan.


Zee tersenyum pada dua lelakinya itu, mereka benar-benar begitu mirip sekali. Sejak menikah, Zee tak lagi menemukan sosok Alfa pada Alex atau pun Wil. Zee menyadari mereka itu sosok yang berbeda, walaupun ada jantung Alfa di dalam diri Alex.


"Selamat malam, Tuan dan Nona Alex, Tuan Wil," sapa Sindiago.


"Selamat malam, Tuan Diago," sahut Alex seraya menyalaminya.


"Mungkin ini sudah sangat basi dan terlambat. Tapi, kami sekeluarga mengucapkan selamat atas pernikahan kalian," ucap Diago.


"Ahh, anda terlalu formal pada saya. Tapi, saya sangat berterima kasih, atas ucapannya," balas Alex.


Diago dan sang istri pun tersenyum, sedangkan Erika begitu diam tersipu malu karena bisa bertatap muka langsung dengan Wiliem.


"Siapa gadis cantik ini? Apa dia anak tunggal kalian yang di bicarakan semua orang itu?" tanya Zee.


"Anda terlalu melebihkan, Nona. Ini Erika anak saya," jawab Deasy.


"Erika perkenalkan dirimu pada Tuan dan Nona Alexander!" pinta Diago.


"Salam, Nona, Tuan-tuan. Saya, Erika. Senang bertemu dengan anda sekalian," ucap Erika dengan tutur kata yang begitu sopan.


"Anak saya begitu mengagumi Tuan Wiliem, sejak dia masuk kuliah, motivasinya adalah Tuan Wil," ucap Deasy.


"Aku, menjadi motivasinya? Ahh, anda terlalu melebih-lebihkan saya. Saya hanya orang biasa," balas Wil seraya tersenyum.


Deg,,, deg,,, deg,,


"Astaga, Tuan Wil tersenyum. Ya Tuhan, ciptaanmu ini begitu indah dan sangat tampan," batin Erika.

__ADS_1


Mata gadis itu selalu tertuju pada Wil, dengan malu-malu dia tersenyum tipis mendengar ucapan dari Wil.


Wil yang merasa di perhatikan pun menjadi sedikit canggung saat melihat Erika yang terus-terus tersenyum jika melihatnya.


__ADS_2