
Putri cantik dan pintar itu anak dari Alfa dan Zee, anak semata wayangnya, dunia baginya, harga paling berharga untuk Zee.
Kehidupan tak seperti anak pada umumnya, dia hanya memiliki seorang Ibu tanpa memiliki seorang Ayah.
Suatu hari, Zee menemukan sang anak yang menangis dengan keadaan yang acak-acakan saat pulang sekolah. Ternyata Alya di perokok oleh teman-temannya, di karenakan dia tak memilki Daddy. Sampai sebutan anak tanpa Ayah pun di sematkan pada sang putri.
"Mommy, apa benar Al tak punya Ayah? Ayah, Al mana Mom?" isak Alya kecil.
"Alya punya Daddy, tapi Daddy Al sudah pergi jauh sayang," jawab Zee.
Itulah jawaban yang spontan Zee berikan. Dia memang berniat tak mau menyembunyikan apapun pada sang anak. Saat itu, usia Alya 7 tahun.
"Dimana Daddy? Al mau bertemu dengan Daddy!" pinta Alya sembari menangis.
"Alya, mau bertemu dengan Daddy? Baiklah, minggu depan kita akan pergi ke rumah Daddy mu!" seru Zee.
Tanpa menunggu lagi, dan memang sudah saatnya Zee kembali ke Indonesia, setelah kepergiannya ke Finlandia.
Bandara
"Mommy, apakah jauh? Kenapa kita menaiki pesawat?" tanya Alya.
"Ya, nak. Rumah, Daddy sangat jauh dan kita harus melewati samudera," jawab Zee.
Terlihat jelas senyum yang terus mengembang di wajah sang anak, sepanjang perjalanan Alya terus terjaga. Matanya sangat sulit di pejamkan, gadis kecil itu terus bertanya semua tentang sang Daddy.
"Mom, seperti apa Daddy?" tanya Alya antusias.
"Daddy mu, dia sosok lelaki yang dingin, tak pernah tersenyum, tapi dia begitu baik hati dan penyayang. Daddy mu itu, sangat tampan, pintar dan pastinya dia begitu menyukai Mommy," jawab Zee tersenyum.
"Mommy, nama Daddy Alfa Reza bukan?" tanya Alya.
"Ehem, itu nama Daddy mu. Dan namamu, Alyandra Zevara gabungan dari nama Mommy dan Daddy," jawab Zee.
"Mom, kenapa Daddy tak bersama kita?" tanya Al kembali dengan nada sedih.
"Al, sebaiknya kau tidurlah dulu ya sayang! Semuanya akan kau ketahui setelah bertemu dengan Daddy, nanti!" perintah Zee.
Alya langsung menatap wajah sang Mommy yang berubah menjadi sedih, membuat gadis kecil itu terdiam dan menurut tuk tidur.
"Malam, Mommy," ucap Alya sembari mencium pipi Zee.
"Malam, sayang!" saut Zee.
Melihat Alya yang tertidur pulas, wajah yang begitu tenang, senyuman di bibir mungilnya. Membuat hati Zee sesak, seketika menangis akan bagaimana reaksi yang putri saat mengetahui sang Daddy yang sudah tiada.
°Bandara Soekatno Hatta
Pagi menyambut datangnya Zee dan Alya, Zee kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.
"Mommy, apa ini Indonesia?" tanya Alya.
"Ya, sayang. Ini tanah kelahiran Mommy dan Daddy, nak," jawab Zee.
Zee menggandeng tangan Alya dengan begitu erat, dan terus berjalan keluar dari bandara.
"Pak, tolong ke Pemakaman Cempaka yah!" pinta Zee.
"Baik, Non," saut dari supir taxi.
Alya tak mengerti apa yang di ucapkan sang Mommy dengan supir taxi. Karena, memang Zee selalu memakai bahasa inggris saja.
Alya memandangi jalan-jalan di ibu kota, melihat gedung tinggi dan pemukiman. Alya mengerutkan dahinya saat melihat kemacetan, bibirnya mengerucut ingin mengatakan sesuatu.
"Mom, kenapa disini sangat panas, lihatlah sekarang macet! Apakah, memang seperti ini?" tanya Alya.
"Ya, sayang. Indonesia ini panas, tak seperti Finlandia yang selalu dingin. Dan, kalau macet itu sebuah pemandangan sehari-hari disini," jawab Zee.
Taxi itu terus melaju setelah melawati kemacetan ibu kota. Alya merasa heran saat taxi itu berhenti di area pemakaman.
Zee membuka pintu taxi, Alya mengikuti sang Mommy berjalan menyusuri banyak nya makam disana.
"Mommy, kenapa kesini?" tanya Alya. Gadis kecil itu mulai ketakutan.
Zee tak menjawab, hanya terus berjalan. Sampai akhirnya berhenti di sebuah makam disana. Alya pun terdiam, melihat makam siapa itu.
"Kami datang, apa kau bisa melihatnya? Anakmu sudah besar, dia ingin bertemu denganmu!" ujar Zee sembari menatap nisan makam Al.
"Mommy, Daddy, Daddy, Al sudah meninggal? Tidak, Mom. Mana Daddy, Alya Mommy?" teriak Alya menangis tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Zee hanya terdiam dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
"Hiks, hiks, hiks, Daddy," teriak Alya histeris. Gadis kecil itu duduk lemas di depan makam sang Daddy
Alya terus menangis, mengusap nisan pusaran sang Daddy. Zee masih setia menemani Alya yang seakan tak ingin lepas dari sang Daddy.
"Daddy, Alya rindu Daddy. Alya, ingin ketemu, memeluk Daddy," ucap lirih Alya.
Alya menceritakan segalanya yang terjadi pada sang Daddy yang sesungguhnya tak akan bisa lagi mendengar semua ucapannya. Keluh kesah yang Alya rasakan, semuanya di tumpahkan hari itu juga.
__ADS_1
"Al, kita harus pulang sekarang!" pinta Zee.
"No, Mom. Al masih mau disini bersama Daddy," balas Alya semakin memeluk nisan sang Daddy.
Zee memalingkan wajahnya, karena tak tahan dengan air mata yang selalu mengalir.
"Daddy akan marah pada Mommy, jika kau sakit. Ini sudah sore sayang! Mommy, mohon ayo kita pulang!" pinta Zee sembari mengusap lengan sang putri.
"Mommy, Al masih mau disini. Alya mau menemani Daddy," isak Alya menangis hebat.
Zee memeluk tubuh kecil Alya, gadis kecil itu menangis begitu kencang. Membuat hati Zee teriris- iris, begitu memilukan.
"Daddy, Alya sayang Daddy. I miss you, Dad!" seru Alya ditengah tangisnya.
Zee tak tahan dengan semuanya. Air matanya tak terbendung lagi.
"Al, lihatlah! Anak ini begitu menyayangi dirimu, sosok Ayah yang bahkan belum pernah dia temui. Kenapa lau begitu banyak meninggalkan cinta dan kasih tukku dan anakmu!" batin Zee meronta dengan segala kesakitan dan kerinduan pada kekasih hati.
"Princess," panggil Sam dari kejauhan.
Zee dan Alya menatap sosok lelaki gagah yang menghampiri mereka. Tapi, tiba-tiba tubuh Alya lemas tak sadarkan diri.
"Alya," teriak Zee histeris mengguncang tubuh sang putri.
Sam berlari menghampiri keduanya, dan menatap wajah anak gadis yang berada di pelukan Zee. Lalu menatap wajah Zee.
"Kita, bawa anakmu sekarang juga!" perintah Sam.
Sam menggendong tubuh Alya, setelah menatap nisan sang sahabat. Zee dan Sam meninggalkan makam Alfa dan membawa Alya ke rumah sakit.
Zee dan Sam membawa Alya pergi kerumah sakit Ken. Disitu lah mereka bertemu kembali dengan keluarga besarnya.
"Sam, siapa dia?" tanya Ken sembari memeriksa keadaan Alya.
"Al, dia anak Al," jawab Sam.
Ken melebarkan matanya, menatap wajah mungil di depannya. "Dia, anak Zee, ponakanku!"
"Bagaimana? Dia tak apa-apa kan?" tanya Sam cemas.
"Dia hanya kelelahan, dan dehidrasi," jawab Ken.
Sam, menggenggam tangan kecil Alya. Air matanya lolos begitu saja, melihat anak dari sahabatnya.
"Al, anakmu. Akhirnya, aku bisa menggenggam tangan anakmu," batin Sam.
"Zee, dimana kau princess?" ucap lirih Ken. Sembari menyusuri lorong rumah sakit.
"Kak Ken," panggil Zee dengan linangan air mata. Ken berlari memeluk Zee dengan begitu erat, mencium pucuk kepala Zee.
Zee, menangis di pelukan sang kakak ipar. Membalas pelukan itu dengan erat, melepas segala rasa yang sudah dia pendam begitu lama.
"Princess, adikku Zee," ucap Ken.
"Kakak, anakku. Apa dia tak apa-apa?" tanya Zee dengan suara gemetar.
Ken membawa Zee tuk duduk, menggenggam tangan sang adik agar sedikit tenang. Zee masih menunduk, matanya sudah begitu sembab.
"Dia tak apa, hanya kelelahan dan dehidrasi saja," jawab Ken.
Zee menghapus air matanya, menatap Ken dan tersenyum. Di belakang Ken, sudah berdiri sosok wanita yang sudah seperti ibu baginya. Aurora berdiri dengan linangan air mata menatap sang adik bungsunya.
"Kak Ara," ucap Zee lirih.
Ara berjalan pelan, menghampiri Zee. Tubuh, Zee gemetar menatap kedatangan sang kakak.
"Princess, princess, kau princessku bukan?" tanya Ara sembari memeluk Zee.
"Kakak, Zee rindu kakak!" seru Zee memeluk erat tubuh sang kakak.
Ken memalingkan wajahnya, menghapus air mata yang terus keluar. Ken melihat Zyan yang sedang berlari ke arahnya, dengan wajah sangat cemas Zyan terhenti dan melihat Ara sedang memeluk tubuh wanita.
Zyan menatap Ken, Ken hanya membalas dengan anggukan. Seketika air mata Zyan meleleh, hatinya berdegup kencang, sembari berjalan dengan sangat pelan.
"Adikku, Zee. Gadis yang sudah pergi meninggalkan kami semua, sekarang ada disini?" batin Zyan.
"Sayang, kau kembali? Dimana anakku, dimana dia Zee, Ken?" tanya Ara menatap keduanya.
"Dia ada didalam, dia sedang di rawat karena kelelahan," jawab Ken.
"Ara, dia gadis yang lucu. Anakmu, sangat cantik," ucap Ken tersenyum.
"Gadis, aku memiliki seorang anak gadis?" tanya Ara.
"Ya, anak Zee itu seorang putri," jawab Ken.
Ara menciumi wajah Zee, Ara begitu bahagia mendengar anak dari Zee itu perempuan. Ken menarik tangan Ara agar melihat Alya, dan mengisyaratkan tuk meninggalkan Zee bersama Zyan.
"Kak, kalian mau kemana?" tanya Zee lirih.
__ADS_1
Ara dan Ken, tak menjawab. Dan segera masuk ke dalam ruang inep Alya.
"Princess, itu kah kamu?" tanya Zyan.
Zee, diam terpaku mendengar suara sang kembaran, hatinya berdegup kencang seakan ingin meledak. Dengan perlahan, Zee membalikkan tubuhnya melihat sosok yang sangat dia rindukan.
"Zy-Zyan," panggil Zee lirih. Berjalan mendekatinya, lalu memeluk tubuh kekar Zyan.
"I mis you, so much. Aku, sangat merindukan mu," isak Zee.
Zyan menciumi wajah Zee, memeluk erat tubuh sang adik.
"Zee, kau kembali sayang. Kau kembali dalam peluaknku," ucap Zyan begitu bahagia.
Zee hanya tersenyum dengan masih di temani linangan air mata.
"Mommy," teriak Alya dari dalam ruangan.
Zee dan Zyan begitu terkejut pun langsung berlari kedalam. Alya terlihat begitu ketakutan, Zee menghampiri sang putri, Alya memeluk erat tubuh sang Mommy.
"Whiy are they? Im scared," ucap Alya.
(Siapa mereka? Aku, takut)
"Do not be afraid. They are mother's family," balas Zee.
Alya melihat semua orang dewasa yang berada diruangan itu. Ada Ken, Ara, dan juga Sam. Tapi, tatapan Alya terpaku pada Zyan. Sosok lelaki yang berdiri depannya.
"Mommy, this is Daddy Zyan?" tanya Alya.
Zyan melebarkan matanya, dia menatap gadis kecil Zee dengan tatapan bahagia.
"Dia, memanggilku Daddy?" gumam Zyan.
"Yes baby. Dia ayah Zyan," jawab Zee.
"Daddy," panggil Alya sembari merentangkan tangannya meminta di peluk.
Zyan, menatap Zee dan yang lainnya. Semuanya mengangguk ia. Tanpa menunggu lagi, Zyan menghampiri Alya dan memeluk tubuh Alya.
"Hallo, princess kecilku," sapa Zyan sembari memeluk tubuh Alya.
Zee, yang mendengar kata princess. Sinta menegok pada Zyan. Zee tersenyum, sekarang mungkin dia harus merelakan nama kesayangan beralih pada sang putri.
"Turns out, like this in the arms of a father?" gumam Alya yang masih memeluk erat tubuh Zyan.
Ken dan Sam mendengar ucapan dari Alya, membuat mereka sakit. Ternyata Alya tak pernah merasakan sentuhan dari sosok lelaki selama ini.
"Alya, me and Uncle Sam are all your father. So, you have many fathers, and get lots of love, affection from all of us," ucap Ken.
Alya tersenyum mendengar ucapan Ken, dia mengangguk ia dengan riang. Zee menghapus air matanya saat melihat kebahagiaan di mata sang putri.
Sam mengusap kepala Alya, Alya menatap Sam. Menarik tangan Sam dan mencium pipi Sam.
"Uncle, thank you. Already carried me," ucap Alya tersenyum.
"Sure, honey," balas Sam.
Hari itu, Alya dan Zee pulang kerumah keluarga Putra. Alya begitu antusias melihat semua foto di dalam rumah itu. Dia menayakan semuanya pada Ara, anak itu persis seperti Zee kecil.
Rio dan Rino begitu senang ternyata adik yang selama ini dia tunggu akhirnya pulang kembali. Kiara dan Jiso pun datang dan berkelanan dengan Alya.
Alya terdiam saat menatap sebuah foto yang sosok lelaki yang berada di tengah Sya dan Sam. Tangan kecilnya meraih pigura tersebut.
Alya mengusap pelan foto itu, dengan linangan air mata. Rio dan Rino menghampirinya.
"This is Daddy?" tanya Alya.
"Ya, dia lama Alfa. Dia ayahmu," jawab Rino.
Alya berjalan cepat menghampiri sang Mommy yang sedang berbicara dengan Kiara. Dan Alya menunjukkan foto sang Daddy pada Zee.
"Mommy, aku mau semua foto Daddy! Aku ingin foto Daddy!" pinta Alya dengan menangis.
Zee mengambil foto Alf di tangan sang putri, raut wajah Zee seketika berubah. Napasnya terasa sesak, Zyan dengan seketika menggendong Alya.
"Baiklah, kau bisa membawa semua foto ayahmu, dan menyimpannya hanya untukmu," ucap Zyan.
"Yey,,, thank you, Daddy Zyan," balas Alya sembari mencium pipi Zyan.
"ya sayang," jawab Zyan.
Itu lah kali pertama Alya mengetahui semua keluarga besarnya, Zee memceritakan semuanya bagaimana dia dan Alya hidup di negeri asing yaitu Finlandia. Setelah mengetahui kalau Zee berada di Finlandia. Abigail dan Sam merencanakan akan pindah mengikuti Zee.
Sebelum kepualngannya kembali ke Finlandia, Zee dan Alya berziarah ke makam Alfa dan kedua orang tua Zee dan Alfa. Semenjak kepergian Alfa, Tia terus-terusan sakit, sedangkan Alfa seakan frustasi.
Bumi dan Azura sudah sepasang kekasih sehidup semati. Mereka meninggal bersama saat menangisi sang putri yang tak kunjung kembali.
Selamat membaca...
__ADS_1