
" Astaga kau ini buta ya " ucap seseorang yang Ana tabrak marah.
" Maafkan aku , aku tidak sengaaja nona " ucap Ana gugup karena tiga wanita itu menatapnya tajam seolah ingin melahapnya.
" Kau bilang maaf , kau lihat gaun sahabatku basah karena ulahmu " ucap sahabat wanita itu ikut marah.
" Aku akan menggantinya , ku mohon maafkan aku " ucap Ana lembut.
" Kau fikir mampu membayar ini " ucap wanita yang pakaiannya basah tak lain adalah Asuka
" Mungkin kau di villa ini hanya pembantu atau simpanan seseorang " ucap Asuka menghina Ana dan mendekati Ana.
" Jaga mulut anda nona , aku sudah minta maaf padamu dan akan menggantinya " ucap Ana dingin.
" Kau hanya sendiri dan disini sepi sementara kami bertiga " ucap Asuka menorong bahu Ana namun Ana tak bergeming , sudah lama Ana tak menampar seseorang. Sementara seorang pria yang merasa penat memutuskan keluar dari villanya namun mendapat pemandangan seperti itu , ibu hamil vs tiga wanita. Awalnya pria itu berniat tak peduli namun wanita hamil itu menarik perhatiannya.
" Aku penasaran dengan nyali wanita hamil itu " batin Eric.
" Jadi kalian ingin mengeroyok ku " ucap Ana mengejek.
" Kau " geram Asuka.
" Sudahlah Asuka , kita tidak ada guna meladeninya. Kau lihat dia sedang hamil. Lebih baik kita kesana , pasti mereka menunggu kita " ucap sahabat Asuka yang jengah melihat sifat arogan Asuka.
" Kau tahu , bayi yang dia kandung mungkin hasil anak haram atau mungkin hasilnya menjual diri. Ayo kita pergi " ucap Asuka namun langkahnya terhenti setelah Ana mencekal kuat tangannya.
" Lepaskan aku " teriak Asuka
Plaakk , Ana menampar kuat Asuka membuat tiga wanita itu terkejut begitu juga Eric kaget atas kelakuan Ana.
" Kau boleh menghinaku tapi tidak dengan anak dalam kandunganku " ucap Ana tak terima.
" Kau " ucap sahabat Asuka menarik rambut panjang Ana.
" Aaauuuww sakit " teriak Ana , Eric berniat untuk membantu Ana namun langkahnya terhenti saat melihat Rafli berlari menghampiri Ana.
" Lepaskan tanganmu dari rambut istriku " ucap Rafli dengan suara baritonnya sontak membuat Asuka dan sahabatnya kaget.
" Rafli kau.... " ucap Asuka melihat Rafli terperanjat begitu juga Rafli.
" Kenapa dunia ini terasa sempit " batin Rafli.
" Kau tak apa sayang , bagian mana mereka menyakitimu " ucap Rafli merapikan rambut Ana dan mengecupnya. Rafli menatap nyalang kedua sahabat Asuka dan Asuka merasa dadanya nyeri melihat lelaki yang ia cintai begitu menyayangi wanita lain.
" Jika aku tahu wanitamu pasti sudah aku lenyapkan " batin Asuka kesal.
" Kau salah sudah menyakiti istriku Asuka , akan ku hancurkan perusahaan keluargamu , pulang lah untuk melihat kehancuranmu " ucap Rafli , ingin sekali ia menghabisi tiga wanita itu jika Ana tak di sampingnya.
" Tapi istrimu yang salah " ucap Asuka ketus.
" Benar mas , aku tidak sengaja menabraknya " ucap Ana jujur.
" Kau.... " ucap Asuka namun terhenti setelah melihat tatapan tajam Rafli seolah membelah jantungnya.
" Aku ingin menggantinya mas dan aku sudah minta maaf. Ia menghina anakku dengan bilang anakku anak haram " ucap Ana lirih.
Pllakkk tamparan Rafli mendarat sempurna di pipi Asuka , membuat Asuka tersungkur dan bibirny robek berdarah. Para sahabat hendak menolong Asuka namun terlihat takut dengan tatapan Rafli membuat mereka membatalkan niatnya.
" Kau tidak berhak menghina anak dan istriku. Kau lebih hina dari seekor anj*ng sekalipun. Kau dulu merayuku dan berkata ingin menjadi istri keduaku meski aku telah menolaknya dan kini kau menyakiti wanita paling ku cintai . Kau memang harus ku lenyapkan. Tunggu masa itu tiba " ucap Rafli berbisik dan menjambak rambut Asuka.
" Mas sudah , ayo kita pergi " ucap Ana lembut berusaha meredam emosi Rafli.
" Dan kau , akan ku hancurkan juga usaha keluargamu " ucap Rafli geram terhadap sahabat Asuka yang menarik rambut indah istrinya.
Sahabat Asuka terkejut setelah mendengar ancaman Rafli dan Asuka terlihat menangis karena Rafli menyakiti fisik dan harga dirinya. Ia berjanji akan membalas Ana dan Rafli. Sementara Eric bernafas lega karena wanita hamil itu tidak kenapa-napa.
Langkah kaki Ana terhenti saat melihat pria di ujung sana yang begitu ia kenali namun secepat mungkin Eric berpaling karena tak peduli.
" Mas Eric , apa itu dia " batin Ana.
" Sayang ayo " ucap Rafli karena langkah Ana berhenti dan segera melihat arah padang Ana namun tak ada apaun.
__ADS_1
" Aku lelah mas " ucap Ana setelah diam sesaat dan Rafli segera menggendongnya.
" Lain kali jangan keluar jika tanpa mas , jika terjadi sesuatu tadi bagaimana " ucap Rafli khawatir dan menggendong Ana dengan sayang.
Rafli mendudukkan Ana di ranjang empuk lalu meneliti tubuh Ana memeriksa ada yang terluka atau tidak. Rafli mengusap wajahnya kasar , ia tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk terjadi kepada Ana , ia akan merasa bersalah seumur hidupnya.
" Mana yang sakit sayang " ucap Rafli sendu.
" Kepalaku mas , rasanya ingin copot. Rambutku banyak sekali rontok mas " ucap Ana merasa sakit dan pusing kepalanya.
Melihat keadaan Ana dan rambut Ana yang rontok, Rafli kembali mengeraskan rahangnya
" Mas akan beri pelajaran pada wanita itu. Akan mas hancurkan bisnis keluarganya " ucap Rafli geram dan segera menghubungi Jimmy namun Ana menahannya.
" Jangan mas , yang salah bukan keluarganya. Jangan membuat kesalahan satu orang membuat yang lain terkana imbasnya. Jangan perbanyak musuh mas , ingatlah aku sedang hamil " ucap Ana membuat Rafli membuang nafas dengan kasar.
" Ana dengarkan mas . Wanita tadi tetap salah dan keluarganya sendiri tidak bisa mengendalikannya , jadi mas harus memberikan peringatan keras kepada keluarganya. Mas tidak dapat mentolerir perbuatannya padamu " ucap Rafli kekeh dan Ana hanya bisa pasrah.
" Kau tidurlah , semua akan baik-baik saja , ingat anak kita Ana jangan sampai kelelahan " ucap Rafli membuat Ana tidur lebih dulu sebelum menghubungi Jimmy . Rafli sangat geram melihat tingkah Asuka yang hampir mencelakai Ana. Ana yang ngantuk terlupa jika ia ingin bertanya kenapa Rafli dan wanita itu saling mengenal.
" Mimpi indah sayang " ucap Rafli mengecup kening Ana lalu berjalan pergi keluar dari kamar.
Tutt....ttutt...
Sudah sebanyak lima kali Rafli menelepon Jimmy namun belum juga terjawab
" Hallo " Jimmy yang baru terbangun dari tidurnya. Ia melirik sebal karena Rafli menelponnya jam empat subuh. Apa itu anak mengidam lagi dan ia harus menacarinya lalu terbang ke Belanda. Oh tidak .
" Aku memberimu tugas untuk membuat sedikit kekacauan di perusahaan Takeda " ucap Rafli.
" Kau yakin hanya sedikit " tanya Jimmy sembari melihat laporan dari anak buahnya.
" Ya , karena aku akan menjebloskan Asuka ke penjara " ucap Rafli.
" Kenapa tidak meminta menghancurkan perusahaan Takeda jadi tidak ada yang menjamin Asuka dari keluarganya " ucap Jimmy mengetahui alasan dari niat Rafli , ia cepat tanggap.
" Jangan lupa siapa Takeda di sana , ia tidak akan membantu anaknya itu jika salah , apalagi ini menyangkut diriku. Takeda tau anaknya masih terobsesi padaku dan ia pasti berfikir menyerang Ana karena cemburu anaknya. Kau atur bagaimana caranya jangan buat bantahan Jim. Jika Takeda membebaskan anaknya , maka hancurkan Takeda hingga akarnya. Turunkan Devan serta anak buahnya jika ia melawan. Aku lihat anak itu begitu santai di sana " ucap Rafli tersenyum devil , dengan punya Jimmy serta Devan semua yang mengganggu kebahagiannya akan mudah ia singkirkan tanpa menggunakan kekuasaan milik keluarganya.
" Ada informasi untukmu " ucap Jimmy cukup terkejut saat melihat informasi yang cukup fatal bagi Rafli.
" Apa " tanya Rafli serius karena nada bicara Jimmy terdengar lain.
" Eric " ucap Jimmy , cukup satu kata mampu membuat Rafli menegang.
" Eric berada di Belanda " ucap Jimmy.
" Apa bagaimana bisa. Sial " umpat Rafli emosi.
" Dan ada di villa tempat kau dan Ana menginap " ujar Jimmy membuat Rafli membeku , rasa khawatir menyelimuti hatinya , ia segera berlari menuju dimana Ana berada. Jantungnya berdetak kencang dan beruntung Ana masih terlelap namun nafasnya masih memburu.
" Apa ia pernah melihat Ana " tanya Rafli cemas masih memantau Ana membiarkan pintu kamar itu terbuka.
" Ya , bahkan ia pernah melihat dirimu dan Ana " ucap Jimmy.
" Bahkan Eric bergerak ingin menolong Ana " batin Jimmy.
" Tapi kau tak usah khawatir , ingatan Eric aman terkandali " ucap Jimmy karena Rafli hanya diam.
" Tapi kau tahu sendiri , jangan sampai Eric terlalu sering bertemu dengan Ana " ucap Rafli , rasa takut menyelimuti hatinya .
" Apa kau akan membiarkan itu terjadi " tanya Jimmy kesal karena Rafli mendadak bodoh menurutnya.
" Itu tidak akan terjadi , cukup kali ini " ucap Rafli tegas.
" Aku akan kembali pagi ini " imbuhnya mengambil keputusan.
" Siapakan pesawat pribadiku " perintahnya.
" Kau gila , disana pukul 11 malam lalu kau minta pesawat pribadimu " ucap Jimmy kesal.
" Tuan muda yang terhormat dan maha benar , butuh 14 jam pesawat supermu itu sampai kesana. Siang pesawatmu akan tiba " ucap Jimmy mendengar desahan Rafli yang kecewa karena waktu tak dapat ia beli.
__ADS_1
" Aku akan menyewa pesawat pribadi untukmu " ucap Jimmy mencari solusi.
" Aku tak mau , privasi Ana sangat penting " tolak Rafli mentah-mentah.
" Lalu aku harus apa " tanya Jimmy bingung.
" Aku akan meminjam pesawat pribadi nenek Rose " ucap Rafli.
" Dasar kau tak berguna " imbuhnya lalu mematikan teleponnya.
Sungguh tega kau Rafli , membangunkan Jimmy saat mimpi indahnya dengan setia Jimmy memberi informasi penting untukmu dan mencari jalan keluar , lalu kau katakan tak berguna.
" Dasar , Rafli gila , bos laknat " umpat Jimmy.
" Ku balas kau nanti " imbuhnya , akan membuat Rafli kerepotan suatu saat nanti. Bukan jahat atau dendam , namun sifat Rafli makin menyebalkan. Cinta boleh namun otak dan hati perlu sejalan. Itulah fikiran Jimmy.
.
.
.
Rafli telah selesai membereskan barang-barang mereka dan sudah pula mandi. Rafli tidak tega membangunkan Ana membiarkan ibu hamil itu untuk istirahat yang cukup.
Ana menggeliatkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal. Ia mengerjapkan matanya melihat Rafli yang telah wangi dan terlihat tampan.
" Kau tampan sekali mas " ucap Ana dengan suara serak khas bangun tidur.
" Mas kan suamimu , jadi harus tampan . Biar kau tak berpaling " ucap Rafli dengan tubuh tengkurap memandang wajah bantal Ana yang menggemaskan.
" Jangan melihatku mas " ucap Ana malu-malu meong dan Rafli tertawa renyah melihat sikap sang istri semakin usia kehamilan bertambah semakin lucu menurutnya.
" Ayo sayang bersihkan dirimu , lalu kita sarapan " ucap Rafli teringat jika pesawat pribadi nenek Rose telah bersiap dan mereka akan mengunjungi nenek Rose sebentar sekaligus berpamit untuk pergi ke Paris.
Ana mempertajam pandangannya , terlihat dua koper tersusun rapi dan terlihat pula dress yang akan ia kenakan. Ana segera menggunakan dress tersebut dengan handuk menutupi rambutnya yang basah , Rafli yang melihat segera mengeringkan rambut Ana..
" Biar mas keringkan nanti kau masuk angin " ucap Rafli mengambil hair dryer. Rafli juga menyisir rambut Ana hingga tergerai indah. Menghirup aroma shampo Ana membuat bagian bawahnya ikut berdiri namun secepat mungkin ia mengendalikan hasratnya , karena makin cepat mereka beranjak makin baik pula.
" Ayo sayang kita sarapan " ucap Rafli dengan sabar menunggu saat Ana tengah berhias.
Ana memasukkan makanan dengan lahap sementara Rafli terlihat sulit untuk menelan makananya.
" Mas kita mau kemana " ucap Ana disela saat meminum susu hamilnya. Sungguh Rafli mempupuk tubuh Ana.
" Kita akan ke Paris " ucap Rafli singkat kembali fokus ke ponsel.
" Kok mendadak mas " tanya Ana masih penasaran...
" Kenapa mas " imbuhnya karena Rafli tetap bungkam.
Rafli mendekati Ana lalu memeluknya dengan penuh cinta , di tatapnya lekat mata wanitanya lalu mempertemukan kening mereka. Ana merasa heran dengan tingkah Rafli.
" Tetaplah berada disisi mas , apapaun yang terjadi. Jangan tinggalkan mas , meski mas yakin banyak orang di luaran sana menginginkan perpisahan kita " ucap Rafli lirih.
" Aku sangat mencintaimu Ana hingga akhir nafas ini , berjanjilah jika aku yang hanya memiliki hati dan ragamu. Jangan tinggalkan aku , karena aku tak sanggup . Berjanjilah Ana " imbuhnya begitu dalam.
Ana masih terlihat bingung kenapa Rafli mengucapkan kalimat itu , tanpa pria itu pinta Ana akan melakukannya.
" Eric ada disini " ucap Rafli berhasil membuat Ana merenggangkan pelukan itu. Ana akhirnya yakin , jika yang ia lihat malam itu Eric.
" Kenapa , apa kamu ingin kembali padanya " ucap Rafli lirih melihat reaksi Ana. Ana hanya terkejut namun Rafli salah paham.
Ana mengecup lembut bibir suaminya.
" Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi , kamu pemilikku yang utuh mas . Aku hanya kaget saat mas mengatakan ada mas Eric disini. Aku tidak ada niat sedikitpun untuk kembali padanya " ucap Ana tulus.
" Jangan ragukan cintaku mas , itu sangat sakit " imbuhnya lirih , tanpa di duga setetas cairan membasahi pipi Ana.
" Jangan menangis sayang , maaf , mas terlalu takut kau pergi dari hidup mas " ucap Rafli mengahpus air mata Ana dengan kecupannya. Jawaban Ana membuat Rafli lega , karena ia juga tak akan melepaskan Ana sebagai nafasnya untuk tetap hidup....
Jangan lupa like dan comentnya
__ADS_1