
Vanya mendengar suara dua lelaki di luar sana, oleh karena itu dirinya memanggil Roy dari dalam.
"Ada siapa, diluar? Aku mendengar kau sedang berbicara dengan seseorang?" tanya Vanya.
"Aahh,, dia lelaki yang aku katakan penggila stobery itu, dia mencari dompetnya yang berada padaku," jawab Roy.
"Emm, Roy. Kapan aku bisa pulang?" tanya Vanya.
"Tunggu aku mendapatkan hasilnya dulu ...-" ucapan Roy terputus saat dia sadar telah keceplosan.
"Hasil apa? Kau berbicara apa?" tanya Vanya.
"Emm, An. Sorry, kalau aku begitu lancang pada dirimu. Aku hanya ingin memastikannya saja," jawab Roy.
"Roy, aku hamil. Dan kau benar, usianya baru tiga minggu," jawab Vanya dengan tatapan sendu.
Roy tersenyum mendengarnya, tapi senyum itu cepat hilang. Lantaran melihat wajah, Vanya yang menjadi sendu.
"Apa kau tak senang? Apa kau tak menginginkan anak ini?" tanya Roy.
Vanya menatap, Roy lalu menggeleng dengan air mata di wajahnya.
"Dia anakku, dia darah dagingku, mana mungkin aku tak senang," jawab Vanya.
Vanya mengusap pelan perut ratanya, sambil menarik napas panjang.
"Aku akan menjadi orang tua tunggal tuknya. Biarkan dia memiliki kasih sayang yang penuh dariku. Aku, aku akan menjadi kuat tuk anakku," sambung Vanya.
Tatapan Roy begitu sendu, lelaki itu sangat berharap jika Vanya bergantung padanya. Bahkan, jika Vanya memintanya menjadi ayah dari anak itu pun Roy akan sangat senang, menjadikan Vanya istrinya. Tapi, kenyataannya tidak seindah apa yang Roy inginkan.
"Kau memang harus menjadi kuat tuk anakmu! Kau harus setegar karang, An demi dirinya. Aku ada disini bersamamu, duka mu juga dukaku," ucap Roy.
Vanya menghapus air matanya, memandang Roy yang sangat terlihat kecewa padanya. Vanya seakan menutup matanya pada Roy, sungguh Vanya tak ingin menjadi beban tuk Roy.
"Jadi, kapan aku pulang? Aku tak suka bau rumah sakit," tanya Vanya.
"Huh, kau itu sangat tak sabaran sekali. Kau baru bisa pulang dua hari lagi. Karena, tekanan darahmu sangat kurang," jawab Roy.
"Aku ingin pulang besok, bisakah kau mengatakannya pada Dokter. Jika aku ingin pulang besok?" tanya Vanya.
"Aish, kenapa kau begitu manja, hah?" tanya Roy balik.
"Anakku, yang memintanya," jawab Vanya seraya tersenyum.
"Sudahlah, nanti bisa kita bicarakan lagi. Sekarang kembalilah tidur!" perintah Roy.
Vanya pun hanya bisa menurut dan kembali mencoba tuk tidur. Di dalam kamarnya, Wil kembali berbaring, pandangannya kosong entah kemana. Yang jelas dia sedang memikirkan sosok gadis.
"Besok, aku harus segera keluar dari rumah sakit ini. Dan akan segera menemukan dirimu, Vanya," ucap Wil seraya menutup matanya.
Keesokan paginya, Roy sudah tak ada disana. Sedangkan, Vanya baru saja membuka matanya. Semalam dia tidur dengan sangat nyenyak.
"Apakah dia pergi tuk bekerja?" tanya Vanya.
Vanya menemukan memo di aras nakas beserta makanan kesukaannya sandwich berisi daging keju. Vanya dengan semangat memakannya dengan lahap tak ada rasa mual yang dia rasakan, setelah habis memakan sandwich barulah Vanya kembali memakan buah. Berbeda dengan Wil yang sangat igih makan tapi mulutnya menolak semua makanan itu. Mulutnya begitu asam dan pahit karena tak ada makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku menjadi begini. Ahh,,, aku jadi merindukan Mommy," ucapnya begitu sedih.
Drrtt,,, drrttt,,,
Terdengar ponselnya bergetar. Wil dengan malas mengangkat siapa yang menelpon ternyata panggilan vidio call dari Zee. Saat menggeser icon hijau terlihatlah dua wajah lelaki yang terlihat marah.
"Darimana saja kau pengecut?" sindir Sam dengan nada yang keras.
__ADS_1
"Kenapa kau tak mengangkat telpon kemarin, huh?" hardik Alex tak kalah marahnya.
Mereka begitu kesal karena sikap Wil yang menghilang beberapa hari lalu tanpa mereka perhatikan dimana sekarang Wil berada.
"Wil, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Zee begitu panik.
Wil hanya tersenyum tipis saat Zee mengetahui dirinya sedang berada dimana. Membuat Alex dan Sam mengerutkan keningnya kenapa Zee bertanya seperti itu.
"Apa kalian buta? Coba lihat baik-baik, Wil sekarang sedang berada di rumah sakit!" perintah Zee bernada marah.
Alex dan Sam pun melihat Wil yang hanya membuang muka karena merasa miris pada dirinya sendiri yang terlihat begitu lemah. Terlihat selang infus yang mengantung disebelah tubuh Wil.
"Kenapa denganmu? Kenapa tak memberikan kami?" tanya Alex dan Sam bersamaan.
"Jangan berlebihan. Aku tidak apa, hanya kelelahan saja, besok juga bisa langsung pulang," jawab Wil.
Dengan cepat, Zee mengakhiri panggilan video call tersebut berganti dengan panggilan telpon biasa. Terdengar suara Zee yang begitu khawatir.
"Jangan cemaskan aku! Aku bisa jaga diri," ucap Wil.
"Kau kenapa? Apa kau tak makan dengan baik? Sekarang kau berada di rumah sakit mana?" tanya Zee.
"Hey, kakak ipar. Kau terlalu berlebihan padaku, sudahlah aku bisa jaga diriku sendiri. Kau jaga saja Alya disana," pinta Wil.
"Wiliem! Jawab saja apa yang aku tanyakan!" perintah Zee.
Wiliem pun hanya bisa menurut dan memberitahukan keberadaannya, setelah itu Zee menutup telponnya. Berpesan pada Wil tuk tetap tinggal disana.
"Kenapa, Zee menjadi begitu cerewet sejak menikah dengan Alex," ucap Wil.
Wil mencoba tuk berdiri dan ingin sekali keluar kamar karena dia begitu mual dengan bau khas rumah sakit tersebut. Wil pun berjalan menyusuri lorong dan melihat ada taman di tengah rumah sakit tersebut.
"Untung tak jauh dari ruanganku. Akhirnya aku bisa menghirup bau lain selain bau rumah sakit," ucap Wil.
Wil duduk di kursi panjang disana, tamannya memang tak besar. Tapi, bisa membantu tuk beristirahat dan menikmati udara pagi hari dengan sinar matahari.
Terlihat sosok wanita sedang berjalan di lorong rumah sakit, dengan rambut panjangnya yang terurai. Ternyata itu, Vanya yang sedang keluar ruangan. Saat, Vanya sedang berjalan melewati taman mata Wil melihat sosok Vanya sekilas, hanya karena rambutnya berbeda Wil mengira itu hanya orang yang mirip.
"Aku sepertinya tak asing dengan wanita tadi, tapi siapa dia?" tanya Wil seraya menengok kembali akan tetapi Vanya sudah tak terlihat.
Vanya duduk di depan ruangannya dengan terus menatap langit di atas sana. Pikirannya melayang entah kemana.
"Ayah, Ibu, kakak aku merindukan kalian," batin Vanya begitu merindu.
Terlihat bulir bening itu menetes mengaliri wajah cantiknya. Perasaan seorang yang sedang hamil memang begitu sensitif.
Vanya masuk kembali ke dalam kamar, disaat Wil berjalan ke arahnya tuk kembali ke ruangannya.
"Kemana perginya, wanita itu? Kenapa begitu cepat, aku seperti melihat Vanya," ucap Wil.
Karena masih merasa lemas dan tak bisa makan apapun semakin membuat tubuh Wil menjadi lemah saja, Wil juga masih harus di infus tuk memberikannya asupan pada tubuhnya.
"Ahh, kenapa aku begitu lemas," ucap Wil, seraya duduk dikursi depan kamar Vanya.
Terlihat Roy yang sedang berjalan dengan penjaga tokoh dan melihat Wil yang sedang duduk lemas.
"Tuan, kau kenapa?" tanya penjaga tokoh seraya menghampiri Wil.
Terlihat Roy dan penjaga tokoh itu begitu cemas saat melihat wajah Wil yang sangat pucat dengan banyak peluh.
"Mari kita antar ke kamarnya!" seru Roy
Pelayan itu pun memapah Wil sampe membantunya membaringkan Wil di tempat tidur. Roy pun memberikan makanan dan buah tuk Wil.
__ADS_1
"Tuan, kenapa kau keluar jika keadaanmu begitu lemah?" tanya penjaga tokoh.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar saja, tapi entah kenapa tubuhku begitu lemas dengan tiba-tiba," jawab Wil begitu lirih.
"Oa, Wil kenalkan dia Adam dan Adam, ini Wiliem," ucap Roy memperkenalkan mereka.
"Adam, aku sungguh berterima padamu dan pelayan itu sudah membantuku," ucap Wil.
"Tidak usah sungkan, Tuan. Kami hanya melakukan seperti orang lain lakukan. Hanya bisa menolongmu saja," balas Adam.
"Kau tunggulah sebentar, aku akan memanggil Dokter tuk Wil," ucap Roy.
Adam pun mengangguk ia, lalu melihat kantung plastik yang di bawa Roy lalu membukanya.
"Tuan, kau mau memakan sesuatu? Disini ada roti coklat," tanya Adam.
"Aku begitu lapar, sangat ingin makan juga. Tapi, perutku selalu menolaknya dan berakhir di dalam closet," jawab Wil begitu sedih.
"Astaga, Tuan. Sejak kapan kau mengalami itu? Dan apakah sejak kemarin kau belum makan?" tanya Adam.
Wil hanya mengangguk lemah, Adam begitu iba pada Wil yang terlihat begitu tersiksa karena tak bisa makan. Wil menatap buah di atas nakas lalu bertanya pada Adam.
"Apakah, dalam kantung buah itu ada buah stobery?" tanya Wil.
"Stobery? Apa kau mau memakan buah asam itu lagi, setelah membuatmu masuk rumah sakit?" tanya Adam.
"Hanya buah itu yang bisa masuk kedalam mulutku, Adam. Sungguh, aku merindukan masakan rumah," jawab Wil.
Adam menelan salivanya sembari menatap Wil, akhirnya pun Adam memberikan satu cup buah stobery pada Wil. Dan ampuh membuat lelaki itu terlihat sumringah, lalu langsung memakan buah itu dengan begitu lahap.
"Astaga, Tuan jangan terburu-buru. Makanlah dengan perlahan!" pinta Adam.
Wil hanya tersenyum lalu dengan cepat menghabiskan buah tersebut tanpa sisa. Sampai akhirnya Dokter masuk bersama dengan Roy.
"Bagaimana keadaan, anda Tuan Wil?" tanya Dokter.
"Aku sungguh tersiksa, Dok. Aku tak bisa makan, makanan apapun," jawab Wil.
"Dok, Tuan Wil baru saja memakan buah stobery. Tapi, lihat dia tak apa-apa," seru Adam.
Roy melototkan matanya, karena tak percaya Wil memakan habis stobery tanpa sisa. Padahal ini masih sangatlah pagi.
"Kau sungguh aneh, Tuan. Kau tak bisa makan apapun tapi buah se asam itu bisa kau habiskan?" tanya Roy tak percaya.
"Sepertinya, ini bukan karena Tuan Wil terkena penyakit. Mungkin, istrimu atau kekasihmu sedang hamil? Dan yang merasakan prosesnya itu adalah anda, Tuan," jelas Dokter.
Wiliem membulatkan matanya, saat mendengar penuturan dari Dokter. Jantungnya berdetak kencang sungguh dia tak percaya jika benar dirinya sedang mengidam dari kehamilan Vanya.
"Hamil? Ya, mungkin saja benar. Bukanya, kekasihmu sedang hamil, Wil?" tanya Roy.
"Tuan Wil, makanlah makanan yang mengandung gandum. Setelah itu kau akan merasa baik, walaupun kau akan memakan banyak buah," ucap Dokter.
Roy pun mengantarkan Dokter sampai keluar kamar. Wil masih terdiam mengingat akan semua yang sudah terjadi, bahkan dia sangat suka stobery, mengingat dirinya dan Vanya telah berpisah selama satu bulan.
"Wah, selamat Tuan. Kau akan menjadi seorang ayah," ucap Adam.
Begitu juga Roy yang tersenyum seraya menghampiri Wil lalu menepuk bahunya. Membuat, Wil kembali sadar lalu mencoba tersenyum.
"Selamat, Wil. Kau harus segera bertemu dengan kekasihmu itu. Apalagi, di dalam rahimnya ada anakmu," ucap Roy.
"Ya, kau benar. Aku harus segera sembuh dan kembali mencari kekasihku itu," balas Wil seraya tersenyum.
Hari semakin siang, Adam dan Roy pun pamit tuk pergi. Membiarkan, Wil tuk beristirahat. Wil sangat senang, karena bisa bertemu dengan Adam dan Roy. Mereka menjadi teman baru yang begitu asik, sangat perhatian dan baik.
__ADS_1
Wil bisa istirahat dengan tenang, karena Wil baru saja menghabiskan beberapa lembar roti gandum yang membuat perutnya sedikit kenyang. Mata birunya perlahan terpejam dan tertidur pulas.
Bersambung 🌺🌺🌺