Takdir Cinta

Takdir Cinta
Acara Tujuh Bulanan


__ADS_3

Kini Rafli telah sarapan bersama dengan keluarga Ana dan orang tuanya. Rafli selalu over protektif dalam hal apapun jika berkaitan dengan sang istri.


" Mas berangkat dulu ya sayang " ucap Rafli setelah mengakhiri sarapan pagi , karena pagi ini ada meeting yang sangat penting..


" Iya mas " ucap Ana segera bangkit karena sarapannya telah selesai dan akan mengantarkan suaminya kedepan , tak lupa Rafi juga berpamitan kepada para orang tua yang berada di meja makan.


Rafli mencium kening Ana namun serasa ada yang kurang.


Cup Rafli ******* singkat bibir sang istri.


" Mas " ucap Ana.


" Ya sayang , ada apa " tanya Rafli.


" Apa boleh aku menjemput Rahma di bandara nanti " tanya Ana , ia merasa sangat bosan.


" Tidak boleh sayang , nanti Rahma akan segera kesini dan akan menginap disini " ucap Rafi tegas , Ana berubah menjadi cemberut.


" Ah wajah ini " batin Rafli.


" Jangan lupa minum susunya ya . Jangan terlalu lelah. Daaaa " ucap Rafli berusaha cuek demi keselamatan Ana.


Ana menatap sebal ke arah Rafli yang kini hendak berjalan ke arah mobil , sudah ada Devan yang menunggu terlihat sangat penting karena hampir seluruh orang terbaiknya berada di kota J..


" Dasar tidak peka " gumam Ana.


" Maaf sayang , mas tidak ingin kau kenapa-napa " batin Rafli saat melihat Ana kembali masuk kedalam rumah..


.


.


.


Ana telah memberi kabar kepada para sahabatnya tanpa terkecuali untuk datang ke acara tujuh bulanannya dua hari lagi dan ia juga mengundang seluruh karyawan tokonya yang mengenal dirinya dan Ana , terpaksa tokonya di tutup sementara karena mereka telah sibuk mempersiapkan kue beraneka ragam dan bentuk dengan rasa yang enak sebagai salah satu menu hidangan.


" Apa aku harus mengundang Maudy " gumam Ana karena telah mengundang dokter Neti dan Sindy tak lupa juga dokter Puspa.


" Undang sajalah , tidak enak rasanya jika aku tidak mengundangnya " ucap Ana setelah dengan segala pemikirannya.


.


.


.


Mansion Mario.


Maudy menikmati hari-harinya dengan belajar bisnis melalui orang kepercayaan Mario , bahkan hidupnya bak putri kerajaan karena Mario begitu memanjakannya. Sementara Sofi menatapnya tajam penuh kebencian , ingin sekali ia melenyapkan sepasang kakak beradik dirumah ini yang selalu memantau pergerakannya. Sofi hanya bisa pergi jika bersama Mario karena Sofi pernah mencoba ingin kabur , sedangakan Mario tidak mau jika Sofi sampai kabur dan memberitahu identitas dari istri Rafli , Mario menepati janjinya.


" Semua ini gara-gara Rafli dan Ana , kalian semua akan hancur termasuk wanita sialan ini ( melirik Maudy yang sedang berbalas chat dengan Ana ) . Dan aku akan membalas kau Mario , kau memperlakukanku sebagi p*lacur setiap malamnya " batin Sofi ingin rasanya ia melenyapkan semua orang yang menjadi benalunya. Tidak menjadi gelandangan namun hidupnya menjadi pemuas nafsu bagi Mario , jika bosan ia akan di buang begitu saja.


" Maudy " ucap Mario dengan suara lembutnya.


" Kakak " ucap Maudy tersenyum dan segera mendekati sang kakak yang baru saja pulang dari kantor.


" Biar aku bantu kak " imbuhnya membawa tas kerja Mario.


" Kakak serasa punya istri , tapi takdirnya kau adik ku " ucap Mario tersenyum.


" Kenapa kakak tidak menikah saja " tanya Maudy , ia ingin kakanya ada yang mengurus dan berusaha menjawab pemikirannya selama ini.


" Kakak masih betah sendiri " ucap nya berjalan menuju kamarnya dan di ikuti Maudy.


" Apa kakak masih mencintai kak Gladis " tanya Maudy memastikan.


" Kau tahu Maudy , Gladis cinta pertamaku " jawab Mario .


" Tapi kak Gladis sudah tenang disana , apa kakak tidak mencintai wanita lain saat ini " ucap Maudy memastikan dan Mario hanya tersenyum samar.


Maudy segera menyiapkan air mandi dan baju untuk kakaknya.


" Oh ya kak " ucap Maudy ragu.


" Ada apa " tanya Mario.


" Kak Ana mengundangku ke acara tujuh bulanannya malam besok , aku mau izin untuk kesana " ucap Maudy.


" Ana mau tujuh bulanan " tanya Mario merasa kehamilan Ana tak terasa begitu cepat.


" Iya " jawab Maudy.


" Apa kakak tak di undang kak Rafli " imbuhnya , karena setahu Maudy hubungan Mario dan Rafli baik-baik saja.


" Mungkin dia lupa " elak Mario.


" Mana mau Rafli mengundangku " batin Mario.

__ADS_1


" Kakak mengizinkammu , tapi pulang jangan terlalu malam " ucap Mario.


" Kak " ucap Maudy menghentikan langkah kaki Mario yang ingin kekamar mandi.


" Apa kakak mencintai kak Ana " tanya Maudy lirih , membuat wajah Mario memucat dan membeku seketika.


" Pergilah Maudy , kakak mau mandi " ucap Mario enggan membahas hal itu.


Maudy segera keluar dari kamar Mario masih dengan pemikirannya. Tanpa mereka sadari seseorang menguping pembicaraan mereka.


" Kau salah besar Ana mengundang Maudy yang jelas masih memendam rasa pada suamimu . Akan ku buat kacau acara tujuh bulananmu itu , aku harus membujuk Maudy agar boleh ikut , jika tidak aku pergi mengendap -ngendap saja masuk dalam mobil.


Maudy telah tiba di kamarnya yang berada di bawah , ia masih memikirkan sesuatu yang menurutnya salah...


Flash back


" Hallo kak " ucap Maudy menerima telepon dari Mario.


" Maudy kamu carikan map berwarna merah dan kuning diruang kerja kak. Mam merah ada di atas meja dan kuning kalau tidak salah ada di laci meja " ucap Mario.


" Sekarang ya sayang , kakak butuh sekali proposal itu nanti orang kakak akan menjemputnya " imbuh Mario.


" Oke akak aku cari sekarang " jawab Maudy lalu bergegas mencari apa yang kakaknya pinta.


Ceklek


Maudy dapat melihat map merah diatas meja , ia segera mencari map berwarna kuning di laci meja kerja sang kakak. Maudy membuka laci-laci untuk mencari map tersebut dan akhirnya ketemu. Tanpa sengaja pandangan Maudy tertuju pada foto Gladis yang tersimpan rapi di laci itu.


" Cantik " ucap Maudy mengambil foto itu. Setelah puas melihat foto Gladis , Maudy segera mengembalikannya namun foto itu terjatuh dan terbalik. Ada tulisan di belakang foto itu.


" *Gladis apa kabarmu ?. Pasti kau sedang melihatku. Kau lihat , aku hancur karena kau tinggalkan. Aku menunggumu begitu lama. ( Maudy terus membaca ungkapan rindu Mario kepada Gladis ). Maafkan aku Gladis , jika aku mencintai wanita lain saat ini. Awalnya aku ingin menjadikan wanita itu sebagai pion balas dendamku namun seiring berjalannya waktu , setelah aku mengetahui semua tentangnya membuat aku mencintainya. Aku terjebak permaiananku sendiri sebelum permainan itu dimulai , sungguh bodoh bukan. Apalagi teringat saat dia menyelamatkan nyawaku dari suaminya waktu itu. Kau tak marahkan jika aku mulai move on dan mencintai wanita lain , meski aku tahu ini salah karena aku mencintai istri orang , aku mencintai Ana Gunawan wanita cantik dengan sejuta pesonanya , maafkan aku Gladis , ku harap kau tidak marah dan percayalah namamu tetap ada dalam hatiku meski Ana telah mengisinya secara perlaha***n. Aku bingung , haruskah aku mundur dan mencintainya dalam diam atau aku harus merebutnya** "


Flash back Of.


" Tidak , itu tidak boleh terjadi , kak Mario telah melakukan kesalahan dengan mencintai kak Ana karena kak Ana istrinya kak Rafli. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu kak. Kau keluargaku satu-satunya " gumam Maudy takut jika terjadi keributan antara dua pria kesayangannya.


" Aku harus bisa membuat kak Mario mencintai wanita lain , tapi tidak dengan kak Ana " batin Maura.


.


.


.


Acara tujuh bulanan Ana akan di laksanakan malam hari , nenek Ana sedang memeriksa semua keperluan mulai dari makanan yang terdiri dari rujak dimana terdapat tujuh buah segar , bubur yang terlihat warna-warni dengan tujuh warna , ketan dan jajanan pasar yang dibungkus daun pisang serta keperluan lainnya karena sang nenek yang begitu paham. Sang nenek sangat antusias melebihi siapapun karena ia begitu menyayangi Ana. Sementara tugas makanan lainnya di serahkan kepada ibu Laras dan Lia bertugas mendekorasi rumah Rafli dan menyusun tempat para tamu-tamunya meski dihadiri keluarga dan sahabat serta anak-anak yatim namun Lia ingin sesuatu yang sempurna.


" Ma apa acara siraman ini gak bisa di lewatkan saja , bagaimana jika nanti Ana masuk angin " protes Rafli berbicara sesuai apa yang di cemaskan dan ia melihat kesal tatapan para tamu pria yang melihat Ana begitu intens.


" Kau ini bicara apa , memang begitulah prosesinya. Sudah jangan banyak protes " ucap Lia meninggalkan Rafli , berbicara pada Rafli terasa percuma baginya.


Acara siramanpun di mulai dari sang nenek kemudian bergantian dengan yang lainnya.


" Dingin gak sayang " tanya Rafli berbisik setelah acara siraman selesai dan Ana menggeleng lemah.


" Auuwww sakit nek " ucap Rafli saat sang nenek memukul kepalanya menggunakan gayung yang terbuat dari batok kelapa karena Rafli begitu mengesalkan baginya dan membuat para orang tua disekitar Ana menahan tawa beruntung yang lainnya tak melihat .


" Kau terlalu berisik " ucap nenek dengan sorot mata tajam membuat Rafli bungkam seketika.


Prosesi selanjutnya Rafli mengambil dua buah cengkir / kelapa muda untuk melaksanakan ritual brobosan. Rafli terpana akan ke indahan kelapa muda yang sudah di lukis itu dengan wujud dewa dewi. Rafli meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang di pakai Ana . Terlintas senyum jahil menghiasi wajahnya dengan pikiran liar yang berkelana namun Rafli mendadak kalem saat sang nenek menatapnya tajam. Kemudian Rafli membelah cengkir yang bersimbol untuk membukakan jalan agar si jabang bayi lahir pada jalannya. Rafli kembali kasihan kepada sang istri saat Ana harus berganti pakaian sebanyak tujuh kali , hingga pakaian di bilang pantes. Dan tiba saat bagian yang paling berat bagi Rafli , saat bagian ia dan Ana harus menirukan gaya ayam yang mengerami telur dengan berkokok keras. Rafli beberapa kali menolak untuk ritual ini namun para orang tua mengancamnya membuat ia menuruti begitu saja. Seorang Rafli kini berkokok keras ssbagai lambang ia akan bertanggung jawab demi kehidupan dan kesejahteraan calon bayi dan ibunya , setelah melakukan itu terlihat semburat merah di pipinya karena para sahabatnya terus meledeknya. Kemudian berlanjut pada bagian potong tumpeng sebagai tanda rasa syukur atas kehamilan . Kemudian ke takir pontang sebuah wadah yang terbuat dari daun pisang dan janur yang berbentuk menyerupai kapal yang mempunyai makna tertentu seperti mengarungi bahtera didalam rumah tangganya. Didalam takir tersebut terdapat suguhan yang akan di berikan untuk para sesepuh sebagai ucapan terima kasih.


Kini acara akhirnya Rafli dan Ana berjualan dawet dan rujak buah yang terdri dari tujuh buah segar. Dimana yang menerima rujak tersebut harus membayarnya sesuai harga yang disebutkan dan munculah ide jahil Rafli terutama Frans yang tertawa begitu kencang tadi. Ana dan Rafli berjalan menuju para sahabat Ana untuk memberikan rujak dan juga dawet.


" Sayang , bilang harganya lima juta kepada meraka , terutama Ines . Bilang padanya sepuluh juta " bisik Rafli.


" Kau ingin naik haji mas , mana ada harga rujak dan dawet segitu " tolak Ana.


" Berapa Ana " tanya Ayu saat menerimanya .


" Lima juta " jawab Rafli.


" Akan ku bayar setelah kau di suntik mati " jawab Ayu kaget.


" Gila mahal banget " protes Tiara.


" Murah hanya seratus ribu aja " ucap Ana ramah namun para sahabatnya melongo tak percaya beruntug para sahabat Ana membawa uang yang berwana merah mengkilat itu.


" Kau penjual yang akan cepat kaya Ana " goda Ines tergelak lalu mengambi rujak tersebut namun sebuah tangan menahan rujak tersebut dan dia adalah Rafli.


" Kau harus membayar sepuluh juta " ucap Rafli membuat semua yang mendengar terkejut.


" Apa kau gila , itu namanya pemerasan dan aku tidak membawa uang cash segitu banyak " ucap Ines.


" Kau bisa mentransfernya " ucap Rafli kekeh . Ines yang tidak ingin ambil pusing dengan Rafli segera mentransfer uang sesuai yang Rafli sebutkan membuat Ana tak enak hati.


" Tak apa Ana , untuk keponakanku " ucap Ines lembut pada Ana dan Ana tersenyum tak enak hati.


" Semoga anakmu gak mirip ayahnya ya Ana " imbuhnya sukses membuat Rafli meluap amarahnya.

__ADS_1


" Stop mas , jangan merusak suasana " pinta Ana


" Ines aku pergi dulu " ucap Ana.


" Dari kemarin kau selalu membuat aku kesal , ku balas kau " batin Ines.


Sahabat Ana asyik mencicipi dawet serta rujak yang mereka beli.


" Eh Luna mana " tanya Ines karena ia baru menyadari Luna tidak tampak dari tadi.


" Eh iya ya , mana " ucap Tiara.


" Paling juga tu anak ke toilet atau pulang tanpa pamit " ucap Intan sekenanya.


Kini Rafli dan Ana menuju tempat sahabat Rafli berkumpul.


" Hai bumil " sapa dokter Nicko segera mendapat tatapan tajam dari Rafli.


" Kalian beli Dawet dan rujak gw" ucap Rafli sewot.


" Ah buat apa beli , lo aja yang jualan galak gitu " ucap Soni.


" Seorang CEO songong jualan rujak " ucap Frans tergelak mengingat tingakah Rafli.


" Berapaan ni " tanya Nicko.


" Sepuluh juta perporsi bonus es dawet " jawab Rafli lugas.


" Lo mau jualan atau mau kaya mendadak " ucap Soni terbelalak dan Rafli tanpa aba-aba membuat para sahabatnya menerima rujak tersebut.


" Gw gak mau " tolak Soni , bagaimana bisa harganya sepuluh juta sedangkan Soni sedang mengumpulkan uang untuk melamar kekasihnya.


" Awalnya gw seneng banget lo ngundang gw buat lihat kebahagian kalian berdua , tapi lo malah meres gw " gerutu Soni.


" Bayar sepuluh juta " ucap Rafli menatap Nicko.


" Kalau gak , gue tarik investasi keluarga gw di rumah sakit lo " imbuhnya saat melihat Nicko hendak protes.


" Ah lo ngancem aja " ucap Nicko segera mengeluarkan benda pipihnya.


" Sudah ya " imbuhnya memperlihatkan bukti transaksi.


" Kapan lagi bisa mengerjai mereka " batin Rafli.


" Apa lo Jim " ucap Rafli saat Jimmy menatapnya tajam.


" Bayar , atau gw gundulin kepala lo " imbuhnya membuat yang lain tergelak. Jimmy segera mentransfer harga rujak tersebut dan memperlihatkannya bukti transfer.


" Sombong banget lo , lima puluh juta " ucap Rafli terkejut membuat yang lainnya terbelalak.


" Kau kelewatan mas " ucap Ana menatap Rafli tajam.


" Sayang berarti itu rezeki anak kita , suatu saat kelak anak kita akan sukses melebihi aku " ucap Rafli.


" Aamiin " sahut sahabat Rafli.


" Asal gak kejam seperti lo aja " ucap Frans.


" Khusus buat lo bayar enam puluh juta " ucap Rafli galak.


" Gak mau bayar kepala ma badan lo pisah " ancam Rafli.


" Gw gak mau " tolak Frans asik memakan rujaknya.


" Mas aku kesana ya , pusing lihat kalian " ucap Ana berlalu pergi dan masih terjadi tawar menawar yang di lakukan Rafli dan Frans.


Saat Ana hendak menghampiri sahabatnya tiba-tiba ada seorang wanita muda menegurnya.


" Kakak " ucap Maudy lembut menyapa Ana.


" Akhirnya kau datang Maudy " ucap Ana dan mereka saling berpelukan dengan senyum , sedangkan Ayu dan Ines terlonjak kaget melihat wajah wanita yang di pelukan Ana.


Ines mengepalkan tangannya saat teringat cerita Ayu bahwa wanita itu pernah berciuman dengan Rafli , Ines segera bangkit karena ingin sekali melempar pisang terbang kearah wanita itu dengan cepat Ayu mencekal tangan Ines bertanda jangan dan Ines menyadari situasi saat ini , tidak mungkin ia menghancurkan suasana dimana semua orang bahagia.


Senyum Ana meluntur bersamaan dengan Rafli yang menarik Ana dalam dekapannya.


" Maura " lirih Ana.


" Dia Sofi sayang " jelas Rafli terlihat bahwa rahangnya mengeras melihat dua wanita laknat yang selalu mengganggu kebahagiannya.


" Siapa yang menyuruh kalian kemari " ucap Rafli dengan suara bariton menggelegar kemana-mana , membuat semua tamu menoleh kearahnya.


Jangan lupa like dan komen...πŸ€—πŸ€—


Tolong dukungannya biar saya tambah semangat...😁😁😁


Semoga kita semua selalu di beri kesehatan.πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Mohon maaf lahir dan bathinπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2