
Akan seperti apakah jika suatu kehidupan tanpa sebuah tujuan dan sekaan waktu berhenti. Meninggalkan dirimu tanpa masa lalu atau pun masa depan?
Hati hanya merasakan kehampaan, tak ada lagi warna putih, hitam atau pun abu-abu. Yang hanya adalah sebuah lubang yang begitu dalam disana. Cahaya tak bisa menebusnya, tak bisa menyinari dasarnya.
Keterpurukan membuat mata menjadi tak melihat apa pun, tak perduli ada atau tidak ada. Semuanya sama tak terlihatnya, hanya terlihat kehancuran, kesengsaraan.
Setiap napas akan menjadi duri, setiap hembusan yang keluar akan menjadi kematian. Satu kali kedipan akan menutupi segalanya, mata yang terpejam itu akan melihatnya segala kesedihan, kesengsaraan, ketidak mampuan.
Maka, kembalilah! Berjalanlah tuk kembali, walaupun itu sangatlah sulit. Akan banyak kepingan, reruntuhan masa lalu yang akan kembali terlihat. Tapi, itulah yang akan menyadarkan siapa sebenarnya kita.
-Averroes-
Antara Alex dan Wiliem, hubungan yang sangat sulit. Tak seperti adik kakak di luar sana yang saling melengkapi.
Anak dari Sofia dan Sander ini sangatlah berbeda. Mereka mempunyai kepribadian yang sangat berlawanan.
"Aku akan gila! Jika terus memikirkan wanita itu!" umpat Alex.
Alex sangat geram pada dirinya sendiri, sedangkan Wili dia begitu bahagia karena bisa bertemu dan mengenal ibu anak itu.
Sofia hanya bisa menjaga satu dari dua anaknya. Bukan, karena dia pilih kasih, akan tetapi memang sudah sejak kecil salah satu dari mereka harus selalu di lindungi.
Wili melihat Alex yang sudah rapih dengan begitu tampan, Wili pun mendekatinya. "Kau, mau kemana?"
"Seperti biasa, tempatku dimana. Aku sangat suntuk dirumah," jawab Alex.
"Ingat besok pertemuan dengan perusahaan Anthony," jelas Wili.
"Aku, serahkan urusan itu padamu! Aku ada urusan di luar kota, setelah itu aku harus segera ke Roma," seru Alex.
"Roma? Apa sesuatu, Lex?" tanya Wili.
"No, tenang saja. Aku hanya ingin berkunjung saja," jawab Alex.
"Lex, kau tak mencoba menghindari sesuatu bukan?" batin Wili.
Alex sudah berlalu keluar, terdengar suara deru mobilnya semakin menjauh. Wili yang sudah terbiasa hanya bisa diam membiarkan Alex pergi.
Di dalam mobil, Alex tak pergi ke club. Dia kini sedang berjalan-jalan di laut. Melepas semua penat yang dia rasakan. Melepas semua rasa sesak di dadanya.
Alex memejamkan matanya, merasakan hembusan angin, kakinya merasakan percikan air dari gulungan ombak. Hatinya berdegup kencang, tanganmu mengepal kuat, betapa Alex mencoba dan terus mencoba tuk mengatasi semua ketakutannya.
Satu demi satu langkahnya semakin menjauh ke dalam air laut, tubuhnya sudah bergetar hebat. Bukan, Alex namanya jika tak keras kepala.
Semakin jauh semakin dalam pula kakinya merasakan pasir di bawah sana. Airnya sudah mencapai perutnya, tangannya terbentang lebar.
"Aku, aku bisa melakukannya! Aku, bisa!" ucap Alex.
Mencoba terus menahan dan terus berusaha menghadapi suatu ketakutan itu sangat sulit. Apalagi itu menyangkut suatu ikatan dan nyawa seseorang.
Dari kejauhan terlihat dua gadis kecil berlari kecil di tepi pantai. Ada kedua orang tua mereka di belakang, dab sosok wanita cantik yang sedang berjalan santai dengan bermain air.
"Sudah sangat lama, aku tak menikmati udara pantai, dan merasakan air laut," batin Zee seraya menyapu air laut dengan kakinya.
Alya dan Gwen sudah duduk dipasir membuat tulisan-tulisan yang membuat mereka senang. Jefty dan Anthony memilih duduk di bawah payung.
Tak lama kemudian terdengar suara orang teriak tapi seakan tertahan oleh sesuatu. Zee menyipitkan matanya saat melihat ada seseorang yang hampir tenggelam hanyut oleh deburan ombak.
"Anthony!" teriak Zee seraya menunjuk ke arah seseorang tersebut.
Anthony yang melihatnya dengan cepat berdiri dan berlari ke sana. Dengan cepat Anthony berenang menyelamatkannya. Zee dan yang lainnya berlari mendekat menunggu dengan cemas.
"Siapa dia? Kenapa sudah besar masih saja tenggelam?" tanya Jefty.
"Entahlah, yang aku lihat dia lelaki dewasa," jawab Zee.
__ADS_1
Alya dan Gwen hanya diam sambil memeluk tubuh Mommy nya masing-masing.
Selang 10 menit, Anthony berhasil meraih tubuh lelaki itu dan membawanya ke arah pantai.
"Uhuk,, uhuk,, uhuk, astaga dia sangat berat," ucap Anthony dengan napas yang tersengal.
Zee membalikkan tubuh lelaki itu, dan sangat terkejut saat melihat siapa orang tersebut.
"Wiliem," ucap Zee tak percaya.
Alya langsung duduk di samping nya menatap dengan lekat wajahnya.
"No, Mommy. This is Uncle Alex," ucap Alya.
"Alex? Kau tahu darimana nak?" tanya Zee.
Entah kenapa, Alya begitu jeli dan mengetahui dengan benar mana Alex dan Wiliem. Sedangkan yang lainnya, tak akan bisa membedakannya.
"Mommy, hati Al tak bergetar saat melihat Uncle. Jika dia Daddy, Alya pasti sudah bergetar," jawab Alya.
Zee begitu terkejut mendengar ucapan dari sang putri. Apakah memang sudah sedekat itu Alya dan Wiliem. Sampai, Alya tahu betul mana Alex dan Wiliem.
Anthony menekan dadanya agar air yang tertelan bisa keluar. Dengan sedikit tenaga akhirnya Alex memuntahkan air tersebut.
"Uhuk,,, uhuk,,uhuk,,"
"Kau tidak apa Tuan?" tanya Anthony.
"Aa-aku tidak apa-apa. Terimakasih, sudah menolongku," ujar Alex.
"Tidak apa-apa, Tuan. Asalkan, kau bisa selamat sudah membuat ku lega," balas Anthony.
Alex menatap kaki kecil di sebelahnya sampai ke atas dan melihat itu adalah Alya. Membuatmu terkejut. Lalu menatap semua orang, ada Zee dan wanita beserta anaknya.
"Uncle, tidak apa-apa?" tanya Alya.
Zee masih tak percaya jika Alya benar-benar bisa membedakan Alex dan Wiliem.
"Tuan, kau bisa memakai baju suamiku. Jika, kau merasa kedinginan," ucap Jefty.
"Tidak, aku akan pulang saja!" seru Alex.
Zee masih diam tak berbicara, sedangkan Alya masih memandang Alex. Entah apa yang di pikirkan gadis kecil itu.
"Mom, kita antar Uncle pulang!" pinta Alya.
"Antar pulang? Kita kan tak membawa mobil, nak," balas Zee.
"Tidak, aku akan pulang sendiri saja. Terimakasih," ucap Alex seraya berdiri.
Alex merasakan pusing di kepalanya dan hampir saja oleng. Untung dengan cepat Zee memegang tangannya.
Mata Alex dan Zee saling berpandangan, jarak mereka begitu dekat. Karena posisinya seperti Zee memeluk Alex dari belakang.
"Kau tak baik-baik saja, Tuan," ucap Zee.
Anthony dan Jefty pun mengerti, membiarkan Zee tuk mengantarkan Alex. Zee memapah Alex berjalan, Alya mengandeng tangan Alex.
"Rasa apa ini? Kenapa, Ibu dan Anak ini membuat hatiku begitu bergetar?" batin Alex.
Alex dan Alya duduk di kursi penumpang, sedangkan Zee mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Wili dan Sofia sedang berada di ruang tamu, berbincang tentang perusahaan. Tiba-tiba Alex masuk bersama dengan Zee begitu juga Alya.
"Alex," teriak Sofia saat melihat Alex yang basah kuyup dengan baju yang penuh pasir.
__ADS_1
"Kau, tak apa? Kau sedang apa di pantai?" tanya Sofia kembali.
Alex hanya diam, dan menatap Wiliem. Dengan cepat Wili mendekati Alex, lalu memapahnya ke dalam kamar.
"Kenapa Alex sampai basah kuyup, apa kau bertemu dengannya di pantai?" tanya Sofia.
"Ya, Nyonya. Saat aku dan Alya sedang berjalan-jalan, aku melihat Tuan Alex tenggelam," jawab Zee.
Sofia begitu sedih, air matanya mengalir begitu saja. Alya menghapus air mata sang Grandma, menggelengkan kepalanya tuk jangan menangis.
"Oh sayang," ucap Sofia memeluk tubuh Alya.
"Jangan, menangis Grandma!" pinta Alya.
Zee tersenyum melihat Alya yang sedang menenangkan Sofia. Sofia sudah seperti sosok nenek yang selama ini Alya rindukan.
"Bunda, lihatlah cucumu! Dia begitu menyayangi Nyonya Sofia," batin Zee.
Tak lama Wili keluar dari sana, Zee masih bingung dia siapa. Tapi dilihat dari wajahnya, sepertinya itu Wiliem.
"Bagaimana, Alex? Apa dia sudah tenang?" tanya Sofia.
"Yes, Mom. Alex sedang istirahat, mungkin dia masih sedikit syok saja," jawab Wiliem.
"Terimakasih, sudah menolong Alex dan mengantarkannnya pulang," ucap Wiliem tersenyum pada Zee.
"Ya, Tuan. Saya dan Alya tak sengaja melihat kejadian itu," jawab Zee.
"Daddy, Uncle tak bisa berenang?" tanya Alya.
Wiliem tersenyum, mengisi lembut rambut panjang Alya.
"Uncle dulu sangat pandai berenang, tapi karena sesuatu hal, Uncle jadi tak bisa lagi berenang," jelas Wiliem.
"Hemm, kenapa Daddy?" tanya Alya polos.
"Alya, stop it!" perintah Zee.
"Sorry, Mommy," ucap Alya.
"Kejadian kelam itu membuat putraku menjadi tak bisa terlalu lama dekat dengan air. Dia akan ketakutan, tubuhnya gemetar, dadanya akan sesak," jelas Sofia.
"Mom, stop! Itu adalah tragedi yang menyakitkan," ujar Wiliem.
Sofia menutup wajahnya, lalu menangis tersedu. Zee dan Alya pun bingung dengan kejadian ini. Akhirnya, Zee memutuskan tuk pamit pulang.
"Aku akan antar, kalian!" seru Wiliem.
Zee mengangguk ia, dan mereka pun pulang. Saat ingin masuk mobil, Alex melihat Zee dan Alya dari balik tirai kamarnya. Terlihat Alya yang tersenyum bahagia dekat dengan Wiliem. Zee pun terlihat lebih santai jika dengan Wiliem.
"Getaran apa yang aku rasakan tadi?" ucap Alex seraya memegang dadanya.
Alex sangat malu, saat mengetahui siapa yang menolongnya, tapi ada rasa nyaman saat Zee dan Alya berada di dekatnya.
Sentuhan Zee seakan es yang mendinginkan tubuhnya, sedangkan tangan mungil Alya membuat hatinya begitu tenang.
"Aku, mohon jangan lakukan ini lagi, padaku!" batin Alex.
Sofia melihat Alex dari balik pintu, rasanya dia ingin sekali meluk putra sulungnya itu. Tapi, apa daya Sofia tak bisa melakukan semacam itu pada Alex. Karena, dia akan sangat benci itu.
"Maafkan, Mommy. Maafkan, Mommy yang membentengi dirimu Alex," batin Sofia dengan menitikkan air matanya.
Alex bukanlah Alex nya yang dulu. Dia sudah menjadi lelaki yang keras kepala, tak suka di kasihani, akan tetapi sebenarnya dialah yang paling rapuh di antara Wiliem dan Sofia.
**Terimakasih karena sudah setia menunggu novelku.. entah kenapa aku harus menunggu lama tuk bisa UP. Karna sistem UP novelku lama harus menunggu 2 hari.
__ADS_1
Jadi, mohon pengertiannya**!!