
Pernikahan Vanya dan Wiliem berjalan dengan harmonis, mereka selalu melakukan apapun bersama, tak pernah terlihaterekaenjauh sedikit pun. Berbedaan usia tak membuat keduanya menjadi masalah.
Hanya saja, Wil akan selalu cemburu jika sedang berada diluar bersama Vanya. Banyak sekali mata lelaki lain yang menatap Vanya. Tak banyak juga yang mengira lw Wil itu kakak dari Vanya, bukanlah suaminya.
Seperti hari ini, Vanya merengek ingin menonton bioskop sejak kemarin dan hari ini Vanya akan memaksa Wil tuk ikut dengan nya. Vanya menjemput Wil ke kantornya, terlihat banyak sekali karyawan yang berlalu lalang disana.
"Ah, semenjak kejadian penusukan itu, Wil tak pernah membolehkanku keluar rumah. Dan sudah sebulan juga aku belum pernah masuk ke dalam kantor ini," gumam Vanya yang sedang menatap gedung tinggi tersebut.
Dengan menarik napas panjang, akhirnya Vanya pun melangkah masuk. Jangungnya berdebar sangat kencang, seakan dirinya akan melakukan interview saja.
"Kenapa kau gugup, An. Ayo tanyakan suamimu!" ucap Vanya dalam hati.
Vanya pun melangkah kearah meja resepsionis dan menanyakan keberadaan Wil.
"Siang, mba," sapa Vanya dengan senyum manisnya.
"Siang, dik. Ada apa?" tanyanya.
"Saya, ingin bertemu dengan Tuan Wil. Apakah dia ada?" tanya Vanya.
"Maksudmu, Tuan Wiliem."
"Ya, kau benar. Apakah dia ada?" tanya Vanya.
"Tuan Wiliem sedang melakukan meeting, kalau boleh saya tahu adik ini siapa?" tanyanya.
"Ku lirik nametag nya tertulis nama Emira, aku tersenyum mengingat kalau aku ini istrinya. Apakah dia akan percaya?" batin Vanya.
"Saya, Vanya. Tolong katakan saja, saya mencarinya!" pinta Vanya.
"Hemm, baiklah. Kau bisa tunggu disana, karema Tuan Wil tak bisa bertemu dengan sembarangan orang," balasnya sinis.
"Baiklah, terimakasih."
Vanya pun duduk di kursi lobi menunggu, Wil. Terlihat Emira menatap tajam Vanya. Dan itu membuatmu tak suka. Hampir setengah jam sudah, tak terlihat Wil keluar dari dalam kantor. Vanya sudah mulai bosan.
"Kenapa dia begitu lama," gumam Vanya cemberut.
Vanya pun kembali menanyakan pada Emira. Apakah Wil ada didalam atau tidak. Tapi, balasan dari resepsionis itu membuat Vabya kesal.
"Apakah, kau sudah memberitahukan padanya jika aku sudah menunggunya sangat lama?" tanya Vanya.
"Dik, kau itu siapa? Banyak yang ingin bertemu dengan Tuan Wiliem sampai satu hari full. Tapi, mereka tidak seperti mu yang tak sabaran. Jadi, kau harus tetap menunggunya!" seru Emira.
"Astaga, apakah ini sikapmu yang memperlakukan tamu dengan sangat tak sopan?" tanya Vanya.
"Kau ini anak kecil. Jangan, sok mengajariku!" sewotnya.
"Kenapa tidak. Kau itu seharusnya lebih bisa sopan dan berbicara dengan nada yang baik. Kau bisa saja menghancurkan repurtasi kantor ini jika sikapmu seperti itu!" hardik Vanya begitu geram.
Saat Vanya akan pergi karena kesana pada Emira, terlihat Alex yang masuk dari luar kantor. Dan berjalan menuju lift pun terhebat karena mendengar keributan dari meja resepsionis.
"Ada apa itu? Kenapa begitu ribut?" tanya Alex.
"Sepertinya tamu, Tuan. Entahlah, gadis itu sepertinya begitu marah."
Alex pun berjalan ke arah meja tersebut. Emira yang melihat itu pun bersandiwara baik dan bertutur kata yang lembut.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Kau bisa kembali besok! Tuan Wiliem sangatlah sibuk hari ini," ucap Emira.
"Huh, kau pintar sekali bersandiwara ya nona!" seru Vanya.
Alex yang semakin dekat pun sangat mengenal suara itu pun menepuk bahunya. Dan terlihat wajah Vanya yang begitu kesal.
"Anya, kau disini?" tanya Alex.
"Kak," panggil Vanya dengan manja.
Vanya tanpa ragu memeluk Alex dengan manja. Alex membalas pelukan dari Vanya, lalu mencium pucuk kepala Vanya dengan penuh sayang.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Wil, kemana lelaki itu? Aku sudah menunggunya sangat lama, tapi tak kunjung datang," jawab Alex.
Dengan sekali tatapan membuat Emira menunduk takut, sedangkan sekretaris Alex dengan segera menelpon keruangan Wil.
"Apakah, dia membuatmu tuk menunggu Wil?" tanya Alex.
"Ya, kau benar. Tapi, sudahlah lupakan saja dia. Nanti aku tambah kesal," jawab Vanya seraya menatap Emira.
Tak lama kemudian terlihat Wil keluar drai lift dan berlari menghampiri Vanya yang masih memeluk Alex. Entah kenapa, Vanya sangat kesal melihat Wil.
"Sorry, honey. Aku tak tahu kau kemari," ucap Wil seraya menarik Vanya dari pelukan Alex.
Membuat, Alex tersenyum lucu pada Wil. Vanya yang sudah beralih ke pelukan Wil hanya diam menatap tajam sang suami.
"Kau sudah membuatnya marah, Wil," ucap Alex seraya pergi masuk kedalam lift.
"Emira, kau tahu siapa dia?" tanya Wil.
"Maaf, pak. Saya tak tahu, karena Nona ini tak memberitahukan siapa dia. Jika saya tahu Nona ini adik anda, saya akan langsung memberitahukannya," jawab Emira.
Vanya tertawa kecil saat mendengar jawaban dari Emira. Namun, semakin membuat Wil kesal.
"Adik? Apa kau tahu, saya hanya mempunyai saudara satu. Dan itu, Alexander saja. Dan Nona ini adalah istri dari Direktur Wiliem Alexander, kau paham!" hardik Wil begitu marah.
Vanya begitu terkejut mendengar, Wil yang sangat marah pada Emira. Vanya memeluk erat Wil, karena dia menjadi takut. Melihat perubahan pada Vanya membuat Wil sadar jika istrinya merasa takut.
"Mulai sekarang kau tahu siapa saja anghita keluargaku!" perintah Wil.
Emira hanya menunduk takut, terlihat juga lelehan air mata di wajahnya. Wil menarik Vanya masuk kedalam lift dan menuju ruangannya. Didalam lift, Vanya masih bungkam tak mengatakan apapun.
"Ahh, aku membuat istriku menjadi takut. Melihatnya menjauh membuatku merasa kesal," batin Wil.
Ting...
Lift terbuka dan mereka ada lantai 20, ruangan khusus Direktur yaitu, Alex dan dirinya. Wil masih menarik tangan Vanya tuk terus mengikutinya. Terlihat sosok wanita seksi nan cantik berada di depan ruangan Wil.
Wanita itu terlihat begitu terkejut melihat Wil membawa gadis muda masuk keruangannya.
"Siapa gadis itu? Apakah dia gadis simpanan Tuan Wil?" batinnya.
"Ahh, tidak. Yang suka memainkan wanita itu kan Direktur Alex, aku juga mendengar jika Tuan Wil itu begitu menjaga perjakanya," gumamnya.
Sekretaris baru yang menggantikan sekretaris lama yang sedang cuti hamil. Dia juga tak tahu jika Wil sudah menikah.
__ADS_1
"Wil lepaskan! Tanganku sakit," rintih Vanya.
Seketika itu juga Wil melepaskan tangannya, memang terlihat jelas lengan Vanya menjadi merah karena genggaman tangannya.
"Sorry, honey," ucap Wil menatap Vanya.
Wil menuntun Vanya tuk duduk, sedangkan dirinya brrjongkok di depan Vanya sambil meniup lengan Vanya. Vanya tersenyum tipis melihat sang suami yang merasa bersalah.
"Aku tak apa, sudah duduklah disamping ku!" pinta Vanya.
Wil menggeleng, dia begitu merasa kesal dan bersalah karena telah membuat istrinya menunggu lama.
"Aku akan marah, jika kau tak menuruti apa kataku!" ancam Vanya.
Wil menatap Vanya yang sudah berani mengancamnya, Wil lalu duduk disamping Vanya. Gadis itu tersenyum senang, lalu dengan cepat memeluk tubuh Wil sampai mereka saling menindih. Vanya begitu keras mendorong tubuh Wil.
"Eh, kau kenapa? Sedang menggodaku?" tanya Wil.
Vanya menggeleng, gadis itu tak bisa menjawab. Jantungnya berdebar kencang karena jarak mereka begitu dekat. Vanya masih belum terbiasa berdekatan dengan Wil. Apalagi kontak fisik, biar pun mereka sudah sebulan menikah.
"Ti-tidak,, aku sungguh tak sengaja," jawab Vanya seraya bangun dari tubuh Wil.
Namun, Wil menahannya dengan memeluk Vanya, gadis itu melotot tak percaya jika suaminya itu begitu mesum.
"Ahh, lepaskan! Nanti, ada orang masuk," ucap Vanya.
"Tidak ada, pintu itu terkunci. Dan hanya aku yang bisa membukannya."
Vanya semakin gugup dibuatnya, wajahnya sudah merah karena malu. Sedangkan, Wil begitu suka melihat Vanya yang seperti itu.
"Lihat, sekarang kau yang menggodaku! Jadi, lepaskan, aku!" pinta Vanya dengan nada manja.
"Baiklah, ada syaratnya."
"Apa itu?" tanya Vanya.
"Cium aku sampai aku mabuk olehmu!" jawab Wil.
Vanya melebarkan matanya, sungguh tak menyangka jika ternyata Wil itu begitu mesum. Vanya terdiam karena, memang selama ini belum melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Vanya mencium Wil dengan sangat lembut, memejamkan matanya, agar tak gugup. Wil tersenyum melihat Vanya yang mau menuruti dirinya. Wil melummat habis bibir sang istri, memberikan sensasi berbeda pada Vanya. Gadis itu terus menerima serangan dari sang suami,
Tangan nakal, Wil sudah mengabsen semua tubuh Vanya, menelusuri dengan sebuah kecupan yang membuat gadis itu mengeliat merasakan suatu yang menggetarkan dirinya.
"Wil," panggil Vanya dengan lirih.
Wil semakin tergoda karena panggilan dari Vanya, suaranya begitu lirih dan disambung dengan desahan. Wil menghentikan aksinya dan terlihat Vanya begitu kecewa.
Wil tersenyum nakal lalu mengangkat tubuh Vanya masuk kedalam sebuah ruangan kecil di balik lemari buku. Tempatnya kecil namun begitu nyaman. Wil merebahkan tubuh sang istri disana, dengan cepat Wil sudah melepaskan baju dan segala atribut pada tubuhnya.
Vanya hanya bisa menelan ludahnya melihat tubuh kekar sang suami, terlihat perut yang sixpack dan tentunya tubuh yang berotot. Wil dengan pelan kembali mengurung tubuh Vanya di bawahnya.
"Apa kau siap, sayang?" tanya Wil dengan suara yang tertahan.
Tak ada jawaban dari Vanya, hanya tatapan sayu di matanya, dan anggukan darinya. Wil tersenyum puas. Akhirnya apa yang dia tunggu selama beberapa bulan ini, akan terwujud dan terlaksana dengan sangat baik.
Bersambung 🍂🍂🍂
__ADS_1