Takdir Cinta

Takdir Cinta
260


__ADS_3

Vanya masih berada di rumah Zee. Karena, Vanya memang berniat menemani Alya sampai Zee dan Alex selesai berbulan madu.


Malam itu, Alya sudah tertidur dengan lelap. Berbeda dengan Vanya yang masih terjaga dengan segala pikirannya. Gadis kecil itu kini sudah tumbuh menjadi dewasa dengan usianya yang masih belia.


Intan dan Aldo pun sudah tiada saat usia Vanya delapan belas tahun. Entah kenapa, ketiga pasangan itu meninggal dengan jarak yang tak terlalu jauh, persahabatan mereka benar-benar sehidup semati.


Jam sudah menunjukkan pukul 23.15 waktu Finlandia. Terdengar suara deru mobil dari depan rumah. Vanya mengintip dari jendela kamar, terlihat Zee dan Alex baru saja turun dari mobil.


Vanya tersenyum, lalu bergegas keluar tuk membukakan pintu tuk kedua kakaknya tersebut.


Zee dan Alex baru saja akan mengetuk pintu, tapi ternyata Vanya sudah membuka terlebih dahulu. Membuat Zee dan Alex begitu terkejut.


"Astaga, Anya. Kau membuat aku terkejut," pekik Zee.


Vanya hanya tersenyum kuda lalu memeluk tubuh sang kakak, lalu berpindah memeluk tubuh Alex.


"Kau, baik-baik saja dengan Alya?" tanya Alex.


"Ya, kami baik. Bagaimana, liburan kalian?" tanya Vanya balik.


"Kami, sangat baik. Dan mudah-mudahan saja beberapa bulan lagi. Ada Alex junior," jawab Alex.


"Wow,," pekik Vanya begitu riang.


Sedangkan, Zee mencubit perut Alex yang ikut tertawa riang bersama Vanya.


"Sudah-sudah ayo kita masuk!" perintah Alex.


Alex merangkul Zee dan Vanya bersamaan. Terlihat Alex sudah bisa mengikuti tradisi keluarga Zee. Yang harus bisa menyayangi adik-adiknya, walaupun itu bukanlah adik kandung.


"Wajah mereka sama, semua yang ada pada mereka itu sangat mirip. Tapi, kenapa aku biasa saja saat kak Alex memelukku. Berbeda saat, aku di peluk oleh Wiliem. Ada apa denganku?" tanya Vanya pada diri sendiri.


Malam itu, Vanya begitu senang dan akhirnya mereka begadang sampai dini hari. Mendengar cerita seru antara Zee dan Alex tentang liburan mereka. Ya, tentunya itu semua cerita bohong yang mereka buat-buat. Zee, sangat tahu watak Vanya seperti apa. Apalagi, itu masalah Zyvia dan pastinya menyangkut Alfa. Karena, Alfa adalah kakak yang paling Vanya sayangi, melebihi dia menyayangi Samudra.


"Sudahlah, pergi tidur sana! Kau akan sangat mengantuk pagi nanti," perintah Alex.


"Hoaamm, kau benar kak. Aku sudah sangat letih dan sangat lelah tertawa. Aku akan tidur," balas Vanya.


Zee memberikan pelukan pada Vanya dan mencium pipinya. Sedangkan, Alex hanya diam saja. Membuat Zee menyenggolnya tuk memberikan pelukan dan kecuali sayang.


"Kemarilah! Aku lupa jika sekarang mempunyai adik perempuan!" perintah Alex.


Vanya hanya tersenyum, lalu beranjak memeluk Alex. Alex memberikan kecupan di kepala Vanya.


"Terimakasih, kak," seru Vanya seraya tersenyum.


Vanya pun masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Alex dan Zee masih berada di ruang tengah.


"Kau harus segera terbiasa dengan tradisi keluargaku, karena dengan seperti itu kita mengungkapkan kasih sayang kita," ucap Zee.


"Aku kira pelukan dan ciuman pengantar tidur itu hanya tuk anak usia Alya," balas Alex.


"Tidak. Asal kau tahu, dulu aku lah yang paling manja, saat itu usia ku juga sudah dua puluh satu tahu. Tapi, Zyan, Sam, dan Alfa masih memberikan itu padaku. Sampai saat, kak Ken menjadi suami kak Ara pun, dia melakukan itu padaku," jelas Zee.


"Kasih sayang seperti itu sungguh sangat langkah. Dan, aku melihat itu dari keluarga besarmu saat pernikahan kita," ucap Alex.


"Kau tahu, Lex. Alfa itu sangat dingin, cuek, dan sangat pendiam. Tapi, jika bersama dengan kak Ara dia menjadi sosok yang begitu manja, begitu ceria. Dia pun sangat berani pada siapa pun jika ada yang melukai kak Ara. Sampai, suatu hari kak Ken membuat Kak Ara menangis. Dan detik itu juga, Alfa memukul kak Ken. Alfa juga yang paling sering mencium bibir kak Ara," jelas Zee, mengingat akan cerita Ara.


Alex memeluk tubuh sang istri, mencium keningnya dengan begitu lembut. Zee memeluk tubuh kekar sang suami.


"Aku akan belajar melakukan itu semua, aku akan mencoba membuat kebahagian tuk dirimu dan semua keluargamu, aku janji akan itu," ucap Alex.


"Terimakasih, sudah hadir dalam hidupku," balas Zee seraya mencium bibir Alex sekilas.


Alex menggendong tubuh Zee masuk ke dalam kamar mereka. Mengistirahatkan sejenak tubuh mereka.


*****************************


Keesokan paginya, Alya sudah terbangun. Saat membuka pintu kamar, dia mencium aroma masakan yang sangat dia kenal.

__ADS_1


"Mommy, pasti sudah pulang!" serunya dengan berlari.


Alya berlari menuruni tangga dan terjadi insiden.


Brugghh


Tubuh Alya terguling dari lantai atas, sampai ke lantai bawah. Membuat Alex yang baru saja keluar dari kamar berteriak sambil berlari.


"ALYA....!!" teriak Alex seraya menompang tubuh Alya. Darah sudah keluar dari kepalanya.


Zee dan Vanya yang sedang berada di kamar dan dapur lun berlari menghampiri Alex yang berteriak.


"Al, bangun sayang! Buka matamu!" pinta Alex dengan nada yang cemas.


Zee dan Vanya tak kalah histerisnya melihat keadaan Alya. Zee langsung terpuruk lemas dia lantai sambil menangisi sang putri.


"Al, sayang. Bangun, nak! Ini Mommy," ucap Zee dengan gemetar.


Vanya menelpon rumah sakit, tapi tak ada respon karena memang saat itu masih begitu pagi. Vanya berlari keluar tuk meminta bantuan, ternyata di luar ada Wiliem yang baru saja turun dari mobil.


"Wil, help me. Please!" pinta Vanya dengan menangis.


Wiliem yang melihat, Vanya menangis pun berlari ke arahnya dan memegang pundak Vanya.


"Ada apa? Katakan padaku!" pinta Wiliem.


Belum Vanya menjawab, Alex dan Zee keluar membawa Alya yang tak sadarkan diri dengan darah di kepalanya.


"ALYA,,," teriak Wiliem melihat sang putri.


"Cepat, cepat bawa mobilnya. Alya sudah banyak mengeluarkan darah!" perintah Alex.


Wiliem pun berlari membukakan pintu tuk Alex dan Zee. Sedangkan Vanya dan Wiliem duduk di depan. Wili mengemudikan mobil dengan sangat cepat, untungnya pagi itu jalanan begitu sepi. Jadi, membuat perjalanan mereka sangat cepat.


Wiliem membawa Alya ke rumah sakit yang memperkerjakan Ken. Saat Alex turun dari mobil, Ken baru saja akan keluar rumah sakit dengan wajah yang sangat lesu.


"Kak Ken, tolong Alya!" seru Vanya dari kejauhan.


"Al, putriku," seru Ken begitu panik.


Alex menghampiri Ken dengan wajah cemas. Zee masih menangis menatap Alya.


"Bawa Alya ke UGD! Cepat, Alex!" perintah Ken begitu cemas.


Suster pun berdatangan, mereka memeriksa keadaan Alya. Ken begitu cemas melihat darah yang masih keluar dari kepala Alya.


Ken dengan segera melakukan operasi kecil pada Alya. Agar darah itu tak lagi keluar. Setelah satu jam berlalu, Ken pun keluar dengan rasa lega. Terlihat wajahnya tak setegang tadi.


"Kak, Alya bagaimana?" tanya Zee masih menangis.


"Tenanglah! Dia sudah lebih baik, darahnya sudah tak lagi keluar. Hanya saja ada sebagian tulang di kakinya yang retak," jawab Ken.


"Retak, apa Alya tak bisa berjalan?" tanya Vanya.


"Kita masih belum tahu, tapi tuk sekarang Alya tak bisa berjalan. Jika, Alya sudah sadar aku akan memeriksa kakinya lebih lanjut. Berdoalah, semoga kondisinya tak parah!" pinta Ken seraya menepuk bahu Zee.


"Kak tolong berikan pemeriksaan yang terbaik tuk Alya!" pinta Alex.


"Tanpa kau pinta, aku akan melakukan yang terbaik tuk putriku. Jadi, sekarang yang harus kau lakukan tenanglah istrimu!" seru Ken.


Alex mengangguk ia, Ken pamit tuk pulang sebentar. Ara akan mengganti dirinya tuk pagi ini, karena sudah dua malam Ken melakukan operasi besar. Itu sangat menguaras tenaganya.


"Hati-hati kak. Apa perlu Wiliem mengantar mu?" tanya Alex.


"Tidak. Terimakasih, ada supir yang akan mengantar ku," jawab Ken.


Ken menghampiri Vanya yang masih menangis sambil menatap Alya dari jendela kaca. Ken mengusap lembut rambut Vanya.


"Anya," panggil Ken.

__ADS_1


"Kak, bagaimana dengan Alya? Kenapa anak itu masih belum bangun juga?" tanya Vanya serah berbalik menatap Ken.


"Sudah tidak apa-apa. Alya, masih terkena pengaruh obat saja. Sebentar lagi juga akan siuman. Sudah jangan menangis!" ujar Ken.


Vanya memeluk Ken, sedangkan Ken mencium pucuk kepala Vanya memeluk sang adik terkecilnya dengan sayang.


"Kakak akan pulang. Ara akan menggantikan kakak disini, jadi jangan cemas lagi!" pinta Ken.


"Baiklah, kak," balas Vanya.


Siang hari, Alya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Gadis kecil itu masih saja tertidur, semua keluarga berdatangan mendengar Alya yang terjatuh dan masih belum siuman.


Abigail yang sedang mengandung pun sampai datang dengan tangisannya. Membuat, Zee khawatir dengannya dan bayi yang berada di dalam perutnya.


"Kenapa kau membawanya kemari?" tanya Zee pada Sam.


"Kau lihat sendiri, dia menangis tanpa henti. Dan itu membuatku, pusing dan takut akan keadaan bayi kami," jawab Sam.


"Kau melarangku tuk menemui anakku?" tanya Abi dengan nada sewot pada Zee.


Zee terkejut karena, Abi malah marah pada dirinya. Padahal, Zee bermaksud baik karena khawatir padanya dan kandunganya.


"Tidak. Tidak, seperti itu Abi. Alya akan anakmu mana mungkin aku melarangmu," ucap Zee dengan terbata.


Semua orang hanya bisa tersenyum melihat sikap Abi yang menjadi sensitif. Sam menatap Zee dengan meledeknya.


"Ya sudah. Biarkan aku masuk!" perintah Abigail.


Ara yang melihat itu pun mengangguk ia. Membolehkan Abi tuk masuk terlebih dahulu.


"Aish, kenapa Abi menjadi sensitif seperti itu?" tanya Zee.


"Oleh karena itu, aku hanya bisa mengala padanya. Dia begitu keras kepala," jawab Sam.


"Zee, dia tak seperti dirimu yang begitu biasa. Hormon kehamilan Abigail sangatlah sensitif," ucap Ara.


"Ya, karena dulu memang aku tak merasakan mau atau pun sensitif seperti itu," balas Zee.


Vanya berjalan menghampiri Sam, dengan begitu manja Vanya langsung memeluk tubuh Sam. Sam memberikan ciuman di seluruh wajahnya termasuk bibir Vanya sekilas. Vanya tersenyum mendapatkan semua ciuman itu. Sedangkan, Wiliem hanya terbengong melihat tingkah Sam pada Vanya.


"Kenapa mereka begitu romantis? Apa benar mereka itu kakak beradik, aku lihat mereka tak mirip sama sekali," batin Wiliem.


Mata Wiliem masih menatap lekat pada Vanya yang masih berada di pelukan Sam. Sam sama sekali tak mau melepas pelukannya dari sang adik.


"Kau mau sampai kapan tinggl di rumah Zee?" tanya Sam.


"Aku baru saja akan pergi ke rumah kakak, pagi ini. Tapi, terjadi kejadian seperti ini. Jadi, biarkan aku tetap tinggal disana sampai Alya sembuh ya kak!" pinta Vanya memohon.


Alex dan Zee melihat Vanya dengan tatapan terharu. Sam melihat ke arah Zee dan mendapatkan anggukan darinya.


"Baiklah, jangan menyusahkan mereka," seru Sam.


"Tak akan, aku akan membantu kak Zee merawat Alya," balas Vanya.


Zyan yang sedari tadi diam saja, ternyata memperhatikan Wiliem. Melihat mimik wajah, Wil yang berubah saat melihat Sam dan Vanya berinteraksi.


"Apa, lelaki itu menyukai Vanya?" gumam Zyan sambil tersenyum tipis.


Zyan melihat ke arah, Vanya yang masih begitu manja di usianya yang sudah dewasa mengingatkan dirinya tentang Zee sepuluh tahun lalu.


"Sepertinya, Sam akan segera menikahkan adiknya," ucap Zyan.


"Menikah? Kau berbicara apa, Oppa?" tanya Kiara bingung.


"Coba kau lihat ekspresi dari Wili. Tatapannya terus tertuju pada Vanya!" seru Zyan.


Kiara pun melihat ke arah Wiliem, dan benar saja wajah Wili begitu berbeda. Kiara tersenyum melihat semua itu.


"Kau benar, adik kecil kita sekarang sudah dewasa menjadi wanita yang cantik. Mana mungkin pesonanya tak menarik hati dari Wiliem Alexander," ucap Kiara.

__ADS_1


Wiliem dan Vanya mungkin masih belum bisa mengartikan apa yang sekarang mereka rasakan. Mereka hanya merasa nyaman dan begitu asyik saja jika bersama. Entah kapan mereka akan menyadari sebenarnya apa perasaan di dalam hati mereka.


__ADS_2