
Sehari itu Zee kembali kerumahnya,air mata yang sudah beberapa tak lagi mengalir. Kini mengalir deras kembali, semua kejadian sepuluh tahun lali itu membuka luka lama yang sudah sangat Zee kunci rapat-rapat.
"Jadi itu sebabnya, kenapa jika aku bersama dengan Alex rasanya begitu nyaman? Setiap kata-kata kasarnya seakan angin lalu tuk ku, dia dia sama seperti dirimu Al. Dan ternyata ada dirimu dalam dirinya?" batin Zee menetap fotonya dengan Alfa.
Zee mengingat seperti apa hari-harinya saat Alfa tiada. Dia berjuang sendiri, mereka segala rindu, mencoba memalingkan wajahnya pada Alfa tapi tak bisa. Rasa cinta yang begitu besar, hidupnya hanya Alfa seorang, kesetiaannya selalu dia jaga. Sampai akhirnya di tahun ke sepuluh, hatinya di goyahkan oleh sosok kembar Wiliem dan Alex.
Kucoba mengerti
Siapa diriku
Di dalam hidupmu
Apa maunya lagi
Jika kau tak mampu
Mengingin cintaku
Biar berat 'ku menghadapi
Tidak 'kan kuulangi
Meminta hatimu
Tak pernah kusesali
Hadirmu di hatiku
Walau hariku
Aku jalani tanpa dirimu
Diam tanpa bicara
Harus bagaimana ingin kulewati
Walau diriku
Tanpa dirimu
Penulis lagu:
Lirik Tiada Dirimu ©
Zee memeluk erat foto itu, menatap semua foto yang tergantung di setiap sudut rumahnya.
"Aku akan menjalani hidupku tanpa dirimu, atau pun tanpa Alex. Itu akan sama saja! Aku hidup hanya tuk cinta mu yaitu Alya," ucap Zee.
Tak,, tak,, tak,,, terdengar suara sepatu yang berlari masuk ke dalam rumahnya. Zee berbalik menatap siapa yang datang, matanya membulat sempurna tak percaya siapa yang kini ada di hadapannya.
Alex menatap dirinya dengan tatapan yang tak di mengerti oleh Zee, napasnya naik turun. Alex berjalan mendekati Zee, dan langsung menarik Zee ke pelukannya. Mencium Zee dengan begitu saja, Alex terus melummat bibir sang kekasih hati tanpa memberi kesempatan Zee membalasnya.
Air mata Alex mengalir begitu saja, saat berciuman, membuat Zee mendorong tubuh Alex.
"Kau menangis? Ada apa?" tanya Zee cemas seraya menangkuo wajah Alex.
Alex tak menjawab, dia hanya diam dan menciumi tangan Zee. Zee begitu khawatir pada Alex.
"Ada apa, cepat jawab aku!" pinta Zee.
"Jangan lupakan aku! Jangan menjauh dariku, aku tak bisa lagi merasakan mati tanpa adanya dirimu," ucap Alex lirih.
Zee tersenyum mendengar kata-kata Alex. Air matanya mengalir deras karena bahagia. Zee mencium bibir Alex membiarkan semua perasaannya mengalir begitu saja. Membiarkan lelaki ini menguasai dirinya.
Senk di sore itu menjadi saksi bisu penuatuan kembali insan yang di mabuk asmara itu, sinarnya membuat suasana menjadi semakin romantis. Nyanyian di kala senja itu pelengkap akan terjadinya kehidupan baru.
Alex dan Zee masih bergumul di balik selimut, sampai terdengar nada manja dari Zee meminta Alex tuk melepaskannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku! Aku sangat lelah," ucap Zee begitu manja.
"Kau mau kemana? Aku kan hanya memintamu tuk diam saja!" seru Alex.
"Sebentar lagi akan malam, Aku sampai lupa menjemput Alya dari sekolah," balas Zee.
"Jangan bodoh. Al sekarang ada dirumah kak Ara dan sedang bersama kakak-kakaknya," ucap Alex begitu santai.
Zee menatap wajah Alex, mengerutkan keningnya penuh tanya.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau akan merasakannya lagi, dan berteriak ampun!" seru Alex serah memejamkan matanya.
"Aish, dasar mesum. Kau sudah menyiksaku berkali-kali," ujar Zee.
Alex memeluk tubuh polos Zee, mengusap punggung sang kekasih. Sedangkan Zee mengusap dada bidang Alex yang terdapat tato disana.
"Kenapa, kau men tato dada mu?" tanya Zee.
"Entahlah, aku hanya ingin menutupi luka itu. Bukan karena aku tak suka, tapi lebih trauma saja," jawab Alex.
Zee semakin mendekati wajahnya di dada Alex, mencium luka operasi itu lalu menempelkan telingannya tepat disana.
"Ada kau dan dia disana, ada cintaku disana, dan sekarang kekasihku ada disini," ucap Zee seraya menatap wajah Alex.
Alex mencium kening Zee, menangkup wajah ayu sang kekasih. Mencium kilas bibir pink Zee.
"Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya, aku ingin menua bersamamu, aku ingin kau melahirkan banyak anak dan adik tuk Alya," ucap Alex.
Zee tersenyum, air matanya mengalir deras. Ini air mata kebahagian, Zee mencium bibir Alex sekilas.
"Aku, aku bersedia melakukannya dengan dirimu, dan akan selalu bersamamu," balas Zee.
"Terimakasih, Zee sudah mau menjadi sosok wanita hebat tuk hidupku," ucap Alex.
"Ya, terimakasih kembali telah menjaganya hanya tuk ku!" seru Zee.
Alex benar-benar tak membolehkan Zee turun dari ranjang sama sekali. Membuat Zee kesal saja, sore sudah berganti dengan malam. Akhirnya setelah Alex tertidur pulas karena kelelahan telah menerkam Zee begitu lama. Zee memutuskan tuk mandi dan berendam air hangat, tubuhnya seakan remuk karena ulah Alex yang tak memberinya istirahat sama sekali.
"Ahh, dasar Alex. Kenapa dia begitu banyak meninggalkan jejak di tubuhku?" ucap Zee melihat tubuh putihnya berubah menjadi merah.
Alex begitu mengila saat di atas ranjang. Dia menandai seluruh tubuh Zee, bahkan bagian dada Zee yang begitu putih berubah menjadi merah.
"Apa dulu Alex juga melakukan hal yang sama dengan wanita-wanita itu?" gumam Zee merasa cemburu.
Zee sedang asyik mengosok tubuh nya di bawah guyutan shower. Sampai terasa lengan kekar yang melingkar di perutnya.
Alex menempelkan tubuhnya di punggung Zee, menghirup aroma tubuh Zee yang sangat dia sukai. Mencium ceruk leher Zee.
"Jangan mulai lagi, aku sungguh lelah! Kau mandilah!" pinta Zee.
Tapi Alex tak mendengarkan apa yang di katakan Zee. Dia begitu asik dengan tubuh Zee, dan itu membuat juniornya menjadi gagah kembali.
"Zee," panggil Alex dengan suara serak.
"Apa?" tanya Zee seraya berbalik. Dan begitu terkejut saat melihat junior sudah berdiri tegak dengan wajah Alex yang sudah merah menahan gejolak napsunya.
Zee langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dan itu membuat Alex kesal, seraya berkata dengan marah.
"Kenapa kau menutup wajahmu? Bukannya kau sudah melihat semuanya?" tanya Alex.
"Astaga, Alex kau benar-benar mesum sekali! Sudah awas minggir, aku tak mau di terkam lagi oleh mu!" perintah Zee seraya beranjak keluar dari kamar mandi.
"Aahhh,,, Zee. Kembalilah, ini sungguh akan menyiksaku!" serunya dari dalam.
Zee hanya tersenyum melihat Alex yang begitu frustasi dengan juniornya. Akhirnya Alex mandi dengan guyyran air dingin.
"Kenapa pesonanya begitu mengila. Aku sampai tak bisa menahannya jika berada di dekatnya," ucap Alex.
__ADS_1
Alex menahan rasa dingin itu, setelah itu kembali berendam agar menghangatkan tubuhnya. Sekitar lima belas menit, baru lah Alex keluar dari kamar mandi.
Melihat kamar yang sudah sangat rapih, padahal kamar itu tadinya sudah seperti kapak pecah. Dan semua itu ulah dari dirinya, Alex tersenyum saat mengingat dirinya benar-benar tak bisa melepas Zee barang sedetik pun.
"Aku akan menyakitinya, Lex. Kau harus bisa menahannya tuk beberapa waktu kedepan," serunya serah memakai pakaian yang sudah Zee siapkan.
Setelah semuanya selesai, Alex keluar kamar tuk mencari Zee. Tapi malah Alya yang di temui, terlihat banyak orang di ruang tengah. Alex begitu terkejut saat melihat keluarga besar Zee semuanya berkumpul.
"Ini dia orangnya. Tak tahu sopan santun sekali, membuat semua orang menunggu!" seru Sam.
Glek,
Alex begitu terkejut, apalagi ini kali pertama Alex bertemu dengan Sam. Sedangkan Ken dan Zyan begitu santai menatap Alex.
"Maaf semuanya kami telat," seru Wiliem yang baru masuk ke dalam bersama dengan Sofia.
"Daddy," teriak Alya seraya berlari memeluk Wiliem.
"Astaga, anak kecil itu. Masih memanggil Wiliem dengan sebutan Daddy, aku kan kekasih Ibunya," gerutu Alex.
Alex berjalan menghampiri Sofia, mencium kening sang Mommy. Lalu duduk bersama, terlihat Zee baru saja keluar dari dalam dapur.
"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Zee.
"Sepertinya sudah, bibi," jawab Rino.
"Terimakasih sayang, jika begitu kita makan sekarang saja!" pinta Zee.
"Anak-anak kalian pergilah makan dahulu. Kami ingin mengobrol sebentar!" perintah Zyan.
Rio dan Rino pun mengerti apa yang di ucapkan Zyan. Menggiring adik-adiknya pergi keruang makan.
Kiara mengisi lengan Zyan tuk memintanya tenang. Zyan pun mengangguk ia, lalu menatap Zee tuk mendekat.
"Jadi kau sudah memilih siapa yang akan menjadi lelakimu?" tanya Zyan.
Alex yang mendengar itu pun berkesiap, menatap Zee dan Zyan. Sedangkan Wiliem tersenyum melihat Alex yang gugup.
"Aku, aku tak tahu. Dan seperti aku juga harus memastikannya kembali," jawab Zee.
Alex mengerutkan dahinya. Membuat alis tebalnya menyatu. Dia tak mengerti apa maksud jawaban dari Zee.
"Jika seperti itu, aku harus menanyakan langsung padanya. Bagaimana, Tuan Alexandes? Apakah kau akan menikahi Zee atu tidak?" tanya Sam dengan nada tegas, seraya menatap tajam pada Alex.
"Pertanyaan macam apa ini? Tentu saja aku akan menikahnya, bagaimana bisa aku tak menikahinya," jawab Alex tak kalah tegasnya dari Sam.
Jawaban dari Alex membuat jantung Zee seakan lepas, Ara dan Kiara tersenyum bahagia mereka memeluk Zee bersamaan.
"Baiklah, berikan ini sebagai tanda keseriusanmu!" pinta Sam seraya memberikan kotak berwarna biru pada Alex.
Alex menatap semuanya, dan mendapatkan anggukan dari semuanya, termasuk dari sang Mommy.
Alex membuka kotak itu, terdapat sepasang cincin yang indah disana. Terdapat sebuah ukiran di dalam cincin itu. "Al-Zee"
Alex menatap Zee, dan berdiri menghampirinya. Memanfaatkan cincin itu dengan hati yang berdebar, sedangkan Zee tersenyum manis menerima cincin itu.
"Aku sudah melakukannya. Aku sudah memakaikan cincin yang berusia sepuluh tahun itu pada kekasihmu. Dan kini akan menjadi istriku," batin Alex seraya mencium kening Zee.
"Al, terimakasih atas keseriusanmu padamu. Aku telah memakai tanda ikat ini. Kau akan tetap menjadi kekasihku, karena di relung paling dalam hatiku kaulah yang bertahta," batin Zee.
Semua orang bergembira menyaksikan takdir cinta yang begitu banyak rintangan. Menyatukan kisah cinta yang telah bersatu setelah sekian lama berpisah.
*Sudah bersatu,,, cinta kesetiaan Zee berbuah manis. Dia mendapatkan cintanya kembali.
Bye,,, semuanya... Kisah ini sudah berakhir dengan Happy Ending.
Terimakasih semuanya 😇 😇 😇 🙏 🙏
__ADS_1