Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 338


__ADS_3

Wiliem kembali memilih pergi dan tidak menemui Vanya. Entah apa yang di pikirkan oleh lelaki itu saat itu, Zee dan Alex yang sudah tahu permasalahannya pun hanya bisa mencoba tegar dan tenang demi melihat Vanya tidak sedih kembali.


Wilem membawa mobil yang dia pinjam dari penyewa mobil di hotel tersebut dan terus mengemudikannya ke tempat dimana permasalahan itu terjadi. Wiliem sudah sangat geram akan apa yang sudah terjadi dengannya dan juga Vanya.


“Aku akan menemukan jawabannya dari sini dan akan segar menyeselaikan masalah ini dengan Vanya,” gumamnya saat sudah berada di depan club tersebut.


Wiliem masuk begitu saja tanpa menghiraukan tatapan dari semua wanita mawar disana,  Wiliem mencari sosok mammy di tempat itu dan akhirnya setelah perdebatan alot dengan ajudannya, Wilem di perbolehkan msuk ke dalam ruangan pribadi sang mammy.


“Ada apa Tuan kemari?” tanya wanita paruh baya itu.


“Apa kau ingat dengan diriku dan tolong kau lihat siapa wanita yang ada di foto ini! Mungkin kau kenal dengannya,” jawab Wiliem seraya menyerahkan foto tersebut.


Kening wanita itu mengerut melihat foto tersebut dan terlihat suatu ke khawatiran pada dirinya. Mammy itu pun membisikkansesuatu pada ajudannya dan entah kenapa ajudannya itu langsung pergi keluar tanpa berkata apa pun.


“Aku akan memberitahukan semua info yang kau mau, tapi di sini tidak ada yang gratis Tuan,” ucap mammy.


Wiliem mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya dan terlihat amplop itu begitu tebal dan mampu membuat wanita paruh baya itu tersenyum lebar saat melihat isi dari amplop tersebut.


Tak lama terlihat ajudan itu membawa seorang wanita muda yang seksi bersamanya. Wanita muda itu terlihat takut saat melihat Wiliem dan itu membuatnya merasa heran.


“Mammy, ampun jangan sakiti aku! Aku tidak tahu jika Tuan ini adalah lelaki dari Nona Lau,” ucapnya memohon dengan suara bergetar.


“Nona Lau, siapa maksudmu? Jadi wanita yang ada di dalam foto ini bukan dirimu?” tanya Wiliem menunjuk foto yang berada di atas meja.


“Bu-bukan, Tuan. Itu bukan saya, tapi Nona Lau yang membawamu pergi. Tuan tolong maafkan saya, saya sudah bersalah dengan anda!” pinta wanita itu sampai berlutut di depan Wiliem.


“Apa yang kau bicarakan, katakan dengan jelas! Aku akan memikirkannya tuk memaafkanmu atau tidak setelah kau menceritakan semuanya padaku!” perintah Wiliem dengan nada keras.


Wanita menceritakan semuanya dan membuat Wiliem terkejut dengan semua kenyataan itu. Lelaki itu keluar dari club dengan langkah gontai, air matanya mengalir deras karena mengingat dengan apa yang sudah keluar dari mulutnya, mengingat akan pemikirannya yang jahat dan mengingat apa yang dia lakukan pada istrinya.


“Anh, maafkan aku! Aku yang sudah bersalah denganmu, aku yang sudah berdosa di sini, aku yang telah berkhianat darimu,” ucap Wiliem dengan menangis.


Wiliem pun teringat akan Laudya yang tidak terlihat sejak kejadian itu, Wiliem semakin geram dengan apa yang sudah dia dan Laudya lakukan.


“Kemana Laudya, kemana wanita itu pergi? Aku harus menemuinya dan meminta penjelasan darinya!” seru Wiliem yang langsung menancapkan gas mobilnya dan membawanya pergi dari tempat itu.


Di lain tempat, Laudya yang terus-terusan di paksa tuk mengakui perbuatan yang sama sekali bukan dirnya pun menyerah dengan apa yang di lakukan oleh Roy padanya.


“Sudah lepaskan dia! Sepertinya memang bukan Laudya yang melakukan itu, “ ucap Roy.


Laudya yang di rendam di air es itu pun sudah lemas dan tidak sadarkan diri. Lauren yang melihat itu hanya menatapnya sekilas tak terlihat rasa kasihan di matanya, Roy pergi meninggalkan kolam tersebut.


“Nona, mau kita apakah dia?” tanya pelayan.


“Ganti bajunya dan berikan dia makanan dan minuman tuk menghangatkan tubuhnya!” perintah Lauren.


“Baiklah, Nona.” Pelayan itu pun akhirnya membawa Laudya masuk ke dalam kamarnya dan melakukan


perintah yang sudah dia dapatkan.


“Aku harus menemui pamanku, kau jaga dia! Ingat, lakukan dengan baik. Buat dia mengatakan semuanya!” perintah Roy.


“Baiklah, Taun Muda.”


Roy yang masih belum bisa menemukan siapa yang memotret dirinya dan Vanya pun terus berpikir jika


dia sepertinya sudah di ikuti dan mungkin saja setiap gerak geriknya sudah di intai.


“Siapa dia, kenapa dia mengambil fotoku dengan Vanya dnegan posisi seperti itu?” tanya Roy pada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai olehnya berhenti di depan loby rumah sakit. Roy berjalan begitu saja tanpa melihat Alex dan Zee yang juga berjalan di sampinganya. Takdir memang selalu mempermainkan manusia tanpa mereka sadari sudah terperangkap dalam labirinnya.


Zee dan Alex yang sudah berada di depan ruangan Vanya pun berhenti di depan pintu saat mendngar


suara gelak tawa Vnaya dari dalam. Zee dan Alex saling berpandangan mendengar itu, mereka mengintip dan terlihat ada Wildan dan Vanya yang sedang bercengkerama sambil bergurau.


“Suara tawa itu sudah sangat lama aku tidak mendengarnya,” gumam Zee dengan mata yang berkaca-kaca.


Alex merangkul tubuh sang istri dan ikut merasa senang melihat Vanya yang sudah sedikit membaik karena tidak lagi menangis. Ken yang baru saja dari kantin merasa aneh melihat Zee dan Alex yang berada di depan pintu ruangan Vanya dan tidak memilih masuk.


“Sedang apa kalian?” tanya Ken mengagetkan keduanya.


“Aish, kakak!” seru Zee seraya mengusap dadanya yang berdetak kencang karena terkejut.


“Apa? Kalian sedang apa. Ayo masuk!” ajak Ken seraya membuka pintu tersebut.

__ADS_1


Wildan dan Vanya pun berhenti tertawa saat melihat siapa yang masuk, Alex yang  sudah mengetahui apa yang terjadi pada Vanya pun memilih diam dan tidak mendekatinya.


“Kak Zee, Kak Alex,” panggil Vanya dengan senyumannya.


“Kau terlihat sudah lebih baik sayang,” ucap Zee seraya memeluknya sekilas.


Alex masih berdiri di tempatnya dan hanya melihatnya saja dari jauh dengan tersenyum, Vanya memanggilnya dengan melambaikan tangannya tuk mendekati.


Alex yang melihat itu berjalan mendekati sang adik langsung memeluknya dan mencium keningnya dengan penuh sayang. Vanya memeluk erat tubuh Alex.


“Aku ingin pulang ke rumah, bawa aku kembali pulang!” pinta Vanya dengan nada lirih.


“Tentu sayang, kau sembuhlah terlebih dahulu! Aku akan segera membawamu pulang detik itu juga,” balas Alex.


Zee menatap Ken dan Wildan dengan raut wajah yang sedih, membuat Ken khawatir dan mendekati


sang adik dan merangkulnya.


“Ada apa, Zee?” tanya Ken berbisik.


Zee tidak menjawab dan hanya memeluk tubuh Ken dengan erat, Wildan mengangguk dan mengatakan ingin berbicara dengan Alex tentang kondisi kaki dari Vanya. Vanya yang mendegar itu hanya mengangguk ia.


Mereka pergi ke ruangan Wildan, Zee menceritakan semuanya dan melihat ekspresi dari Ken dan


Wildan membuatnya merasa kecewa karena ternyata dia adalah orang terkahir yang tahu apa aynyg sudah di lakaukan oleh Wiliem.


“Zee, maaf karena tidak memberitahukan itu padamu. Kami sedang mencari bukti siapa yang sudah


melakukan kelicikan ini, aku berpikir kalau semua ini adalah kerjaan dari Laudya,” ucap Wildan.


“Laudya, apa hubungannya dengan wanita itu?” tanya Zee heran.


“Apa kalian masih belum tahu siapa wanita di foto itu?” tanya Ken.


Alex dan Zee menggeleng karena memang mereka tidk tahu karena wajahnya tertutup, Wildan membuka laci meja kerjanya dan memberikan bebrapa foto yang sempat di antarkan oleh Elina dan Arga.


“Astaga!” pekik Zee menutup mulutnya.


Alex terlihat begitu geram dan marah melihat foto yang melihatkan Wiliem terus mencubui Laudya di lorong hotel. Tangannay mengepal dengan kuat, Ken dan Wildan hanya saling pandang.


“Brengsekk kau Wil, sudah membuat malu dengan tingkahmu,” ucap Alex dengan sangat marah.


“Tidak, aku akan memberitahukannya jika kesehatannya sudah membaik,” jawab Ken.


Di kamar lain yang bersebrangan dengan Vanya ternyata itu kamar Zidan. Di dalam sana, Roy seperti biasanya melakukan aktingnya dengan baik sebagai keponakan yang baik, kesehatan dari Zidn pun semakin membaik dan kabarnya besok lelaki itu sudah


bisa keluar rumah sakit.


“Aku sangat senang jika kau akhirnya bisa keluar dari rumah sakit,” ucap Roy.


“Ya, aku sudah tidak saabr tuk menghirup udara segar di luar. Aku juga rindu dengan suasana rumahku,” balas Zidan dengan tersenyum.


CEKLEK,,


“Tuan, kami sudah menemukan dimana Laudya. Dia berada di sebuah mansion dengan seorang wanita.”


DEG


Roy terkejut karena pamannya masih saja mencari keberadaan dari Laudya, dan yang paling bikin terkejut adalah dari mana pamannya bisa tahu keberadaan mansionnya.


“Sial, pasti ada mata-mata di mansionku,” batin Roy sangat kesal.


“Paman, kau masih saja mencari wanita itu? Apa bergunanya dia, bukannya kau sudah membuangnya?”


tanya Roy mencoba mencari info.


“Kau terlalu polos, Roy. Wanita itu sudah berhasil dekat dengan semua musuhku, sangat mudah tuk ku melakukan pekerjaanku,” jawab Zidan menyeringai.


“Apa maksudmu, pekerjaan?” tanya Roy penasaran dengan semua tujuan sang paman.


“HAHAHA,,, Roy kau tidak melihat jika perusahaanku bangkrut. Lexion Liu dialah lelaki yang selama ini telah mengalahkaku,” jawab Zidan dnegan tatapan tajam dan raut wajah yang sangar.


“Lexion Liu, siapa dia? Dan apa hubungannya dengan keluarga dari Alex dan Wiliem?” tanya Roy semakin waspada.


“Lexion Liu adalah anak dari Bumi. Dia adalah Zyan Lexion Putra, kakak dari Zee istri dari Alexander,” jawab Zidan.

__ADS_1


Roy membulatkan matanya tak pecaya jika Zee masih mempunyai seorang kakak yang sangat berkuasa dari pada Ken. Roy sungguh tidak tahu bagaimana keluarga besar Zee yang banyak menyimpan rahasia.


“Ya, sekarang kau tahu. Kenapa perusahaannya bisa membeli semua saham yanyg aku jual dan mengambil investor dariku, Lexion itu memegang semua perusahaan keluarga besarnya. Begitu juga perusahaan Ken yang berada di China dan Rusia,” jelas Zidan semakin terlihat geram.


“Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa paman sudah memdapatkan dukungan tuk mengalahkannya?” tanya Roy.


“Huh,, janga bercanda dengan pertanyaanmu itu Roy! Aku tidak akan bisa melawannya dengan diriku yang sekarang ini. Tapi aku akan mengalahkannya dengan mengunakan adiknya,” jawab Zidan menyeringai licik.


“Akan ku buat dia lemah dengan melakkan sesuatu pada adiknya. Aku akan mendekati kelemahannya,”


sambung Zidan tertawa jahat.


DEG,,,DEG,,,DEG,,,


Roy merasa lemas mendengar apa rencana dari sang paman, dia tidak ingn Vanya terluka karena pamannya itu. Roy berusaha tuk tetap terlihat biasa dengan segala perasaannya.


“Roy ada apa dengamu, sepertinya kau terlihat syok?” tanya Zidan yang melihat perubahan pada Roy.


“Ah, kau benar paman. Aku sangat syok karena rencanamu yang begitu matang, aku masih tidak bisa memikirkan sesuatu yang seperti dirimu,” jawab Roy berbohong.


“HAHAHAHA,,, kau masih harus belajar dengaku. Jadilah orang yang paling  kuat dari yang terkuat, jadilah orang yan cerdik dari orang pintar di sekelilingmu,” ucap Zidan.


“Paman, kau janganlah terlalubanyak berpikir. Kondisimu baru saja membaik,” ucap Roy mencoba mengalihkan pembicaran.


“Kau memang keponakanku ynag tersayang, hanya kau yang selalu memperhatikanku. Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu itu,” balas Zidan seraya tertawa.


“Baiklah, kau bisa beristirahat! Aku akan pulang dan mengerjakan pekerjaanku,” ucap Roy.memeluk sang paman sekilas sebelum dia beranjak pergi.


Setelah keluar dari ruangan Zidan, Roy segera menelpon Lauren tuk memastikan jika Laudya masih


berada di tempatnya. Namun rasanya, Roy sudah terlambat karena Lauren tidak menjawab panggilan telponnya.


“Sial, mereka sudah berani menyusup di mansionku,” umpat Roy dengan kesal.


Roy berlari ke arah loby dimana terdapat mobilnya di sana,dengan cepat lelaki itu mencanpkan gas mobilnya hingga terlihat mobil itu berkecepatan tinggi melaju pergi.


VVIP


Di dalam kamar Vanya suasana begitu canggung karena terlihat sepasang suami istri yang terdiam


dan saling pandang. Terlihat sangat kontraks perbedaan ekspresi dari kedunya, Vanya yang terlihat marah dan benci melihat Wil dan Wil terlihat penyesalah dari wajahnya dan merasa sedh melihat keadaan dari Vanya.


“Anh, apa kau tidak apa-apa?” tanya Wil lirih.


Tidak ada jawaban dari Vanya, wanita itu diam seribu bahasa. Wiliiem menuduk karena tahu jika Vanya pasti sangat membencinya.


“Anh,aku tahu apa yang sudah aku lakukan padamu. Aku mohon maafkan aku!” pinta Wiliem memohon pada sang istri.


Tetap diam dan terlihat tidak menanggapi semua ucapan dari suaminya, Wiliem semakin merasa sedih karena Vanya semakin melihat ekspresi yang sanagt datar.


“Anh, aku tahu aku salah. Aku menyesal karena telah melukai hatimu dengan ucapanku, aku menyesal karena sudah membuatnya terluka seperti ini. Aku mohon bicaralah padaku, kau boleh memakiku kau boleh marah padaku kau juga boleh mengumpat padaku. Asla kau bisa memaafkan aku!” pinta Wiliem dengan sangat memohon.


Vanya menatap lurus tanpa ekspresi pada Wiliem, wanita itu sebenarnya mendnegarkakn semua ucapan dari Wiliem dan mencerna semua yang suaminya katakan. Dengan pergulatan batin dan pkirannya, Vanya sudah tidak bisa berpikir tuk bersama dengan Wiliem lagi, namum dalam hatinya rasa cinta itu msaih ada. Karena itulah dia masih terus menangis jika mengingat Wiliem, mengingat akan kenangan manis mereka.


“Aku ingin kau lepaskan aku! Aku tidak mau terikat apa pun dengamu, aku ingin kau bebaskan aku dari segala rasa  pedih ini!” pinta Vanya dengan tegas.


DEG,,,


Dunia Wiliem seakan runtuh seketika mendengar apa yang Vanya katakan. Wiliem dengan cepat menggeleng dan menghampiri Vanya yang duduk di atas ranjang, mencengkeram bahu Vanya dengan erat tanpa memikirkan luka pda tubuh sang istri. Wiliem menatap Vanya dengan menangis.


“Jangan asal berbicara, Vanya! Aku tidak suka dnegan ucapan yang keluarkan barusan!” seru Wiliem sedikit berteriak.


Vanya tetap diam setelah mengatakan apa yang dia inginkan, Vnaya menahan rasa sakit di bahunya


karena cengkeraman dari Wiliem.


“Cabut kembali semua perkataanmu! Aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun Vanya,


kau hanya milikku!!” teriak Wiliem begitu kencang.


Vanya merasa takut dengan Wiliem, Vanya mencoba melepaskan tangan Wil dari tubuhnya namun semakin kuat dan itu membuat luka di bahunya terlihat berdarah kembali.


“Lepaskan aku, kau menyakitiku!” teriak Vanya.


“Kau, kau yang terlebih dahulu yang menyakiti dirku dengan berkencang dengan lelaki brengsekk itu!” seru Wiliem tak kalah keras.

__ADS_1


Vanya menangis karena Wiliem masih tidak percaya dengan apa yang sudah dia katakan padanya. Sekarang keputusannya tuk berpisah semakin kuat dan yakin.


Bersambung🍂🍂🍂


__ADS_2