
Biarkan semuanya mengalir seperti air, kehidupan ini harus tetap di jalani. Akan kah itu mudah tau pun sulit, akan bahagia tau menderita, akan bagaimana itu akhirnya semuanya haris tetap di hadapi.
Seperti itu lah kehidupan yang sudah Zee alami, dia tak bisa merajut kebahagian bersama dengan kekasih hatinya. Semuanya, kebahagian itu berubah menjadi air mata dan kepedihan yang berkepanjangan.
Tapi, dia wanita yang kuat, wanita yang bisa berdiri sendiri dengan satu kekuatan yaitu seorang putri. Malam, dimana dia bermimpi Alfa membuat hidup Zee semakin membaik. Tak ada lagi rasa sesal di hatinya, semuanya seakan telah sirna.
"Mom, apakah nanti siang, akan datang ke sekolahanku?" tanya Alya.
"Al, memang kapan acara itu di mulai?" tanya Zee.
"Sekitar, pukul sepuluh," jawab Alya.
"Baiklah, Mommy akan usahakan datang. Karena, Mommy ingin sekali melihat, Al tampil," balas Zee.
"Hemm, Mommy haris datang! Karena, semua otangtua teman-teman ku datang!" seru Alya.
"Baiklah, sayang! Mommy, akan datang tunggulah!" perintah Zee.
Alya tersenyum, mengangguk ia. Setelah itu pergi berangkat sekolah dengan menggunakan jemputan bus dari sekolah.
Zee pun bersiap-siap tuk segera pergi ke kantor, aura positif terlihat jelas di wajah ayu nya. Sesampainya di kantor Zee segera masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Pagi, mam," sapa Enbi.
"Pagi, nona," sahut Zee.
Zee dan Enbi pun tertawa bersama, Zee duduk di kursinya sedangkan Enbi membawa laporan kerjanya.
"Ini, semua dokumen yang haris kau periksa! Setelah itu kau tanda tangani," jelas Enbi.
"Baiklah, terimakasih. Oa, nanti kosongkan jadwal tuk pukul 10 karena aku harus ke sekolah Alya!" pinta Zee.
"Baiklah, aku akn cancel tuk jam sepulu," balas Enbi.
"Terimakasih," ucap Zee tersenyum.
Enbi hanya mengangguk ia, setelah itu kembali keruangannya. Zee membaca semua dokumen itu dan menanda tangani semuanya.
Pekerjaan Zee terlihat begitu mudah, tapi yang sebenarnya dia begitu tetbebani. Karena, dia harus memimpin perusahaan yang di percayakan oleh Jefty dan suami pada dirinya.
"Aku, harus segera menyelesaikan semuanya! Alya, tak boleh sampai menunggu!" seru Zee pada dirinya sendiri.
Di sekolah semua anak sudah berkumpul di ruang aula, mereka bersiap-siap tuk pertunjukkan yang sebentar lagi akan di mulai.
"Mommy dan Daddy ku akan datang! Bagaimana denganmu?"
"Ya, mereka ajan datang! Dan, aku sangat senang,"
Alya yang mendengar itu, hanya terdiam. Hatinya berdegup kencang sekali, takut jika sang Mommy tak bisa datang. Alya, sudah snagt kebal jika selalu di olok anak tanpa Ayah. Yang terpenting dia bisa melihat wajah Mommy nya saja, sudah sangat membuat dirinya bahagia.
"Mommy, Al mohon. Datanglah!" batin Alya sembari menutup matanya.
"Jangan risau dan takut, aunty Zee akan kemari! Mommy ku yang mengatakan," ucap Gwen.
Senyum di wajah Alya barusan terlihat, saat Gwen mengatakan itu. Alya begitu senang saat tahu, jika Mommy nya akan datang.
Di dalam mobil, Zee tersenyum saat membawa boneka beruang kecil berwarna putih tuk Alya, setelah rapat Zee langsung bergegas menuju sekolahan sang anak.
"Al, ayo kita bersiap-siap!" perintah Gwen.
"Ok," jawab Alya singkat.
Gwen dan Alya berpatisipasi tuk membacakan sebuah puisi tentang kasih sayang. Alya, begitu senang tapi juga begitu sedih, kala dia membaca puisi itu.
"Daddy, puisi ini tuk dirimu! Dan, ini semua ungkapan rindu ku padamu," batin Alya.
Semua anak sudah berkumpul, terlihat satu persatu orangtua siswa memasuki ruang aula.
Zee, sudah di tunggu oleh Jefty dan Anthony di depan ruang aula. Terlihat, Zee berlari kecil karena takut terlambat.
"Zee, kemari!" seru Jefty.
Zee tersenyum dengan masih berlari menghampiri mereka. Jefty dan Anthony pun tersenyum.
"Apa acaranya belum mulai?" tanya Zee.
"Sebentar lagi, kami menunggu dirimu!" seru Anthony.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu," ucap Zee tak enak hati.
__ADS_1
"Sudahlah, sebaiknya kita masuk! Putri kita pasti sudah menunggu!" pinta Jefty.
Mereka pun masuk ke dalam, dan duduk di barisan paling belakang. Karena, tempat duduk di depan sudah penuh. Alya dan Gwen mengintip dari balik tirai.
"Mommy, kau datang!" gumam Alya tersenyum.
"Apa, aku bilang. Aunty pasti datang, lihat ada Dad dan Mommy ku bukan?" tanya Gwen.
"Ehem, Terimakasih, Gwen," jawab Alya.
Pementasan terus berjalan, satu persatu siswa sudah tampil dengan bagian bagus.
Zee dan Jefty terus saja menunggu giliran anak-anak mereka tampil.
"Kapan, kapan Gwen dan Al akan tampil?" tanya Jefty.
"Sabarlah, mungkin mereka mendapat urutan yang terakhir," jawab Anthony.
"Haish, itu sangat lama. Aku ingin cepat-cepat melihat mereka," balas Jefty.
Zee hanya bisa tersenyum melihat suami istri itu selalu berdebat. Mengingatkan akan diri Zee, saat dulu bersama dengan Alfa.
"Bagaimana, aku bisa melupakan dirimu. Jika, kenangan di hidupku semuanya tentang dirimu, Al," batin Zee.
Zee menahan air matanya, dengan menghela napas panjang. Dan, mencoba mengatur kembali perasaannya.
"Zee, kenapa?" tanya Jefty.
"No, aku tidak apa-apa," jawab Zee sembari tersenyum.
MC pun memanggil Gwen tuk pertunjukan selanjutnya. Alya menyemangati Gwen, Alya bertepuk tangan saat Gwen tampil di atas panggung.
Gwen membacakan puisi untuk orangtuanya, dia mendapat banyak tepuk tangan. Anthony dan Jefty sampai menangis sembari bertepuk tangan begitu keras tuk sang putri.
"Terimakasih, love you Dad, Mom," ucap Gwen sembari membungkukkan badannya.
"Love you to, honey," seru Jefty begitu kencang.
Gwen pun kembali kebelakang panggung, berlari memeluk Alya.
"Bagus! Sangat bagus," ucap Alya.
"Yes, benar," jawab Alya singkat.
"Alya, giliranmu! Bersiaplah!" perintah seorang guru.
"Yes, Mam!" ujar Alya.
Alya mengambil napas dengan perlahan dan menghembuskan dengan perlahan juga.
"Baiklah, selanjutnya penampilan dari Alyandra Zevara, dengan judul ratusan purnama," ucap MC.
Alya berjalan menuju panggung, terlihat semua orang menatap dirinya. Ada yang berbisik tentang Alya, tentang dia anak tanpa Ayah. Dan itu membuat Zee begitu sedih.
"Mom, jadilah kekuatanku! Jangan, dengarkan mereka, aku mohon!" batin Alya sembari mencari dimana sang Mommy berada.
Zee mengetahui, jika Alya sedang mencarinya. Akhirnya, Zee berdiri agar Alya bisa melihatnya.
Wajah Alya seketika berubah saat melihat Zee disana. Alya mengangguk dan tersenyum.
"We love you Dad," ucap Alya.
Alya memejamkan matanya dan mulai membacakan puisinya.
Ratusan purnama
Kita memang berbeda
Jarak telah memisahkan kita
Aku tak tahu seperti apa dirimu
Yang ku tahu, bahwa aku sungguh mencintaimu...
Rindu,
Aku sangat merindukanmu..
Rindu yang tak kan bisa terobati
__ADS_1
Karena, Tuhan telah memanggilmu..
Mimpi, mimpilah yang menghubungkan antara aku dan dirimu..
Aku...
Ingin memelukmu...
Ingin bersama denganmu..
Tapi, apa daya
Hanya cinta dan sayangmu yang ada..
Menemani hari hariku,
Dan selalu berada dalam relung hati..
Ratusan purnama..
Telah berlalu, meninggalkan luka dan semua tentangmu...
Meski kita tak bisa bersatu...
Meski kita tak bisa bertemu..
Aku percaya, jika di kehidupan selanjutnya...
Kita akan bersama...
Semua, orangtua siswa disana menitikkan air matanya, mendengar puisi yang di tulis oleh anak kecil seperti Alya.
Zee masih mematung menatap sang buah hati yang menangis membacakan puisi tuk sang Ayah.
"Alya, anakku," ucap lirih Zee.
Jefty merangkul tubuh Zee, agar tetap tegar. Semua orang menatap Zee dengan simpati dan iba.
"Masih sangat muda, tapi sudah di tinggal oleh suaminya. Sungguh, kasihan wanita itu,"
"Wanita hebat, dia bisa mendidik sang anak yang begitu pintar,"
"Ya, aku dengar Alya itu siswa terpintar di sekolah ini,"
"Baiklah, Alya terimakasih sudah membuat kami semua tersentuh dan menangis," ucap MC.
"Sama-sama, Miss. Maaf, sudah membuat semuanya sedih," ucap Alya sembari menunduk.
"Puisi itu, untuk siapa?" tanya MC.
Alya menatap ke arah sang Mommy dan menjawab dengan ragu-ragu.
"Daddy, itu puisi dari ku dan juga Mommy. Untuk mendiang Daddy ku, Miss," jawab Alya terbata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ohhh, im sorry honey. Aku, tidak bermaksud!" pinta MC seraya memeluk Alya.
"No, Miss. Im fine, thank you," balas Alya tersenyum.
Semua orang kembali bertepuk tangan karena kejujuran dan ketulusan Alya saat menjawab dan membaca puisi itu.
Acara itu pun akhirnya selesai. Alya, masih terduduk di kursi sendirian. Menatap lembaran kertas yang sudah basah oleh air matanya.
Zee, berlajan mencari putrinya, hatinya berkata jika sekarang Alya tak baik-baik saja.
"Nak, kamu dimana?" tanya Zee pada diri sendiri.
Kakinya terus menyusuri lorong kelas itu, dan melihat ada ruangan yang gelap disana. Pintunya terbuka sedikit, terdengar isakan anak kecil menangis.
"Tuhan, jika aku terus menangis. Apakah, Mommy akan sedih, dan akan membuat hati Mommy terluka? Karena, Mommy akan terus teringat dengan Daddy?" tanya Alya.
"Aku, merindukan Daddy. Aku, juga ingin mempunyai Daddy. Tapi, Mommy hanya mencintai Daddy Alfa. Aku juga mencintai Daddy Alfa, tapi aku juga ingin di peluk Daddy, tidur dengan Daddy dan di antar jemput oleh Mommy dan Daddy," imbuh Alya dengan menangis.
Zee, hanya bisa menangis tanpa suara. Dan menutup mulutnya karena takut akan Alya mendengarnya.
"Maafkan Mommy, nak sudah membuat mu sedih dan tak bisa merasakan kasih sayang dari Daddy mu," ucap lirih Zee.
Alya masih menangis dengan begitu lirih, tubuhnya bergetar menahan semua perasaannya. Tak bisa lagi dia tahan, saat merindukan sang Daddy.
"Al, maafin aku! Aku harus menata kembali hidupku, aku harus bisa bertahan dengan dunia baru ku, demi Alya," ucap lirih Zee sembari mengusap air matanya.
__ADS_1
Selamat membaca, dan Terimakasih