Takdir Cinta

Takdir Cinta
Epilog


__ADS_3

...بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم...


..."Kita memang berpijak pada bumi yang sama, tapi kita berdiri pada takdir yang berbeda. Bukan untuk bersama dan merangkai cinta, melainkan hanya sekadar bersama dan berbagi luka."...


...°°°...


Problematika kehidupan memang tak pernah terlepas dari takdir dan nasib. Di mana takdir adalah kuasa mutlak yang hanya dimiliki oleh-Nya, sedangkan nasib masih bisa diubah dan diperjuangkan jika memang Allah berkenan untuk mengabulkan.


Begitupula dengan takdirku yang dibumbui banyak tangis air mata, serta kesakitan yang tiada terkira. Dulu aku memang menentang dan bersorak menuntut keadilan, tapi setelah kutelaah lebih dalam. Ini memang sudah menjadi garis hidup yang harus kunikmati serta syukuri. Tak usah berkoar menyuarakan isi hati, hanya cukup jalani.


"Seharusnya Mbak yang saat ini berada di posisi saya, tapi karena keadaan saya telah merampas kebahagiaan Mbak." Aku menoleh ke sumber suara, dan memberikan sunggingan selebar mungkin.


"Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku. Dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku. Saya percaya akan takdir dan kuasa Allah, bukan perihal merebut dan direbut, melainkan sudah menjadi jalan takdir," sahutku mengutip sebuah kalimat yang pernah Umar bin Khattab katakan.


Bianca menunduk dan dengan lembut kuusap punggungnya. "Saya merasa sangat berdosa karena secara tidak langsung sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga, Mbak," ungkapnya yang lantas kubalas gelengan tegas.


"Itu hanya masa lalu, saya sudah melupakannya. Lagi pula saya senang saat melihat keluarga kamu rukun serta harmonis. Saya turut berbahagia akan hal itu," tuturku tulus.


Tak ada sedikit pun dendam yang kupendam, sebab aku sudah mengikhlaskan. Dengan melihat Bagas sembuh serta bisa bahagia dengan Bianca serta putranya saja sudah lebih dari cukup. Karena pada nyatanya aku pun sudah menemukan kebahagiaan baru bersama putri semata wayangku, Briggita Ajeng Pramesti,


Gadis kecil yang kini sudah memasuki usia lima tahun. Terlihat cantik dan menggemaskan, sedikit memiliki kemiripan dengan Bagas, terlebih kala ia tengah memasang wajah dingin karena merajuk tak dibolehkan main ke luar.


Rahang tegas dan juga hidung bangirnya mewarisi Bagas, ia merupakan replika Bagas dalam wujud perempuan. Meskipun di antara aku dan Bagas tak lebih hanya sebatas mantan pasangan, tapi kami mencoba untuk sama-sama berdamai serta melupakan kejadian masa silam.


Berdamai dengan masa lalu adalah sebuah keharusan, tuntutan, dan juga keterpaksaan,  pada awalnya seperti itu, tapi kini aku sudah bisa berkawan dengan masa-masa pahit tersebut. Bukan berlari, apalagi mengingkari, justru harus didekati serta jangan pernah dijauhi.


Menjadikan kenangan dan pengalaman sebagai bahan pembelajaran, agar kelak aku tak lagi terjun pada jurang penderitaan. Mencoba untuk mengistiqamahkan diri serta hati agar lebih mendekat pada Sang Illahi, bukan kesenangan dunia lagi yang ingin dicari melainkan kebahagiaan akhirat yang secepat mungkin ingin segera kutemui.


"Mama, Uncle Bagas jahilin aku terus!" seru Brigitta setelah duduk manis di pangkuanku.


Uncle, ya ia memanggil ayah kandungnya dengan sebutan demikian. Aku belum sanggup untuk mengungkap kebenaran, dan biarkan seperti ini dulu. Usianya masih terlalu dini untuk memahami segala peristiwa pelik di masa lalu.


Kukecup kedua pipinya secara bergantian lantas menjawil hidung bangir Briggita pelan. "Benarkah? Kok lapor Mama, biasanya juga lapor Uncle Bi."

__ADS_1


Ia bersidekap dada, sangat lucu sekali tingkah bocah ini. "Uncle Bi lagi asik main sama Banu. Aku dicuekin!" adunya yang kusambut kekehan.


Banu Mibras Naufal, yang memiliki arti putra pemberani dan dermawan. Itulah nama anak pertama Bagas dan juga Bianca. Usianya sama dengan Brigitta, sebab mereka dilahirkan dalam hari dan waktu yang hampir berdekatan, hanya berbeda beberapa menit saja.


Aku masih sangat mengingat dengan betul bagaimana cekatannya Bagas kala Bianca akan melahirkan, sangat berbeda denganku yang hanya seorang diri saja. Sebab ayah tengah sibuk mengurus segala administrasi rumah sakit.


Bahkan untuk sekadar melantunkan azan di telinga Brigitta saja Bagas tak melakukan hal itu, beruntung ada Bian yang bersedia mengazani, sebab saat itu ia sengaja pulang kala ibunya meminta. Ada rasa iri dan juga dengki, karena aku pun ingin berada di posisi Bianca.


Tapi kenyataan memukul telakku, sebab aku yang hanya berstatus sebagai mantan istri. Wanita yang bukan lagi prioritas seorang Bagas Manggala Putra. Masa laluku memang begitu kelam dan menyakitkan. Tapi tak apa, itu sudah menjadi suratan dan juga garis hidup yang harus kujalankan.


"Ya udah main sama Nenek, mau?" ucap ibu yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisiku.


Brigitta mengangguk antusias dan melebarkan tangannya meminta digendong sang nenek. Manja sekali anak ini jika tengah bermain di kediaman ibu. Tapi aku bersyukur karena jalinan silaturahmi di antara kami tidak terputus sama sekali. Bahkan Bian yang lima tahun lalu memutuskan untuk pergi ke luar kota pun kembali menetap di sini. Terhitung sejak dua tahun terakhir.


"Mbak gak ada niatan untuk kembali menerima pinangan Bian?" tanya Bianca tiba-tiba. Aku tertawa pelan untuk menyamarkan kekagetan.


"Gak, saya terlalu menikmati hidup berdua bersama Briggita, biarkan saja seperti ini. Lagi pula masa depan Mas Bian jauh akan lebih baik jika tanpa kehadiran saya di sampingnya," jawabku dengan sunggingan tipis.


"Apa, Mbak masih mencintai Mas Bagas?" tanya Bianca membuatku cukup tercengang tak percaya. Kuelus lembut tangannya lantas berucap, "Ada hak apa saya mencintai suami orang? Gak, Bianca."


Secara tiba-tiba Briggita kembali menghampiri dan menarik paksa tanganku untuk ikut serta bermain bersama ibu, Bian, Bagas, dan juga Banu. Aku hanya menurut saja, takut ia akan mengamuk dan memasang wajah dingin. Itu sangat mengerikan.


"Banu punya papa, papanya Uncle Bagas. Aku juga mau punya papa, Uncle Bi juga gak papa," katanya membuatku dan ibu saling terdiam serta melontarkan tatapan linglung.


Kupeluk tubuhnya erat dan berbisik pelan, "Papa Briggita Uncle Bagas." Lirih dan teramat rendah agar ia tak mampu mendengarnya.


Briggita melepas dekapan di antara kami, ia merogoh saku dress bunga-bunga miliknya lantas memberikan sebuah cincin pertama padaku. "Dari Uncle Bi, buat Mama." Aku menatap Bian penuh tanya. Apa maksudnya coba?


"Aku ingin merealisasikan niatku yang dulu sempat tertunda. Menikahi kamu, Btari,"


Tubuhku membeku seketika, lagi-lagi ia melamarku dan parahnya di hadapan ibu, kakak, serta putriku yang ia jadikan sebagai perantara.


"Aku pasangin, kata Uncle Bi kalau udah dipasang di jari Mama aku bisa bebas manggil Uncle Bi dengan sebutan Papa," oceh Brigitta yang tanpa izin langsung memasangkan cincin tersebut. Ia terlalu cerdas dan polos, dan aku kurang suka kala ada orang yang memanfaatkan Briggita.

__ADS_1


Senyumnya terbit bahkan ia pun mengecup lembut pipiku. "Aku sayang Mama, Papa Bi juga!" soraknya seraya berlari dan berhambur ke dalam pelukan Bian.


"High five," pinta Bian yang langsung bocah itu turuti. Aku hanya mampu diam seribu bahasa dan menatap nanar cincin yang sudah melingkar manis di jari.


Melihat kedekatan di antara Bian dan Briggita membuat bebanku sedikit terangkat sebab dengan begitu Briggita bisa melupakan sejenak rengekannya untuk meminta bertemu sang ayah. Tapi di sisi lain aku pun merasa berdosa karena secara tidak langsung sudah menutupi kebenaran darinya. Kegamangan sangat jelas kurasakan.


"Jadi, bagaimana?" tanya Bian menuntut kejelasan. Aku tak sedikit pun buka suara, malah asik berkawan geming dengan beragam asumsi yang sudah saling berkeliaran. Entah jawaban apa yang harus kuutarakan.


Takdir cinta memang selalu menyudutkanku, ia tak pernah sedikit pun berbaik hati untuk berpihak padaku. Ini sangatlah menyulitkan dan aku tak ingin kembali berurusan dengannya.


"Yes, Papa! Yes!"


Bukan aku yang menjawab, melainkan ulah dari putri semata wayangku yang malah bersorak tanpa dosa. Kutarik napas panjang lantas membuangnya kasar, berharap rasa sesak di dada sedikit sirna.


"A-ak-aku ...."


...^SELESAI^...


...°°°...


Kepo dengan jawaban Btari??? Sama aku juga😂 . Enggak ding canda🤭😁✌️


Assalamualaikum semuanya,


Alhamdulillah aku akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita ini. Semoga suka dengan endingnya, dan sampai bertemu lagi di lain waktu serta kesempatan.


Mohon maaf jika endingnya tak sesuai ekspektasi kalian. Inilah Takdir Cinta versiku, tidak bersama, tidak selalu bahagia, tapi berharap akan ada hikmah dan pembelajaran yang bisa diambil dalamnya.


Lantas versi Takdir Cinta kalian seperti apa? Apakah sama seperti kisah Btari, Bagas, Bian, dan juga Bianca.


Untuk kritik dan saran, dipersilakan ;)


Terima kasih, wassalamu'alaikum 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2