
Pagi pun menjelang . Ana telah terbangun dan segera menuju Villa guna membersihkan dirinya lalu ia akan ke dapur membantu para wanita untuk memasak .
Suasana di meja makan pun di penuhi canda tawa walau di hari biasanya mereka makan dengan tenang namun begitu bebas untuk hari ini , dan terlihat Abdi begitu pendiam saat ini dan itu tak lepas dari perhatian sang anak. Rafli acuh tak acuh akan sifat sang papa.
'' Apa papa baik-baik saja " tanya Rani .
'' Papa baik " jawab Abdi melepas senyum dan kembali melanjutkan sarapannya.
Usai sarapan para keluarga inti kini menikmati pagi mereka dengan duduk bersantai membiarkan para anak-anak untuk bermain di sekitar kebun teh tentu saja dengan penjagaan yang luar biasa , terkadang membuat para pekerja kebun teh menjadi ngeri sendiri .
'' Pa dan Jim . Aku minta tolong pada kalian untuk mengurus perusahaan " ucap Rafli disambut tatapan tak suka dari orang tuanya . Abdi berfikir jika sang anak memulai pembicaraan terkait melepas bisnisnya kembali .
'' Pa , tenanglah dulu . Rafli belum berbicara " ucap Lia menenangkan.
'' Aku dan Ana berencana untuk berbulan madu " ucap Rafli membuat Ana membelalakkan matanya .
'' Mas " desis Ana.
'' Mas serius sayang dan bukankah sudah berulang kali mas bilang padamu " ucap Rafli tegas membuat wajah Ana semakin merona . Ana mengira jika sang suami yang ingin mengajaknya bulan madu hanyalah sekedar bualan semata namun Ana sangat salah , suaminya sangat serius akan ajakannya itu dan terbukti saat ini . Semua orang memandang Rafli dengan ekspresi yang tak bisa di artikan.
" Pa , mengapa wajah papa memerah " celetuk Rina mendapat sentilan kecil di lengannya dari sang suami . Wajah Abdi semakin memerah karena begitu malu seakan kejadian semalam menari di pikirannya dan di tambah Rina yang berani menggodanya .
'' Apa papa sakit " ucap Rani ikut cemas.
'' Papa mu baik-baik saja . Sudahlah " ucap Lia menenangkan.
'' Apa salah dan dosaku , mempunyai anak lelaki satu-satunya tapi mesumnya minta ampun . Gak tau tempat " ucap Abdi membatin , lagi-lagi ia merutuki perbuatan sang anak .
" Ayo di minum dulu teh nya " ucap Laras.
" Berapa lama kakak ipar akan berbulan madu dan ke negara mana " tanya Rahma begitu antusias dan Jimmy tak mampu mencegah sang istri untuk bertanya . Sungguh Jimmy tak menyadari keberanian sang istri saat ini , lebih tepatnya ia cukup menahan malu . Mempunyai istri seperti Rahma , ia akan tau resikonya . Tapi namanya cinta dan itu membuat Jimmy menerima apapun kondisi Rahma baik tingkah lakunya juga .
'' Satu tahun , keliling dunia " ucap Rafli.
Byyuurrrrr
uuhhukk....uhhukkk...
Kompak semua orang menyemburkan teh nya termasuk yang memberikan pertanyaan sendiri .
'' Bulan madu seperti apa itu " batin Rahma bertanya pada dirinya sendiri.
" Mas , aku mau keluar sebentar melihat anak-anak " ucap Ana , ia begitu malu atas pembahasan kali ini .
'' Sayang tetaplah disini dan jangan beranjak " ujar Rafli menahan pergelangan tangan sang istri.
'' Jika ingin berbuat malu , jangan ajak-ajak mas " batin Ana menghela nafas frustasi , ia duduk duduk disamping suaminya dengan pandangan menunduk kebawah , seakan mencari lubang semut untuk bersembunyi. Sementara Gunawan menggelengkan kepalanya pelan , baru ia menyadari jika sang menantu begitu mesum namun itu sah saja karena kemesuman menantunya tepat pada semana mestinya.
" Lalu siapa yang mengurus anak-anak " celetuk Lia , ia masih merasa keberatan jika cucunya di tinggal dengan dua makhluk di hadapannya untuk berbulan madu untuk kesekian kalinya .
" Kan banyak yang di bisa diandalkan , ada Jimmy " ucap Rafli tersenyum mengejek , membuat Jimmy mendengus kesal .
" Kan ada mama , papa , ibu , bapak dan mbak-mbak ku tersayang " ucap Rafli mengedipkan matanya membuat Rina seakan ingin mual.
" Ana , suamimu baik-baik saja kan. Kau tidak memberikan makanan yang salah kan " ujar Rina , sungguh geli atas perilaku adiknya saat ini . Sudah tua , tak tau malu dan malah menjadi manja , seakan lupa keadaan. Ana menjawabnya dengan tersenyum kikuk. Sungguh , Ana akan menghukum suaminya nanti .
__ADS_1
'' Baiklah , ku anggap papa mendukungku begitu juga dengan ibu mertua dan bapak mertuaku " ucap Rafli memandang orang tua Ana dengan senyum penuh permohonan dan angguki saja oleh Gunawan . Dan Abdi menganggukkan kepalanya juga menyetujui saja ucapan putranya atau Rafli tak akan ada habisnya . Dengan perginya Rafli dan Ana , Abdi juga bisa membuat keluarga Permana bertemu dengan Rayana hanya perlu bekerja sama dengan orang mansion dan ia harus pintar mengelabui istrinya . Jika pun ia merasa kelabakan dengan pekerjaannya , Abdi tinggal mencari keberadaan Ana dan menculiknya untuk pulang maka dengan itu Rafli akan memutuskan untuk kembali pulang . Abdi tersenyum dengan segala rencana di kepalanya .
'' Kau lihat sayang , semua orang setuju " bisik Rafli namun masih di dengar oleh Rani yang tak ingin mengganggu kesenangan sang adik
.
.
.
.
Kini rombongan keluarga Wijaya dan Gunawan akan kembali pulang ke kediaman Rafli , namun Ana begitu panik mencari keberadaan Dewa yang entah pergi kemana , semua bodyguard telah mencari Dewa di penjuru kebun teh .
'' Mas , anakku mas " ucap Ana terisak dalam dekapan suaminya dan seluruh adiknya Dewa menangis karena sang kakak belum di temukan .
'' Mas akan pergi mencari anak kita , kau tenanglah " ucap Rafli lalu beranjak pergi dengan menunggangi kuda yang telah di siapkan lengkap dengan senapan laras panjangnya.
'' Tenanglah nak , Dewa pasti ketemu '' ucap Laras memeluk sang anak yang tengah terisak . Lia dan Abdi menenangkan para cucunya yang lain sementara Gunawan ikut melakukan pencarian terhadap Dewa bersama Jimmy .
Sedangakan Dewa baru saja sadarkan diri atas apa yang baru saja terjadi , dirinya lima jam yang lalu hampir saja di terkam seekor macan tutul dan beruntung ada seorang kakek tua yang menolongnya . Dewa telah mengingat semuanya , ia pun merutuki kebodohannya karena jauh dari batas perkebunan teh milik sang bunda .
'' Bagaimana keadaan mu cu '' tanya kakek .
'' Sudah baikkan kek dan ini hanya luka sedikit '' ucap Dewa sedikit meringis pada kakinya yang terdapat luka gores cukup dalam .
'' Kek , aku ingin pulang pasti bundaku sangat cemas '' ucap Dewa .
'' Kakek akan mengantarkan mu , tapi kemana '' tanya kakek dan Dewa ingin diantarkan ke perkebunan saja .
'' Mayang kemari cu '' ucap Kakek dan Mayang membawakan secangkir teh hangat yang memang ia buat untuk Dewa atas perintah sang kakek .
'' Terimakasih '' ucap Dewa seraya memperhatikan gadis kecil di hadapannya ini .
'' Kakek akan pergi mengantarkan '' ucap sang kakek .
'' Dewa , namaku Dewa kek '' ucap Dewa.
'' Kakek akan pergi mengantarkan Dewa ke perkebunan teh '' ucap sang kakek .
'' Tapi kek , ini menjelang sore dan cuaca sangat mendung '' ucap Mayang , ia khawatir atas sang kakek . Ia hanya hidup sebatang kara dengan sang kakek yang merawatnya sedari kecil bahkan tak mengenal siapa kedua orang tuanya.
'' Den Dewa .... '' terdengar teriakan beberapa orang memanggil nama Dewa dan itu membuat Dewa tersenyum senang begitu juga sang kakek .
'' Den Dewa .... '' teriakan dari seorang bodyguard kembali .
'' Dewa .... kau dimana '' ucap Jimmy ikut pencarian .
'' Paman Jim '' ucap Dewa segera berlari menuju pintu kayu .
'' Paman Jim '' teriak Dewa dan seketika semua orang berpusat padanya termasuk Gunawan yang tadi sudah lelah menjadi bersemangat karena melihat cucunya yang beberapa jam hilang telah di temukan .
'' Kakek '' Dewa memeluk Gunawan sang kakek kesayangannya.
'' Bunda mu sangat cemas sayang , dan jatuh pingsan . Ayo kita kembali '' ucap Gunawan.
__ADS_1
'' Tunggu dulu kek , mereka orang yang telah menolongku '' ucap Dewa menunjuk seorang kakek tua dan gadis kecil yang manis yang berdiri di depan pintu gubuk. Terlihat gadis kecil itu takut melihat para bodyguard yang berbadan kekar , meski mereka tersenyum ramah tetap saja menakutinya.
Dewa , Gunawan dan Jimmy berjalan menuju dimana orang yang telah menolong Dewa .
Tak hentinya Gunawan dan Jimmy mengucapakan terimakasih pada pria yang telah menolong Dewa. Bahkan Gunawan ingin memberikan uang yang ia punyai namun di tolak oleh sang kakek karena ia ikhlas menolong Dewa , meski tak di pungkiri sang kakek itu membutuhkan uang .
Sedikit terjadi obrolan antara Gunawan dan sang kakek , Gunawan menatap prihatin keadaan sang penolong cucunya , gubuk yang terkena angin kencang pun bisa saja roboh kapan saja dan rasa iba menyelimuti hati Gunawan untuk menolongnya lebih jauh . Gunawan menawarkan sang kakek berserta cucunya untuk tinggal di villa milik sang anak yang berada di area perkebunan teh , begitu juga dengan Jimmy ikut mengusulkannya apalagi melihat Mayang yang putus sekolah karena jarak dan biaya yang tak memadai membuat hati Jimmy berdenyut nyeri melihat keadaan kakek dan cucu tersebut.
'' Ku mohon kek , terima saja tawaran dari kakekku dan pamanku '' ucap Dewa memohon
'' Bunda dan ayah ku pasti akan setuju dengan keputusan kekek Gunawan dan paman Jim . Mayang juga bisa sekolah lagi karena Ayahku berniat membuka sekolah gratis untuk penduduk sekitar sini dan dengan begitu Mayang bisa kembali sekolah '' ucap Dewa menyakinkan.
'' Bagaimana cu , apa kau mau '' tanya Sang kekek pada Mayang dan Mayang menganggukkan kepalanya pelan .
'' Bagaimana pak Wid , apa gak sebaiknya pindah saja hari ini langsung. Aku akan menjamin semuanya baik-baik saja '' ucap Gunawan.
'' Baiklah saya terima niat baik tuan tapi izinkan saya bekerja disana , mengurus Villa atau perkebunan juga tak apa '' ucap Kakek Wid tak enak jika harus menumpang aja .
'' Panggil saja saya Gunawan '' ucap Gunawan.
'' Itu terserah anda , saya tak memaksa . Karena kalian telah menyelamatkan cucuku ''imbuhnya.
'' Sekali lagi terima kasih tuan '' ucap Kakek Wid bahagia , yang terpenting pendidikan untuk sang cucu , meski sekolah itu belum dibangun paling tidak hanya menunggu beberapa bulan saja sekolah itu akan segera beroperasi dan cucunya bisa kembali mendapatkan pendidikan yang semestinya .
'' Kami akan mengemasi barang kami dulu tuan '' Ucap Kakek Wid.
'' Baiklah , kami akan menunggu '' ucap Gunawan . Sedangkan para bodyguard telah kembali atas perintah dari Jimmy dan meminta mereka memberitahu Rafli serta Ana jika Dewa telah di temukan dan baik -baik saja..
Mayang serta sang kakek menaiki kuda yang di tunggangi oleh Jimmy sementara Dewa menaiki kuda yang di tunggangi oleh Gunawan , kini mereka menuju Villa dimana semua orang berkumpul...
Kedatangan Dewa langsung disambut oleh Ana yang segera melepas pelukan suaminya.
'' Bunda takut kau tak kembali . Jantung bunda hampir berhenti berdetak , Dewa . Bunda takut terjadi sesuatu padamu . Kemana saja , kenapa kau pergi jauh '' cecar Ana , meluapkan rasa khawatirnya . Dirinya begitu khawatir dari pada yang lainnya .
'' Maafkan Dewa bunda '' ucap Dewa dengan mata berkaca-kaca , ia mendongak dalam pelukan bundanya menghapus air mata sang bunda .
'' Dewa janji , tidak akan membuat bunda menangis lagi dan ini terkahir kalinya '' ucap Dewa dan Ana makin memeluknya erat .
'' Sayang , anak kita tak bisa bernafas '' ucap Rafli menghampiri istrinya yang mendekap tubuh Dewa erat .
'' Kakak '' teriak Jelita dan Rayana , mereka berhamburan memeluk Dewa.
'' Kalian '' ucap Dewa tersenyum memeluk dua adik perempuannya yang kelak akan ia jaga sepenuh jiwa dan raganya. Tiga wanita yang akan ia jaga terutama sang bunda .
'' Ayo kita masuk '' ucap Ana merangkul ketiga anaknya .
'' Kau melupakan bapak nak '' ucap Gunawan tersenyum simpul.
'' Tidak mungkin pak . Ayo '' ucap Ana tersenyum.
'' Kau tidak mengajakku sayang '' goda Rafli.
'' Tidak . Kau kan menunggu Jimmy mas '' ucap Ana membuat Rafli dongkol sendiri dan disambut gelak tawa oleh Lia dan juga Rahma .
Sementara Rafli menyambut kedatangan Jimmy beserta dua orang asing yang ia telah ketahui melalui bodyguard nya dan Rafli juga paham apa yang terjadi terhadap putranya .
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya .
Selamat membaca 😊