Takdir Cinta

Takdir Cinta
Enambelas


__ADS_3

Didalam rumah sakit, Ara berharap cemas. Menunggu akan kabar dari Zyan dan yang lainnya. Ara terus mencari berita kecelakaan pesawat tersebut.


Didalam ruangan, Vanya terlihat tidur sudah tertidur dipelukan Wil. Karena merasa lapar, akhirnya Wil keluar dengan diam-diam tak ingin membangunkan Vanya.


Wil melihat tak ada siapa pun didepan ruangannya, membuatnya merasa heran. Kemana semua keluarganya? Wil berjalan sampai di loby rumah sakit. Barulah, dia melihat Ara yang sedang berdiri, tapi wajahnya terlihat begitu tegang dengan menatap layar televisi.


Wil sejenak mendengarkan berita tersebut. Kecelakaan pesawat, tak ada rasa terkejut atau apapun. Hanya rasa sedih saja, karena memikirkan korban yang dinyatakan telah meninggal dunia dan tak ada yang selamat.


"Kasihan sekali kelurga korban itu," gumam Wil.


Wil berjalan menghampiri Ara, memegang pundaknya dan sontak membuat Ara terkejut. Ada yang aeng disana, Ara menangis. Wil semakin penasaran ada apa sebenarnya.


"Kak, kakak kenapa? Kaka menangis, apakah ada korban pesawat itu yang kakak kenal?" tanya Wil.


Pertanyaan, Wil membuat tangisan Ara smekain menjadi. Wil membawa Ara tuk duduk sejenak. Wil berpikir mungkin karena Aras seorang Dokter, jadi hatinya akan merasakan sedih mendengar kecelakaan itu.


"Wil, aku menangis karena aku begitu menyesal," ucap Ara.


"Menyesal tuk apa? Coba, kakak katakan padaku!" pinta Wil.


"Zyvia, Via telah pergi dari sini dan tak memberitahu siapa pun. Dan kau lihat bukan pesawat yang mengalami kecelakaan itu. Zyvia, Zyvia menjadi salah satu korban dari pesawat itu, Wil," ucap Ara sembari menangis.


"Kakak, yang benar saja? Apa kakak sudah mengkonfirmasi berita itu? Dan apakah benar ada Zyvia disana?" tanya Wil tak percaya.


"Zyan dan yang lainnya sedang ke bandara. Mereka sedang memastikan semuanya. Namanya, nama Via tercantum dalam daftar korban, Wil. Dan maskapai tersebut mengabarkan tak ada korban yang selamat," jawab Ara.


Wil mengusap kasar wajahnya. Dia teringat akan apa yang sudah Zyvia lakukan tuk Vanya. Wil belum sempat berbicara dengannya. Bahkan, ucapan terimaksih pun belum Wil katakan pada Zyvia.


"Zyvia, aku harap kau tetap hidup diluar sana. Semoga kau selamat," batin Wil.


Wil menelpon Alex dan menanyakan semuanya, dengan berat hati Alex mengatakan semuanya. Benar jika Zyvia menjadi salah satu korban dari pesawat tersebut. Ara semakin histeris mendengar jika berita itu benar.


"Via, kenapa kau harus pergi dengan cara seperti ini? Maafkan, kakak sayang. Kakak sudah tak percaya padamu," gumam Ara.


Wil menutup telponnya, tubuhnya pun menjadi lemas karena mengingat semuanya. Bagaimana, Zyvia menolong Vanya sebelum dia tiada.


Didalam kamar, Vanya terbangun dan tak melihat siapa pun disana. Vanya duduk bersender mengusap perutnya yang rata. Bulir bening itu kembali menetes membasahi wajah ayunya.


"Sayang, anakku. Sekaran, kamu sudah tenang disana bersama dengan kakak nenekmu, juga dengan kak Al. Nak, kau tahu bagaimana perasaanku saat ini? Rasanya aku ingin ikut pergi bersamamu saja," ucap Vanya dengan menangis.


Vanya begitu merasa kehilangan, calon anaknya telah tiada. Vanya mengingat kejadian penusukan itu dan dia baru ingat akan sosok Zyvia.

__ADS_1


"Zyvia, ya dimana dia? Dia yang sudah menolongku saat itu," gumam Vanya.


Vanya menghapus air matanya, menenangkan hatinya. Vanya berencana tuk keluar mencari keluarganya dan akan menanyakan keberadaan Zyvia. Tapi, terlihat Wil masuk dengan wajah sedih, Vanya bertanya-tanya ada apa?.


"Wil," panggil Vanya.


Wil mencoba tersenyum saat melihat Vanya. Terlihat Vanya sudah lebih tenang dari sebelumnya. Wil menghampiri Vanya dan memeluknya, mengusap pelan surai panjangnya.


"Wil ada apa? Kau kenapa?" tanya Vanya.


Wil hanya menggeleng dengan terus memeluk sang istri. Wil berusaha terlihat baik-baik saja agar Vanya tak terguncang kembali. Tuk sekarang, Wil akan merahasiakan dulu kabar kematian dari Zyvia.


"Wil katakan padaku! Kau kenapa?" tanya Vanya.


"Tak ada, aku hanya mencemaskan dirimu. Aku sangat takut melihatmu begitu sedih," jawab Wil.


"Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku akan belajar tuk ikhlas semua yang telah terjadi," ucap Vanya.


"Maafkan aku. Karena aku, anak kita telah tiada. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu sayang," balas Wil.


"Tidak, ini bukan salahmu. Ini sudah takdir kita yang tak bisa membesarkannya. Tapi, aku yakin anak kita pasti sangat bahagia di surga. Tuhan lebih sayang anak kita," ucap Vanya.


Wil bersyukur karena Vanya tak larut dan mencoba tenang dengan segala cobaan yang dia alami. Wil mencium kening Vanya dengan sangat lama.


Vanya mencoba tersenyum walaupun sebenarnya hatinya masih begitu berduka. Vanya tak ingin terlihat lemah di depan Wil. Dia akan mencoba menutupi kesedihannya, agar semuanya tak merasa khawatir dengan dirinya.


"Wil apa kau melihat Zyvia? Kau tahu kan siapa yang telah menusukku dan Zyvia itu telah menolongku," ucap Vanya.


Wil terlihat semakin sedih mendengar nama Zyvia. Vanya memperhatikan perubahan dari wajah Wil.


"Wil apa kau tahu, dimana Zyvia?" tanya Vanya.


"Zyvia, dia, dia telah kembali ke negaranya," jawab Wil gugup.


"Kembali ke Paris? Tanpa menunggu aku sadar, atau kakak memperlakukannya dengan buruk Zyvia?" tanya Vanya.


Wil tak bisa menjawab pertanyaan dari sang istri. Wil hanya bisa menggeleng dan mengangguk ia.


"Jawab aku! Apa kakak kasar padanya? Dan kemana semua orang pergi?" tanya Vanya.


"Sayang, jangan terlalu banyak bicara. Kak Ara mengatakan padaku, agar kau harus banyak istirahat," jawab Wil.

__ADS_1


"Jangan mengalihkan pembicaraan kita, Wil. Jawab kataku!" pinta Vanya.


"Sayang, kau harus berjanji tak akan menyalahkan Sam. Jika nanti aku sudah menceritakan semuanya," ucap Wil.


"Kenapa ada syaratnya? Ada apa dengan mu Wil?" tanya Vanya.


"Sayang, saat melihat kau tertusuk oleh pisau. Sam mengira jika yang menusuk mu itu adalah Zyvia. Sam begitu murka melihat itu dan mengatakan sesuatu yang membuat Zyvia menangis dan mungkin saja sakit hati padanya," jawab Wil.


"Jadi, kakak menuduh Zyvia? Astaga, kenapa kakak begitu jahat," ucap Vanya.


"An kau tahu. Dalam tubuhnya mengalir darah dari Zyvia. Karena, saat itu kau membutuhkan dari AB dan ternyata Zyvia memiliki darah AB. Selama operasi, Zyvia mendonorkan darahnya padamu," ucap Wiliem.


"Zyvia, jadi dia telah menyelamatkan aku?" tanya Vanya.


"Ya, kau benar. Dan sekarang, Zyvia telah kembali ke negaranya," jawab Wil.


"Zyvia telah pergi? Apakah dia tak ingin melihatku sadar dahulu dan pergi begitu saja? Aku bahkan belum sempat berterima kasih padanya," ucap Vanya.


"Tak ada yang tahu saat, Zyvia pergi," balas Wil.


"Apakah dia pergi karena ucapan dari kakak? Wil, kau harus tahu. Jika, Via itu sudah berubah dan aku sengaja mengundangnya karena aku sudah berniat akan menyatukan lagi kakak dan Zyvia. Membuat mereka bersama dan berbaikan," ujar Vanya.


Tak lama terlihat Ara masuk tuk memeriksa keadaan Vanya. Ara mencoba tersenyum dengan mata sembabnya, Vanya tersenyum melihat Ara.


"Kau merasa lebih baik, Anya?" tanya Ara.


"Ya, kak. Aku lebih baik sekarang," jawab Vanya.


"Kakak akan periksa keadaanmu dulu," ucap Ara.


Vanya kembali merebahkan tubuhnya, membiarkan Ara memeriksa dirinya. Vanya melihat ada yang berbeda pada Ara, Vanya melihat wajah Ara seakan sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kak, kak Ara tidak kenapa-napa kan?" tanya Vanya khawatir.


"Tidak sayang. Kakak baik-baik saja, kau tak usah khawatir," jawab Ara seraya mengusap pipinya.


"Kakak tidak sedang berbohongkan? Aku merasakan kalau kakak sedang menyembunyikan sesuatu padaku," ucap Vanya.


"Berbohong apa? Tentunya tidak, sudah kau istirahtlah agar cepat pulih dan segera keluar dari sini," balas Ara.


Ara mencoba memaksakan tuk tersenyum agar bisa mengelabuhi Vanya tentang keadaannya yang memang sedang bersedih.

__ADS_1


***Bagaimana reaksi Vanya, saat mengetahui jika Zyvia telah meninggal?


Bersambung** 🍂🍂🍂


__ADS_2