
Setelah mendengar semua cerita dari Sofia, Zee semakin bangga dan begitu merindukan kedua orangtuanya.
Sofia menggenggam tangan Zee, menguatkan dirinya. Karena, Sofia tahu jika Azura dan Bumi sudah tiada.
"Nak, dengan siapa kau di negara ini?" tanya Sofia.
"Keluargaku, kakak-kakakku berada di sini. Mereka mengikuti aku pindah kemari," jawab Zee.
"Mommy, dont cry!" pinta Alya.
"No, honey. Mommy tak menangis," ucap Zee sembari tersenyum.
Alya memeluk tubuh sang Mommy. Terlihat Sofia begitu menyayangi Alya.
Setelah Sofia bercerita, Wili menceritakan kenapa dia menghentikan donasinya pada sekolah tersebut.
Alex dan Sofia merasa geram pada Erika, dia sudah begitu lancang memandang rendah Zee dan Alya.
"Tidak tahu, di untung! Sekolah itu aku yang mendonasinya, dan teman-teman ku pun mengikuti diriku!" seru Sofia begitu kesal.
Zee dan Alya hanya bisa diam, hanya karena dirinya keluarga Sander menjadi begitu kesal pada Erika kepala sekolah Alya.
"Jangan lakian apapun pada yayasan atau pun sekolah yang di pegang Erika!" perintah Alex buka suara.
"Baiklah, akunakan menarik semua aset ku pada keluarga Erika," balas Sofia.
"Dan kau, bukannya kau bekerja di perusahaan Anthoni?" tanya Alex.
"Ya, kau benar Tuan," jawab Zee.
"Perjanjian kontrak ku dan Wili apakah kau yang menanganinya?" tanya Alex.
"Tentu, Tuan. Karena aku menejernya!" seru Zee.
"Kau seorang menejer, nak?" tanya Sofia.
"Ya, Nyonya. Aku harus bekerja demi menghidupi aku dan Al," jawab Zee.
"Menghidupi? Ayah dari Alya,-" ucapan Sofia terpotong oleh ucapan Wili.
"Sudah tiada. Mom," ucap Wili sembari menatap Alya dan Zee.
"So sorry, aku tak tahu itu," ucap Sofia merasa tak enak hati.
Zee hanya tersenyum mengangguk menandakan tak apa. Sedangkan Alya menunduk sembari menahan tangis.
"Tak apa, jika Daddy mu sudah tiada. Sekarang ada aku yang menjadi Daddy mu!" seru Wiliem.
Alya mengangkat wajahnya menatap ke arah Wiliem, lalu mengangguk ia seraya memeluk tubuh Wiliem.
Sofia dan Zee tersenyum melihat Alya dan Wiliem. Sedangkan Alex kembali merasa begitu panas di hatinya.
"Tidak, kau sudah berjanji tak akan mengusik kembali kehidupan Wili. Kau harus menjadi kakak yang baik, demi kebahagian Wili," batin Alex.
Setelah menghabiskan waktu seharian di rumah keluarga Sander. Wili mengantarkan Zee dan Alya kembali kerumah mereka.
Di jalan tak pernah habis Alya bercerita dan bercanda dengan Wili. Zee hanya bisa merasa sedikit lega karena bisa melihat sang putri yang bisa tertawa lepas, begitu bahagia karena kehadiran Wiliem.
"Jika kau mengirmkannya tuk kami, aku mohon Tujan, berikan kami jalannya!" pinta Zee dalam hati.
__ADS_1
Sekarang apapun demi Alya, Zee akan lakukan semuanya. Mau dia bahagia atau tidak, asalkan Alya bahagia itu sudah lebih dari cukup tuknya.
"Daddy, nanti harus bisa main kerumah Al!" perintah Alya.
"Baiklah! Tapi, tidak tuk sekarang," balas Wili.
"Ok, Al akan selalu tunggu Daddy tuk bwain lagi dengan Alya," ucap Alya begitu manja pada Wili.
"Al, tidak boleh seperti itu! Kasian, Uncle kan sibuk bekerja nak," ucap Zee.
"Hemm, baiklah. Maaf ya Daddy!" pinta Alya.
"No, honey. Daddy akan sempatkan tuk bermain denganmu," tegas Wili.
Alya mencium pipi Wili sebelum akhirnya turun dari dalam mobil. Zee mengucapkan terimakasih sudah mengantarkannya.
"Terimakasih, sudah membolehkan aku bersama dengan Alya. Dan, tak menjauhkan aku dengan putri kecilmu," ucap Wili tersenyum.
"Aku akan menurutinya, jika itu bisa mmbuat putriku bahagia," balas Zee.
Wiliem tersenyum bahagia karena Zee tak secuek dan sedingin kemarin. Wiliem pun akhirnya pamit tuk kembali dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Zee dan Alya lun akhirnya bisa kembali kerumah mereka. Zee langsung masuk kedalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya, ini adalah tempat ternyaman baginya.
Matanya melihat sekeliling kamarnya, terlihat begitu banyak fotonya, foto keluarga, fotonya dengan Alfa dan tentunya foto Alfa.
Zee memiringkan tubuhnya, sudut matanya sudah basah karena air mata itu kembali mengalir tanpa permisi.
"Ku harap kau tak membenciku! Ku harap, kau mengerti Al jika putrimu membutuhkan sosok figur Ayah," ucap Zee lirih.
"Dan, Alya sepertinya sudah menemukan sosok itu pada diri Wiliem," sambung Zee.
"Princess!" panggil lelaki.
"Aku sudah bukan lagi anak kecil lagi, aku sudah tua dan mempunyai anak. Dan kau masih memanggilku dengan sebutan princess?" tanya Zee.
Lelaki itu hanya tersenyum seraya memeluk tubuh Zee dari belakang.
"Aku merindukan dirimu, dan sampai kapanpun kau akan tetap menjadi princessku!" serunya.
"Jika kau merindukan ku, aku lebih merindukan dirimu!" balas Zee.
"Al, kau kembali datang padaku! Apa, kau ingin memarahiku?" tanya Zee.
"Untuk apa? Apa alasanku, memarahi wnaita yang sangat berarti tuk ku," jawab Alfa.
"Kau lihat bukan apa yang ku lakukan dengan Alya hari ini," ucap Zee.
"Aku akan begitu membenci diriku sendiri, jika masih melihat jalan bersedih karena aku! Aku ingin kau segera kembali tersenyum, penuh dengan kebahagiaan," balas Alfa.
"Aku bahagia dengan hidupku, Al. Asalkan ada Alya dan kau di hatiku!" seru Zee.
"Tidak princess! Kau tak bahagia, kau selalu menangis dan terus menangis. Menyakiti dirimu dan hatimu!" tegas Alfa.
Zee ingin berbalik menatap wajah Alfa. Namun, Alfa melarangnya, terus memeluk dengan erat tubuh Zee.
"Al, apa yang kau katakan?" tanya Zee.
"Lupakan tentang kita! Simpan aku hanya tuk di hati kecilmu paling dalam!" pinta Alfa.
__ADS_1
Zee menangis saat mendengar Alfa mengucapkan itu, hatinya begitu sakit seakan tertusuk sembilu. Ucapan Alfa seakan nyata di dengar langsung oleh Zee.
"Tidak! Aku tak akan bisa melakukan itu. Kau segalanya tuk ku! Kau hidupku, Al. Dan kau mengatakan tuk melupakan semua tentang kita? Kau jangan gila!" bentak Zee dengan napas yang menggebu menahan amarahnya.
"Dunia ku dan dirimu sudahlah berbeda. Duniamu kini tak lagi bersamaku,ada Alya yang harus kau naungi. Biarkan aku saja yang membawa semua cinta dan kasih ku tuk mu dalam tidur panjangku," ucap Alfa.
Zee menangis dengan hebat, dadanya begitu sesak seakan ada batu yang menindihnya. Tubuh Zee bergetar dengan isakan tangisnya.
"Al, aku tak mau! Aku tak mau!" teriak Zee terasa dari mimpinya.
Napas Zee naik turun dengan begitu cepat, wajahnya basah oleh air mata. Kenapa mimpi itu begitu nyata Zee rasakan.
Zee memegang erat kalung pemberian dari Alfa, air matanya semakin mengalir deras. Isak tangis Zee kembali terdengar setelah beberapa dia menangis.
************************
Di dalam rumah keluarga Sander, Alex dan Wili sedang sama-sama di dalam kamarnya. Mereka memikirkan satu wanita yang sama, perasaan yang sama dan menginginkan wanita yang sama pula.
"Tak akan ku paksa dirinya. Biarkan semuanya mengalir dengan begitu saja! Aku hanya tak ingin melihat putri kecil itu kembali menangis dan merasa sendirian," ucap Wiliem.
Hatinya memang belum merasakan perasaan yang lebih pada Zee. Mungkin, sekarang hanya ada rasa suka dan simpati pada wanita cantik tersebut. Wanita yang begitu kuat, hebat menurut Wili.
Senyuaman nya begitu menyejukkan dirinya. Setiap tatapan matanya seakan anak panah yang menancap dalam jiwa.
"Zee, mungkin sekarang aku hanya bisa menjadi Daddy dari anakmu saja. Tapi, aku harap suatu saat nanti aku bisa menjadi seseorang yang menutupi kesedihanmu, melengkapi hidupmu," imbuh Wili.
Berbeda dengan Wiliem, Alex yang saat pertama bertemu dengan Zee berencana mengejar Zee pun pupus sudah.
Alex tak ingin kejadian terulang kembali, hati Alex akan sakit jika mengingat semua itu. Bayangan masa lalu membuat Alex menjaga hati dari Wiliem.
"Aku akan kembali mengubur Wili, jika aku tak bisa melepaskan perasaan ini. Dan aku akan melihat neraka kembali di mata Wili," gumam Alex.
Alex menutup matanya, merendam semua tubuhnya di dalam bath up yang penuh dengan air.
Blubuk...blubuk...
"Hah... Hah..hah.." napas Alex naik turun. Dadanya berdegup kencang.
"Sial! Ini sudah sangat lama. Tapi, kenapa aku masih saja tak bisa mengatasi traumaku! umpat Alex kesal.
Dengan cepat Alex membilas tubuh kekarnya yang polos itu dengan air dingin. Cukup lama Alex membiarkan tubuhnya di guyur air shower.
Setelah 15 menit akhirnya Alex keluar dari kamar mandi. Segera memakai kaos dan celana pants pendeknya. Melihatkan otot di lengannya, dada bidang dan perut sixpack nya yang terlihat jelas di kaos polosnya.
"Lelaki ******** akan tetap menjadi ********! Kau harus sadar itu, Alexander!" tegasnya pada dirinya sendiri.
Demi tuk melindungi sang adik, Alex menjadi lelaki yang ********. Mempunyai banyak wanita, bergonta ganti pasangan, sering keluar club malam, bersenang-senang dengan wanita sosialita.
Berbeda dengan Wiliem yang sangat menjaga jarak dengan wanita. Menjaga perjakanya hanya tuk calon istrinya. Menjaga hati dan perasaan wanita.
Tapi, ada yang berbeda dengan Wili saat dia berada dekat dengan Zee. Dia seakan berubah menjadi sosok yang sangat jentel. Menjaga Zee dan Alya, memutuskan apa yang harus dia lakukan pada mereka.
Cinta memang tak bisa di perkiraan. Tak tahu dengan siapa, dimana, kenapa, tanpa alasan. Karena cinta memliki ruang tersendiri, memiliki rasa kuat tuk seseorang menjadi kuat dan lemah dalam waktu yang bersamaan.
Siapa yang bilang kurang seru 😠😠
Kau tak tahu jika thor juga bukan hanya hidup dalam dunia novel saja? Aku juga harus berinteraksi dengan dunia nyata ku!!
Jadi, harap di maklumi saja, waktu ku harus ku bagi menjadi dua 😁😁😁
__ADS_1
Jangan lupa juga LIKE nya!!! Ok, Ok semuanya!!!