
Malam hari di kediaman Sanders, terlihat suasana yang begitu canggung. Sofia bisa merasakan sesuatu antara Alex dan Wili. Mereka seakan sedang perang batin.
"Ehemm, Alex bagaimana dengan kerjamu? Dan kau Wiliem, bagaimana hubunganmu dengan Zee?" tanya Sofia.
"Uhuk,,uhuk,,uhuk,," Alex dan Wili batuk dalam bersama, membuat Sofia mengerutkan dirinya seraya menatap kedua anaknya.
Alex dan Wili pun langsung meminum air tuk bisa melegakan tenggorokan mereka.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Sofia.
"Apa? Tidak ada apa-apa denganku. Jika Wil, aku tak tahu" seru Alex dengan nada sinis.
"Ada apa denganku? Hubunganku baik-baik saja, mungkin saja kau yang tak baik," balas Wili tak kalah sinis.
Akhirnya mereka pun berakhir dengan tatapan tajam dan ucapan yang memicu pertengkaran.
"Haish,, kapan kalian dewasa? Usia kalian itu sudah 32 tahun. Dan masih saja, seperti anak usia 10 tahun," sindir Sofia.
"Mom!" ujar Alex dan Wili bersamaan.
"Selesai kan sekarang juga! Jangan buat seorang wanita tersakiti, apalagi itu wanita baik seperti Zee!" perintah Sofia menatap tajam ex dan Wiliem.
Glek,,,
Alex dan Wili tak menyangka, jika sang Mommy bisa mengetahui isi pikiran mereka.
"Ada apa denganmu dengan Zee, malam itu? Aku rasa sudah terjadi sesuatu antara kalian," ucap Wiliem.
Mata Alex menatap penuh pada Wiliem, darimana dia bisa tahu soal itu
"Jangan menatapku seperti itu! Aku tahu semuanya, karena saat aku ingin cek in. Pegawai mengatakan jika kau juga baru cek in," imbuh Wiliem.
"Ok fine, kau juga pasti tahu bukan. Apa yang di lakukan sepasang lelaki dan wanita dewasa jika berada di kamar hotel," ucap Alex santai.
Mata Wiliem membulat tak percaya, jadi apa yang di katakan Zee benar apa adanya. Yang mmbuat Wili marah adalah ekspresi Alex yang biasa saja, malah seakan santai saja.
"Kau menidurinya seperti kau meniduri wanita-wanita mu yang lain?" tanya Wiliem.
"Tidak! Kali ini aku hanya menolongnya saja," jawab Alex.
"Huh, pintar sekali jawaban mu. Dengan alibi menolong kau telah merebut wanita yang adikmu dekati," sindir Wiliem.
"Wil, come on. Aku tak seperti itu!" seru Alex.
"Tak seperti itu, bagaimana? Aku camkan padamu, jika kau sudah berani berbuat kau juga yang harus bertanggung jawab. Aku tak mau wanita bekas dari dirimu!" balas Wiliem.
"Wiliem! Jaga ucapanmu! Jangan samakan Zee dengan wanita-wanita di luar sana!" hardik Alex penuh emosi.
"Tapi, nyatanya apa? Dia memang sudah kau tiduri dan bukankah itu namanya barang bekas?" tanya Wiliem sedikit menghina Zee.
Alex begitu geram dengan ucapan Wiliem pun mengangkat meja makan itu dengan sekali balikan. Semua makanan yang berada diatasnya berjatuhan, piring dan gelas sudah pecah.
Alex begitu marah, tak suka mendengar ucapan dari Wiliem. Sedangkan Wiliem hanya tersenyum miring menatap Alex yang begitu emosi saat dia mencoba menghina Zee.
__ADS_1
"Akan ku robek mulutmu! Jika sekali lagi kau ucapkan kata-kata tak pantas itu!" hardik Alex.
"Kenapa, kenapa Tuan Alexander yang terhormat ini begitu marah saat seorang wanita biasa seperti Zee, dikatakan wanita bekasmu? Kau seperti bukan Alexander yang biasanya," sindir Alex.
Mata Alex sudah penuh dengan kemarahan, otot lengannya sudah terlihat, karena tangan itu mengepal dengan sangat sempurna.
"Jika kau tak tulus padanya, lepaskan dia! Jauhi dia dan jangan terus memakai topeng malaikatmu itu!" bentak Alex.
"Kau tak bisa memerintahku! Karena bagi mereka aku ini malaikat pelindung mereka, dan itu bukan aku yang mau!" sergah Wiliem, tak kalah dengan Alex.
"Wiliem," teriak Alex seraya berlari memukul Wiliem.
Wiliem dan Alex saling baku hantam, mereka sama-sama kuat. Mempunyai skil bertarung yang sama-sama hebat. Sofia berjalan keluar dari kamarnya dan melihat kedua anaknya yang sedang bergulat hanya santai berjalan dan duduk menonton mereka.
"Apa-apan ini? Apa mereka sedang bernostalgia? Hemm, Dad lihat anak-anakumu hanya membuatku semakin jantung saja," ucap Sofia, seakan berbicara dengan mendiang sang suami.
Alex dan Wili sudah sama-sama babak belur dan terdapat darah di pelipis mereka, bibir dan ruam biru di seluruh wajahnya.
"Huh,,,huh,,,huh,, dasar sial! Kenapa kau membuat wajah tampanku menjadi seperti ini, huh?" hardik Alex melihat wajahnya babak belur.
"Hey, jika kau seperti itu bukankah itu sudah biasa, karena kau lelaki playboy banyak wanita. Tapi jika seorang Wiliem bermuka babak belur sungguh tak pantas dengan image ku yang bak pangeran dalam dongeng," ujar Wiliem.
"Cih, pangeran kau bilang? Sungguh tak ada pantasnya sama sekali," balas Alex dengan sedikit menyindir.
"Huh, penggila s**sk seperti mu itu tak pantas mengatakan pangeran padaku," ucap Wiliem.
"Haish, kau harus ku hajar sampai tak bisa lagi berkata," ucap Alex seraya ingin kembali memukul Wiliem. Namun, langkahnya tertahan dengan sebuah pas bunga yang di lempar ke arah mereka.
"Apa kau gi...-" ucapan Alex terhebat saat melihat siapa yang melempar pas tersebut.
"Alexander, kau mau mengatakan gila padaku? Ya, aku gila karena melihat hidupmu yang gila s**sek, gila dengan kehidupanmu yang penuh skandal, penuh dengan air mata," ucap Sofia dingin.
"Dan kau juga Wiliem, selalu saja membuat aku sama gilanya dengan semua pikiranmu. Dengan semua apa yang kau perbuatan diam-diam di belakangku," ucap Sofia seraya menatap Wiliem.
"Mom," panggil Wiliem lirih.
Alex hanya bisa diam menunduk, ya dia begitu sadar apa yang sudah dia lakukan pada sang Ibu di masa lalu. Alex hanya bisa terduduk dengan memegang kakinya.
"Mau sampai kalian membuatku mati perlahan? Aku sudah lelah menjaga kalian, aku sudah lelah terus menengahi kalian. Seharusnya di usiaku yang tua ini, kalian memberikan aku seorang menantu dan cucu yang baik," ucap Sofia seraya menutup matanya.
"Mommy," teriak Wiliem seraya berlari mendekati.
"No, jangan sentuh aku! Melihat darah di tanganku saja membuatku merasa jijik!" seru Sofia.
Wiliem terhenti, matanya sudah berkaca-kaca seraya melihat darah di tangannya dan berbalik melihat ke arah Alex.
Wiliem terduduk menangis menatap sang Mommy dan kembarannya. Wiliem terisak meminta maaf, memohon pada sang Mommy.
"Mom, sorry. Aku salah! Maafkan aku," ucap Wiliem lirih menatap Sofia.
"Aku meminta kalian tuk menyelesaikannya bukan malah membuatnya semakin runyam," ucap Sofia.
"Aa-aku, aku menyukainya. Aku mencintainya, Mom. Wanita itu sudah membuatku gila," ucap Alex tiba-tiba.
__ADS_1
"Jika kau menyukainya kenapa kau smwkain menyakitinya! Dan membuat dia semakin membencimu?" tanya Sofia.
Alex tak menjawab hanya hembusan napasnya saja yang terdengar berat, wajahmu masih menunduk dengan penuh air mata.
"Alex, jawab apa yang aku tanyakan!" pinta Sofia.
"Aa-aaku hanya tahu aku begitu mencintainya. Dan brengsekknya, dia tak bisa memilih antara aku dan Wiliem. Aku begitu membenci itu," jawab Alex.
Wiliem tanya tersenyum tipis dengan memalingkan wajahnya, entah kenapa hatinya begitu lega mendengar jawaban dari Alex.
Dari kejauhan tepatnya di belakang pintu rumah besar itu sudah ada sosok wanita yabg berdiri dengan deraian air mata, menyaksikan drama dari dua lelaki yang sudah membuat dirinya bimbang.
Wiliem yang mengetahui Zee dan Alya masuk dengan jalan perlahan, menatap penuh sang Mommy lalu menatap kembali Zee dan Alya.
Alya berlari menghampiri Wiliem, air mata gadis kecil itu mengalir deras saat melihat wajah Wiliem yang babak belur, ada darah, ruam biru disana.
Wiliem tersenyum sembari menghapus air mata Alya, sebaliknya Alya menyentuh luka-luka itu dengan perlahan.
Sedangkan Zee berjalan ke arah Alex berdiri tepat di depan Alex. Hatinya begitu senang, sedih, lega, semua rasa itu tercampur menjadi satu.
"Kenapa, kenapa kau membuat hatiku hancur lalu kau rapihkan lagi, membuatnya patah tapi kau sembuhkan lagi. Dasar lelaki brengsek!" umpat Zee menatap Alex dengan deraian air mata.
Alex yang mendengar suara Zee begitu terkejut saat melihat ada kaki di hadapannya, lalu melihat siapa wajahnya.
"Zee, kau," panggil Alex.
"Kenapa? Apa kau terkejut, kalau wanita murahan ini ada di hadapanmu?" tanya Zee.
Alex langsung bangun dan memeluk Zee dengan erat. Alex berkali-kali mengatakan maaf, memohon ampun pada Zee yang pernah tanpa sengaja mengatakan itu.
"Aku mohon maafkan aku! Aku, aku memang lelaki brengsekk yang selalu membuat hatimu terbuka dengan segala prilakuku. Aku mohon maafkan aku!" pinta Alex.
Zee hanya bisa menutup matanya, air mata itu masih mengalir deras, tubuhnya masih di peluk erat oleh Alex.
"Aku, aku begitu mencintai dirimu. Aku hanya ingin kau menjadi milikku, dan aku tak suka kau bersama dengan lelaki lain termasuk Wili," ujar Alex.
Bukannya diam, Zee semakin terisak karena pernyataan cinta dari Alex. Alex yang sebenarnya tak menyukai jika Zee menangis pun melepaskan pelukannya.
"Kenapa kau semakin menangis? Apa aku melukaimu lagi?" tanya Alex sambil menagkup wajah Zee.
Zee hanya bisa menggeleng dengan air mata kebahagian. Alex tersenyum dan langsung mencium bibir Zee. Tanpa dia memikirkan disana ada Sofia, Wiliem dan Alya.
"Haish, anak itu sungguh keterlaluan," ucap Sofia memalingkan wajahnya.
Sedangkan Wiliem berbalik dan menutup mata Alya.
"Hah, dasar tak tahu diri!" umpat Wiliem kesal.
Alex dan Zee larut dalam semua perasaan mereka, tak perduli dengan apa yang ada di dekat mereka. Yang mereka tahu cinta mereka satu sama lain terbalas.
Hembusan angin tiba-tiba mengelilingi Alex dan Zee. Entah darimana angin itu datang, Zee melepas ciumanya dari Alex. Dadanya tiba-tiba sesak, air matanya kembali mengalir.
"Al, kau datang? Kau melihatnya? Aku, aku merasakan cinta itu kembali," batin Zee seraya memegang kalungnya.
__ADS_1
"Aku berjanji menjadi kekasih amu wanitaku yang terakhir. Karena memang hati ini sudah menjadi miliknya sejak dulu," batin Alex seraya memeluk Zee kembali dan mencium kening nya.
Akhirnya cinta itu berlabuh pada hati yang sama. Takdir tak akan bisa di pisahkan, karena memang hati Zee hanya tuk satu hati dan selamanya akan seperti itu.