
Rafli pulang ke mansionnya dengan membawa seikat bunga mawar putih di tangannya. Melihat Ana yang berjalan masuk membuat jantungnya berdetak kencang , namun Ana hanya tersenyum tipis padanya. Ana sudah memaafkan suaminya namun rasa kecewa masih mendominasi.
" Dia masih marah padaku " batin Rafli , kemudian mengikuti Ana menuju kamar mereka.
" Sayang " sapanya seolah tak ada terjadi keributan sebelumnya.
" Ehmmm " sahut Ana dingin.
" Maafkan mas ya " ucap Rafli yang langsung memeluk Ana karena rasa rindu yang ia tahan dari semalam dan langsung memberi seikat bunga mawar putih yang begitu indah untuk Ana.
" Aku sudah memaafkan mas dan sekarang mandilah , aku akan segera siapkan airnya " ucap Ana membuat Rafli menarik nafas dalam dan menuruti kemauan istrinya agar tak bertambah marah.
Saat Rafli di dalam kamar mandi , Ana segera membaca surat yang terselip dalam bunga itu. Harum , itu yang tercium dari indera penciuman Ana.
" Sayang maafkan mas , maafkan semua yang terjadi , mas sungguh sangat menyesal sayang , berjanjilah apapun yang terjadi jangan meminta pisah dariku. Ana Gunawan aku mencintaimu , untuk orang yang paling aku cintai Ana Rafli Wijaya , teruslah berada disisi pria tak sempurna ini "
" Aku telah memaafkanmu mas , tapi jujur untuk kecewa masih ada di hatiku , kelakuanmu membuatku sedikit trauma mas " gumam Ana...
Ana sengaja menghindari Rafli saat ini , ia memilih kebawah untuk segera makan. Saat kembali ke kamarnya pun Rafli belum selesai dengan mandinya , terbukti dengan kamar mandi yang tertutup dan pakaian yang di sediakan Ana tetap pada posisinya.
Ana memilih merebahkan dirinya dan tidak lama Ana terlelap.
Ceklek
Rafli menghela nafasnya berat karena melihat Ana yang tertidur pulas. Rafli memandangi Ana dengan cermat , sifat dingin Ana membuat dirinya tak tenang , tidak ada senyum di bibir wanitanya. Handphone Rafli berdering dan ternyata telepon dari Dewi yang memberitahu perubahan jadwal jika besok siang ada meeting di restauran tepatnya di mall salah satu milik Rafli sendiri.
" Sayang bangun , ayo kita makan malam " ucap Rafli lembut seraya menguncang lengan Ana pelan.
" Ihhh aku ngantuk mas " gerutu Ana masih memejamkan matanya.
" Sayang kasihan anak kita , apa ia tak lapar dalam sana " ucap Rafli pantang menyerah , ia peduli terhadap Ana dan anak dalam kandungannya , apalagi Rafli terbiasa makan malam bersama Ana.
" Apa kau tak mengerti , aku ngantuk mas " ucap Ana kesal dengan meninggikan suaranya karena ia merasa Rafli mengganggu tidur.
" Ya sudahlah " ucap Rafli yang ikut terpancing emosinya , ia merasa Ana sengaja menghindarinya.
Rafli menuju meja makan dengan suasana hati yang begitu buruk. Ia mengambil beberapa makanan untuk mengisi perutnya.
Sesuap membuat Rafli berhenti , masakan terlezat pun bagi Rafli saat ini seperti sampah. Bertengkar dengan Ana itu hal yang paling ia hindari dengan Ana dari dulu karena itu akan berimbas kepada dirinya yang akan terpuruk , namun ini masalahnya berbeda dan anak buahnya pun lama dalam menangkap seseorang yang rasanya ingin ia cincang sendiri.
" Aaragggghhh " teriak Rafli menghempaskan kasar semua yang di atas meja , membuat isinya berhamuran.
" Berengsek " makinya.
" Tuan " ucap Susi yang hendak ingin menenangkan Rafli.
" Pergilah dan kalian jangan ikut campur , apapun yang terjadi . Jika kalian masih ingin hidup " ucap Rafli penuh amarah membuat para pelayan takut ..
" Baim " teriak Rafli menggema.
" Ya tuan " sapa Baim yang kini wajahnya memucat menyaksikan ruang makan yang seperti kapal pecah.
" Kau pinta pada mereka ( menunjuk seluruh pelayan wanita ) untuk mengumpulkan handphonenya dan larang siapapun untuk masuk kerumah in. Perketat penjagaan " ucap Rafli meninggalkan mereka yang termenung tak percaya.
Brakkk suara dentuman pintu ruang kerja menyadarkan mereka.
" Baim " ucap Susi protes dengan perintah Rafli.
" Maafkan aku bu Susi , aku tidak bisa membantahnya. Kecemasan kita semua sama. Tapi aku percaya , jika tuan muda tidak mungkin menyakiti nona Ana " ucap Baim lemah.
" Bagaiamana caraku menghubungi tuan Jim atau Tuan Wijaya . Lindungilah nona Ana Ya Allah apapun yang terjadi . Malapetaka apa ini yang engkau takdirkan dalam rumah ini " Batin Susi menangis.
Diruang kerjanya Rafli memutus seluruh kemunikasi untuk keluar , ntah apa yang merasukinya saat ini.
Rafli menghilangkan kecewanya dengan menengguk sebotol wine yang cukup bisa membuatnya mabuk meski kandungan alkoholnya cukup rendah , ia sengaja menyimpannya sekitar dua botol untuk sekedar menghangatkan tubuhnya jika diperlukan...
Tanpa sengaja ia menginjak flashdisk di kakinya , bukan punyanya , itulah tanggapan Rafli.
" Ini flashdisk yang ku cari , ini satu paket dengan amplop itu jika tidak salah , foto apalagi yang ada disini " gumam Rafli penasaran , membuatnya menyalakan laptop dan kemudian menghubungkannya dengan flashdisk itu..
Rahang Rafli langsung mengeras , nafasnya memburu , ia bisa menghancurkan semua yang ada di depannya.
" Apa kurangnya aku , hingga kau tega sejauh ini menyakitiku . Mencintaimu kini sesakit ini " gumam Rafli yang masih tersadar meski tak sepenuhnya. Rafli segera mematikan video itu , ia merasa tak sanggup bahkan saat ini pun ia ingin segera mati.
" Sebelum aku mati , kau yang lebih dulu pantas mati " ucap Rafli bahkan suara petirpun ikut menggema bersamaan hujan yang membasahi dinginnya bumi malam ini.
.........
Sementara di kediaman Gunawan , Laras mendadak bangun dari tidurnya dengan perasaan yang tak menentu. Ia segera mengambil air untuk meredakan tenggorokannya yang mendadak tercekat , namun tangannya cukup gemetar membuat gelas yang ia sentuh terjatuh sehingga Gunawan menjadi terjaga dari tidurnya.
" Bu , kau kenapa " ucap Gunawan khawatir menatap wajah istrinya.
" Perasaan ibu tak enak pak , ibu tiba-tiba mencemaskan Ana pak " ucap Laras lirih bahkan air matanya sudah tumpah.
" Ibu juga telepon Ana namun tak diangkat " imbuh Laras kini sibuk dengan benda pipihnya
__ADS_1
" Ibu lebih baik sholat agar diri ibu tenang. Mungkin ibu cemas karena Ana tinggal dua minggu lagi akan melahirkan " ucap Gunawan.
" Ana tidak mengangkat karena pasti sudah tidur bu " imbuhnya.
" Tapi ibu ingin kesana pak " ucap Laras.
" Ibu , di luar hujan deras , kasian Rizki jika di tinggal sendiri dirumah dan kita juga kehujanan nanti " ucap Gunawan lembut. Gunawan dan istrinya selalu menolak mobil pemberian dari Rafli karena tidak enak merepotkan menantunya dan Gunawan lebih bahagia menikmati hasil jerih payahnya sendiri , memiliki menantu kaya raya tidak membuat Gunawan lupa diri begitu juga dengan istri dan anak-anaknya.
" Kita bisa meminta kepada supir Rafli atau bodyguard lainnya untuk mengantar kita " ucap Laras kekeh.
" Bu , ini sudah larut sekali. Bapak tidak ingin merepotkan mereka. Ibu sholatlah , dengarkan bapak kali ini " ucap Gunawan tegas.
Laras keluar kamar membasuh mukanya dan berharap Ana baik-baik saja. Laras memilih sholat di kamar yang biasa di tempati Ana. Ibu mulai dzikir menggunakan Tasbih , saat melewati butir yang ke dua puluh satu tanpa sebab apapun , tasbih yang di buat dengan Ana ini terputus membuat mutiara tasbih itu menyebar kemana-mana bersamaan dengan mata sang ibu yang terbuka dan menangis tersedu , segera belari menuju kamarnya masih dengan mukenah dan sebagian mutiara tasbih yang masih tergenggam.
.......
" Brraakkk " Rafli membuka pintu kamar dengan kasar membuat Ana yang ingin meminum airnya tersentak kaget dan gelas itu terjatuh.
" Mas kau " ucap Ana kaget dan bertambah panik saat melihat tangan kiri Rafli menggenggam senjata api.
" Mas jangan mendekat " ucap Ana takut dan berjalan mundur dan matanya mulai berkaca-kaca.
" Jangan mas " ucap Ana yang pelan-pelan membuka pintu balkon kamarnya karena pintu keluar sudah di kunci Rafli.
" Mas ada apa dengamu " ucap Ana melihat Rafli karena hanya menangis tanpa suara dan tanpa menjawab semua kecemasan Ana.
" Mas sadar aku ini istrimu " ucap Ana mulai terisak.
" Kau memang istriku dan anak siapa yang kau kandung , Ana " teriak Rafli dengan pistol yang mengarah ke kening Ana kemudian turun ke arah perut.
" Kau jangan gila mas ,ini anakmu...hikss..... Kenapa kau tak percaya padaku , bahkan kau hanya percaya pada foto yang belum tentu kebenarannya itu. Hanya kau yang menyentuhku mas , aku bukan wanita murahan yang bisa di sentuh dengan siapapun " teriak Ana di sela tangisnya.
" Cihhhh , tapi aku meragukan anak yang kau kandung bahkan aku meragukan cinta dan setiap ucapan yang keluar dari bibirmu " ucap Rafli penuh penekanan.
" Sadar mas, kau sedang mabuk saat ini " sahut Ana yang mencium bau alkohol dari setiap hembusan nafas Rafli.
" Aku tidak mabuk dan aku sadar , aku juga lebih sadar bahwa kau wanita yang tak pantas aku cintai " jawab Rafli emosi.
" Mas tarik ucapanmu yang terakhir atau kau akan menyesal selamanya " ucap Ana menangis tidak kuat menatap Rafli.
" Katakan padaku sayang , anak siapa ini " ucap Rafli yang kini pistolnya sudah menempel dengan perut buncit Ana.
" Ini anakmu " jawab Ana tegas.
" Kau masih bilang anak haram ini anakku " teriak Rafli.
" Jaga ucapanmu mas , aku akan marah pada siapapun saat orang menghina anakku. Jika kau tak mengharapkan anak ini, ceraikan aku karena kau menyesal mencintaiku , bukan " ucap Ana terisak dan kata cerai dari mulut Ana membuat Rafli terdiam sesaat dan pandangannya kosong , Ana segera membuang pistol Rafli hingga terjatuh kehalaman bawah.
" Ana apa yang kau lakukan " teriak Rafli.
" Aku akan membunuh anak ini , karena tak pantas hadir dirahimmu " imbuhnya geram , bayangan video itu terus saja muncul.
Pllakkkk , Ana kembali menampar Rafli hingga sudut bibir Rafli berdarah.
" Kau yang tak pantas menjadi seorang ayah. Aku sungguh menyesal menikah dengamu bahkan aku menyesal pernah bertemu denganmu Rafli " teriak Ana .
" Kau ingin membunuh nya , anakku yang belum pernah melihat dunia ini. Kau bisa membunuhnya sekaligus dengan ku bukan tanpaku " imbuh Ana , ia memasrahkan dirinya kepada Rafli atau kepada petir yang akan menyambar dirinya.
" Kau akan menyesal dengan semua tindakanmu malam ini Rafli , karena seumur hidupku tak akan melupakan ini. Bahkan jika kematianpun tiba , aku tak akan memaafkanmu yang menghina anakku. Aku berharap di kehidupan mendatang , tak pernah di pertemukan dengan dirimu " ucap Ana dengan tangis pilu namun sosok pria di depannya hanya menangis belum lunak sedikitpun.
" Seumur hidupmu akan terikat denganku Ana , kau tak akan mati sebelum aku mengizinkannya " ucap Rafli tegas dan menarik tangan Ana paksa karena Ana mencoba melompat terjun dari balkon.
" Lepaskan aku , biarkan aku mati , jangan menyentuhku , aku membencimu Rafli " ucap Ana terus berontak bahkan perutnya yang kram ia tahan.
" Besok ceraikan aku " teriak Ana dan Rafli melepas genggamannya saat telah tiba di tepi ranjang.
Pllakkk tamparan keras mendarat di pipi mulus Ana membuat tubuh Ana tejatuh di atas kasur. Rafli menatap tak percaya apa yang ia perbuat namun amarahnya belum meredah.
" Aauuuuwww sakit Rafli " teriak Ana saat meraskan sakit di kulit kepalanya karena Rafli menarik rambut Ana dengan kasar.
" Kau b*jingan " umpat Ana.
" Katakan ini anak siapa " tanya Rafli.
" Anakmu " jawab Ana kesakitan.
" Ibu tolong aku bu , aku tidak mau menjadi istrinya lagi. Tuhan , tolong lindungi anakku apapun yang terjadi " batin Ana dengan air mata yang telah menetes .
" Baik , akan ku beri pelajaran pada anak ini " ucap Rafli membuka cepat pakaiannya hingga dirinya polos dan dengan cepat juga membuka pakaian Ana.
Rafli menarik paksa Ana untuk berbaring telentang.
' Aaahkkkk , sakit " jerit Ana saat Rafli memasukkannya secara kasar dan menghentaknya begitu kuat.
" Ya Tuhan , selamatkan anakku " batin Ana seraya membiarkan Rafli melakukan yang apapun padanya menahan rasa perih di bagian bawahnya.
__ADS_1
" Mas , sakit aku tak sanggup " ucap Ana lirih.
" Hebat mana , aku atau dia " ucap Rafli yang sesekali memejamkan matanya.
" Mas hentikan aku tak sanggup mas " ucap Ana dan Rafli segera men*ium kasar bibirnya.
" Kau milikku Ana , hanya milikku. Aku mecintaimu Ana , sangat mencintaimu. Aakkhhh " racau Rafli terus menikmati apa yang terjadi saat ini.
" Tuhan , aku tak sanggup lagi " batin Ana.
" Aku akan menerima anak ini Ana karena aku tak ingin kau jauh dariku. Aku mencintaimu Ana " ucap Rafli namun Ana sudah tak mendengarkannya.
Rafli masih terus melakukannya menyalurkan hasratnya dan membuktikan pada Ana bahwa dirinyalah yang pantas menyentuh Ana dan bisa memuaskan Ana. Suara hujan bagai pengantar ke indahan malam ini pada Rafli dan suara erangannya berlomba dengan derasnya hujan saat ini.
" Aku mencintaimu Ana , maafkan aku " ucap Rafli mencium kening Ana , usai percintaan panas mereka .
Rafli berbaring disamping Ana , kemudian menutupi tubuh mereka . Rafli memeluk Ana yang telah memejamkan matanya lebih dulu.
.
.
.
Pagi telah tiba , suara ponsel Ana berbunyi membuat Rafli terbangun melihat Ines yang meneleponnya.
" Mengganggu saja " gumam Rafli yang merasa tidurnya kurang karena semalaman memarahi Ana kemudian menggempur tubuh istrinya hingga subuh tiba.
" Kenapa " jawab Rafli kesal.
" Aku akan mengantarkan singkong pagi ini " sahut Ines.
" Kau sibuk seperti tukang jualan dipasar saja " ucap Rafli.
" Hei , ini istrimu yang minta ' jawab Inez.
" Mana Ana " tanya nya
" Istriku masih tidur , kau pagi mengganggu saja " geram Rafli.
" Hei ini sudah jam 8 dan aku mau kesana , antar pesanan Ana " ucap Inez menutup sambungan telepon tiba-tiba.
" Apa jam 8 " gumam Rafli terperanjat kaget.
" Aku harus segera siap-siap. Biarlah Ana tertidur dulu " imbuhnya mencium kening Ana dan berlalu membersihkan dirinya dengan cepat.
Kini handphone Rafli berdering tepat saat ia baru keluar dari kamar mandinya. Ia mengangkat panggilan telepon dari anak buahnya. Senyumnya mengembang saat mendengar kabar baik tersebut dan memutuskan akan kesana lebih dulu.
" Tak ada yang bisa memilikimu selain aku Ana , lihatlah selingkuhanmu akan mati di tanganku " gumam Rafli dan segera bersiap untuk berpakaian.
" Pipiku terlihat memar sedikit" gumam Rafli saat becermin namun ia acuh .
Rafli menuruni tangga dan di temui sudah ada Jimmy yang menunggu.
" Bi " ucap Rafli terhenti saat kedatangan Ines dan yang membuatnya kaget sosok Darwin yang memikul sekarung singkong di bahunya , terlihat jelas wajah cemberut Darwin..
" Ines aku ingin bicara denganmu " ucap Rafli dengan nada tak suka.
" Aku ingin ketemu Ana " ucap Ines saat mereka sudah menjauh dari Darwin.
" Kau tau ini mansionku " ucap Rafli menahan emosinya dan di jawab oleh anggukan dari Ines.
" Kenapa kau membawa orang asing kerumah ku " imbuhnya.
" A...aku .... Dia yang memaksa ikut kesini " jawab Ines gugup , ia sadar kesalahannya.
" Dia hanya rekan bisnis ku Ines , jika ia membeberkan identitas Ana apa kau mampu bertanggung jawab atas keselamatan Ana " tanya Rafli.
" Aku yakin , Darwin tidak akan mengatakannya pada siapapun " jawab Ines mantap.
" Jika itu terjadi , bersiaplah untuk ku lenyapkan. Aku tidak pandang musuhku Ines , meski kau sahabat yang paling disayangi istriku " gumam Rafli berlalu pergi dari hadapan Ines.
" Bi , kekamarlah segera , bantu Ana membersihkan dirinya dan pakaikan baju " ucap Rafli berbisik.
" Iiii ya tuan " ucap Susi ia kaget melihat pipi Rafli yang memar.
" Hai " sapa Darwin dengan senyum mengembangnya kepada Rafli namun Rafli menatapnya tak suka dan berlalu di ikuti Jimmy .
" Sombongnya " batin Darwin.
Selepas kepergian Rafli , Susi menghampiri Ines dan Darwin untuk mempersilahkan duduk lebih dulu. Ines dan Darwin menolak minuman yang akan di buatkan untuk mereka , ia hanya ingin bertemu Ana karena rasa rindu..
" Nona , saya akan memanggilkan nona Ana " ucap Susi dan diangguki ines sementara pria disampingnya mulai sibuk dengan benda pipihnya.
" Astaghfirullah , nona Ana " teriak Susi menggema dan di dengar para pelayan wanita dan juga Ines serta Darwin.
__ADS_1
" Ana " ucap Ines khawatir dan segera melangkah menuju kamar dimana Ana berada. Sedangkan Darwin ingin melangkah namun ia ragu.
" Jangan lupa like dan komentarnya.....