Takdir Cinta

Takdir Cinta
Mencintaimu dari jauh


__ADS_3

Sementara di Italia , Uni dan Rahma segera menuju bandara untuk segera berangkat ke Indonesia.


" Ayo Uni cepatlah " seru Rahma dengan wajah yang sembab... Ia menangis seharian karena mencemaskan ibunya namun pesawat pribadi Rafli yang di Italia di gunakan Devan yang belum kembali dalam urusan bisnis.


Dengan air mata yang masih mengalir menghiasi wajah cantiknya membuat Rahma tak memperhatikan jalan.


Brruugghh


" Aauuwww " pekik Rahma karena tangannya menyentuh aspal.


" Berdarah " gumam Rahma melihat siku tangannya. Emosi Rahma meluap karena ia baru saja melakukan perawatan mahal kulitnya yang membuatnya berhemat.


" Kurang aj... " ucap Rahma terhenti ingin memaki pria di hadapannya namun ia di maki duluan.


" Hei kau , kau selalu menabrakku .... Dasar wanita tak tahu aturan... Apa tabrakan kita yang lalu membuatmu mengejarku " ucap Eric dengan nada jengkel....


" Papa " seorang anak kecil dan wanita cantik menghampiri Eric membuat Rahma segera pergi melihat wanita yang paling ia benci... Dia Laurent.


" Kenapa kau ikut kemari " ucap Eric tak suka.


" Aku ingin ikut kau ke Indonesia " jawab Laurent karena ia di beri tugas pada Sasa untuk membuat Eric terhindar bertemu Ana , Sasa mencemaskan keselamatan Eric karena bagaimanapun Eric tetap anaknya.


" Aku ke Indonesia untuk bisnis Laurent " ucap Eric penuh penekanan.


" Aku tak akan mengganggu... aku kangen dengan Indonesia " jawab Laurent.


" Kau bisa gunakan penerbangan lain , jangan sama denganku " umpat Eric.


" Kemarikan , biar Excel aku yang gendong " imbuh Eric segera pergi melangkah meninggalkan Laurent yang tersenyum kikuk kepada orang yang memandangnya karena keributan mereka cukup mencuri perhatian.


" Mbak Ana , andai engkau disini. Lihatlah kini mas Eric bahagia " batin Rahma tersenyum miris. Rahma melihat jelas jika Eric tertawa bersama Excel dengan begitu bahagia.


Kini Rahma telah berada di pesawat kelas bisnis dengan harga 35jt rupiah perkursi penumpang.... Rahma duduk memejamkan matanya mengucapkan doa untuk sang ibu agar lekas sembuh... Air mata Rahma kembali tak terbendung saat mengingat suara parau ayahnya... Tangis tak bersuara itu yang terjadi pada Rahma kini...


" Tenanglah nona " ucap Uni menegur Rahma karena ia bingung bagaimana cara menenangkan orang yang bersedih.


" Kenapa wwnita itu menangis " gumam Eric yang tanpa di sadari Rahma Eric duduk di kursi penumpang seberang tempat duduknya.


" Apa sikumu masih sakit " tanya Eric tiba-tiba saat melihat luka gores di siku Rahma.


" Apa-apaan ini " batin Rahma , nyaris saja bola matanya ingin keluar melihat Eric berada satu pesawat dengannya dan tujuannya pun sama Indonesia.


" Ti....tidak " ucap Rahma gugup lalu membuang wajahnya dan Eric kembali tak peduli.


" Aku harus segera menghubungi mas Rafli" batin Rahma lalu segera menggunakan benda pipihnya.


.


.


.


Kini keadaan Laras sudah mulai membaik , ia ingin sekali melihat keadaan anak dan cucunya , Gunawan dengan kasih sayang mendorong kursi roda yang di duduki oleh Laras.


" Ibu ingatlah , jika ibu tidak ingin Ana mengetahuinya , jangan perlihatkan wajah pucat dan sedih ibu " ucap Gunawan lirih.


" Iya " jawab Laras , ia menyesali karena Gunawan memberitahu keadaannya kepada Rahma . Mereka telah sepakat tidak memberitahu penyakit Laras kepada Ana dan Rizki.


" Bu Laras bagaimana keadaannya " sapa Lia yang baru saja melihat cucu tersayangnya yang baru berumur satu hari.


" Alhamdulillah , sudah mendingan " jawab bu Laras..


" Mari mbak " ucap Gunawan menahan gejolak di hatinya setiap melihat keluarga Wijaya , namun ia tak bisa mengubah takdir jika di dalam darah cucunya mengalir darah keluar Wijaya.


Ceklek


" Ibu " ucap Ines lembut saat baru saja selesai membersihkan diri , kini giliran Ayu yang membersihkan diri karena tadi ia menjemur bayi Ana dengan di temani Lia. Sementara Ana masih terlelap karena semalam menyusui bayinya.


" Ssstttt " ucap bu Laras agar mereka tak berisik , karena ia tak mau mengganggu tidur putrinya.


" Cucu nenek " ucap Laras lirih saat menggendong cucu pertamanya..


" Kau sangat tampan seperti ayahmu " imbuh Laras sendu.


" Jangan di sebut lagi bu pria itu " ucap Gunawan pelan terlihat jelas jika ia marah kepada Rafli.


" Bapak akan mengurus perceraian mereka " imbuhnya.


" Pak , semua keputusan ada di Ana . Apa bapak tak kasian dengan cucu kita , jika orang tuanya berpisah. Padahal ia baru saja di lahirkan " ucap bu Laras kini mulai menangis..


" Ibu yakin , Rafli memiliki alasan yang begitu kuat " imbuhnya.


" Ibu selalu saja membelanya " sahut Gunawan.


" Apa suami ku tak ingat , jika ia yang menginginkan Rafli menjadi menantunya saat itu. Kau membuat ibu kecewa Eric , seandainya kau tak mengkhianati anakku " batin Laras , sebenarnya menantu pilihannya Eric , namun takdir tak memihaknya.


" Pak , bu.... " ucap Ana baru saja terbangun dari tidurnya .

__ADS_1


" Ana sayang , apa ada yang sakit nak " ucap Laras dengan mata berkaca-kaca.


" Aku baik-baik saja bu " ucap Ana menyembunyikan kesedihannya.


" Kau tak berusaha mas , untuk menemuiku dan meminta maaf. Kenapa hanya keluargamu yang terus menemuiku bukan kamu " batin Ana menahan perih di hatinya.


" Ana , apa keputusanmu mengenai pernikahanmu dengan Rafli . Maksud bapak bagaimana kedepannya , tetap lanjut atau berpisah " tanya Gunawan berhati - hati.


" Ana , ingat anakmu. Pikirkan masa depannya " sahut Laras. Membuat Gunawan menahan kekesalannya.


" Bapak ingin kau bahagia Ana , bapak tak ingin kau di sakiti hingga seperti ini "ucap Gunawan.


" Maaf om , berilah Ana waktu untuk berfikir " ucap Ayu , karena kondisi Ana saat ini di larang untuk stres.


Gunawan pergi begitu saja dari ruangan Ana , sementara Ana kembali menangis . Laras segera memeluknya dan menguatkan Ana. Sementara Ines merasa heran dengan suasana yang menyedihkan saat dirinya baru saja selesai sarapan di kantin rumah sakit.


" Ada apa Ay " tanya Ines.


" Sssstttt " jawab Ayu meminta Ines untuk diam dulu. Ines segera membuka laptopnya untuk mengerjakan pekerjaan kantornya dari jauh.


Rafli baru saja tiba di rumah sakit , terlihat wajah sembabnya dan lingkaran hitam di matanya membuktikan bahwa Rafli melalui malam yang menyedihkan semalam .


Rafli membawa sarapan bergizi untuk Ana , yang ia masak sendiri karena ia mengetahui masakan rumah sakit bukanlah selera Ana , ia juga meminta dokter Puspa untuk mengantarkannya karena ia takut Ana akan histeris saat melihat kehadirannya.


" Kenapa kau ketawa " ucap Rafli kesal karena ia merasa dokter Puspa tengah menertawakan hasil masakan buatannya.


" Aku tak menyangka tuan bisa memasak semua ini " ucap dokter Puspa jujur.


" Selain aku tampan dan CEO , aku juga bisa memasak asalkan aku benar-benar berniat " ucap Rafli bangga..


" *Baguslah , jika tuan muda sedikit narsis yang menandakan kondisi hatinya sudah membaik " batin* Puspa.


" Pergilah cepat , istriku pasti belum sarapan , kasian putraku " ucap Rafli tegas.


....


Disini , di ruang pribadi rumah sakit milik keluarga Wijaya.


Abdi Wijaya dan Lia berhadapan dengan Gunawan.


" Ada apa mas membawaku kemari " ucap Gunawan yang merasa panas ruangan tersebut sepanas hatinya padahal ada dua AC yang menyejukkan ruangan luas nan mewah itu.


" Mas " ucap Abdi menghela nafas dalam sementara Lia meremas ujung bajunya.


" Saya mohon , pertimbangkan keputusan mas untuk memisahkan putra putri kita " ucap Abdi lirih.


" Jika mas berada di posisiku bagaimana " tanya Gunawan.


" Mas tidak merasakan menjadiku , melihat putriku dengan keadaan seperti itu. Bagaimana jika terlambat sedikit saja mereka menolongnya " ucap Gunawan lirih menahan buliran air mata yang siap terjun bebas.


" Maaf atas kesalahan Rafli , diriku selaku orang tuanya juga meminta maaf " ucap Abdi merasa bersalah.


" Tapi , Rafli mempunyai alasan " imbuhnya.


" Apapun alasannya , Rafli telah membahayakan nyawa putriku , bahkan nyawa cucu pertamaku " ucap Gunawan .


" Lihatlah " ucap Abdi menyerahkan foto kemesraan wanita yang menyerupai Ana.


Gunawan menatap tak percaya melihatnya , tubuhnya gemetar melihat apa yang ia lihat dan kini Abdi memutar video yang menjadi penyebab malapetaka itu datang yang membuat Rafli tak mampu mengontrol emosinya.


" Semua inilah penyebab Rafli berprilaku kasar terhadap istrinya " ucap Abdi sementara ekspresi Gunawan tidak bisa di tebak.


Hening


" Tidak mungkin ini putriku , aku mendidiknya dengan baik , bahkan teman-temannya pun mempunyai tata krama. Putriku selalu menjaga harga dirinya , apalagi ia telah bersuami. Tidak mungkin putriku melakukannya. " ucap Gunawan lirih. Bagaimaan bisa Ana berprilaku sebejat ini , meski ia pernah melihat tak sengaja Eric mencium bibir putrinya meski Eric yang nyosor duluan.


" Mas , semua yang mas katakan benar . Karena ada orang yang sengaja menfitnah Ana , agar rumah tangga putra dan putri kita hancur. Disini , aku pribadi , menyayangkan tindakan Rafli yang terbakar cembruru, siapapun akan khilaf . Kesalahan Rafli adalah tidak membuktikan kenyataannya lebih dulu " ucap Abdi.


" Seharusnya ia percaya pada putriku " ucap Gunawan.


" Jika ia cinta , ia akan percaya , membuktikannya lebih dulu " imbuhnya.


" Saya minta tolong pak Gunawan , pertimbangkan keputusan anda untuk melanjutkan mengurus perceraian mereka " ucap Lia lirih.


" Maaf , tapi aku tak ingin putriku menderita untuk kedua kalinya , dia telah mengecewakanku terlalu berat. Semoga pernikahan Rafli yang gagal pertama ini akan menjadi pelajaran baginya dan tidak terjadi dipernikahannya kemudian " ucap Gunawan kemudian keluar dari ruang yang terasa panas baginya.


" Pa " ucap Lia berteriak tertahan dan air matanya tumpah.


" Kita harus membujuk Ana pa " imbuh Lia terisak sementara Abdi berusaha menenangkan istrinya.


Tanpa mereka sadari Rafli mendengar begitu jelas obrolan mereka. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kali ini mendengar keputusan Gunawan yang tetap akan memisahkan mereka.


" Maaf juga bapak mertua , aku harus mempertahankan Ana dan anakku . Apapun yang terjadi " batin Rafli segera menghubungi Jimmy untuk mempersiapkan semua rencananya yang seharusnya tak ia gunakan.


" Aku ingin besok sore selesai Jim " ucap Rafli di akhir telepon. Hari ini Rafli memutuskan tak akan pergi dari sisi Ana , meski ia harus melihatnya dari jauh..


" *Biarlah saat ini aku mencintaimu d*ari jauh Ana " batin Rafli.

__ADS_1


" Ku harap kau tak gegabah Ana , aku akui aku sangat salah " gumam Rafli tanpa terasa air matanya menetes di pipinya.


Malam pun tiba dan Gunawan memutuskan untuk pulang malam ini menemani Rizki yang merengek ditemani dengan sang nenek dirumah . Sebenarnya Rani menawarkan Rizki untuk tinggal bersama dirumahnya sekaligus untuk teman Chantika namun dengan seribu alasan Gunawan menolaknya. Sedangkan Laras kini masih dirumah sakit di jaga oleh perawat.


Rafli berjalan menuju ruang dimana Laras berada , ia ingin menjenguk ibu mertuanya sekaligus meminta maaf atas semua kesalahannya , cerita ibu Laras sangat membekas di hatinya dua bulan yang lalu dan ia merasa sangat berdosa telah mengecewakan bu Laras.


Ceklek bunyi pintu yang di buka oleh Rafli , setelah ia di izinkan masuk.


" Tuan " sapa perawat membungkuk tanda hormat.


" Tolong tinggalkan kami " pinta Rafli , meski perawat merasa bingung mereka tetap mengikuti perintah Rafli.


" Bu " sapa Rafli saat duduk di samping ibu mertuanya.


" Maafkan aku bu , yang telah membuat ibu kecewa " ucap Rafli dengan mata berkaca-kaca.


" Aku tidak bisa mengontrol emosiku saat itu bu " imbuhnya penuh sesal.


" Ibu kecewa padamu karena kau tak mempercayai Ana , tapi ibu tidak marah padamu " ucap Laras


" Ibu pasti akan melakukan hal yang sama jika di posisimu , tapi jika itu terbukti kebenarannya " imbuhnya cukup menohok perasaan Rafli.


" Apa ibu sudah tau semuanya " tanya Rafli memastikan..


" Sudah , Rani dan ibu mu tadi sore menemui ibu dan menceritakan penyebab permasalahan ini " jawab Laras dengan mata berkaca-kaca.


" Bu , aku sangat mencintai Ana melebihi apapun di dunia ini. Aku tak ingin berpisah dengannya bu " ucap Rafli lirih mendongakkan kepalanya keatas agar air matanya tertahan.


" Ibu juga tidak mau kalian berpisah . Berusahalah untuk meminta maaf pada Ana lebih giat lagi . Kau tau , Ana merindukanmu tadi. Ibu dapat melihat kerinduan di sorot matanya " ucap Laras membuat hati Rafli kembali sejuk.


" Apa ibu mendukungku untuk tetap bersama Ana " tanya Rafli.


" Ya dan urusan bapak biar ibu yang ngurus " ucap Laras tersenyum hangat.


" Yes akhirnya , terima kasih Tuhan " ucap Rafli bersemangat.


" Ibu lakukan ini demi cucu ibu agar tak kehilngan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya dan jangan sakiti Ana lagi , atau ibu yang akan memisahkan kalian " ucap Laras serius.


" Wah ternyata ancaman ibu lebih berbahaya dari pada bapak " ucap Rafli di iringi senyum selalu menghiasi wajahnya.


" Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama bu dan aku tak akan melukai Ana lagi , baik itu hati atau fisiknya . Aku berjanji demi apapun " ucap Rafli mantap .


" Bagaimana keadaan ibu " tanya Rafli .


" Kau ini , seharusnya tadi pertama kali menanyakan keadaan ibu " seru Laras tertawa pelan.


" Maaaf bu " jawab Rafli tersenyum kikuk.


" Keadaan ibu cukup baik , hanya membutuhkan donor jantung " ucap Laras tersenyum getir.


" Ibu tak usah khawatir , aku dan ayah akan mencarinya segera untuk ibu " jawab Rafli.


" Tak mengapa Rafli , kematian pun sudah di gariskan Tuhan " ucap Laras.


" Jangan bicara kematian bu , aku tak suka " ucap Rafli menahan kesal.


" Jangan beritahu Ana tentang penyakit ibu , ibu tak mau menambah pikirannya " pinta Laras dan Rafli mengangguk mengerti.


Terjadilah obrolan tentang Ana dan sikap keras kepalanya Gunawan , ibu Laras dan Rafli saling berbagi memberi semangat menghadapi ujian hidup mereka.


" Apa kau tak merindukan putri ibu " tanya Laras.


" Sangat , aku sangat merindukannya " jawab Rafli lirih.


" Temuilah sekarang , selagi Ines dan bapak tak ada " ucap bu Laras.


" Baiklah bu , aku kesana . Aku ingin sekali menggendong putraku " ucap Rafli dengan binar bahagia.


" Ya " jawab bu Laras tersenyum.


Cup


" Aku permisi bu , semoga cepat sembuh " ucap Rafli mencium kening Laras hangat.


" Kau ini menggelikan " seloroh Laras dan Rafli tertawa lalu melangkahkan kakinya dimana Ana berada.


Disini Rafli berdiri , di depan pintu ruang rawat inap Ana yang dijaga bodyguard berkeahlian khusus. Rafli berjalan memutar knop pintu dan terbuka. Terlihat Ana sedang tertidur pulas sementara dua suster dan dua dokter sedang mengobrol seru menikmati waktu jaga malam mereka.


" Rafli " gumam polos Ayu.


" Malam tuan " sapa dokter Puspa dan dua perawat lain.


" Syukurlah wanita menyebalkan itu tidak ada " batin Rafli mengumpat Ines , ia merasa Ines mempersulitnya bertemu Ana seperti sikap Gunawan.


" Bisakah kalian keluar " ucapnya pelan pandangan penuh rindu teruntuk Ana yang terlelap.


Jangan lupa like dan komentarnya....

__ADS_1


Mohon bantuannya ya.


Selamat membaca 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2