
Kini Rafli dan Ana serta yang lainnya tiba di mansion Jimmy , Ana dan Rafli segera menuju kamar tamu untuk mengistirahatkan tubuhnya .
'' Nona , ini air dan obatnya '' ucap pelayan dan disambut senyum oleh Ana , terlihat wajah pelayanan turut bersedih karena yang menimpa keluarga majikannya .
'' Mas , kita obati dulu luka mu '' ucap Ana dan diangguki Rafli , darah yang sedikit mengering Ana bersihkan dengan begitu hati-hati. Wajah tampan yang di penuhi luka tak merasakan sakit saat tangan sang istri menyentuhnya.
Rafli mengetahui jika sang istri masih memikirkan pipinya .
'' sssstt aduh sakit '' lirih Ana saat tangan Rafli meraba lembut pipi Ana yang terluka tersebut .
'' Besok kita akan kembali ke Berlin untuk mengobati luka ini sayang '' ucap Rafli .
'' Tapi mas , jika tetap berbekas bagaimana . Aku juga takut melakukan operasi '' ucap Ana mengungkapkan kegundahannya.
'' Apa mau operasi atau tidak '' tanya Rafli , semua keputusan ada di tangan istrinya .
'' Jika tidak , apa mas akan mencari wanita lain karena pipiku satu ini tak semulus dulu '' tanya Ana.
Rafli menatap dalam mata indah istrinya , tersirat cinta yang begitu besar dari keduanya .
'' Mas mencintaimu apa adanya . Mau seperti apapun dirimu dan keadaanmu mas tak peduli. Susah senang kita lalui bersama hingga berada di titik ini. Kau tak pernah menuntut apapun dari mas , dan sangat mustahil mas menuntut apapun juga. Semua yang ada di dirimu dan hatimu sudah sangat sempurna sayang di mata mas. Jadi mas tidak akan , bahkan tak akan pernah mencari sosok penggantimu. Menyakiti hatimu sama saja menyakiti hati mas sendiri '' ucap Rafli dan Ana segera menyingkirkan air dan kain yang ia gunakan untuk membersihkan luka suaminya .
'' Terimakasih mas '' ucap Ana terisak dalam pelukan suaminya.
'' Mas yang seharusnya berterimakasih . Karena tetap bertahan disisi mas '' ucap Rafli mengecup surai indah Ana. Ana melanjutkan mengobati luka suaminya .
'' Oh ya mas , bagaimana tentang Ericana jika kita ke Berlin '' tanya Ana saat dirinya tengah berbaring di atas ranjang , sementara Rafli menghadap dirinya.
'' Masalah Ericana tak usah khawatir . Mas sudah menceritakan semua dengan Jimmy dan ia akan mengurusnya. Jadi kita fokus dulu dengan ke sembuhanmu sayang '' ucap Rafli dan diangguki Ana meski di sudut hatinya tak rela jika dirinya berjauhan dari anak yang telah lama jauh darinya itu...
'' Istirahat ya '' ucap Rafli dan diangguki Ana , saat ini tubuhnya cukup terasa begitu pegal dan linu-linu namun Ana sengaja tak mengatakannya karena akan begitu merepotkan orang lain atas perintah Rafli yang selalu ingin dirinya kembali baik-baik saja , bahkan Rafli tak mengenal proses .
Tepat jam sebelas malam Rafli melangkahkan kakinya keruang tamu dan mengobrol sejenak bersama Jimmy mengenai semua yang terjadi termasuk siapa Ericana. Setelah memastikan istrinya tertidur Rafli pun berniat keluar , ada sesuatu yang harus ia urus.
'' Yakin tak butuh aku " tanya Jimmy memastikan . Ia tak ingin Rafli terbawa emosi .
'' Aku akan baik-baik saja , kau tidurlah " ucap Rafli tegas tak ingin di bantah dan Jimmy menuruti saja namun Jimmy mengirimkan bodyguard untuk menjaga Rafli jarak jauh.
....
'' Aku harus menyelesaikan ini segera " gumam Rafli , menekan pedal gas untuk segera mencapai tujuannya .
Terlihat sebuah rumah sakit yang tampak sepi karena hanya para perawat dan dokter piket yang berjaga.
__ADS_1
Ceklek pintu ruang Eric dirawat di buka begitu saja oleh Rafli yang kini menatapnya tajam namun berbeda dengan Eric yang menatapnya datar.
'' Hai suami Ana , bertamu lah yang sopan " decak Eric .
'' Jawab jujur , Ericana benar putriku kan " tanya Rafli.
'' Seharusnya kau bertanya apa kabar ku. Aku begini karena menyelamatkanmu " kesal Eric .
'' Aku bertanya tentang Ericana bukan tentangmu " ucap Rafli mencengkram lengan Eric yang berbalut perban .
'' Apa yang kau lakukan dengan putraku " ucap Sasa melepas kasar cengkram Rafli .
Tangan Sasa yang ingin menampar pria yang selalu membuat masalah dengan putranya ini hanya mampu menggantung di udara.
'' Jika tangan ini masih berguna , pergunakan dengan baik nyonya " ucap Rafli tatapannya masih fokus kepada Eric yang terlihat acuh . Rasa kesal Eric masih terasa akan sifat Sasa yang menghasut Ericana , lagian Rafli tak akan kasar kepada Sasa maka Eric tak perlu mengkhawatirkannya.
'' Aku tanya sekali lagi kepadamu , Atau ku porak porandakan malam ini juga keluarga Permana . Apa bener Ericana itu putriku " tanya Rafli serius terlihat jelas dari manik matanya .
'' Aku tak peduli meski harus berseteru dengan papa ku sendiri " imbuhnya .
'' Ya Ericana Putri mu dan Ana " ucap Eric dengan tenggorokan yang terasa tercekat.
'' Beraninya kau bajingan " bentak Rafli .
'' Tolong .... tolong. .... " teriak Sasa ketakutan .
Para perawat dan petugas mendatangi ruang perawatan Eric yang tengah terjadi perdebatan tersebut . Teguh yang baru saja tiba meringsek masuk .
'' Ada apa ini " tanya Teguh yang baru saja selesai menikmati makan malamnya di kantin rumah sakit.
'' Tanya kan pada putramu dan istrimu yang mendengarnya " ucap Rafli dengan sorot mata tajam.
'' Kalian bubar , atau akan ku beli saham rumah sakit ini dan kalian tak akan mendapatkan perkerjaan dimanapun " bentak Rafli .
'' Tapi tuan anda telah membuat keributan dan mengganggu pasien lainnya " ucap Satpam berusaha bersabar .
'' Aku bilang pergi atau kepenggal kepala keluargamu mu malam ini juga " ucap Rafli yang kini emosinya tengah meluap .
'' Rafli sudahlah " ucap Jimmy yang tiba-tiba datang , membuat Rafli berdecak kesal. Jimmy selalu saja menjadi bayangannya jika berada satu kota seperti ini .
'' Ku bilang tetap lah di mansion Jim " ucap Rafli .
'' Aku mengkhawatirkan mereka bukan dirimu " ucap Jimmy santai.
__ADS_1
'' Kalian keluarlah " ucap Jimmy dan diangguki satpam dan beberapa perawat.
'' Cih , bahkan mereka lebih patuh padamu " cibir Rafli ..
" Mereka bukan pembisnis , dan ini Roma bukan Berlin dan Amerika " ucap Jimmy .
'' Apa yang terjadi Eric , ada apa " tanya Teguh pada Eric .
'' Pa , sudah jelas suami Ana yang arogan ini memukuli anak kita " sela Sasa .
'' Aku tak bertanya padamu " bentak Teguh menggelegar , membuat Rafli dan Jimmy tersentak namun Rafli tersenyum dalam hatinya .
'' Kau yang ingin ungkapkan kebenaran atau aku yang akan mengungkapkan kebenarannya " ucap Rafli dingin.
'' Sebenarnya Ericana bukan putri ku dan Vini " ucap Eric memejakan matanya sejenak lalu menjelaskan kronologi serta alasannya mengambil langkah ini . Rafli yang begitu emosi segera di tahan oleh Jimmy saat mendengar alasan Eric melakukan itu pada keluarga nya. Kemarahan Rafli bukan karena berpisah dari anaknya yang cukup lama namun depresi yang mendera Ana saat itu membuatnya begitu sakit meski hanya mengingat saja .
Sementara Teguh tak dapat berkata apapun , meski niat Eric cukup baik namun bukan hanya ada cara seperti ini. Teguh tak akan membela anaknya jika Rafli dan Ana mengambil jalur hukum , namun ia berharap setidaknya Ana yang telah ia anggap putri sendiri mampu meluluhkan bahkan membujuk Rafli jika keputusan Rafli bertekad menuntut Eric ke meja hijau , meski Teguh meragu saat melihat tatapan Ana yang seakan penuh luka dan menusuk tajam saat mereka terakhir berkunjung ke mansionnya .
'' Pa .... maafkan mama dan Eric pa " Isak Sasa.
'' Aku suamimu , tapi kau membohongi ku tentang ini semua . Apa aku masih suami mu " ucap Teguh tertawa miris.
'' Mama minta maaf pa. Namun benar kata Eric , ada waktunya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Rafli dan Ana " ucap Sasa masih terisak.
'' Apa menunggu aku dan istriku telah tiada di dunia ini , baru kalian akan membawa Ericana di pusara kami " ucap Rafli sarkas.
'' Apa kalian ingat , Ericana begitu tidak menyukai istriku . Padahal sejak awal Ericana putriku cukup dekat dengan ibu kandungnya. Bahkan kalian mencuci otak anakku " bentak Rafli , dada nya bergemuruh hebat melihat Ana yang begitu hancur saat Ericana merasa takut dengan Ana .
'' Itu salahku nak Eric , bukan salah siapapun . Tolong maafkan putraku . Jika mau hukumlah aku " ucap Sasa memohon bahkan berlutut di kaki Rafli .
'' Nyonya bangunlah " ucap Jimmy membantu Sasa untuk berdiri .
'' Jika kau mau menghukum. Hukumlah aku nak Rafli . Aku sebagai kepala keluarga tidak mampu mengurus keluarga ku dengan benar " ucap Teguh menatap Rafli dan seketika pandangan mereka bertemu .
'' Kau teman dekat papa ku bahkan dia menganggapmu saudara , tapi putramu dengan berani menculik cucunya . Aku tak bisa menghukummu karena aku cukup menghargaimu tapi biar papa ku yang akan memutuskan hukuman apa untuk mu " ucap Rafli namun hal itu cukup membuat bathin Teguh bergetar .
'' Satu Minggu lagi aku akan mengambil Ericana dan aku tak terima penolakan apapun dan ku harap dalam waktu seminggu Ericana bisa menerimaku dan Ana sebagai orang tua kandungnya , jika kalian tak mengizinkan aku mengambilnya meski Ericana sendiri menolak tinggal bersama kami , maka aku tak akan menempuh jalur hukum namun jalur kekerasan " ucap Rafli dingin dan berlalu pergi .
'' Waktu satu Minggu bukan waktu sebentar bagi Rafli dan saya harap kalian bisa membujuk Ericana . Saya permisi " ucap Jimmy segera mengejar Rafli yang telah keluar.
Jangan lupa like dan komentarnya .
Maaf up nya lama .
__ADS_1
Selamat membaca