
Setelah mengantar Abi kerumah sakit, dan menjelaskan semuanya akhirnya Abi pun menerimanya, sekarang Abi sedang berbicara banyak dengan sang ayah. Sedangkan Ken mendapat kabar dari snah istri kalau dia sudah bertemu dengan keluarga besarnya, seminggu ini Ken terlalu sibuk dengan urusan Abi.
"Abi, paman harus segera pulang. Sudah ada yang menunggu lama di Indonesia," ucap Kenzio.
"Dan lama akan meninggalkan aku disini?" tanya Abigail.
"Abi, coba kau lihat! Ada ayah, nenek dan kakakmu yang sudah mencarimu belasan tahun. Dan kau tau, Naru meminta paman tuk mengembalikan mu pada ayahmu," jelas Kenzio.
Abigail memeluk tubuh Ken dengan erat, air matanya mengalir deras, Abi menggelengkan kepalanya. Ken hanya bisa membalas dan mencium pucuk kepala sang ponakan.
"Sayang, dengarkan paman! Kau bisa kembali pada paman. Tapi, setelah kau hidup dengan mereka. Bahagiakan mereka, dan turuti kemauan ibumu Naru," tegas Kenzio.
Abigail menatap wajah sang paman dengan sendu, namun mengangguk ia menuruti apa yang di katakan Kenzio.
Kenzio melepaskan pelukannya, dan membawa Abi pada Kim Bum, Kenzio pamit akan pergi.
"Tuan, kenapa kau pergi? Apakah kau tak ingin tinggal disini bersama kami?" tanya Kim Bum.
"Maaf, tuan. Tapi keluargaku sudah menunggu di Indonesia," jawab Kenzio.
"Baiklah, nak kau akan di antar supir kami," ucap Tuan Kim.
"Terimakasih tuan, maaf merepotkan," balas Ken.
Abigail terus menangis, karena memang Ken lah yang sudah menjadi orangtuanya. Dan selalu ada bersamanya, makanya dia seakan sedih di tinggalkan oleh Ken.
"Paman," panggil Abi begitu lirih.
Ken berbalik dan menatap Abigail, dengan berlari kecil Abigail memeluk Ken kembali tangisnya pecah dipelukan sang paman, Ken yang menahan segala perasaannya, akhirnya tak tahan jua menangis.
Kim Bum menatap iba perpisahan ini, dia seakan merasakan kasih sayang Ken pada sang putri begitu besar, dan itu yang membuat Kim Bum sangat menghormati Ken.
"Jangan sedih, paman bisa kembali kemari tuk melihatmu, jaga diri baik baik sayang," ucap Ken sembari mencium kening Abigail.
Dengan langkah pelan, Ken akhirnya masuk dalam mobil. Ken melihat Abigail yang masih menatapnya dari dalam kaca mobil.
"Kau harus hidup dengan baik Abi, kau harus menjadi wanita hebat sayang, maafkan paman yang tak bisa lagi memelikimu. Kau dan lama kini orang asing sayang," ucap Ken dalam hati.
Air mata Ken terus mengalir, hatinya sesak harus melepas Abigail gadis yang dia rawat sendiri sedari bayi, Abi bagaikan setengah jiwanya. Dan sekarang Kn merasakan sakit yang teramat berpisah dengan Abigail.
"Paman, jangan lupakan aku! Aku dan kau sekarang terpisah, namun kau akan terus berada di hatiku selamanya," ucap Abigail dalam hati.
Rumah Keluarga Putra
Semenjak Kenzia di bawah pulang, mereka banyak bertanya padanya dan Zyan. Kiara selalu menempel di belakang sang suami, karena memang Azura dan Bumi masih belum tahu jika Zyan dan Kiara sudah menikah. Dan kejadian malam harilah yang membuat mereka di introgasi oleh semuanya.
"Xion, cepat lepasan nanti ada yang melihat kita!" pinta Kiara.
"Memang kenapa jika ada yang melihat kita? Kau itu istriku, jadi diamlah! Jika tidak, jangan salahkan aku kalau nanti berakhir di atas ranjang," bisik Lexion.
Tubuh Kiara seketika mematung, karena ancaman sang suami, dan itu akan berakibat fatal jika sampai terjadi.
"Jangan bicara sembarangan! Nanti, ada yang mendengar Xion," ucap Kiara lirih.
Tak mendengar ucapan sang istri, Xion malah semakin menggoda Kiara dengan mencium tengkuk lehernya, dengan sedikit hisapan kecil dan itu yang membuat tembok pertahanan Kiara hancur seketika, Xion tersenyum menang melihat reaksi sang istri.
"Ahhh, Xion cepat lepasan aku! Jangan terus menggodaku," ucap Kiara dengan suara manja.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat adegan itu, dia mendengar semua yang Xion dan Kiara bicarakan. Hatinya berdegup kencang, dengan cepat pergi kembali kekamarnya.
Bugh,,,
Azura mendudukan dirinya didekat ranjang, Bumi mengerutkan keningnya merasa aneh, pada sikap sang istri.
"Sayang ada apa?" tanya Bumi.
"Ayah, ternyata bukan hanya Ara yang sudah menikah, tapi Sya juga sudah menikah," jawab Azura.
"Zyan menikah dengan siapa? Dan darimana Bunda tahu?" tanya Bumi.
"Kiara, temannya Ara. Ya mereka sudah menikah, dan tadi tanpa sengaja Bunda melihat kemesraan mereka di dapur," jelas Azura.
"Apakah kau marah?" tanya Bumi.
"Marah? Tentu tidak ayah, mereka sudah besar. Hanya saja Bunda ingin tahu cerita mereka," jawab Azura.
"Besok kita akan tanyakan, sekarang waktunya istirahat!" ucap Bumi
"Bunda akan tidur dengan Ara, karena si kembar pasti akan bangun jika malam," balas Azura.
"Baiklah, cepat temani Ara di kamarnya!" perintah Bumi.
Azura pun mengangguk, setelah mendapat ciuman dari Bumi, Azura pergi kekamar Ara.
__ADS_1
Di dalam kamar, Ara sedang menimang nimang Rio yang terbangun, Azura pun mendekati sang putri dan cucunya.
"Apa dia terbangun?" bisik Azura.
Kenzia hanya tersenyum dan mengangguk, Azura mencium kening Rio dengan perlahan.
"Tidurlah, biarkan Bunda yang menggendongnya!" perintah Azura.
"Tidak Bunda, biarkan aku saja," balas Kenzia sembari menggeleng.
Azura terlihat sedih karena mendapat penolakan, dan itu membuat Kenzia tak enak hari pada sang Bunda. Dengan terpaksa Kenzia memberikan Rio pada sang nenek.
"Terimakasih sayang, kau istirahat sebentar!" pinta Azura.
Kenzia pun merebahkan tubuhnya di ranjang, mencoba menutup matanya. Selang berapa menit, akhirnya Kenzia sudah dalam dunia mimpinya.
"Lihat nak! Mommy mu sudah tertidur," bisik Azura pada sang cucuk.
Seperti mengeti jika mommy nya kecapean, bayi itu pun akhirnya ikut memejamkan matanya. Azura kembali menidurkan Rio di boks box bayi disamping Rino.
Azura pun tidur dengan bersandar di tembok dekat cucunya, Azura tidur dengan duduk.
Mentari pagi pun sudah terlihat di ufuk barat, menyilaukan pandangan Ken, dengan mengerjapkan matanya, Ken mencoba mengumpulkan nyawanya kembali.
Ken melihat jam di tangannya, dan ternyata lima belas menit lagi akan sampai di jakarta. Ken pun memilih kekamar mandi tuk membersihkan wajahnya dan penampilannya.
Setelah turun dari pesawat, Ken langsung memanggil taksi tuk pergi kerumah keluarga sang istri keluarga Putra. Di dalam mobil, hati Ken sudah cemas dan pastinya dia akan mendapatkan kemarahan atau pun hutang penjelasan pada mereka.
"Aku harus siap! Karena saat itu pun Xion begitu marah padaku, karena telah menodai sang kakak," gumam Kenzio.
Rio dan Rino sedang bermain dengan Zee dan juga Kiara, Bumi dan Xion duduk bersama menyaksikan keluarga mereka kembali berkumpul. Sedangkan Azura dan Kenzia menyiapkan sarapan di dapur.
"Ara," panggil Azura.
"Ya, Bunda ada apa?" tanya Kenzia.
"Jika suamimu sudah pulang, bisakah nak kau ceritakan semuanya tentang kalian dan juga Zyan dan Kiara," jawab Azura berhati hati.
Kenzia menelan ludahnya dengan begitu susah, ternyata Azura sudah tau tentang Zyan dan Kiara. Dengan sedikit dipaksakan Kenzia tersenyum dan mengangguk ia.
Tak lama terlihat sebuah taxi berhenti di depan gerbang rumah mereka, seorang lelaki gagah turun dari sana, Kenzio dengan langkah mantap memasuki halaman rumah itu.
Lexion dan Bumi melihat kedatangan Kenzio pun bergegas mendatanginya.
"Kak kau sudah datang," sapa Xion sembari memeluk Kenzio.
Xion menatap ke arah Kenzio, dan di balas anggukan olehnya.
"Kia panggilkan kakak!" pinta Xion pada sang istri.
Kiara dengan cepat masuk dan memberitahu Kenzia jika Kenzio sudah datang dan ada di luar bersama dengan Bumi dan Xion.
Kenzia pun langsung berjalan keluar terlihat sang suami sedang berbicara dengan Ayahnya.
"Ken," panggil Kenzia sembari berlari dan serah memeluk sang suami.
Kenzio membalas pelukan sang istri, mencium kening Kenzia, mereka sampai melupakan keberadaan Bumi yang ada di depan mereka sambil terlihat bingung, penuh tanya.
"Ken? Jadi Dr. Zio itu Ken suamimu Ara?" tanya Azura.
Ken dan Zia pun melepas pelukannya, namun Zia masih menempel pada tubuh sang suami. Menatap sang Bunda dan Ayah bergantian.
"Ya, Ken adalah suami Ara. Dan diq juga yang menolong Zyan saat di Korea," jawab Kenzia.
"Lebih baik, kalian masuk! Dan jelaskan semuanya pada kami," pinta Bumi.
Kenzia pun meminta Kiara membawa Rio dan Rino masuk ke dalam. Zee menemani si kembar didalam kamar, sedangkan Kenzia, Ken, Zyan dan Kiara berada di ruang kerja Bumi.
Semuanya terlihat tegang, Kiara terus menunduk dengan menggenggam tangan Zyan. Berbeda dengan sang kakak yang terlihat santay.
"Dr. Zio bisakah anda ceritakan semuanya? Bagaimana bisa kau menikah dengan putriku, dan selama ini tak memberitahukan pada kami?" tanya Bumi.
"Baiklah, saya akan menceritakan semuanya. Berawal dari malam, saat Zia membawa Xion pergi," jawab Kenzio.
Flashback On
*Setelah sampai di Korea, Zyan langsung di bawa kerumah sakit keluarga Kiara. Dokter disana dengan sigap memeriksa keadaan Zyan dan terus memberikan penanganan yang terbaik.
Setiap hari, hidup Kenzia hanya di habiskan dirumah sakit, tanpa mau meninggalkan sang adik. Kenzia yang notabennya seorang Dokter pun akhirnya banyak membantu disana, sambil terus memantau kesehatan Zyan.
Suatu malam, Zyan seakan sadar dari komanya, namun ternyata itu tanda kritis yang sangat berbahaya, semua Dokter terbaik dirumah sakit.
Dengan usaha yang begitu berat dan dengan pertaruhan waktu yang lama akhirnya Zyan bisa di selamatkan. Kenzia begitu terpuruk, semakin menyalahkan diri sendiri, semua ucapan dari Azura dan Zee terus mengiyang di telinganya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau bawa Kenzia keluar rumah sakit! Sudah dua bulan dia berada di Korea, dan terus terpenjara di rumah sakit. Biarkan Zyan aku yang mengurusnya," perintah Kiara.
"Maaf sudah merepotkan mu. Aku akan pergi sebentar bersama Zia," balas Ken.
Malam itu Kenzia yang dengan keadaan sedih hanya bisa menuruti kemana Ken membawanya. Dengan penuh perhatian Ken terus berbicara dan mencoba menghibur sang wanita yang memang dia cintai.
"Zia, mau kah kau turun sebentar?" tanya Ken.
Zia hanya mengangguk mengiyakan, Ken menggandeng tangan Zia dan membawanya berkeliling di pasar tradisional di Korea.
Perlahan namun pasti, Zia sedikit mulai melupakan kesedihannya. Disana mereka menemukan sebuah pertunjukkan yang sangat lucu, Ken sangat bahagia saat mendengar suara gelak tawa dari Zia yang menghilang dua bulan ini. Malam semakin larut, Ken melihat Zia kedinginan punmemberikan jasnya.
"Apa kau sekarang sedikit merasa lega?" tanya Ken.
"Terimakasih Dok, anda sudah membuat napas saya sedikit lega. Dan bisa melepas semua kepenatan yang saya rasakan," jawab Kenzia dengan senyum tipisnya.
Mereka pun masih berjalan menyusuri jalanan disana, terlihat banyak pedang dan pemandangan danau yang indah penuh lampu terapung disana.
Kraasssssss,,,, tiba tiba hujan turun dengan deras. Ken dengan refleks menarik tangan Kenzia dan berlari kesebuah toko kecil disana.
"Aahh, bajumu basah semua Dok," ucap Kenzia saat melihat kemeja biru yang di kenakan Ken basah dan melihatkan tubuh ABS nya.
"Sudahlah, tidak apa. Nanti juga akan kering sendiri," jawab Ken sembari mengibaskan rambut basahnya.
Kenzia tiba tiba menunduk malu, karena merasa aneh pada dirinya, tangannya yang dingin pun semakin gemetar memegang jas itu.
"Zia kau tak apa? Kenapa tanganmu gemetaran?" tanya Kenzio.
"Aa-aku, hanya merasa dingin saja Dok. Tidak apa," jawab Kenzia.
Hujan semakin deras, tubuh Kenzio pun semakin menggigil karena udara yang semakin dingin. Kenzia akhirnya melepaskan jas itu dan memasangkan pada tubuh Kenzio.
"Zia, pakailah! Udara sangat dingin," ucap Kenzio.
"Kau yang merasa dingin, jadi pakailah!" pinta Kenzia.
Tiba tiba sang pemilik toko keluar dari kedainya, dan memberitahukan jika di atas tokonya itu ada penginapan yang menyediakan baju ganti juga. Akhirnya Kenzio dan Kenzia pun memutuskan tuk menghina karena waktu sudah menunjukkan pukul 23. 40 waktu Korea.
"Maaf, tuan kami hanya ada satu kamar yang tersedia," ucap penjaga rumah.
"Baiklah, tapi tolong kau bawakan satu lagi selimut dan kasur ke kamar, apakah bisa?" tanya Ken.
Penjaga rumah pun mengangguk dan memberikan apa yang di pinta. Ini yang pertama kalinya untuk Kenzia berada satu kamar dengan lelaki selain Zyan, sedangkan Kenzio sudah sering bermalam dengan banyak wanita.
Malam itu suasana sangat canggung, Zia dan Ken tak bisa memejamkan mata mereka, akhirnya Ken mendahului berbicara pada Zia, bermula dari obrolan biasa akhirnya mereka berpusat pada perasaan masing masing.
"Zia, apakah kau masih mengingat dimana aku mencium dirimu?" tanya Ken ragu ragu.
"Bagaimana aku lupa, itu ciuman pertamaku," jawab Kenzia malu malu.
Ken tersenyum senang mendapat jawaban itu, dan dengan sedikit keberanian Ken mendekat pada Kenzia. Dan itu membuat Kenzia diam mematung.
"Zia, jadilah wanitaku! Jadikan aku lelaki pertama untuk hidupmu sama seperti ciuman itu!" pinta Ken.
Deg, deg, deg,
Hati Kenzia berdegup kencang, seperti ada kupu kupu yang berterbangan di hatinya, tubuhnya bergetar seakan ada sengatan listrik. Dan pastinya ada warna merah pada pipinya.
"Aa-aapa yang kau maksud Dok?" tanya Kenzia terbata.
"Aku ingin kau jadi istriku, dan menjadi ibu dari anak anakku," jawab Ken menatap dengan sangat sendu.
"Kau bilang istri? Jangan bercanda Dok, kita tak saling mempunyai perasaan dan bagaimana kau mengatakan itu?" balas Kenzia.
"Aku sudah menyukaimu sejak pertama bertemu dan aku yakin kau juga merasakan hal yang sama denganku," ucap Kenzio.
Kenzia merasa terkejut karena Kenzio mengetahui isi hatinya. Dengan perlahan Ken mencium kening Zia dan berlanjut pada bibir tipis itu, tak ada penolakan dari Zia.
Dan malam itu pun terjadi penyatuan mereka, melodi indah terdengar disana, udara dingin berubah menjadi hangat, sebuah rasa yang tak bisa di ungkapkan oleh keduanya. Semua beban dan masalah terlupakan karena buaian yang memabukkan keduanya.
Setelah kejadian itu, mereka sudah berjanji akan segera menikah. Kenzia sungguh takut jika Kenzio akan pergi meninggalkannya, namun semuanya terbantahkan karena dengan jentle Ken akan memberithukan semuanya pada Zyan.
Dua bulan kemudian Zyan bisa tersadar dari komanya, Kiara dan Kenzia begitu bahagia. Mereka terus berusaha memulihkan Zyan dengan semua proses medis yang terbaik.
Ken akhirnya memberanikan diri berbicara pada Zyan, dan mengatakan semuanya. Zyan begitu marah karena Ken sudah berani menodai sang kakak, dan berhasil memukulnya walaupun dengan tenaga yang sang lemah.
"Akan ku bunuh kau Zio!! Kau sudah berani menyentuh kakakku," teriak Zyan dengan napas yang tersengal.
Kenzia menangis karena melihat kemarahan Zyan, Kenzia memeluk tubuh sang adik, memohon agar sang adik tak marah pada Kenzio.
"Kau harus menikahi kakakku sekarang juga! Aku tak mau mati dengan menyesal karena tak bisa melihat kakakku bahagia" ucap Zyan.
Hari itu juga semuanya di lakukan dengan sangat mendadak. Begitu pula dengan Kiara dan Zyan yang menikah dua jam setelahnya*.
__ADS_1
Flashback Off.
Bersambung💞💞💞