Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 300


__ADS_3

Siang itu, Kiara dan Vanya membawa Yuan pergi ke sebuah Mall, memanjakan sang ponakan yang yang


menggemaskan itu, Jiso terus mengangdeng tangan Mommy nya.


Di area permainan, si kecil Yuan meminta turun dari gendongan Vanya memcoba berjala dengan kaki kecilnya yang masih tertatih.


“Orang tuanya pasti sangat senang melihat Yuan sudah bisa berjalan, sampai kapan Kak Abi di rumah sakit dan tak menemui Yuan?” tanya Vanya.


“Aku sudah mengirimkan video Yuan saat dia berjalan. Ya, kau benar Vanya, Abi begitu bahagia melihat anaknya bisa berjalan,” jawab Kiara.


“Dan masalah kapan dai kembali, aku tak tahu. Abi selalu menolak jika aku mengatakan akan membawa Yuan tuk menemui dirinya,” sambung Kiara.


“Kasihan, Yuan. Kenapa dia harus bernasib sama dengan ayahnya? Kenapa takdir begitu kejam pada keluargaku, Kak?” tanya Vanya.


“Tidak ada yang tahu, takdir kita kan seperti apa. Hanya Tuhanlah, yang tahu akan seperti apa garis takdir kita,” jawab Kiara.


Vanya mengangguk ia, mendengar apa yang Kiara katakan. Memang benar adanya, jika nasib Yuan sama seperti dengan Sam sang ayah. Vanya melihat tawa polos dari sang ponakan yang sedang bermain dengan Jiso membuat dirinya semakin yakin, jika suatu hari nanti semuanya akan bahagia.


Setelah lelah bermain, mereka memilih tuk makan siang. Yuan begitu manja pada Kiara yang baru saja satu minggu bersamanya, Kiara dengan begitu tekaten memnyuapi Yuan dan memperlakukan


Yuan layaknya anaknya sendiri. Tak pernah terlihat rasa cemburu di mata Jiso saat Kiara memperhatikan Yuan, yang ada Jiso terlihat gemas dan begitu menyukai Yuan.


“Jiso, apakah kau tak mau memiliki seorang adik?” tanya Vanya.


“Jiso sudah mempunyai adik, aunty. Yuan kan sekarang jadi adik Jiso,” jawab gadis kecil itu.


“Oh, ya? Jadi sekarang Yuan jadibadik Jiso?” tanya Vanya.


“Emm, Jiso tak ingin adik lain. Jiso mau Yuan saja, yang menjadi adik Jiso,” jawab Jiso.


Vanya semakin di buat gemas oleh gadis kecil itu, Kiara bersyukur sang putri bisa mengerti dengan keberadaan Yuan dalam keluarga dan tak membuat Jiso cemburu. Siang itu, Yuan tertidur dengan sangat lelap di gendongan Kiara sedangkan Vanya menggendong Jiso yang juga  tertidur.


“Mereka begitu lelap, lihatlah wajah polos dari mereka," ucap Kiara.


“Ya, Kak. Aku begitu terkejut mendengar semua jawaban dari putrimu, dia dewasa di usianya yang kecil.” Balas Vanya.


Kiara tersenyum melihat wajah polos sang anak, Jiso memang msih berusia sepuluh tahun lebih muda dua tahun dari Alya. Tapi entah kenapa dia begitu memanjakan Alya yang lebih tua darinya.


“Apa kau akan langsung pulang? Tanya Kiara.


“Aku akan mampir ke rumah Kak Ara,” jawab Vanya.


“Apa ada masalah, atau terjadi sesuatu pada Sam?” tanya Kiara.


“Tidak, Kak. Aku hanya inhin berkunjung saja, kau tidak usah khawatir pada Kak Sam dia baik-baik saja,”


jawab Vanya.


“Aku terus berdoa setiap malamnya, berharap esok dia bisa sadar dan membuka matanya,” ucap Kiara lirih


dengan mata yang berkaca-kaca.


Vanya memegang tangan Kiara dan tersenyum, Vanya sangat bersyukur semua keluarganya menghawatirkan Samudera.

__ADS_1


“Aku harap juga begitu, semoga saja Kak Sam bisa segera sadar,” balas Vanya.


RUANG VVIP


Terdengar suara mesin detak jantung dari ruangan itu, terlihat Abi sedang bercerita pada sang suami yang


masih tertidur lelap. Wajahnya kadang tersenyum kadang sedih, tapi air mata itu terus menetes di wajah ayunya.


“Sam, kau tahu sekarang Yuan sudah bisa berjalan. Putramu itu sangat pandai, sekrang dia bersama dengan Kiara dan Zyan. Mereka menjaga Yuan dengan baik, Kiara begitu menyayangi anak kita. Yuan kecil kita sudah bisa berjalan, dia semakin menggemaskan,” ucap Abigail.


Abigail mengusap wajah pucat Sam, mencium kening sang suami sangat lama seakan Abi sedang melepas rindu pada sang suami.


“Coba kau dengarkan suara tangisan Yuan! Dia menangis, tapi masih tetap lucu,” ucap Abigail mendekatkan ponselnya pada telinga Sam.


Vanya akan menangis tapi juga tersenyum jika melihat video dari sang putra, tanpa Abigail sadari jika jari Sam bergerak. Abi hanya bisa melihat air mata yang keluar dari sudut matanya.


“Sayang, kau bisa mendengarkan aku? Apa kau merindukan Yuan, sama seperti diriku?” tanya Abigail.


Abigail memanggil Diana memintanya tuk memberitahu Ara dan Ken soal keadaan Sam. Diana ikut merasa senang mendengar Sam bereaksi dengan suara tangisan dari Yuan.


Ken dan Ara bergegas pergi dari ruangannya, mendengar apayang di sampaikan oleh Diana. Bahkan, Ara berlari bergitu saja tanpa memperhatikan dimana dia berada, para suster merasa cemas melihat Ara berlari seperti itu.


“Dokter Ken, maaf ada apa dengan Dokter Zia? Apakah keadaan adiknya memburuk?” tanya suster.


“Tidak, mungkin sebaliknya. Adiknya semakin membaik,” jawab Ken tersenyum.


Suster itu pun ikut merasa senang mendengar jika salah satu pasien bisa segera sembuh dan membaik. Ken kembali berjalan cepat mengejar sang istri ke ruangan Sam. Terlihat, Abigail memegang tangan Sam dengan erat, Ara dan Ken masuk dan memeriksa keadaan Sam.


Abigail dan Diana berharap cemas dengan terus melihat kedua Dokter kebanggaan dari rumah sakit itu, wajah Ken begitu serous begitu pula dengan wajah Ara.


“Koma? Tapi, aku melihatnya menangis paman. Berarti dia sudah sadar bukan?” tanya Abigail.


“Abi, air mata itu hanya reaksi dari otaknya saja,” jawab Ara begitu lirih.


Abigail menangis, menutup mulutnya menangis dengan sangat lirih. Diana menghampiri Abigail dan memeluknya dari samping, Abigail menangis di pelukannya.


“Sabarlah, Nyonya. Tuan akan segera sadar, karena sudah ada tanda-tanda dia bereaksi,” ucap Diana menenangkan Abigail.


Ken menatap Ara dan mengangguk tuk keluar kembali menuju ruangan mereka, Ara begitu sedih karena sudah sangat berharap bahwa Sam sudah bisa melewati masa komanya.


Hari sudah berganti malam, Abigail tertidur dengan terus menggenggam tangan Sam, Diana menyelimuti


Nyonyanya itu menatap keduanya yang sedang tertidur pulas. Entah kenapa air matanya mengalir begitu saja merasakan kesedihan yang Abigail rasakan.


“Tuhan, aku harap kau mendengar doaku. Tolong berikan kesembuhan tuk Tuanku dan tolong berikan kebahagiaan tuk Nyonyaku, mereka orang-orang baik,” batin Diana.


Malam itu, gadis itu tak bisa memejamkan matanya. Diana memilih tuk berjalan-jalan di dalam rumah sakit,


melihat ruangan pasien, ruang bayi dan tanpa sengaja saat melintas ruangan Ken terdengar suara tangisan dari dalam. Suaranya seperti serang lelaki, entah


siapa itu.


“Sudah sebulan dia mengalami koma dan masih belum juga menandakan kesadarannya. Sampai kapan Abi harus menangisinya? Aku merasa begitu bodoh tak bisa melakukan apapun padanya,” isak tangis Ken.

__ADS_1


“Kenapa harus ada lagi tragedi yang seperti ini? Aku sudah sangat lelah melihat adik-adikku yang terluka,”


sambung Ken.


"Dimana lagi aku terbangun? Berubah lagi, sendiri lagi dan tak bisa menemukan apapun lagi. Aku sudah lelah dengan semua ini, aku ingin istirahat sejenak, tapi


kenapa setiap ku ingin berhenti jantungku berdegup kencang dan seakan memaksa tubuhku tuk terus bergerak dan berjalan."


“Terus berjalan, jangan berdiam ditempatmu! Kau harus terus melangkah tuk menemukan jalanannya.”


“Sudah ku katakan, diamlah kau! Kau membuatku semakin lelah saja,” ucap Sam.


“Aku akan terus mengawasimu, aku akan terus memberitahumu dan aku akan disini bersamamu.”


“Menemani? Mengawasi dan memberitahu apa maksudmu, huh?” hardik Sam kesal.


“Kenapa aku tak bisa menemukan Zyvia lagi, pergi kemana dia? Aku sungguh ingin bertemu dengannya,” ucap Sam begitu lirih.


“Tempatnya bukan disini, Dia berada di tempat lain. Dan, kau juga harusnya tak berada di sini Samudera


Andero.”


“Beritahu aku jalannya! Aku ingin bertemu dengan istri dan anakku,” balas Sam.


“Carilah, kau bisa menemukan jalannya sendiri dengan hatimu.”


Sam termenung mendengar ucapan dari suara itu, suara yang tak berbentuk. Setiap Sam membuka matanya hanya suara itulah yang selalu menemaninya. Suara lelaki yang terdengar tegas.


“Aku sudah lelah dengan semua yang terjadi, aku harap kau menunjukkan siapa dirimu!” pinta Sam.


“Aku tak mau bertemu dengamu. Aku hanya ingin menemanimu tanpa melihatkan siapa aku, seperti apa diriku padamu.”


“Kenapa kau begitu menjengkelkan sekali, aku ingat mempunyai teman yang mempunyai sifat dan sikap sepertimu,” ucap Sam.


“Jangan samakan aku dengan siapa pun. Aku adalah aku,taka da yang bisa menyamai diriku.”


“Huh, coba kau dengarkan nada bicaramu! Sungguh arogan,” ucap Sam dengan senyum sinisnya.


“Diamlah, kau harus segera berjalan kembali! Sudah banyak orang yang menunggu dirimu di luar sana.”


Sam hanya terdiam mengadahkan wajahnya menatap langit luas di atasnya. Tatatapan mata Sam semakin lama semakin kabur, Sam tersenyum tipis sampai semua pandangannya semakin buram tak terlihat apa pun.


“Aku akan tertidur lagi, kembali lagi dengan suasan yang berbedalagi,” lirih Sam.


Alam bawah sadarnya membawa Sam semakin dalam entah kemana dia berada, entah apa yang di cari Sam dan apa yang membuatnya terus mencari kesana kemari.


**Bersambung🍂🍂🍂


Marhaban ya Ramadhan tuk semua pembaca setiaku dan sayang sayangku ...


Mohon maaf lahir dan batin dari Fiki dan Keluarga 🙏


Selamat menunaikan ibadah puasa tuk esok hari.

__ADS_1


Terimakasih Sayangku 😘 ❤**


__ADS_2