
Pagi harinya Ericana sungguh menagih janji pelayan yang akan mengantarkannya melihat mama Vini .
'' Tapi Ericana harus sarapan dulu ya " ucap pelayan menatap Ericana kini yang tengah wangi dan juga cantik .
Langkah kaki Ericana menegang saat melihat Sasa yang kini baru saja duduk di meja makan .
'' Erica takut Oma bibi " cicit Ericana .
'' Sayang , ayo sarapan sama Oma " ucap Sasa yang tak lagi galak . Sasa mulai mendekati Ericana yang diam membeku di atas tangga. Ericana bringsut menyamping menyelipkan tubuh mungilnya di balik pelayan yang setia menemaninya .
'' Maafkan Oma ya sayang. Oma kemarin begitu cemas dengan mama mu . Maafkan Oma ya . Jangan begini Ericana , Oma pun sedih dan menyesal " ucap Sasa dan mulai perlahan Ericana melihat Sasa , saat ini Sasa meneteskan air matanya .
'' Oma jangan menangis " ucap Ericana lirih , hatinya begitu tercubit saat melihat orang di sayangnya menangis.
'' Ayo makan dengan Oma , hari ini kita akan melihat mama Vin " ucap Sasa dan diangguki Ericana , tak berselang lama Teguh pun bergabung di meja makan dan acara sarapan pagi pun di mulai .
.
.
.
'' Sayang , nanti siang jadikan kekantor mas " tanya Rafli memastikan .
'' Aku berencana melihat keadaan Bunga mas " ucap Ana membuat Rafli menghembuskan nafas kasar.
'' Buat apa Ana. Bunga bukan siapa-siapa kita. Kenapa aku di duakan dengan keadaanya " bisik Rafli tak suka .
'' Mas , aku hanya melihat keadaanya . Bukan menduakanmu " kesal Ana.
'' Tidak . Mas tidak mengizinkan. Tak setiap hari kau harus menjenguknya . Pentingkan anak dan suami mu Ana " ucap Rafli begitu kesal , seharusnya istri bersyukur saat mengetahui wanita yang ingin merebut suaminya sekarat itulah pemikiran Rafli.
'' Apa kau mau , suamimu yang tampan ini serta anak-anak yang menggemaskan di urus dengan wanita lain " imbuh Rafli , membuat Ana menggeram ..
'' Lakukan , jika mas berani . Resikonya adalah kebiri , lalu aku akan mencari papa baru untuk anak-anak " ucap Ana , berbalik membuat Rafli jadi kelimpungan. Mau seperti apa nasibnya , seluruh hartanya atas namanya kini berubah atas nama istri tercintanya , sudah jatuh miskin ia dikebiri pula oleh istrinya , melihat istrinya bersanding dengan pria lain tak ada di kamus hidupnya .
'' Mas hanya bercanda sayang '' ucap Rafli gelagapan .
'' Sayangnya aku serius mas " ucap Ana menahan bibirnya untuk tertawa.
'' Ana " ucap Rafli yang berniat tak pergi ke kantor dan memilih menghabiskan waktu bersama istrinya dan memberikan istrinya itu hukuman , namun Ana secepat kilat menutup pintunya rapat-tapat , beruntung Rafli refleks mengelak hingga wajahnya tak mencium pintu. . Terdengar tawa Ana menggelegar membuat Rafli cukup kesal .
" Aku akan menghukummu nanti malam dan bersiaplah Ana " batin Rafli dan wajah galaknya di tujukan kepada Yacop membuat bulu kuduk Yacop meremang .
.
.
.
Siang hari bel mansion Rafli begitu sibuk berbunyi sedari tadi. Sang tamu pun tak di cegah oleh pengawal yang berjaga karena sudah mengetahui jelas siapa yang bertamu .
" Siapa yang memencet bel begitu berisik " ucap Dewa menggerutu .
" Lihat sana " titah Dewa ada Arjuna yang sedang melukis .
" Aku sibuk kak. Nanti fokus ku buyar " ucap Arjun membuat Dewa berdecak kesal .
Wajah kesal Dewa berubah menjadi binar yang cerah saat aunty tersayangnya kini tersenyum manis di hadapannya .
" Ya ampun Dewa , kau tampan sekali sayang " ucap Rahma dengan hebohnya mencium pipi kiri dan kanan Dewa , Rahma tak tau Dewa benci akan hal itu .
" Aunty jangan menciumku lagi " protes Dewa dan diangguki saja oleh Rahma .
" Ayo masuk aunty " ucap Dewa dan di angguki Rahma , tak lupa Rahma menggendong sosok bayi perempuan yang menggemaskan .
__ADS_1
Rahmaa menelusuri isi mansion milik Rafli , dimana masih nampak seperti dulu , tak ada yang berubah . Foto sang kakak perempuan yang paling mendominasi mansion mewah tersebut.
'' Sungguh , mbak Ana menjadi ratu yang sebenarnya " ucap Rahma dengan senyum merekah.
'' Eh aunty cantik " ucap Arjun membuat Dewa mencebikkan bibir nya , semua perempuan selalu di bilang cantik oleh adiknya itu .
'' Hai juga tampannya aunty " ucap Rahma , membuat Dewa permisi untuk memilih belajar dikamar nya saja .
'' Kak Dewa memang begitu aunty , begitu menyebalkan dan tak bisa bercanda " ucap Arjun dan membuat Rahma tertawa di buatnya .
'' Astaga , aunty lupa. Ada oleh-oleh di mobil '' seloroh Rahma dan memanggil salah seorang ART yang kebetulan lewat .
'' Dimana bunda dan nenek Arjun '' tanya Rahma .
'' Mereka di gazebo belakang . Biasa si manja mau mam ikan bakar dan gaya makannya seperti piknik '' ucap Arjun , sungguh menyebalkan membahas tentang saudaranya tersebut , meski dilubuk hatinya tetap menyayangi Jelita bagaimanapun ikatan darah sebagai saudara kandung.
'' Ya sudah , aunty kesana saja '' ucap Rahma dan diangguki Arjuna.
Rahma berjalan menuju dimana keluarganya berkumpul terlihat sang bapak sedang sibuk mengipas ikan bakar milik Jelita , sedangakan Ana dan ibu sibuk menata berbagai jenis makanan . Berbeda dengan Rava yang malah sibuk memancing ikan , dengan begitu bangganya Rava berteriak senang kala ikan di ember miliknya cukup banyak. Bagaimana tidak , kolam ikan yang begitu indah di isi oleh ikan yang cukup banyak membuat pancing siapapun mendapatkan ikan dengan mudah .
'' Astaga Rahma , sejak kapan kau disitu '' ucap Ana kaget , dan ucapan Ana mengalihkan perhatian orang di sekitarnya .
'' Kalian saja , yang tak peduli lagi denganku '' Rajuk Rahma namun dengan bibir melengkung .
'' Aduh cucu nenek yang cantik datang '' ucap Laras segera mengambil cucu mungilnya dari gendongan Rahma .
'' Ayo dek. Duduk sini '' ucap Ana dan di angguki Rahma yang duduk disisi Jelita .
.
.
.
Kecupan bertubi-tubi mendarat di wajah ayu milik Ana , Rafli mencium nya setelah pertempuran panas mereka. Beruntung , Rahma si pengacau di urus oleh ayah mertua nya .
'' Pakai tanya , jelas saja lelah '' ucap Ana mengerucutkan bibirnya.
'' Makanya , jangan coba ingin menikah lagi '' ucap Rafli mengecup bibir Ana gemas.
'' Kan mas yang mulai '' elak Ana...
'' Kan mas hanya bercanda . Mendapatkanmu begitu susah dan sangat mustahil untuk mas lepaskan. Mas hanya ingin, kau fokuskan semua dirimu dan perhatianmu untuk keluarga kita '' ucap Rafli dan diangguki Ana.
'' Maafkan aku mas , aku hanya sekedar ingin melihat keadaan Bunga secara langsung saja '' ucap Ana bersandar di dada kekar suaminya , mencari kenyamanan disana.
'' Tapi jika kau sering melihat Bunga dan sering keluar dengan waktu cukup lama , akan mengundang kecurigaan orang tua kita sayang '' ucap Rafli dan di benarkan juga oleh Ana , bagaimana jika orang tuanya tau tentang Bunga maka di pastikan pernikahan mereka akan segera hancur . Gunawan dan Laras bukan tipe suka ikut campur dengan keluarga yang dibina anak mereka , Gunawan merupakan orang yang tegas . Ia tak segan menegur sang anak jika melakukan kesalahan , apalagi jika sang anak melawan suaminya maka ceramah tujuh hari tujuh malam pun akan terjadi , sama hal nya jika anaknya tersakiti maka sang menantu di buat akan sengsara hidupnya bahkan Gunawan tak segan membuat mereka untuk berpisah . Dan Rafli tak ingin berpisah dari Ana menjadi kenyataan sementara Ana memikirkan anak mereka maka ia mau berdamai dengan suaminya dan mulai menata hatinya yang porak poranda akibat pengkhianatan suaminya , meski semua kejadian itu karena jebakan.
'' Ada yang mas ingin bicarakan sayang '' ucap Rafli namun malam mengecup salah satu ujung bukit kembar Ana membuat Ana memberengut kesal dan Rafli menahan tawanya. Kini wajah Rafli mulai serius .
'' Ada apa mas '' ucap Ana dengan alis mengerut menunggu hal apa yang ingin di bicarakan suaminya .
'' Mas telah menemukan Geilo '' ucap Rafli
'' Geilo anaknya Bunga dan Willy '' imbuhnya membuat Ana ingat akan anak tersebut.
'' Lalu dimana anak itu sekarang , kenapa tak diajak tinggal disini saja '' ucap Ana dan ucapan itu membuat Rafli begitu gemas dengan istrinya.
'' Bagiamana mungkin kau mengizinkan nya tinggal disini bunda. Mereka akan curiga dan banyak bertanya '' ucap Rafli .
'' Tapi apa Geilo tidak menangis , kan orang-orang mu seram semua wajahnya '' ucap Ana. Ana yang mempunyai perasaan lembut tak bisa membayangkan ekspresi Geilo saat berada di sekitar orang seram mengelilingi nya .
" Kau akan pingsan jika tau sisi kejam suami mu ini Ana " batin Rafli .
" Oh ya sayang , tumben Rahma berkunjung kesini " ucap Rafli membuat Ana menatapnya tak suka .
__ADS_1
" Kenapa mas tak suka Rahma berkunjung kemari " ucap Ana .
" Bukan gak suka sayang. Hanya tumben saja " ucap Rafli .
" Kau tak menyuruhnya kemari dan untuk menjemputmu kan " ucap Rafli menatap istrinya curiga.
" Selalu saja pikiranmu itu mas. Sudahlah , aku lelah mau tidur " ucap Ana dan segera memunggungi suami nya . Jam pun telah menunjukkan pukul dua malam , membuat Rafli tak lanjut untuk membahas kehadiran adik iparnya itu .
" Ternyata dia beneran tidur " gumam Rafli saat nafas Ana terdengar teratur , padahal Ana berniat mengelak atas pertanyaan suaminya tersebut.
" Sepertinya aku harus meminta Bianca mengatur jadwal ku yang padat untuk di kosongkan , keluarga kecilku perlu liburan. Meski fasilitas dirumah begitu lengkap namun piknik di alam bebas juga perlu " batin Rafli .
" Maafkan mas sayang , begitu mengekang kebebasan mu . Itu semua demi kebaikan kita semua terutama dirimu. " gumam Rafli , mengecup surai indah Ana dan memeluknya .
.
.
.
Ana yang sedang rindu kepada Ericana mencoba kembali menelpon Vini. Kali ini panggilannya masuk namun tak menerima jawaban. Ana mencoba hingga lima kali dan akhirnya telepon tersebut terangkat .
" Hallo Vini '' ucap Ana terdengar suaranya begitu senang . Sang penerima telepon pun untuk sesaat terbuai oleh suaranya , suara yang pernah menghipnotis hari-harinya dulu .
'' Hallo Vin , kau baik-baik saja '' ucap Ana mulai cemas karena tak mendapat jawaban.
'' Eh i...iya ... Hallo Ana '' ucap Eric setelah tersadar .
'' Eh kak Eric . Bisa bicara dengan Vini '' tanya Ana , mencoba menahan emosinya .
'' Vini sedang tertidur Ana '' ucap Eric .
'' Bohong '' umpat Ana .
'' Kita video call agar tak mengira aku berbohong '' ucap Eric dan panggilan kini berbuah menjadi video call.
Ana meneliti ruangan dimana Vini sedang tertidur pulas .
'' Rumah sakit '' gumam Ana .
'' Iya , dua hari ini Vini masuk rumah sakit . Vini hampir keguguran Ana '' lirih Eric terlihat jelas matanya kini berkaca-kaca.
'' Semoga Vini dan anak kalian tidak kenapa-napa '' ucap Ana tulus.
'' Terimakasih Ana '' ujar Eric .
'' Apa Ericana tak ikut kalian '' ucap Ana yang begitu merindukan anaknya .
'' Nanti malam Sore Ericana akan kesini. Baru saja dia pulang '' ucap Eric dan Ana hanya menghembuskan nafas kasar pertanda wanita itu begitu kecewa.
'' Nanti sore jika Ericana kesini , nanti iya akan ku suruh menelpon mu '' ucap Eric .
'' Ok baiklah '' ucap Ana dan segera memutus panggilan Video call tersebut .
'' Ternyata mereka tak benar - benar menghindar. Tunggu lah bunda sayang, kau akan segera kembali di keluarga mu yang sesungguhnya '' ucap Ana lirih dan cairan bening membasahi pipinya .
.
.
.
Maaf baru up , sedikit rasa sibuk .
Gak banyak episode bakal end ya , dan di usahakan happy ending .
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya.
selamat membaca 😊