Takdir Cinta

Takdir Cinta
Hamil


__ADS_3

Eric yang berniat mengajak Ericana dan Vini mengunjungi villa pribadi milik keluarganya merasa kesal saat ini karena Vini memutuskan untuk pergi ke pantai favorit nya yang kebetulan mereka lintasi . Eric berdiam diri sesaat saat menatap nanar tempatnya dulu dan Ana saat mereka masih berpacaran tempat itu kini dipadati cukup banyak orang , terlihat seorang fotografer sedang memotret sepasang kekasih yang terlihat begitu mesra sontak hal itu membuat Eric kesal dan mengarah kan pandangannya untuk melihat Ericana dan Vini yang tengah membangun istana pasir .


Eric menatap Vini dan Ericana secara bergantian , ntah apa yang Eric rasakan saat ini , intinya ia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Vini . Ericana dan Vini memanggilnya untuk mendekat namun Eric menolak dan lebih menikmati kesendiriannya memperhatikan mereka dari jarak jauh dan sesekali melihat laporan perusahaan yang sudah lama ia serahkan tugasnya kepada Angga untuk sementara .


Visual Vini ( Kasih yang paling bening untuk Eric )



Jika Eric mengajak Vini dan Ericana menikmati pantai berbeda di kediaman besar keluarga Wijaya terlihat mereka begitu mengkhawatirkan keadaan Ana yang terlihat begitu sedih. Rafli merasakan tiada guna dirinya karena tak berhasil membawa Ana untuk melupakan kesedihannya hingga Dewa berlutut menyentuh sang bunda yang kini pandangannya kosong menatap jendela dengan air mata yang tak henti mengalir .


" Bunda " ucap Dewa serak dengan mata memerah .


" Bunda " panggil Dewa kembali namun Ana seakan jiwanya kosong .


" Bunda , ayo kita Sholat . Kita kirim doa untuk Zilva dan Kanya " ucap Dewa yang memang waktunya memasuki sholat ashar.


'' Ayo Bun . Bukankah bunda ingin mempunyai anak yang Sholeh dan Soleha " ucap Dewa sendu ...


'' Tapi apa dengan sholat maka Zilva dan Kanya bisa kembali " ucap Ana lirih .


'' Bunda , jangan siksa diri bunda . Masih ada Dewa dan yang lain membutuhkan kasih sayang bunda. Dewa ingin sekali rasanya menggantikan adik Zilva dan Kanya agar berada disisi bunda biar Dewa saja yang berada disana agar bunda tak menangis lagi " ucap Dewa yang kini tumpah air matanya . Seketika Ana menggeleng cepat menandakan tak setuju omongan Dewa , Ana tak akan membiarkan satupun anaknya pergi meninggalkan nya di dunia ini .


'' Ana . Ayo kita Sholat berjamaah nak " ucap Gunawan dan terlihat para keluarga yang lainnya juga sudah bersiap .


'' Baiklah pak " ucap Ana dan menghapus air mata Dewa. Keluarga Wijaya dan Gunawan berharap Ana mampu mengikhlaskan Zilva dan Kanya .


.


.


.


Sebulan telah berlalu , cukup sulit perjuangan Rafli untuk mengembalikan senyuman Ana seperti sediakala. Meski Ana kembali tersenyum namun wanita itu sering kali menangis dalam setiap doa nya. Mengingat Zilva dan Kanya yang telah tiada .


'' Mas , apa kau tidak bekerja " ucap Ana namun Rafli terlihat masih tertidur pulas karena semalaman ia mengerjakan tugas kantor yang begitu menumpuk.


'' Mas . Ayo bangun . Nanti kau telat " ucap Ana .


'' Nanti , mas masih ngantuk " ucap Rafli dengan suara berat karena begitu mengantuk.


'' Baiklah kalau begitu " ucap Ana lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah ia menyelesaikan senam dan olahraga untuk menjaga tubuhnya .


Rafli yang awalnya sudah terbangun kini tak mampu bersandiwara lagi . Melihat Ana yang menyanyi begitu fals untuk di dengar , membuat Rafli segera menuju kamar mandi namun bukan karena itu melainkan ada maksud lain .


Ana yang asik bershampo tak menyadari jika ada makhluk bayi besar kini siap menerkamnya


'' Wangi sekali " ucap Rafli memeluk Ana seketika membuat Ana begitu kaget .


'' Mas . Apa yang kau lakukan " ucap Ana .


'' Apalagi kalau bukan untuk mandi plus-plus " ucap Rafli yang kini tangannya mulai nakal.


'' Mas jangan ya . Aku ingin membuat sarapan untuk anak-anak " ucap Ana jujur , sengaja ia tak berendam agar mandinya segera cepat selesai .


'' Tapi aku ingin memakanmu pagi ini " ucap Rafli segera melakukan aksinya menyentuh titik kelemahan Ana hingga membuat n*fsu Ana merayap naik .


Saat Rafli ingin melakukan penyatuan seketika Ana mendorongnya , ntah karena apa namun ia merasa tidak ingin melakukannya .


'' Ana . Mas sudah berpuasa begitu lama. Apa kau tega melihat punya mas karatan " ucap Rafli , ia menghembuskan nafasnya yang begitu memburu karena sudah cukup satu bulan baginya tak menyentuh Ana di hitung mulai dari saat Ana sadar.


'' Tapi mas . Aku " ucapan Ana terpotong saat Rafli mulai mencium bibir Ana dengan buas dan perlahan ciuman itu menjadi begitu memabukkan . Mandi yang dikira Ana bisa singkat ternyata tak seperti yang Ana duga karena Ana hapal betul karakter sang suami jika sudah berada dalam permainan ini . Rafli melakukannya di berbagi tempat . Tak puas di bawah guyuran shower ia pun membopong Ana untuk menuju ranjang mereka .


Ketahuilah , jika Rafli telah membuat kamar kenangan buruknya menjadi gudang bekas bahkan kasur +ranjang yang harganya ratusan juta ia perintahkan pelayanan nya untuk dibakar meksi baru di beli Rafli belum sampai satu tahun . Rafli tak ingin bekas malam kelam itu berada di sekitar dirinya dan Ana .


'' Bunda.... Ayah.... Buka pintunya .... " ucap Arjuna .


'' Mas ... Juna datang " ucap Ana memperingati Rafli agar segera menyelesaikannya ...

__ADS_1


'' Ck ... mengganggu saja si lele " ucap Rafli berdecak kesal .


'' Mas . Sudahlah nanti malam saja " ucap Ana .


'' Mana bisa begitu . Nanti malam lain lagi ceritanya " ucap Rafli yang kini konsentrasi nya untuk fokus sedikit terganggu di tambah gedoran pintu yang kuat dan tangisan Jelita ikut terdengar. ..


'' Mas " ucap Ana ingin mendorong Rafli .


'' Sebentar .... sedikit lagi " ucap Rafli tetap kekeh pada aksinya .


Rafli akhirnya selesai melepaskan apa yang terpendam selama ini membuatnya merasa lega meski sedikit kesal karena ******* nya cukup terganggu .


'' Mas kau pakailah bajumu . Aku mau mandi " ucap Ana melempar baju Rafli serta boxernya kemuka sang suami karena begitu kesal sang suami membuat tanda kepemilikan nya yang tersebar dimanapun. Betapa malunya saat seminggu yang lalu Alex dengan jeli melihat satu tanda kepemilikan Rafli di lehernya , apalagi kini begitu banyak .


'' Kenapa mandi . Mas ingin mengulangi nanti " ucap Rafli membuat Ana mendengus kesal .


'' Kau selalu membuatku gila Ana , dari segala sisi '' ucap Rafli dan kini bangkit membuka pintu kamarnya .


Jelita menangis saat Rafli membuka pintu , Jelita pagi sekali mengadu atas kelakuan Arjuna yang mengerjainya sementara Rafli menatap biang kerok yang membuatnya tak merasa ******* yang biasanya menembusnya hingga terbang ke nirwana .


'' Jujun gak ganggu Jeje '' adu Jeje sambil menjulurkan lidahnya pada sang kakak


'' Bo'ong " ucap Arjuna mengelak .


'' Dasar lele Korea ini " gumam Rafli .


'' Juna bukan lele Korea '' ucap Arjun tak terima .


'' Maafkan saya tuan . Biar saya urus non Jeje nya " ucap Bi Jum tak enak hati karena tadi ia sedang memandikan Rava membuatnya lalai menjaga Jelita yang memang sering di goda oleh yang lain.


'' Coba dari tadi " batin Rafli ingin rasanya ia terima penawaran bi Jum namun rasanya melemas saat melihat Ana yang kini telah selesai mandi kilatnya serta sudah berpakaian lengkap dengan mengenakan atasan baju yang menutupi leher jenjangnya.


" Ada apa sayang . Kenapa menangis " ucap Ana mendekati Jeje dan menciumnya.


" Jeje nakal Bun . Merobekin foto milik Arjun " ucap Arjuna mengadu lebih dahulu apa yang terjadi .


" Hei nama kakakmu yang tampan ini Juna . Arjuna bukan Jujun " ucap Arjuna merasa kesal sementara Rafli terkekeh geli.


Meski Arjuna tak menyerupai nya dan malah sering di jadikan Ana senjata untuk membuatnya cemburu buta , Rafli tetaplah menyayangi nya karena bagaimanapun Arjuna darah dagingnya sendiri tak membedakan kasih sayangnya kepada anak yang lainnya namun khusus untuk sang putri ia menyayanginya lebih dari apapun meski begitu Ana lah lebih berarti baginya .


" Sudah Jeje jangan menangis .Anak cantik gak boleh nangis " ucap Ana mengambil alih Jeje...


" Juna , ayo siap-siap nanti masuk sekolahnya telat " ucap Ana membuat seketika Arjuna menurut.


" Bi tolong urus Jelita dan Arjuna dulu " seloroh Rafli membuat Ana menatap tajam kearahnya.


" Cukup mas . Aku ingin memasak untuk anak-anak " ucap Ana tegas membuat Rafli menekuk wajahnya .


" Mandilah . Kau harus kekantor " ucap Ana berlalu pergi begitu saja seraya membawa Jeje dan Arjuna di ekori oleh BI Jum yang berada di belakang .


Terlihat Dewa tengah tersenyum ke arah sang bunda dan adiknya . Dewa duduk manis di meja makan menanti sang bunda untuk membuatkannya sarapan kesukaannya .


" Maaf ya Dewa membuat mu menunggu lama nak " ucap Ana mencium pipi Dewa anak yang paling ia sayangi .


" Iya bunda . Dewa mengerti " ucap Dewa tersenyum .


" Bunda . Apa bunda sakit " tanya Dewa melihat penampilan Ana.


" Tidak . Bunda hanya kangen dengan baju ini " elak Ana yang mengerti maksud pertanyaan anak pertamanya dan beruntung anak-anak nya begitu saja mengerti.


" Andai tadi Jeje tak menangis . Pasti kita tak akan lama menunggu bunda membuat sarapan " ucap Arjun yang tak mengetahui penyebab utama Ana telat membuatkan mereka sarapan.


" Dasar ratu drama " gumam Arjun saat melihat Jeje menjulurkan lidah kepadanya .


" Sudahlah diam . Kau selalu saja usil. Apa kau ingin aku kadukan pada bunda mengenai foto siapa itu " ucap Dewa ia jengah melihat para adiknya yang selalu kompak menggoda Jeje yang notabennya anak kesayangan sang ayah dan Jeje juga begitu cengeng baginya.


" Kau tak asyik kak " ucap Arjuna dan kini duduk tenang di samping sang kakak menanti sang bunda yang kini membuat sarapan untuk mereka sementara Rava dan Alex kini berada ditaman tengah menikmati kue yang dibuat Ana semalam .

__ADS_1


.


.


.


Jika di mansion Rafli , Ana disibukkan membuatkan sarapan berbeda pula yang terjadi di mansion Permana karena semua orang heboh saat Vini di temukan pingsan di dalam kamar mandi , terutama Sasa yang terlihat begitu panik.


Eric yang berada di perjalanan menuju kantor mendadak berbalik memutar arah menuju rumah sakit dekat dengan mansion sang ayah saat Sasa memberi kabar jika Vini di temukan pingsan di kamar mandi dan membawa nya kerumah sakit


'' Ada - ada saja Vini . Menyusahkanku saja . Sudah di tawarkan kerumah sakit tadi pagi tidak mau . Dan lihatlah mengganggu saja , semua wanita menyusahkan " gerutu Eric terpaksa harus menunda meeting pentingnya .


Hospital


Eric segera menuju ruang yang di beri tahu Sasa. Pandangannya menyerit saat melihat papan nama dokter laki-laki yang memeriksa istrinya namun bukan itu masalahnya melainkan papan nama dibawahnya OBGYN dan gelar dokter tersebut spOG.


'' Apa maksudnya " Eric hanya mematung di depan pintu ruang dokter yang sedang praktek itu .


'' Maaf permisi tuan " ucap sang Suster menyapa Eric sopan yang tengah menghalangi jalannya . Seketika Sasa menoleh dan mendelik kesal kepada Eric yang malah diam di depan pintu .


'' Eric masuk. Istri mu di dalam " ucap Sasa terlihat jelas jika Sasa tampak begitu bahagia.


'' Silahkan duduk tuan Eric " ucap dokter Will tersenyum ramah....


'' Istri saya kenapa dok " tanya Eric memastikan.


'' Istri anda hanya kelelahan dan jika bisa jangan membuatnya sampai stres " ucap dokter Will .


'' Istri anda positif hamil tuan dan usia kandungannya memasuki tiga Minggu " ucap dokter Will mengulurkan tangannya kepada Eric namun Eric terlihat mengacuhkannya.


'' Vini hamil bagaimana bisa . Padahal aku sering melihatnya meminum obat pencegah kehamilan yang ku berikan . Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini " batin Eric .


" Tuan Eric " panggil sang dokter .


" Ah ya dok . Maafkan saya . Saya kaget " ucap Eric memasang senyum palsunya . Vini yang awalnya cemas kini sedikit bernafas lega karena sang suami tersenyum .


Dokter banyak menyampaikan pesan kepada Eric namun fikiran Eric kini sedang berkelana kemana-mana . Mempunyai anak dari wanita yang tak di cintainya membuat perasaannya tak menentu , mengetahui kenyataan jika benih nya tumbuh di rahim wanita yang sah baginya.


Eric mengusap wajahnya kasar terlihat jelas saat ia sedang mengendarai mobilnya.


" Eric apa kau tak senang dengan kehamilan istrimu " ucap Sasa emosi saat melihat Eric sifatnya kini acuh kepada Vini , bahkan Eric segera keluar langsung dari ruang dokter dan enggan menembus obat. Eric sendiri tak mengetahui betapa hancurnya hati Vini saat ini , Vini pun tak ingin hamil dalam situasi ini .


" Ma . Aku tak apa " ucap lirih Vini.


" Tidak bisa Vini . Dia harus di beritahu " ucap Sasa.


" Jangan sampai kau menyesalinya di kemudian hari Eric " ucap Sasa kesal.


" Ma . Aku hanya kaget . Bukannya karena aku tak suka . Bagaimanapun Vini istriku dan mengandung darah dagingku . Dan sekarang mama diamlah , aku sedang fokus menyetir " ucap Eric kesal.


" Mama harap papa mu menerima kehadiranmu sayang. Mama tau ini sulit diterima oleh papamu untuk saat ini . Mari kita berjuang bersama hingga kita merasa lelah " batin Vini .


" Eric kita mampir ke supermarket dulu " ucap Sasa.


" Tapi aku ada meeting penting ma " ucap Eric.


" Eric " ucap Sasa penuh penekanan.


" Ma . Kita nanti saja ke supermarketnya. Mas Eric ada meeting ma " ucap Vini mengerti jika memang Eric pamit bekerja tadi pagi untuk mengadakan meeting penting...


" Pokoknya kita ke supermarket " ucap Sasa kekeh .


" Sudahlah Vin . Kau diam saja , mama tak akan mau mengerti " ucap Eric kesal sendiri.


" Seandainya Ana . Apa kau akan acuh begini Eric " batin Sasa menatap iba menantunya yang terlihat jelas hanya senyum getir yang ia rasakan .


Jangan lupa like dan komentarnya.

__ADS_1


Selamat membaca 😊


__ADS_2