Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kenyataan


__ADS_3

Setelah menempuh berapa jam didalam pesawat, Kenzia dan yang lainnya sudah sampai di negara Republik Indonesia. Tempat lahirnya, tempat dimana dia melepas segala atribut keluarga besarnya.


Kenzia menghembuskan napas beratnya, karena dadanya begitu sesak dia rasakan. Kiara terus menggandeng tangan Kenzia, agar bisa membuatnya sedikit tenang.


Kaki Lexion dan Kenzia secara bersama menginjakkan kakinya di tanah Indonesia.


Deg,,, Deg,,, Deg,,,


"Zyan, Ara," panggil Azura spontan saat sedang membereskan kamar Zyan. Azura sampai menjatuhkan bantal itu dan berlari keluar kamar snah anak. Menuruni tangga dengan langkah yang begitu cepat, sampai membuatnya terjatuh di atas lantai dasar rumahnya.


"Bunda," teriak Bumi yang melihat sang istri yang terjatuh dari tangga.


Bumi berlari dan pendekap tubuh Azura, membantunya berdiri, sedangkan Azura terus menatap pintu rumah yang terbuka tersebut dengan tatapan penuh harap.


"Bunda ada apa?" tanya Bumi. Seraya melihat arah mata sang istri yang menatap pintu.


"Ayah, anak kita pulang! Dia kembali ayah, anakku kembali Ayah," ucap Azura menatap sang suami.


"Bunda, memang benar Zee akan pulang hari ini. Tapi, sudah ada Ars, Tia dan Alfa yang menjemputnya," jelas Bumi.


Azura menatap ke arah Bumi dengan kesal, Azura menggeleng cepat.


"Bukan, Ayah. Apa kau sudah melupakan putra dan putriku yang lain?" tanya Azura dengan tatapan tak suka.


"Bunda, apa maksudmu?" tanya Bumi bingung.


Azura melepas tangan Bumi pada tubuhnya, dan menatap tajam Bumi.


"Anakku, anak anakku kembali, Ara dan Zyan kembali, ayah. Bunda merasakan langkah kaki mereka disini," ucap Azura berjalan pelan melihat semua lantai rumahnya.


Bumi terkejut dengan ucapan sang istri, namun juga begitu sedih karena Azura seperti orang yang begitu syok dan berhalusinasi. Bumi mendekati Azura dan memegang pundak sang istri.


"Bunda, bunda lihat Ayah!" pinta Bumi menghadapkan tubuh Azura pada dirinya.


Wajah Azura sangat berantakan, air mata masih menghiasi mata sayunya.


"Sayang, dengarkan aku. Ara dan Zyan tak ada disini," ucap Bumi dengan pelan.


"Apa yang kau katakan, Ayah. Apa kau tak senang mereka kembali, hah?" teriak Azura penuh emosi.


Bumi menggeleng dan terus meyakinkan sang istri, kalau kedua anaknya memang tak disini. Semua itu hanya rasa rindunya saja yang begitu kuat sehingga membuat Azura berhalusinasi.


"Aku akan begitu senang, aku akan menjadi Ayah yang sangat bahagia saat mereka bisa kembali, dan ingat Bunda Ara dan Zyan selalu ada di hati kita," tegas Bumi.


Azura menangis, meraung memanggil nama Ara dan Zyan. Bumi memeluk erat tubuh sang istri yang mulai melemas. Zee dan yang lainnya yang melihat kejadian itu, ikut merasakan kesedihan yang Azura rasakan.


"Sayang, kau harus tenang. Kuatkan hatimu, lihat bagaimana kenyataan yang bundamu rasakan," ucap Tia.


"Ya, tante. Zee akan kuat demi Bunda, demi mendapatkan senyuman Bunda kembali," balas Zee.


Ars begitu sedih melihat Azura yang seperti itu, Azura sudah Ars anggap seperti adiknya sendiri.


"Ayah, Bunda," teriak Zee dari kejauhan. Terlihat keluarga Ars berjalan di belakang Zee.


Dengan seketika tenaga Azura kembali penuh, dengan cepat Azura menghapus air matanya dan melepas pelukan sang suami untuk melihat sang putri kesayangannya.


"Princess, kau sudah pulang sayang," sahut Azura sembari merentangkan tangannya.


Zee berlari kecil dan berhambur keperlukan sang Bunda, Zee begitu sedih karena sang Bunda bisa segera bersandiwara di depannya. Azura mengusap punggung sang anak, memberikan cekupan sayangnya.


Bumi menatap Ars dan lainnya secara bergantian dengan menganggukkan kepalanya.


Ars dan lainnya duduk bersama Bumi di ruang keluarga, Tia dan Azura di dapur menyiapkan cemilan dan kopi untuk suami dan anak mereka masing masing.


"Ra, kau tahu. Malam tadi Zee bangun dengan sendirinya dan langsung dalam keadaan baik dan sehat, makanya saat pagi Zee meminta tuk pulang," jelas Tia.

__ADS_1


"Tia, maafkan aku yang sudah merepotkanmu, dan juga terimakasih banyak sudah mau menemani Zee saat disana," ucap Azura.


"Kau ini berbicara apa? Zee juga kan putriku, dia juga kekasih dari anakku, dan asal kau tahu aku sudah sangat menyayangi dia sedari kecil bukan," balas Tia.


Azura dan Tia pun berpelukan, persahabatan mereka begitu kuat karena terdapat cinta kasih yang begitu murni di dalamnya.


Batin seorang ibu benar benar begitu kuat, Azura benar benar merasakan kehadiran anak anaknya yang memang benar adanya mereka baru saja menginjakkan kakinya di tanah.


Langkah kaki Kenzia dan Xion terus berjalan dan disitulah setiap detakan Azura rasakan.


Lexion dan yang lainnya telah dijemput oleh adik angkat Kenzio dan langsung membawa mereka ke mansion Kiara yang sudah disiagakan beberapa anak buahnya.


"Bunda, Ayah, aku pulang. Aku kembali bersama dengan putra kalian, dan juga cucu kalian," ucap Kenzia dalam hati. Air matanya menetes tak henti.


Begitu pula dengan Xion yang merasakan sesak di dadanya. Mengingat bagaimana perjuangan sang kakak yang menyelamatkan dirinya, dan menerima dengan rela kemarahan dari keluarganya.


"Ayah, Bunda, aku kembali. Aku kembali karena karena sumpah dari kakak, lihat aku Ayah, Bunda, aku sehat dan kakak sudah menepati janjinya pada kalian," ucap Xion dalam hatinya.


Seorang Lexion yang sebenernya berhati lembut akan langsung menangis jika melihat sang kakak bersedih, karena sejauh ini Kenzialah kelemahan untuk Xion.


Pemakaman Seoul


Setibanya di Korea, Abigail dengan kekehnya ingin segera pergi kemalaman, Abi begitu tak sabaran ingin segera bertemu dengan makam Naru. Kenzio hanya bisa menuruti sang ponakan.


Mobil hitam itu terus melaju menembus jalanan di kota Seoul, tak susah untuk seorang Kenzio mencari dimana makan itu berada. Apalagi makam itu ternyata satu blok dengan makam sang kakek.


"Kita sudah sampai, ayo turun!" ajak Kenzio. Namun, Abigail malah diam terdiam di kursi mobil.


Kenzio membungkuk, dan menepuk bahu Abigail dengan pelan. Kenzio tersenyum sembari menarik tangan Abigail tuk segera keluar.


"Paman," panggil Abigail.


"Tenanglah, ada paman disini. Dan kenapa kau jadi gugup begitu?" tanya Kenzio.


Kenzio merangkul tubuh Abigail, dan mencoba berjalan dengan perlahan. Memberikan kekuatan agar dia bisa melakukannya, Kenzio mengucapkan sesuatu yang membuat Abigail tenang dan senang.


Setelah mencari beberapa menit, langkah kaki mereka terhenti di depan makam yang begitu indah karena banyak bunga di atasnya. Terlihat juga foto wanita yang begitu cantik.


"Kim Ae Ru," ucap Abigail dengan sangat lirih. Sembari menatap sayu foto itu.


"NARU," teriak Abigail berlari kecil dan bersimpuh di atas tanah dekat makam itu.


Kenzio begitu terkejut karena Abigail begitu saja berlari dan duduk disana. Kenzio mendekati Abigail yang menangis mendekap nisan Naru.


"Kim Ae Ru," ucap Kenzio seraya membaca nama dan tanggal kematiannya.


Abigail menangis dan terus menangis, mengungkapkan segala rasa di hatinya, segala pertanyaan dirinya pada Naru. Kenzio hanya bisa diam menunggu sang ponakan menghabiskan waktunya bersama Naru.


"Naru apa kau ada disini? Aku mohon temui aku! Aku ingin melihatmu, Naru," ucap Abigail dengan menangis.


Kenzio merasa ada yang aneh dengan foto itu, karena selama ini bukan wajah itu yang selalu bersama dengan Naru.


Bunga lily yang Abigail bawa basah karena air mata Abigail yang terus menangis. Abigail menatap lekat wajah Naru, terlintas di benaknya seperti melihat fotonya sendiri.


"Abigail, kita harus pulang. Kau sudah melihatnya dengan tenang, sekarang relakan dia yang sudah bahagia disana," ucap Kenzio.


"Ya paman, aku sudah merelakannya" jawab Abigail.


Wuushhhh,,, bunga yang berada di atas makam pun berterbangan jauh, Abigail dan Kenzio melihat ke sekeliling mencari sesuatu disana.


"Naru," panggil Kenzio.


"Naru, kau disini? Dimana kau, Naru?" tanya Abigail.


Hembusan angin menerpa wajah Abigail, membuat anak rambutnya menutupi wajahnya. Saat itu pula terlihat lelaki yang tampan dan gagah berjalan cepat kearah mereka.

__ADS_1


(Dalam bahasa Korea)


"Maaf, kalian siapa?" tanyanya.


Dengan cepat Kenzio membungkuk dan mengulurkan tangannya pada lelaki itu, mereka pun bersalaman.


"Maaf, saya Ken dan Abi ponakan saya. Kalau anda sendiri siapa?" tanya Kenzio.


"Saya Kim Bum, dan ini makam istri saya Naru," jawabnya. Membuat Kenzio dan Abigail terkejut.


"Naru ini istri anda?" tanya Kenzio penasaran.


"Nee, Naru istri saya" jawab Kim Bum.


Kenzio mendekati Abigail dan memintanya tuk bangun, Abigail pun menurut bangun. Dan saat Kim Bum melihat wajah Abigail membuanya begitu terkejut.


"Naru," panggil Kim Bum seraya menarik tangan Abigail.


"Aahh," pekik Abigail karena kaget.


Kenzio yang melihat itu, langsung menarik tubuh Abigail dalam pelukannya. Dan menatap tajam tak suka pada Kim Bum.


"Kenapa anda menarik tangan ponakan saya, hah?" hardik Kenzio.


Kim Bum pun merasa begitu syok, tangannya gemetar, di tatapnya Abigail dengan sangat lekat, air mata lelaki itu menetes deras.


"Kenapa kau begitu mirip dengan Naru, istriku?" tanya Kim Bum dengan menangis.


"Mirip dengan Naru, apa maksudmu tuan?" tanya balik Abigail.


"Coba kau lihat nak, wajah kalian begitu mirip dengan foto itu!" seru Kim Bum.


Abigail menatap foto Naru, dan memang benar ada kemiripan dengannya. Kenzio mengingat jika Naru memiliki dua anak kembar.


"Tuan, dimana kedua anak kembarmu?" tanya Kenzio.


Deg,


Kim Bum merasa detak jantungnya berhenti jika mengingat sang anak yang belum ketemu hingga saat ini.


"Darimana anda tau soal anak kembar saya?" tanya balik Kim Bum.


"Jawab tuan! Dan apakah mereka ditemukan?" tanya Kenzio.


"Anakku, mereka masih hilang. Dan aku sampai saat ini terus mencari mereka," jawab Kim Bum.


"Siapa nama mereka?" tanya Kenzio.


"Kim Ae Ri dan Kim Ae Won, anakku lelaki dan perempuan," jawab Kim Bum sedih.


"Nama itu, nama yang di berikan ibu panti asuhan untuk Abigail dan Gailku," ucap Kenzio dalama hati.


Wuussshhh, angin bertiup kencang mengelilingi makam Naru dan menerjang Abigail dan yang lainnya.


Abigail terus berlari, Kenzio dan Kim Bum mengikutinya dari belakang. Langkah kaki Abigail terhenti di sebuah makam dengan foto lelaki kecil disana.


"Gail," ucap Kenzio.


Abigail duduk disamping makam Gail, hembusan angin semakin menyepoi. Abigail tak bersuara sama sekali.


"Gail, Gail, apakah itu dirimu?" tanya Abigail sambil berlari entah kemana.


**JANGAN LUPA LIKE NYA,, VOTE SAMA RATE NYA JUGA ATUH.. GRATIS KOK GA BAYAR...


TERIMAKASIH**.

__ADS_1


__ADS_2