Takdir Cinta

Takdir Cinta
Apa apa dengan Zizi ?


__ADS_3

Ana tengah dilanda kecemasan saat sang suami tidak memberi kabar , ditambah cuaca di luar sedang turun hujan deras dari sore hingga malam pun tiba ...


" Nona sebaiknya tidur " ucap Nur sopan.


" Aku tidak bisa tidur Zi , suamiku belum pulang " ucapnya bersedih.


Suara ketukan pintu membuat Ana segera membuka pintunya dan sedetik kemudian ekspresi Ana berubah.


'' Ya ampun mas , kau kenapa basah-basah begini " ucap Ana cemas.


'' Ya ampun Zizi kenapa " imbuhnya kaget melihat Zizi tak sadarkan diri di dalam gendongan bodyguard mansion mereka .


'' Uueekkkk... uekkk.... " Ana segera menutup mulutnya dan melihat setetes air berwana merah muda terjatuh dari pakaian Zizi .


'' Kenapa bau anyir mas dan kau juga " tanya Ana menyelidik.


'' Baim bawa Zizi ke kamar tamu dan Nur telepon dokter untuk kemari " titah Rafli .


'' Mas aku butuh penjelasan " ucap Ana ketus .


'' Ayo akan mas jelaskan di kamar " bujuk Rafli dan di turuti Ana melangkah ke kamar mereka.


Di dalam kamar.


" Ya Tuhan " ucap Rafli kaget saat dirinya melihat Ana berdiri di depan pintu kamar mandi dengan berdecak pinggang.


" Apa yang terjadi dan kenapa kau dan Zizi basah-basahan begitu . Lalu kenapa Zizi pingsan dan kalian berbau anyir " ucap Ana dengan memberondongkan pertanyaan saat sang suami baru saja membuka pintu kamar mandi .


" Mas pakai baju dulu '' melas Rafli.


'' Sambil pakai baju bisa jawab pertanyaan ku mas '' ucap Ana yang kini penasarannya begitu terasa.


'' Mas tidak konsentrasi malah nanti memakanmu. Dingin ini Ana dan mas butuh kehangatan " elak Rafli dan berhasil membuat Ana mengunci mulutnya sejenak .


'' Jelaskan '' ucap Ana kesal dan Rafli menjelaskan semua yang terjadi.


'' Lalu darah itu berasal dari mana '' ucap Ana penasaran.


'' Mas juga tidak tau sayang '' jawab Rafli jujur.


'' Mas mau makan atau mau aku buatkan teh hangat atau coklat panas '' tanya Ana.


'' Susu kamu aja bisa '' ucap Rafli .


'' Ah sudahlah , aku mau lihat kondisi Zizi aja '' ucap Ana , ia merasa tiada hari tanpa mesum di kepala suaminya itu .


" Apa pria semakin dewasa itu semakin mesum " batin Ana.


" Ayo temani mas makan " ucap Rafli tiba-tiba menyusul langkah kaki Ana.


'' Bagaimana dok keadaannya " tanya Ana kepada dokter Puspa.


'' Zizi sedikit tertekan batinnya nona , ia butuh seseorang untuk meringankan kesedihannya. Bisa dengan menjadi teman curhat atau suasana baru seperti liburan misalnya.


'' Baiklah dokter Puspa terimakasih " ucap Ana tersenyum.


'' Wah besar sekali perut anda nona " ucap Dokter Puspa.


'' Iya , karena hamil kembar dan aku juga bawaannya selalu lapar " ucap Ana .


'' Hei , jangan menyentuh perut buncit istriku '' ucap suami yang begitu posesif dan over protektif.


'' Mas kau ini " ucap Ana berdecak kesal.


'' Baiklah kalau begitu saya permisi nona dan tuan " ucap dokter Puspa memilih untuk pamit dari pada melihat Rafli yang begitu lebay menurutnya.


.


.


.


'' Sayang '' ucap Rafli mengecup bibir Ana membuat Ana cemberut karena pagi ini ia telah tampil cantik sedangakan Rafli baru bangun tidur .


'' Mandi sana '' ucapnya sebal.


'' Masih pagi , kenapa sudah cantik begini " tanya Rafli.


'' Aku mau mengantar Dewa sekolah sekalian mau ngajakin Zizi " ucap Ana penuh semangat kemerdekaan.


'' Yakin Zizi mau ikut " ucap Rafli .


'' Kok gitu . Aku paksa dong kalau Zizi menolak '' ucap Ana merajuk.

__ADS_1


'' haduh , jika ngambek gini aku yang repot " batin Rafli.


" Mmmm mas mandi dulu ya. Pasti Zizi mau ikut mengantar Dewa " ucapnya segera melangkah cepat sebelum Ana begitu banyak mau nya.


" Lihatlah kelakuan ayahmu . Besok jangan di tiru ya " ucap Ana mengusap perut buncitnya .


" Belum lahir saja otak anakku telah di cuci oleh bundanya " rutuk Rafli .


.


.


.


Ana melangkahkan kakinya menuju kamar Zizi berada , sungguh gembira suasana hatinya saat ini bahkan dirinya bernyanyi lagu yang romantis , suasana hati Ana yang membaik ini membuat penghuni seluruh mansion pun menjadi tenang melihat nya.


tok...tok...tok


" Zizi ...Zi... buka pintunya dong " ucap Ana namun tak ada sautan.


" Aku dobrak ini pintunya jika tak kau buka " ucap Ana meninggikan suaranya .


" Masuk saja nona , tidak di kunci " sahut Zizi sesungguhnya ia malas bertemu siapapun hari ini , namun melihat pesan Rafli membuatnya mengalah agar tak di salahkan jika anak majikannya nanti ileran.


Ceklek


Senyum sumringah Ana saat melihat Zizi telah mandi dan rapi dengan busana nya. Sebenarnya Ana ingin bertanya apa yang terjadi dengan Zizi namun rasa penasarannya ia kubur sedalam-dalamnya , tak ingin membuat suasana hati Zizi memburuk...


'' Nona " sapa Zizi tersenyum.


'' Kau sibuk hari ini " tanya Ana.


'' Maksudku kau sibuk pagi ini " imbuhnya dan di jawab gelengan oleh Zizi...


'' Ayo kita sarapan " ajak Ana bersemangat dan di ikuti Zizi yang enggan membuat semangat ibu hamil itu luntur.


Terlihat Dewa dan Rafli menunggu Ana di meja makan dan ada pula Arjuna yang tersenyum menatap Ana dan wanita di sebelah Ana, ia adalah Zizi...


'' Ayo Zi , duduklah " perintah Rafli , sebenarnya ingin sekali Rafli membejek Zizi saat ini , karena ia harus meeting pagi tanpa sekretarisnya membuatnya mengajak Boli untuk mengantikan Zizi satu hari ini.


'' Terimakasih " jawab Zizi .


Ana mengambilkan nasi kuning untuk sang suami lengkap dengan lauk pauk serta lalapannya . Dewa menatap Ana sebal karena sang bunda mengambilkan Zizi lebih dahulu , padahal kampung tengahnya tengah berdemo sedari tadi.


'' Tak usah repot-repot nona , saya bisa ambil sendiri " tolak Zizi tak enak hati namun Ana tetap melayani Zizi .


'' Ini untuk anak bunda yang paling tampan " ucap Ana dan membuat Dewa tersenyum , untuk marah sedetik saja sama bunda nya ia tak akan mampu .


'' Makasih bun " jawab Dewa .


'' Nah , ini untuk putra bunda yang suka tebar pesona '' ucap Ana dan di balas senyum oleh Arjuna.


Ana lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri , tentu piringnya yang lebih besar sesuai dengan isinya . Ana tak malu apalagi gengsi akan porsi makannya. Para pelayan dan bodyguard juga menyantap menu sarapan yang sama. Tak ada dibedakan tentang makanan dirumah ini , karena semuanya sama .


'' Sayang mas pergi dulu '' ucap Rafli segera bangkit dari tempat duduknya.


'' Iya mas " ucap Ana segera mengikuti langkah kakinya , meninggalkan Dewa yang tengah menikmati sarapannya dan Zizi yang kini menyuapi Arjuna , bocah itu setiap melihat wanita cantik begitu banyak maunya .


'' Apa gak bareng mas aja " tanya Rafli .


'' Gak lah mas , nanti meeting mu telat dan Dewa masih sarapan " tolak Ana.


'' Mas hati-hati ya " ucap Ana dan diangguki Rafli .


'' Anak ayah , jangan rewel sama bunda nanti dan jangan buat bunda kelelahan " ucap Rafli seperti biasa lalu mengecup perut Ana yang membuncit itu.


'' Oh ya , ayo ke mobil mas dulu. Ada sesuatu hal yang penting " ujar Rafli dengan wajah begitu serius tentu saja Ana menurut .


'' Ayo masuk " pinta Rafli .


'' Kenapa , memangnya ada apa " ucap Ana heran tapi tetap saja menurut .


Cup Rafli mencium bibir Ana , tak terima jika multi vitaminnya tak di berikan Ana pagi ini. Ana kini mengerti hal penting apa yang dimaksud suaminya. Rafli mengabsen setiap isi mulut Ana , deru nafas Rafli terdengar mulai memburu dan matanya mulai berkabut membuat Ana segera mengakhiri kegiatan Rafli yang semakin menuntut.


'' Mas pergilah meeting " ucap Ana.


'' Tapi mas rindu sayang '' ucap Rafli mengusap wajahnya .


'' Nanti makan siang , aku kesana mas '' bujuk Ana.


'' Tanpa membawa Dewa dan Arjuna . Mas ingin berdua denganmu . Hari ini mbak Rani dan bi Jum akan kemansion ini , jadi Arjuna ada yang menjaga '' ucap Rafli tanpa ingin dibantah.


'' Baiklah '' jawab Ana pasrah.

__ADS_1


'' Sekali lagi , tiga menit saja '' ucap Rafli lalu mencium bibir Ana yang begitu menjadi sumber candunya .


'' Mas pergi dulu ya ... Jangan terlalu lelah '' ujar Rafli.


'' Iya , mas juga hati-hati " ucap Ana tersenyum.


'' Apa perlu mas antar sampai kedalam " tanya Rafli.


'' Gak usah lebay dech mas '' ucap Ana tersenyum.


'' Baiklah mas pergi dulu " ucap Rafli dan diangguki Ana.


'' Ayo Baim " ucapnya .


.


.


.


Setelah sesi bujuk membujuk akhirnya Ana berhasil membawa Zizi untuk pergi mengantar Dewa. Zizi sendiri menggendong Arjuna yang kini menempel padanya. Banyak colotehan Arjuna yang membuat Zizi tersenyum sesekali .


" Apa yang sebenarnya baru saja terjadi pada mu Zi , hingga kau begitu muram , bukan seperti dulu kau terlihat begitu dingin namun dalam semalam kau berubah . Aku ingin sifat dinginmu dari pada wajah sendu mu " batin Ana .


" Bunda , Dewa sekolah dulu ya " pamit Dewa lalu mencium punggung tangan sang bunda dan hal itu juga terjadi pada Zizi.


" Zi , aku mau ke toko kue . Kau ikut ya " ucap Ana , aji mumpung sekali bagi Ana tanpa ia sadar pengawal bayangan untuknya selalu tahu aktivitasnya dan hal itu sampai di telinga Rafli dan juga Eric yang selalu menyuruh beberapa orang melindungi Ana dari jauh , cinta dari jauh itu yang Eric berikan untuk Ana saat ini. Memastikan wanita pemilik hatinya baik-baik saja membuatnya bernafas lega , meski bahagia Ana bukan bersamanya.


" Baiklah nona " jawab Zizi.


" Hal apa ya yang harus ku lakukan agar Zizi melupakan kesedihannya " batin Ana , otaknya mendadak buntu yang hanya ia tahu merayu sang suami saja.


" Apa ia mau kesalon. Ah tidak mungkin , buktinya enam bodyguard tangguh ku saja menolaknya . Pasti Zizi juga " batin Ana.


Setelah cukup menghabiskan waktu di toko kue nya dengan melepas rindu pada pegawainya kini Ana teringat akan permintaan Rafli memintanya ke kantor dan membuat Ana kembali kerumah dan tempat dengan kedatangan Rani serta bi Jum. Ana bercerita sejenak dengan mbak Rani hingga dering ponsel mengganggu keseruan mereka.


'' My Husband unyu " gumam Rani saat melihat nama di Layar handphone adik iparnya dan Ana tersenyum kikuk ntah siapa yang mengubah nama kontak tersebut. Di lihat dari segi manapun Rafli gak ada unyu nya , selain saat meminta sesuatu layaknya bayi yang harus di turuti .


'' Sayang , kapan ke kantor . Mas sudah merindukanmu ini. Mas juga sudah memesankan makanan atau perlu mas jemput kesana " suara indah nan merdu itu membuat Rani merasa mual.


'' Hey Rafli , obat apa yang kau minum " sahut Rani merusak mood Rafli seketika.


'' Mbak mana istriku. Aku titip Arjuna " ucap Rafli dengan suara datarnya.


'' Dasar adik kurang ajar , sudah minta tolong gak ada lembutnya. Aku culik nanti anakmu dan tidak akan aku kembalikan " ucap Rani kesal.


'' Mas , aku akan segera kesana . Tunggu ya " ucap Ana selembut mungkin.


'' Iya mas tunggu ya " jawab Rafli dan seketika panggilan terputus begitu saja.


'' Mbak , aku bener minta maaf atas kelakuan Rafli ya mbak. Aku titip Dewa dan Arjuna " ucap Ana tak enak hati.


'' Mbak ngerti kok sayang dan lagi pula itu adik mbak . Kamu gak perlu minta maaf " ucap Rani tersenyum.


'' Mbak pasti akan menjaga Dewa dan Arjuna . Jadwal mbak dua hari kosong " imbuhnya.


'' Terimakasih ya mbak . Aku pamit dulu " ucap Ana tersenyum.


'' Bi Jum . Aku titip anak-anak ya " ucap Ana.


'' Baik Nyonya , eh maksudnya nona " Jawab Bi Jum yang sering kali memanggil Ana dengan sebutan nyonya.


'' Hati-hati Ana " ucap Rani dan diangguki Ana.


'' Mari nona " ujar Baim yang telah bersiap sedari tadi.


'' Maaf membuatmu menunggu lama Baim " ucap Ana.


" Tidak apa nona " ujar Baim segera melajukan mobilnya dan terlihat di belakang terdapat satu mobil sedan yang ditumpangi enam bodyguard wanita yang tangguh tersebut...


'' Perusahaan RA "


Setiap kehadiran Ana di perusahaan RA tentu saja menjadi pusat perhatian siapapun yang melihatnya , menutup wajahnya agar tak di kenali membuat mereka semua begitu penasaran atas rupa cantik seperti apa istri kesayangan dari bos mereka. Tak khayal mereka menyebut Ana istri kesayangan karena Rafli hanya akan bergandengan tangan bersama Ana , berbeda dengan wanita yang lain yang mengaku istri bos mereka namun berjalan tanpa di temani Rafli sedikitpun.


Ana kali ini tidak salah menekan tombol angka didalam lift menuju lantai dimana ruangan suaminya. Terlihat dua meja sekretaris kosong yang pertama meja Zizi dan juga Jimmy , Bu Boli sendiri telah kembali keruangannya.


Tanpa ketok pintu atau aba-aba Ana segera membuka pintu ruang kerja suaminya dengan semangat empat limanya dengan bibir yang terus melengkung menghiasi wajah gembul nan ayu nya.


Ceklek


Ana merasa dunianya runtuh saat melihat hal yang begitu menyakiti hatinya .


" Mas Rafli " lirih Ana membuat dua manusia itu tersentak kaget .

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya...


Selamat membaca.


__ADS_2