Takdir Cinta

Takdir Cinta
Keluarga


__ADS_3

Abigail bersimpuh di makam sang kakak. Kenzio menutup matanya, air matanya menetes deras. Sedangkan Kim Bum terus menatap wajah Abigail.


"Nak, siapa kau sebenarnya? Wajahmu begitu mirip dengan istriku?" tanya Kim Bum.


Abigail tak menjawab apapun, yang keluar dari mulutnya hanya nama Gail saja. Kenzio menatap curiga pada Kim Bum.


"Tuan, Abigail dan Gail adalah anak kembar yang asuh adopsi dari panti asuhan. Dan ibu panti bercerita jika mereka ini korban tabrak lari, pengasuhnya meninggal ditempat," jelas Kenzio.


Mendengar penjelasan Kenzio, mata Kim Bum membulat sempurna. Kecelakaan, pengasuh, anak kembar? Apakah dia anaknya yang sudah hilang itu?


"Paman, paman," panggil Abigail lirih.


Kenzio mendekati Abigail dan duduk disebelahnya, Abigail menyentuh pipi Kenzio dan tersenyum.


"Tolong kembalikan dia padaku!" pinta Abigail.


Deg,,,


"Kau siapa? Jangan bercanda, Abi milikku!" tegas Kenzio.


Abigail memiringkan wajahnya menatap Kim Bum, dan tersenyum manis padanya. Kim Bum yang mendapat perilaku seperti itu merasa aneh.


"Sudah waktunya kau melepasnya! Kau sudah menjaganya dengan baik, Ken. Aku mohon!" pintanya dengan sangat lirih.


Hati Kenzio seketika sakit dan sedih, Ken memegang tangan Abigail, dan menatapnya dengan lekat.


"Naru, jadi benar dia suamimu? Dan Abigail anakmu?" tanya Ken lirih dengan mata yang sayu.


Abigail hanya mengangguk lemah, memegang tangan Ken dan menangis. Ken memeluk tubuh Abigail dan menangis bersama.


"Tuan, apa tadi kau memanggilnya Naru? Apa istriku ada disini?" tanya Kim Bum dengan menatap kesembarang arah.


Ken melepas pelukan Abigail, dan kembali berdiri. Sedangkan Abigail menunduk menangis, yang sebenarnya adalah Naru.


"Apa kau ingin bertemu dengan istrimu? Dan juga anak anakmu Tuan?" tanya Ken.


"Apa kau bisa melihat mereka? Tuan tolong, tunjukkan padaku!" pinta Kim Bum.


"Bangaunlah Naru, katakan semuanya! Setelah itu kau bisa terlepas dari semua ini, dan bisa pergi dengan tenang," ucap Kenzio.


Abigail pun menurut bangun, dan menatap sendu Kim Bum, sosok suami yang sangat dia cintai dan sayangi. Kim Bum terkejut dengan apa yang dia lihat dan tak percaya.


"Apakah Naru berada dalam tubuh gadis ini?" tanya Kim Bum terbata.


"Nee, aku Naru. Kim Ae Ru istrimu," ucap Naru.


Kim Bum seketika juga menangis, dan mercon mendekati Abigail ingin sekali memeluk tubuh gadis itu, namun langkahnya terhenti karena takut akan Kenzio memarahinya.


"Peluklah dia, tak ada batasan diantara kalian. Abigail adalah Kim Ae Ri anak perempuanmu," jelas Kenzio.


"Apa? Ha, ha, dia putriku? Aeri Ku?" tanya Kim Bum.


Naru mengangguk dengan cepat, memeluk tubuh Abigail, mencium pucuk kepala sang anak.


"Naru, sayang kau kembali! Dan kau mempertemukan aku dengan putri kita," ucap Kim Bum menangis.


"Aku titip Aeri, jaga dia! Dan berikan kasih sayang mu padanya sepenuhnya. Aku bersama dengan Aewon, aku akan membawa putra kita kembali," ucap Naru


"Aewon? Dimana dia?" tanya Kim Bum kembali menatap kesempatan ayah.


Kenzio diam seribu bahasa, namun dengan cepat Naru menarik tubuh sang suami tuk duduk di samping makan Gail.


"Siapa dia Naru?" tanya Kim Bum.


"Gail Liu itu adalah Kim Ae Won" jawab Naru.


Kim Bum melotot tak percaya, di tatapnya batu nisan itu dan air matanya kembali mengalir, dadanya begitu sesak mengetahui putrnya telah tiada.


"Aewon, putraku," isak tangis Kim Bum.


Kenzio sudah sangat bersedih, dadanya sesak menyaksikan adegan keluarga ini. Ken memilih berjalan menjauh dari mereka.


"Ken," panggil Naru.


"Aku harus pergi, terimakasih tuk semuanya. Maafkan aku yang telah mengacau hidupmu selama ini," sambung Naru.


Ken hanya bisa mengangguk, bibirnya kelu tuk mengeluarkan kata kata. Sedangkan air matanya masih terus menetes, tubuh Abigail ambruk saat itulah Ken bisa melihat bayangan Naru dan Gail tersenyum menatapnya.


"Pergilah, kalian sudah sangat menderita selama ini. Aku sudah menemukan apa yang menjadi haknya Abigail," ucap Ken dalam hati.


"Tuan, Aeri pingsan. Bagaimana ini?" tanya Kim Bum cemas.


"Kita bawah Abi kerumah sakit," jawab Ken.


Akhirnya mereka pun memilih untuk bermalam dirumah sakit, dan memperjelas semuanya. Kim Bum melakukan tes DNA pada Abi, dan hasilnya 99% POSITIF. Kim Bum begitu bahagia, dan langsung menyiagakan rumah sakit demi putrinya.


**************************


Indonesia


Di sebuah kamar, Kenzia menatap kosong jendela di kamarnya. Rio dan Rino tertidur pulas. Namun, Zia tak merasakan ketenangan karena pikirannya terus tertuju pada sang suami.

__ADS_1


"Kapan kau pulang, Ken? Ini sudah seminggu berlalu. Dan kau tak memberikan kabar padaku?" tanya Zia sembari memeluk tubuhnya sendiri.


Setelah pergi bersama dengan Abi ke Korea, Ken seakan lepas kontak. Tak ada kabar atau pun kepastian kapan dia kembali ke Indonesia.


Didalam kamar, Xion dan Kiara sedang bercengkrama dan teringat akan Ken yang tak kunjung pulang. Membuat mereka pun khawatir, akan terjadi sesuatu pada dirinya.


"Kenapa kak Ken belum juga pulang?" tanya Xion.


"Entahlah, tak ada kabar sama sekali dari dirinya, dan aku sangat kasihan pada Zia," jawab Kiara.


"Kenapa selalu kakaku yang mendapat kesedihan selama ini? Dia orang yang sangat baik," ucap Xion.


"Kau tak boleh berbicara seperti itu, Zia itu berbeda dia adalah sosok wanita yang begitu kuat, tegar, dan Tuhan sangat menyayanginya. Maka dari itu, Zia di berikan ujiannya," balas Kiara.


"Aku berharap kak Ken segera pulang. Dan bisa membuat kakakku tersenyum kembali," ucap Xion.


"Semoga saja dia cepat kembali," balas Kiara.


Selama seminggu ini Zia dan yang lainnya terus mengurung diri di mansion yang besar itu, tak pernah keluar sama sekali. Tapi hari ini entah kenapa Kiara ingin sekali jalan jalan ke dalam Mall.


Xion pun mengangguk ia, mereka membawa si kembar keluar untuk yang pertama kalinya. Kenzia pun ikut menemani, mereka juga ingin hidup seperti yang lainnya. Tanpa di hantui masa lalu.


Mall terbesar di Jakarta, disana Kiara memberikan banyak baju untuk si kembar. Kenzia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kebiasaan Kiara itu.


"Sudah cukup belanjanya! Waktunya kita makan, Rio dan Rino juga harus segera menyusu," ucap Kenzia.


Akhirnya mereka pun memutuskan kerestoran steak yang terlihat sedikit sepi. Tanpa mereka ketahui takdir yang sudah di gariskan Tuhan yuk mereka pun terjadi.


Disana ada Zee dan Alfa yang sedang makan bersama di meja paling ujung. Terlihat begitu bahagia Zee dengan Alfa yang sedang bercanda sambil makan.


Xion memesan makanan untuk dirinya Kiara dan Kenzia yang sedang menyusui anak anaknya. Xion melihat lihat restoran itu sangat bersih, nyaman dan makanannya pun menggiurkan


Pesanan pun akhirnya datang, mereka makan dengan lahap steak itu. Namun ada yang sedikit kurang pada kue yang di pesan Kenzia. Akhirnya fia pun berjalan ingin memesan kembali, tak disangkah bertakbrakan dengan gadis yang sedang bercanda dengan sang kekasih.


Bruggghh, prankk,


Terdengar benturan tubuh yang sangat keras, dan suara piring yang pecah.


"Aww," pekik Kenzia dan Zee bersamaan.


"Maaf, maaf," ucap Zia dan Zee bersamaan kembali.


Saat Kenzia mendongakkan kepalanya, betapa terkejutnya dia kalau gadis itu Zee. Adiknya yang kini sama syok nya sedang memandang tepat ke arahnya.


"Zee," panggil Zia lirih dan terbata.


"Kak Ara," panggil Zee dengan menangis.


"Zy-Zyan," panggil Zee menutup mulutnya dengan tangan, air matanya menetes deras melihat sang kakak berada di depannya.


Zee berjalan dengan pelan, menghampiri Xion dan Zia. Memengan pipi Zyan dengan tangan yang gemetar, terdapat jambang yang lebat disana. Zyan terlihat sangat dewasa.


Zee memeluk tubuh kekar sang kakak, tubuhnya bergetar hebat, menangis sehari jadinya.


"Zyan, aku begitu merindukanmu, aku sangat tersiksa tanpa mu," ucap Zee menangis.


Zyan membalas memeluk tubuh sang adik, mencium pucuk kepala Zee.


"Princess ku, jiwaku," ucap Xion dengan menciumi wajah Zee.


Kenzia yang melihat itu hanya bisa diam mematung, dia begitu bahagia bisa melihat Zee, namun Kenzia pun merasakan ketakutan jika keluarganya melihat dirinya. Kenzia teringat kembali akan kemarahan Zee dan Azura saat itu.


Kenzia perlahan mundur dari sana, Kiara yang mengetahui itu memegan tangannya.


"Jangan lari Zia, aku mohon!" pinta Kiara.


Zee dan Xion pun menegok ke arah Kenzia dan Kiara, Zee berjalan kearah sang kakak.


"Kak Ara, apa kakak masih marah padaku? Sampai kakak tak ingin memelukku?" tanya Zee terbata.


Kenzia menggeleng, bibirnya tertutup seakan terkunci, Kenzia menatap Zee dengan begitu sendu. Zee langsung memeluk tubuh Kenzia dengan erat, Kenzia menangis sejadi jadinya.


"Zee, princess maafkan kak Ara sayang," ucap Kenzia menangis.


Cup, cup,cup Kenzia menciumi Zee dengan penuh sayang, di tatapnya Alfa yang berdiri tak jauh dari Zee. Kenzia merentangkan tangannya, Alfa tersenyum dan berhambur kepelukan Kenzia.


"Kak, Zee sayang kakak. Maafkan Zee yang dulu menyalahkan kak Ara," ucap Zee.


Ara menghapus air mata Zee, terlihat senyum manis di bibirnya. Matanya tak lepas melihat sang adik bungsunya yang semakin cantik.


"Oweee," tangisan Rino membuat semua mata menatap kearahnya.


Zee menatap ke arah Kenzia dan Zyan, namun dengan cepat Zyan menunjuk ke arah Kenzia.


"Cup, cup, sayang. Kau kenapa menangis," ucap Kiara sambil menggendong Rino di pelukannya.


"Kak, mereka ponakanku?" tanya Zee.


"Ya, dia ponakanmu. Itu Rino dan Rio yang sedang tertidur," jawab Kenzia.


Alfa dan Xion berpelukan, mereka melepas rindu yang sangat dalam. Zee mencium pipi Rino dengan pelan, Rino tersenyum padanya.

__ADS_1


"Princess," panggil Azura dari kejauhan.


Dan saat itu pula mata Azura dan Kenzia saling bertatapan. Azura terhenti dan terpaku saat melihat putri sulungnya, sedangkan Kenzia merasakan ketakutan. Zia menarik kemeja Xion dan membuat sang punya menengok ke arah Kenzia.


"Kak ada apa?" tanya Xion.


"Bunda," jawabnya lirih.


Lexion pun mengikuti arah mata Kenzia dan melihat ada Azura dan Tia bersama dengan Bumi dan Ars sedang berjalan kearahnya.


Dengan sigap Xion langsung merangkul tubuh sang kakak, dan menatap ke arah orangtua mereka.


Zee dan Alfa menatap kedatangan orang tua mereka pun terlihat tegang disana. Azura berjalan mendekati Xion dan Kenzia.


"Ara, Zyan," panggil Azura seraya menyentuh Ara. Namun dengan cepat Xion menahan tangan Azura.


"Zyan, kenapa nak?" tanya Azura sembari menatap ke arah Xion.


"Hallo, bunda, ayah," sapa Xion.


"Zyan, kenapa kau seperti itu pada Bunda dan Ayah?" tanya Zee.


"Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua, Zyan sudah mati dua tahun lalu, dan Ara juga sudah menghilang dua tahun lalu. Namaku Lexion Liu dan ini kakakku Enzia Liu," ucap Xion sembari menatap Azura.


Bumi dan Ars begitu terkejut, Azura menutup mulutnya karena begitu syok.


"Zyan, apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Bumi.


"Maaf, Ayah. Setelah Bunda mengusir kakak malam itu dan keluar dari rumah, mulai dari hari itu pula tak ada lagi yang bernama Zyan dan Ara," jelas Xion.


Deg,,,,


Hati Azura begitu sakit mendengar ucapan sang anak, Azura menatap Kenzia dengan begitu sedih. Dia memang mempunyai salah pada anak sulungnya.


"Ara, nak maafkan Bunda sayang!" pinta Azura sembari menangis.


"Tidak Bunda, Bunda tak salah. Sekarang, Bunda bisa lihat putra kesayangan kalian kembali sehat, dan janjiku pada kalian sudah terlunasi," balas Kenzia.


Bumi dan Azura semakin merasa bersalah, ternyata ucapan mereka dua tahun lalu sangat berbekas pada hati Kenzia, dan itu pula yang membuat sang anak takut tuk bertemu kembali dengan mereka.


"Ara, Ayah mohon! Maafkan kami sayang, tak ada seorang ibu yang mau menyakiti hati anaknya" tegas Bumi.


"Ayah, aku tahu. Tapi, apakah kalian tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku begitu hancur, aku begitu terpuruk, dan saat itu aku seperti orang gila. Melihat adikku terbujur kaku, aku mempertaruhkan segalanya demi Zyan, dan mencoba melakukan segala hal agar bisa membuat Zyan sadar dan sembuh lagi, agar aku bisa kembali di akui oleh kalian," jelas Kenzia.


Azura sudah menangis hebat mendengar ucapan Kenzia, dia sudah membuat kesalahan besar pada anak sulungnya itu. Ucapannya telah membuat luka di hati Kenzia.


"Oee, Oee, Oee,," terdengar suara si kembar menangis bersamaan.


Kenzia langsung berbalik dan menggendong Rio, Kenzia kembali tenang mendekap tubuh sang anak pada dadanya.


"Ara, apa itu anakmu nak?" tanya Tia.


"Ya bu, ini anak kak Ara. Mereka kembar," jawab Alfa.


Azura semakin lemas mendengar jawaban Alfa, hampir saja jatuh kalau tak ada Xion disana.


"Bunda," panggil Xion cemas.


Azura tersenyum melihat sang putra yang terlihat cemas padanya, Kenzia mendekati sang Bunda dan melihatkan Rio padanya.


"Cucuku, dia cucucku?" tanya Azura dengan suara bergetar.


Kenzia mengangguk, terlihat tangan Rio menggapai wajah sang nenek dengan senyuman khas bayinya.


"Ara, dia benar cucuku, cucuku," ucap Azura senang. Dan langsung memeluk sang cucu. Menciumi wajah mungilnya, sampai membuat Rio semakin tertawa.


Biar mendekati Bumi, dan memberikan Rino padanya, tangan Bumi bergemetaran saat bayi mungil itu pada dirinya.


"Siapa namanya?" tanya Bumi.


"Namanya Gabrio Liu Putra dan Gabrino Liu Putra," jawab Kiara.


"Liu Putra? Itu seperti marga?" tanya Bumi.


"Itu memang nama marga dari suami kakak, dan dia juga masih mau menyematkan nama putra untuk kedua anaknya," jawab Xion.


"Ara, siapa suami mu? Kemana dia sekarang nak?" tanya Azura.


"Ken, dia sedang ada urusan bisnis di Korea, Bunda," jawab Kenzia.


"Ken? Apa itu nama suamimu?" tanya Azura.


Kenzia mengangguk ia, Azura tersenyum melihat kembali ada ketakutan pada diri sang anak, Azura mengusap pipi Kenzia yang kini sudah menjadi seorang ibu.


Hari itu pun Kenzia, Xion dan Kiara akhirnya mau kembali kerumah keluarga Putra, sampai nanti sang suami pulang dan menjelaskan semuanya.


Kenzia mengabari dirinya berada di rumah Putra pun membuat Kenzio merasa senang, namun.dia juga harus siap menghadapi kemarahan dari keluarga sang istri.


**Akhirnya mereka kembali bertemu, namun akan ada apa lagi setelah ini?


Tunggu selalu kelanjutannya ya ☺☺ TERIMAKASIH**.

__ADS_1


__ADS_2