
'' Ayo sayang kita sarapan " ucap Rafli mengusap lembut bahu istrinya.
'' Aku malu ketemu mama mas " keluh Ana.
'' Tenang , kita bukan pengantin baru lagi jadi mama gak mungkin akan meledek kita " ucap Rafli menenangkan , meski ia sendiri tak yakin jika mengingat perangai mamanya.
'' Semoga mama gak meledek kami . Lagian pakai acara mengintip dan membanting pintu membuat anak sendiri jadi merana " batin Rafli , cukup ia harus menambah waktu puasa hampir dua Minggu kedepan.
Ana dan Rafli saling pandang saat tak melihat mama Lia pagi ini .
" Bi , mama kok gak kelihatan " tanya Rafli pada kepala pelayan.
" Nyonya Lia berangkat ke Milan tadi pagi tuan setelah memasak " ucap nya sopan .
" Ya sudah , pergilah " ucap Rafli dan diangguki yang lainnya , kini ia dan Ana sedang menikmati sarapan paginya . Ana makan namun fikirannya menebak apa yang membuat mama Lia pergi ke Milan , namun tak mengapa ia tak harus menebalkan mukanya kali ini , sementara Rafli makan dengan begitu tenang .
.
.
.
Lia memilih mengunjungi mansion Jimmy dimana cucu serta besannya berada dan tak lupa sang suami juga tinggal disana selama berada di Milan , Abdi begitu suka aroma kekeluargaan memilih tinggal di mansion Jimmy dari pada di apartemen.
'' Loh kok gak ngomong sih mbak kalau mau datang kemari " ucap Laras memeluk besannya itu.
'' Iya , kangen aja mbak dengan cucu ku " ucap Lia dan melangkah menuju kawanan cucunya yang nampak tengah berkumpul itu .
Lama Lia mematung mengamati gadis cilik yang asyik bermain dengan Jelita . Dewa dengan telaten mengawasi para adiknya setelah ia belajar secara online agar tak tertinggal pelajaran , sementara Arjun begitu menikmati liburannya yang di isi untuk menjahili Jelita yang begitu banyak maunya.
Laras kebelakang membuatkan besannya itu minuman serta beberapa cemilan yang ia baru selesai buat , koper Lia sendiri sudah di bawa pelayan menuju kamar Abdi berada.
'' Koper siapa bi " tanya Joe .
'' Nyonya besar Lia datang tuan " ucap Pelayan menunduk , sungguh Joe bagaikan malaikat pencabut nyawa setiap orang yang tak terbiasa dengan tatapannya .
'' Baiklah , berikan padaku " ucap Joe dengan suara tegasnya dan dengan segera mini koper itu berpindah tangan ....
'' Tuan " ucap Joe sopan.
'' Kakak " sanggah Abdi tak suka .
'' Ada nyonya Lia datang " ucap Joe sontak membuat Abdi menjatuhkan gelas yang ia genggam .
'' Bagiamana bisa dan Rafli begitu ceroboh tak memberitahuku . Dasar anak itu " geram Abdi .
'' Joe … Ayo kita temui macan itu sebelum menghancurkan mansion Jimmy " ucap Abdi berjalan cepat menghampiri istrinya.
__ADS_1
'' Nenek " pekik manja Alex serta Rava saat menyadari kedatangan Lia yang sedari tadi diam menatap Ericana dengan pandangan sulit di artikan .
'' Ahh nenek aku rindu " ucap Jelita menerobos Alex serta Rava , ia lebih dulu memeluk nenek bawelnya itu .
'' Cucu nenek " ucap Lia memeluk Jelita dan juga lainnya . Arjun pun ikut memeluk sang nenek yang ia anggap lucu itu .
'' Ayo dek , itu nenek mu juga . Ibu dari ayah kita " ucap Dewa menghampiri Ericana yang hanya menatap Lia dan Dewa menggendongnya , Dewa sungguh menyayangi adiknya yang ia tangisi beberapa tahun ini , ternyata satu adiknya yang kembar itu masih selamat dan Dewa cukup senang setelah sekian lama tak bertemu Eric sebagai paman yang di rindukannya juga . Eric bagaikan oase di tengah gurun bagi Dewa di saat kesedihan yang ia alami saat itu , saat orang tuanya koma dan ia menelan kenyataan pahit jika kedua adik yang begitu dinantikannya berasa di sisi Allah . Bertemu dengan Eric juga membuatnya bisa bertemu dengan Excel sahabat terbaiknya meski bertemu Excel hanya dua kali pertemuan.
'' Siapa si cantik ini , Dewa '' tanya Lia penasaran.
'' Dia Ericana dan adiknya Jelita " ucap Jelita tersenyum bangga karena ia ada temannya kini untuk membalas tiga makhluk pria yang begitu menyebalkan baginya. Baru satu hari menginap dimansion Jimmy , Ericana telah di dandani Jelita habis-habisan.
'' Lihatlah nek , wajahnya begitu cantik seperti bunda. Jelita saja kalah jauh " ucapnya Arjuna yang ujungnya sengaja memancing kemarahan Jelita . Wajah Jelita merah padam saat mendengar pernyataan kakak yang begitu menjengkelkan baginya.
'' Tunggu .... tunggu .... maksud kalian " ucap Lia .
'' Ericana cucu kita yang kita sangka telah tiada " ucap Abdi membuat Lia terkejut seketika , sedangakan Laras hanya menyaksikan semuanya seraya memegang nampan di tangannya . Ia merasa bersalah karena ikutan tak memberitahu tentang Ericana , mereka memilih moments yang pas , namun apa daya Lia datang tanpa di prediksi.
'' Apa maksudnya " ucap Lia ingin sekali mendengar apa yang ia baru saja dengar .
'' Ericana cucu nenek . Ericana adik kecil yang paling bontot , anak dari bunda dan ayah " ucap Dewa membuat Lia terhanyut akan perasaanya . Abdi menghela nafas sesaat saat Lia tak mengamuk saat ini , namun ia tengah menyiapkan jawaban jika pertanyaan Lia yang akan sambung menyambung nanti.
'' Bantu aku mencari jawaban atas pertanyaan Lia nanti , Joe " ucap Abdi .
'' Maaf kak , untuk hal ini aku tidak bisa " ucap Joe membuat Abdi mendengus kesal karena satu kelemahan Joe yang sedari dulu .
'' Kenapa " tanya Dewa .
'' Atut nenek " ucap Ericana membuat hati Lia tercubit.
" Belum lagi memeluknya , ia sudah takut duluan padaku " batin Lia
'' Nenek , jangan menatap Ericana dengan mata galak nenek " ucap Jelita membuat yang lain tertawa termasuk Lia sendiri.
Lia berjalan mendekat namun Ericana semakin memeluk erat tubuh Dewa.
" Kenapa takut dengan nenek sayang. Aku juga nenekmu sama seperti nenek Laras " ucap Lia lembut ...
" Ayo peluk nenek lagi , nenek kurang puas tadi memelukmu " imbuhnya namun Ericana tak bergeming .
Lia bangkit yang disangka para cucunya wanita itu mengambek namun beberapa menit kemudian Lia datang dengan satu box kecil yang berisi coklat dengan kualitas terbaik .
" Nenek punya coklat , ayo maju siapa yang mau dan harus nenek peluk " ucap Lia berharap Ericana maju dan akan memeluknya .
Jelita lebih dulu maju , di ikuti Rava , Arjuna dan juga Alex . Sementara Dewa tak tertarik akan makan manis tersebut.
" Ericana mau ambilah " ucap Dewa mengerti keinginan Ericana .
__ADS_1
" Gak usah di peluk , cium saja cukup " bisik Arjun membuat mata Ericana membola.
" Ambil coklatnya , cium lalu tinggal lari " imbuh Arjun.
" Apa itu ya g sering kau lakukan pada Bet " ucap Dewa dan di jawab gelengan cepat oleh Arjuna .
" Tidak kak , aku hanya sekali melakukannya " ucap Arjuna takut ...
" Awas saja , jika Ericana menetap tinggal bersama kita jangan mengajarinya yang aneh-aneh " ucap Dewa kepada Arjuna , saat Ericana berjalan pelan menuju Lia ditemani oleh Jelita .
" Tentu tidak kak , Ericana adikku . Aku akan menjaga adik perempuan ku dari laki-laki buaya , bila perlu aku akan menghempaskan lelaki yang berani mendekati adik perempuan ku nanti . Kecuali lelaki terbaik untuk menjadi suami adikku " ucap Arjuna membuat Dewa tak habis pikir dengan pola pikiran Arjuna .
" Kau masih kecil tapi pikirannya ntah kemana " ucap Dewa ketus .
" Dari pada kakak kaku dan sombong " ucap Arjuna dan kemudian berpindah tempat duduk dari sang kakak yang ia anggap sama seperti ayahnya yang juga galak namun Dewa lah pria tergalak yang ia kenal .
Sementara Lia memeluk Ericana dengan cukup erat dan menciumnya bertubi-tubi.
" Nenek rindu sayang , nenek rindu ...hiks.... Kau kemana saja selama ini nak . Bunda dan ayahmu saat itu hampir gila memikirkanmu " isak Lia , Ericana yang awalnya takut mendadak menjadi sedih karena Lia menangis dan menyebut kata Bunda wanita yang ia rindukan beberapa hari ini .
" Nenek jangan nangis " ucap Ericana mengusap air mata Lia membuat wanita itu semakin menangis . Abdi menghampiri istrinya agar bisa mengontrol perasaanya.
Makan siang akhirnya pun tiba , Lia menyimpan beribu pertanyaan sedari tadi yang bersarang di otaknya . Tujuan pertamanya adalah suaminya , ia ingin menanyakan semua tentang Ericana bagaimana bisa ada di tengah mereka secara mendadak baginya . Abdi berusaha tak peduli atas lirikan istrinya , berharap harap cemas terhadap mulut ember Arjuna dan juga Jelita .
" Mas , aku ingin bicara " ucap Lia dengan nada terdengar kesal .
" kak , mbak . Saya permisi dulu " ucap Joe meninggalkan sepasang suami istri itu.
" Mama mau bertanya tentang Ericana " tebak Abdi dan diangguki Lia dengan mantap .
Abdi tak menutupi apapun dari istrinya , jujur adalah jalan terbaik baginya meski harus melihat istrinya nanti begitu murka . Mendengar nama Permana dan Eric membuat Lia wajah Lia berubah merah bak kepiting rebus. Merasa di bohongi selama ini dan hanya dirinya yang tak mengetahui membuat dirinya merasa tak dianggap oleh keluarganya .
" Papa tega ya dengan mama , gak memberitahu mama . Papa , anak dan semua sama saja. Mama kecewa dengan kalian . Ericana juga cucu mama pa " sarkas Lia membuat Abdi harus menulikan sejenak pendengarannya namun sejujurnya hatinya tak tega harus berbohong kepada Lia .
" Mama juga gak terima dengan Eric , yang beraninya menculik cucu mama . Apa ia tak kasihan pada Ana yang saat itu terpuruk . Dasar pria kurang ajar , beraninya membawa cucu mama kabur. Mama gak terima dengan semua ini . Mama juga tidak suka dengan nama Ericana , yang mempunyai arti Eric Ana . Mama gak terima pokoknya pa. Berlagak bagai pahlawan kesiangan saat itu , ternyata ia yang membawa pergi cucu mama " ucap Lia menggebu-gebu.
" Mama akan menuntut keluarga Permana kejalur hukum dan Rafli harus menuntut nya juga " ucap Lia tegas.
" Ma .... " ucap Abdi menolak .
" Apa , papa mau membela mereka . Apa papa gak ingat gimana sedihnya seluruh keluarga kita kala itu . Apa anak itu ( Eric ) gak mengingat kebaikan kita pada keluarganya. Sudah sejak awal mama gak setuju jika kita berhubungan dekat dengan keluarganya tapi papa masih juga tak mendengarkan " kesal Lia .
Ingin , Lia memarahi dan berteriak kepada suaminya habis-habisan tapi mengingat suaminya yang baru sembuh dan berada dimansion Jimmy membuatnya urung melakukannya . Ia juga akan memarahi Rafli melalui telepon nantinya tak sabar menunggu Rafli untuk kembali ke Milan .
Jangan lupa like dan komentarnya .
Akan kembali up seminggu lagi ya , karena athour mau pergi liburan sejenak .
__ADS_1
Selamat membaca dan semoga sehat selalu .