
Hari ini bunga mawar dan lily sudah bertebaraan disetiap sudut rumah itu, taman bunga yang dulu mati, kini telah kembali hidup. Alex dengan sigapnya menanam kembali bunga mawar berbagai warna disana.
Senyumnya tak pernah lepas dari wajah tampannya. Di temani oleh Sofia yang beras di kamar tamu, sedangkan Wiliem yang mengurus segalanya dengan Ken dan Sam.
Di dalam kamar lama Zee, terlihat sosok wanita cantik dengan balutan kebaya putih panjang dengan tatanan rambut yang begitu cantik.
Di sebelahnya setia sosok lelaki yang gagah dengan tuxedo abu-abunya. Tak pernah jemu dia memandang sang pengantin wanita, rasa haru dan bahagia bercampur aduk di dalam hatinya.
"Ayah, hari ini aku apan menikahkan adikku. Tolong restui aku dan semua anak-anak Ayah," batin Zyan.
"Princess, kau sudah siap?" tanya Kiara yang baru saja masuk.
Zee dan Zyan pun menegok bersamaan melihat Kiara.
"Aku sangat gugup, bagaimana ini?" tanya Zee.
"Itu sudah biasa di alami orang yang akan menikah, jadi kau bisa tarik napas mu keluarga dengan perlahan, tenangkan dirimu, ok" jawab Kiara.
Zee menutup matanya, mengikuti arah dari Kiara, setelah itu tersenyum seraya menggandeng tangan Zyan.
Zyan menatap wajah Zee, di ciumnya kening sang adik. Lalu memegang tangan Zee yang melingkar di lengannya.
Kiara berjalan di belakang Zee dan Zyan, sedangkan Ara sudah menunggu di depan kamar Zee.
Mempelai pria sudah berada di tempat pelaminan, semua orang begitu terkesima dengan mempelai wanita yang baru saja masuk.
"Istrimu begitu cantik, Lex," bisik Wiliem pada Alex.
Sontak tatapan Alex beralih pada Zee yang sedang berjalan ke arahnya dengan wajah cantik, namun ada sedikit rasa malu disana.
Zyan mendudukan Zee di samping Alex, kemudian dirinya duduk di depan Alex. Tatapan Alex tak bergeming dari wajah Zee, membuat Zyan berdehem menggoda dirinya.
"Ehem, apakah bisa segera kita mulai?" tanya Zyan.
"Tentu, detik ini juga pun aku siap," jawab Alex tegas.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar itu tertawa karena melihat Alex yang seakan tak sabaran tuk menikahi Zee.
Dengan di saksikan semua keluarga besar, dan semua orang disana. Alex menikahi Zee dengan aturan agama yang di anut Zee.
"Saudara Wiliem Alexander saya nikahkan dan kawinkan kau dengan adik saya yang bernama Zee Levina Putri binti Bumi Raya Putra dengan emas kawin seratus gram di bayar tunai," ucap Zyan dengan tenang namun tetap tegas.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Zee Levina Putri binti Bumi Raya Putra dengan emas kawin tersebut di bayar tunai," balas Alex tak kalah tegasnya dengan sekali tarikan napas.
"Sahhh,,,,!!!" teriak semua keluarga dan para undangan.
Air mata Ara mengalir deras, hatinya begitu lega melihat sang adik sudah menikah dengan sah. Alex telah mengucapkan kita pernikahan dengan begitu sempurna.
Zyan menatap Alex dan Zee dengan mata yang berkaca-kaca, tapi senyuman kebahagian tetap terlihat di wajahnya.
Alya yang sedari tadi berdiri di samping Rio dan Rino pun menangis melihat sang Mommy bisa menikah kembali dengan Uncle Alex.
Sore harinya resepsi begitu ramai karena di hadir banyak orang, Zee dan Alex terus tersenyum karena mereka kini sudah sah menjadi suami istri. Alya terus lengket pada Wiliem, selalu bersama-sama.
"Aku sangat-sangat bahagia. Masih tak percaya kau menjadi istriku," ucap Alex seraya mencium tangan Zee.
"Aku juga seperti itu, aku tak menyangka jika jodohku itu dari negri yang sangat jauh," balas Zee.
"Al, kau mau kue? Aku lihat sedari siang kau belum makan apapun?" tanya Vanya.
"Heheh,, ya kak. Al lupa tuk makan, karena terlalu senang melihat Mommy dan Daddy Al," jawab Alya polos dengan senyum kudanya.
Vanya duduk di sebelah Alya, menguapinya dengan sangat perhatian. Alya begitu lahap memakai suapan kue dari Vanya.
Sedangkan Wiliem diam-diam memperhatikan wanita tomboy tapi cantik di sebelahnya itu.
Wiliem teringat kejadian di kampus, saat tak sengaja melihat bibir Vanya.
"Astaga, ciuman itu bukannya yang pertama tuk ku. Bukannya dulu aku juga tanpa sengaja mencium Zee. Tapi kenapa sekarang hatiku berdebar hanya karena mengingat ciuman ku dengan gadis kecil ini?" batin Wiliem.
Vanya sudah selesai menyuapi Alya, dan kini anak itu bermain dengan saudara-saudaranya. Vanya yang merasa di tatap pun melirik ke arah Wiliem. Ternyata benar, lelaki itu sedang menatap dirinya.
__ADS_1
"Sedang apa dia menatapku seperti itu? Dasar Om-om mesum," batin Vanya.
Wiliem masih tak sadar jika Vanya melihat dirinya dengan tatapan tajam.
"Hey, Om. Kau sedang menatap apa?" tanya Vanya dengan nada sinis.
Wiliem pun sadar dari lamunannya, lalu mencari kemana Alya pergi.
"Kemana, Alya?" tanya Wili.
"Hem,, kau ini seperti sudah tuli yah. Alya sudah pergi sejak tadi, apa kau tak dengar dia bilang padamu akan bermain dengan yang lainnya," jawab Vanya.
"Hey, gadis kecil. Jaga ucapanmu, aku ini lebih tua dari pada dirimu. Sopanlah sedikit!" perintah Wili.
"Huh, aku kira kau tak sadar diri jika usia mu memang sudah tua. Baiklah, Om-om yang baperan!" seru Vanya dengan nada meledek.
"Hey, kau menghinaku? Dasar, kau gadis jadi-jadian, bar-bar," ucap Wiliem.
Vanya yang mendengar itu pun menatap penuh Wiliem, entah kenapa Vanya sangat tak suka dengan ucapan bar-bar dan wanita jadi-jadian tersebut. Karena memang itu menjadi julukan dirinya di kampus.
"Mulutmu sama saja dengan semua orang-orang itu. Hanya melihat diriku dari luarnya saja!" bentak Vanya dengan mata yang berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan Wiliem.
Vanya menangis mendengar Wiliem yang mengatainya seperti itu, dia berlari sampai tak sengaja menabrak pelayan yang membawa minuman. Alhasil, semua minuman itu tumpah mengenai gaun putihnya.
"Maaf, maafkan saya, Nona," ucap pelayan dengan nada takut.
Namun, Vanya begitu saja berlalu tanpa menjawab satu kata pun. Wiliem yang melihat itu terheran dengan sikap Vanya.
"Kenapa dia seperti akan menangis? Apa ucapkan ku sangat keterlaluan padanya?" gumam Wiliem.
Vanya menangis masuk ke dalam kamar mandi, menatap dirinya di pantulan cermin, melihat wajahmu lalu gaun yang dia pakai.
"Ibu, Ayah, apakah aku begitu tak pantas menjadi seorang wanita?" ucap Vanya.
Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang ayu. Vanya memang berpenampilan tomboy,tapi hatinya tetaplah lembut seperti gadis pada umumnya. Vanya berpenampilan seperti itu karena tuk menjaga dirinya dari lelaki yang akan mendekatinya.
__ADS_1
Karena Vanya sekolah di negara lainnya, dia jauh dari keluarga, Vanya sosok anak gadis yang begitu tegar, mandiri. Vanya bersekolah di Paris, sedangkan Sam berada di Finlandia.
Setelah selesai dengan semua keramaian dan kesibukan hari itu. Semuanya beristirahat dengan sangat nyenyak. Alya tidur dengan Vanya, sedangkan Alex dan Zee tidur di kamar pengantin dengan begitu lelap tanpa ada malam pertama.